Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 11
Esok hari sesuai rencana Aldri dan Antika pergi ke tempat pemotretan. Suasana hati Antika sangat cerah. Aldri merasakan imbasnya membuat mood-nya pun bersemangat.
Sepasang suami istri itu berada di tempat masing-masing. Mereka berdua mempersiapkan diri. Aldri sengaja memilih tempat dan memesan gaun limited edition.
Aldri tidak sabar menunggu pengantin wanitanya keluar dari persembunyiannya. Ia ingin segera melihat Antika.
Sepasang mata Aldri tak berkedip memandang kecantikan pengantin wanitanya. Antika sungguh mempesona dan anggun. Ia tampak dewasa dan elegan.
Merasa dipandang tanpa berkedip membuat Antika menunduk. Rasa panas menjalari tubuhnya. Seakan Aldri menyentuh setiap bagian tubuhnya hanya dengan sebuah tatapan.
"Maaf, Kak. Sudah waktunya pemotretan." suara fotografer menyadarkan keduanya. Aldri tersenyum lalu mengedikkkan dagu.
Ketika hendak melangkah dan menjulurkan tangan ke arah Antika. Sebuah jaringan dari ponsel Aldri berbunyi. Aldri pun urung mendekati Antika dan mengangkat panggilan tersebut.
"Egi. Hallo, assalamualaikum."
Terdengar suara isakan ditelepon. "Al...."
"Gi kamu kenapa? Kamu di mana sekarang? Aku ke sana ya?" Hanya mendengar suara tangisan Egi bisa membuat Aldri cemas.
"Tika, sayang. Maafkan aku ya. Apa kamu bisa menunggu sebentar? ada masalah urgent."
"Tapi...."
"Hanya sebentar, sayang!" Antika mengangguk, Aldri segera pergi menemui Egi.
Sejujurnya Antika merasa kecewa. Aldri lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya. Sepenting apakah orang itu sampai membuat Aldri tampak begitu panik. Antika hanya mampu membatin.
"Maaf, Kak. Ini jadi atau tidak pemotretannya?"
Antika menunggu hampir sejam lebih. Kekecewaan tergambar jelas di wajahnya. Tak ingin mengecewakan sang fotografer. akhirnya iya memutuskan untuk melakukan sesi pemotretan sendiri.
Antika menghapus sisa make up dengan tangis tanpa suara. Hatinya terluka. Semua kebahagiaan tadi pagi seakan lenyap tanpa bekas.
~ Kamu cantik sekali, Tika. Aku gemas pengen nyubit. Hahaha..... ~
Tiba - tiba terdengar suara seorang dalam ingatan Antika. Akan tetapi bukan suara Aldri. Antika memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Sakit kepala datang menderanya. Ia mencoba bertahan dan mengambil nafas dalam-dalam. Setelah beberapa saat sakitnya mulai mereda.
Antika memutuskan pulang ke rumah menggunakan kendaraan yang dipesan secara online. Beruntung nya otak cerdas gadis itu masih berfungsi dengan baik meskipun hilang ingatan. Gadis mungil itu meminta bantuan pemilik butik dan pemotretan untuk memesankan kendaraan. Ia baru menyadari seharusnya di zaman modern ini semua manusia memiliki ponsel, hanya dirinya yang bepergian tanpa dompet dan ponsel.
Selama perjalanan pulang Antika lebur dalam kesedihan. Air matanya menetes tanpa dikomando. Ia merasa terabaikan. Bahkan Aldri sama sekali tidak berkabar seolah dirinya tak penting sama sekali dan terlupakan begitu saja.
Antika mengetuk pintu dan meminta bantuan satpam untuk membayar. Ia melangkah masuk usai mengucapkan terima kasih. Indira yang hadir di depan pintu terheran melihat Antika pulang sendirian bahkan minta dibayarkan satpam.
"Tika mana Aldri, Nak?"
Antika pun menghambur dalam pelukan Ibu mertuanya. Ia menangis sejadi-jadinya membuat Indira semakin cemas.
"Sayang ada apa sebenarnya? Sudah - sudah kita duduk dulu ya." Indira membimbing Antika menuju ruang tamu lalu mendudukkannya di sofa.
Antika masih bungkam, Indira pun tak ingin memaksa.
Aldri tergesa - gesa kembali ke tempat pemotretan. Betapa terkejutnya dia mendapati kabar bahwa Antika sudah pulang. Ia merasa sangat bersalah. Gegas ia menghubungi sang ibu untuk memastikan keberadaan Antika.
