Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 4
Proses pemakaman Ronald berjalan dengan penuh rasa haru dan tanya. Polisi masih belum menemukan titik terang mengenai pelaku pembunuhan sadis yang merenggut nyawa kakak kandung Adista itu. Di tengah rasa duka dan kesepian yang mendalam, Adista merasa beruntung karena ia tidak benar-benar sendirian di rumah besarnya yang kini terasa semakin sunyi.
Bram, anak laki-laki dari bibinya, memutuskan untuk menginap di rumah Adista setelah acara pemakaman selesai. Bram adalah seorang pemuda sepantaran Adista yang bekerja sebagai desainer grafis. Hubungan mereka sejak kecil memang cukup dekat, dan kedatangan Bram malam itu murni untuk menemani serta memastikan sepupunya tidak tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut.
Malam semakin larut. Di luar rumah, cuaca sedang tidak bersahabat. Suara rintik hujan mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan ritme yang teratur, sesekali diselingi suara gemuruh petir yang bersahutan di kejauhan. Namun, di dalam rumah, suasana terasa sangat tenang dan damai. Kehadiran Bram setidaknya memberikan sedikit kehangatan di rumah yang mendadak terasa asing bagi Adista sejak kematian Ronald.
Adista duduk di sofa ruang tengah, memandangi cangkir teh hangat di genggamannya. Pikirannya masih melayang memikirkan nasib tragis kakaknya. Di seberang meja, Bram sedang sibuk membolak-balik majalah kuno koleksi Adista.
"Kamu harus makan sedikit, Ta," kata Bram memecah kesunyian, suaranya terdengar cemas. "Sejak siang tadi kamu hampir tidak menyentuh makananmu. Aku tahu ini berat, tapi kamu juga harus menjaga kesehatanmu."
Adista tersenyum tipis, menghargai perhatian sepupunya. "Aku tahu, Bram. Hanya saja rasanya masih sulit dipercaya. Kak Ronald pergi dengan cara semengerikan itu. Polisi bahkan belum menemukan petunjuk apa pun."
Bram menghela napas panjang, lalu menutup majalah di tangannya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mengalihkan pembicaraan agar Adista tidak semakin sedih. Saat itulah, mata Bram tertuju pada sebuah objek baru yang terpasang di dinding ruang tengah. Sebuah lukisan berbingkai emas kusam yang menggambarkan seorang perempuan tengah menangis darah.
Bram tertegun sejenak. Sebagai seseorang yang bekerja di bidang seni visual, ia langsung mengenali bahwa lukisan itu memiliki nilai seni yang sangat tinggi, sekaligus memancarkan kesan ganjil yang kuat.
"Wah, Ta... lukisan baru, ya?" tanya Bram sambil bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati dinding tersebut. "Aku baru lihat. Kamu beli di mana?"
Adista menoleh ke arah lukisan itu. Mengingat lukisan tersebut adalah barang terakhir yang ia beli sebelum kematian Ronald, ada sedikit rasa sesak di dadanya, namun ia tetap menjawab dengan tenang. "Iya, aku memenangkannya di tempat lelang malam sebelum Kak Ronald meninggal. Unik, kan? Aku langsung tertarik begitu melihat tatapan matanya."
Adista benar-benar belum menyadari ancaman mengerikan yang tersimpan di dalam kanvas itu. Baginya, cairan merah di pipi wanita dalam lukisan tersebut hanyalah cat minyak berkualitas tinggi yang digoreskan dengan sangat jenius oleh si pelukis, bukan darah kutukan yang telah merenggut nyawa kakaknya sendiri.
Bram berdiri tepat di depan lukisan, mengagumi setiap detail guratan kuasnya. "Ini luar biasa, Ta. Detail air matanya... seperti nyata. Sangat hidup. Tapi, aura lukisan ini agak dingin, ya?" gumam Bram. Sambil berbicara, Bram tanpa sadar mengulurkan tangannya, bermaksud menyentuh tekstur bingkai kayu emas yang tampak kuno itu.
"Bram, sebaiknya jangan disentuh dulu," potong Adista tiba-tiba. Ia teringat kembali bagaimana Ronald kemarin bertindak tidak sopan dengan menyentuh kanvas lukisan itu. Meskipun Adista tidak menghubungkannya dengan mistis, ia hanya ingin menjaga agar barang antiknya tidak rusak atau kotor.