Aldri merasa lega mendengar Antika sudah sampai rumah dengan selamat. Ia pun mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sama sekali tidak menyangka telah meninggalkan Antika berjam-jam.
Dalam perjalanan pulang Aldri terus menyesali dirinya. Seharusnya ia mengajak Antika bukan malah meninggalkan nya sendirian. Gadis itu bahkan tidak mengenal siapapun di Jakarta. Di tambah lagi dia tidak memiliki ponsel dan uang.
"Bodoh! Bodoh kamu Aldri! Bisa - bisanya kamu menyepelekan masalah sepenting ini. Aargh!" Aldri memukul setir dengan keras.
Sampai di rumah Aldri segera mencari keberadaan Antika. Akan tetapi, sebuah tangan menahannya. Aldri menoleh ternyata tangan sang ibu yang menggenggam nya.
"Bu, Tika dimana?
"Dia sedang tidur, mungkin karena lelah menangis. Sebaiknya kamu duduk dan tenang kan dirimu."
Aldri semakin didera penyesalan. Tubuh lelah nya berjalan menuju sofa lalu membanting kan diri di atasnya. Aldri menghela nafas frustasi.
"Ibu saya harus bagaimana? Semua di luar rencana."
"Tenang kan dirimu dulu, Al."
Sore hari Aldri menunggu hingga Antika terbangun. Ia sama sekali tak dapat berfikir jernih.
"Tika." Akhirnya Aldri dapat melihat wajah istrinya dengan mata yang sembab. Aldri ingin memeluk nya. Namun ketika ia ingin mendekat Antika malah memilih mundur.
"Tika. Tolong maafkan aku. Aku bisa menjelaskan semua."
Antika memandang ke arah Aldri. Aldri berusaha menggapai jemari Antika. Namun gadis itu malah menyembunyikan kedua tangannya ke belakang. Antika memilih pergi menjauhi Aldri.
Indira tak mampu berbuat banyak. Percuma juga saat ini situasi nya sedang tidak tepat untuk menjadi penengah. Indira memilih diam dan memperhatikan. Setidaknya Antika tidak akan berlari keluar dan melakukan hal bodoh lagi. Bulu kuduk Indira meremang mengingat kejadian tragis itu.
Aldri dan Antika keduanya saling mengurung diri di kamar. Meja makan sepi tanpa canda keduanya. Indira menghela nafas pasrah.
Gelap malam datang bintang - bintang bermunculan menghiasi luas nya langit. Antika memandang takjub ciptaan Sang Khalik. Perlahan Antika mulai terserang kantuk dan lelap di buai mimpi.
Berbeda dengan Aldri yang sangat frustrasi menghadapi sikap Antika. Ia mondar-mandir bak setrika. Andai dirinya dapat memutar waktu. Ingin rasanya saat ini Aldri kembali ke momen indah itu. Nasi sudah menjadi bubur tak akan dapat kembali seperti sediakala.
~ "Tika kamu cantik. Aku gemes pengen nyubit. Hahaha." ~
Suara itu lagi. Sebenarnya siapa dia? Kenapa bisa kenal aku?
"Tika! Sini!" Seseorang tiba-tiba menarik tangan nya.
Antika terkejut dan terbangun dari mimpinya. Napasnya terengah-engah bagai usai lari maraton. Ternyata semua hanya mimpi. Akan tetapi baginya semua seolah nyata dan terjadi.
Siapa dia? Siapa yang selalu memanggil ku dan bilang aku cantik?
Antika memegangi kepalanya dan mengusap peluh yang membasahi kening. Pikiran nya mencoba mengingat - ingat, tetapi hasilnya nihil.
Fajar pun menjemput malam tergantikan oleh hangat nya mentari pagi. Antika yang baru terbangun membelai lembut pipinya lalu keluar kamar. Kakinya melangkah perlahan memastikan bahwa orang yang tidak ingin ditemui sudah pergi bekerja. ketika mendapati meja makan sudah sepi ada kelegaan di hatinya.
Sejujurnya Antika tidak ingin berlama-lama memendam amarah, tapi dirinya tak bisa memulainya.
Gadis berlesung pipi itu duduk di salah satu bangku taman. Menghirup aroma bungah di sekitar nya yang membuatnya rileks. Pandangan nya menerawang entah apa yang singgah di pikiran nya hingga ia tersadar ada sentuhan lembut di bahunya.