Bram menghentikan tangannya yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari bingkai. Ia tertawa kecil lalu menarik kembali tangannya. "Ah, maaf, maaf. Kebiasaan orang seni kalau melihat barang bagus bawaannya ingin memegang."
Tepat pada saat Bram menjauhkan tangannya, listrik di rumah itu mendadak padam. PET! Ruangan seketika berubah menjadi gelap gulita. Keheningan malam terasa semakin pekat, hanya menyisakan suara gemuruh hujan di luar yang semakin deras. Kilatan petir sesekali menyambar dari balik jendela, menerangi ruangan selama satu detik sebelum kembali gelap.
"Yah, mati lampu," suara Bram terdengar di tengah kegelapan. "Kamu punya lilin atau senter, Ta?"
"Ada di dapur, sebentar aku ambil pakai senter HP," jawab Adista. Ia mulai meraba-raba sofanya untuk mencari ponselnya yang tertinggal.
Di tengah kegelapan yang sunyi itu, Bram masih berdiri di tempatnya, tidak jauh dari posisi lukisan. Saat kilatan petir menyambar di luar dan menerangi ruangan sesaat, Bram merasakan sesuatu yang aneh. Suhu di sekitar tempatnya berdiri mendadak turun drastis hingga membuatnya merinding. Bukan hanya itu, hidungnya menangkap aroma samar yang aneh—bau besi berkarat yang bercampur dengan aroma amis yang tajam.
Bram mengerutkan kening. "Ta, kamu mencium bau aneh tidak? Seperti bau..."
Belum sempat Bram menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara bisikan yang sangat lirih terdengar tepat di belakang tengkuknya. Suara itu begitu halus, seperti desiran angin malam yang dingin, namun terasa sangat nyata.
...Pergilah...
Bram seketika membeku. Bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri tegak. Jantungnya berdegup kencang memompa darah ke seluruh tubuh. Ia yakin betul itu adalah suara seorang perempuan. Namun, di rumah ini hanya ada dirinya dan Adista, dan suara Adista tadi terdengar dari arah sebaliknya, dekat meja sofa.
JEGARRR!
Petir besar kembali menyambar di luar, memberikan pencahayaan singkat di dalam ruang tengah. Dalam satu detik yang krusial itu, Bram melihat bayangan sebuah tangan dengan kuku-kuku panjang yang hitam meluncur dari arah bingkai lukisan, bergerak cepat menuju ke arah wajahnya.
Bram terkejut luar biasa dan refleks melompat mundur hingga kakinya tersandung kaki meja kecil di dekatnya. Ia terjatuh ke lantai dengan suara berdentum cukup keras.
"Bram? Kamu kenapa?" suara Adista terdengar panik bersamaan dengan menyalanya lampu senter dari ponselnya. Cahaya putih terang itu segera membelah kegelapan ruangan, mengarah langsung ke tempat Bram yang terduduk di lantai dengan wajah pucat pasi dan napas yang memburu.
Adista bergegas mendekati sepupunya. "Kamu tidak apa-apa? Tersandung?"
Bram menatap Adista dengan mata melebar, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah lukisan di dinding yang kini tersorot lampu senter. Lukisan itu tampak normal. Sosok wanita menangis darah itu tetap diam membeku di dalam bingkainya sebagai benda mati. Tidak ada tangan misterius, tidak ada suara apa pun. Hanya suara rintik hujan di luar yang masih terdengar konstan.
Bram menelan ludah, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berpacu liar. Ia berpikir mungkin pikirannya sedang kacau karena atmosfer duka di rumah ini, ditambah dengan cerita pembunuhan Ronald yang didengarnya siang tadi.
"Ah... iya, Ta. Aku tidak apa-apa," jawab Bram sambil berusaha bangkit dengan bantuan Adista. "Hanya tersandung meja karena terlalu gelap. Kepalaku sepertinya agak pening karena kurang tidur."
Adista mengembuskan napas lega. "Ya sudah, sebaiknya kita langsung ke kamar saja untuk istirahat. Ayo, aku antar ke kamar tamu."
Bram mengangguk setuju. Namun, saat mereka berdua berjalan meninggalkan ruang tengah, Bram tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh sekali lagi ke belakang, ke arah lukisan itu. Di bawah temaram cahaya senter ponsel Adista yang bergerak menjauh, Bram merasa sepasang mata wanita di dalam lukisan itu sedang menatap punggungnya dengan penuh ancaman, seolah-olah memperingatkannya bahwa kehadirannya di rumah itu sama sekali tidak diinginkan.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya