Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan yang Salah
Bau asap cerutu mahal berpadu dengan aroma wiski impor yang pekat di dalam ruang VIP The Crimson Room area kasino bawah tanah paling eksklusif milik Elvano Lucane Salvatore.
Di tempat ini, lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya keemasan redup menggantung tepat di atas meja-meja hijau baccarat dan roulette.
Tidak ada jam dinding, tidak ada jendela yang memperlihatkan apakah dunia luar sedang diselimuti siang atau malam.
Di sini, waktu sengaja dihentikan agar para pelancong dunia hitam kehilangan kesadaran mereka dan terus memutar roda keberuntungan yang semu.
Di sudut meja baccarat dengan limit taruhan tertinggi, Albert Gracellyn, duduk dengan tubuh yang gemetar hebat.
Penampilannya malam itu benar-benar berantakan.
Kemeja batiknya yang mahal kini basah oleh keringat dingin di bagian punggung dan ketiak.
Rambutnya yang mulai memutih acak-acakan karena terus-menerus dijambak oleh tangannya sendiri yang frustrasi.
"Sial... sial... kali ini pasti tembus. Harus tembus!" gumam Albert dengan suara serak yang nyaris habis.
Sepasang matanya merah, dipenuhi urat-urat darah akibat tidak tidur selama tiga hari berturut-turut.
Fokusnya terpaku mati pada tumpukan cip judi yang kian menipis di depannya.
Di samping meja, berdiri seorang pria tegap berjas hitam dengan tato naga yang mengintip dari balik kerah kemeja, seorang lintah darat internal kasino Salvatore yang sejak kemarin terus menyuntikkan dana pinjaman kepada Albert dengan bunga mencekik.
"Bagaimana, Tuan Albert? Mau tambah pinjaman lagi? Bos kami sangat murah hati kepada pelanggan setia," bisik sang lintah darat dengan senyum ramah yang justru terasa dingin dan menekan.
Ia menyodorkan selembar kertas perjanjian baru di atas meja.
Albert menelan ludahnya yang terasa kesat bagai pasir.
Akal sehatnya sudah lama menguap, digantikan oleh keserakahan dan ego magis seorang penjudi yang selalu merasa bahwa kemenangan besar berada di kartu berikutnya.
Ia teringat akan surat tanah dan rumah yang ia curi dari mendiang kakaknya belasan tahun lalu.
Surat itu sudah ia jaminkan kemarin, dan nilainya sudah habis dilalap meja hijau ini.
Namun, ia tidak peduli lagi. Jika ia menang kali ini, ia bisa menebus semuanya, membayar utang, dan kembali menjadi orang kaya.
"Tambah! Tambah sepuluh miliar lagi!" seru Albert histeris, menyambar pulpen dan menandatangani surat utang baru tanpa membaca isi perjanjiannya sama sekali.
Cip-cip baru berharga fantastis kembali didorong ke hadapannya.
Bandar judi berwajah dingin di ujung meja mulai membagikan kartu dengan gerakan mekanis yang anggun namun mematikan.
Albert menahan napasnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging.
Dengan tangan gemetar, ia membuka perlahan sudut dua kartu yang dibagikan kepadanya.
Mati.Kartunya berjumlah tiga.
Sementara kartu milik bandar menunjukkan angka murni delapan, Natural Eight.
"Banker menang," ucap sang bandar dengan suara datar, tanpa ekspresi sedikit pun saat tangannya yang menggunakan sarung tangan putih menarik seluruh cip milik Albert tanpa sisa.
Dunia seolah runtuh menimpa kepala Albert.
Ia membeku di kursinya, menatap meja hijau yang kini kosong melompong.
Sepuluh miliar rupiah yang baru dipinjamnya menguap hanya dalam hitungan detik.
Jika dijumlahkan dengan kekalahan dari malam-malam sebelumnya, total utangnya kini telah menembus angka empat puluh miliar rupiah.
Angka fantastis yang tidak akan pernah sanggup ia bayar seumur hidupnya, bahkan jika ia menjual seluruh organ tubuhnya sendiri.
Pria paruh baya itu menoleh lambat ke arah sang lintah darat di sampingnya.
Senyum ramah pria bertato itu kini telah lenyap, digantikan oleh tatapan mata yang dingin dan menusuk.
"Utang Anda sudah mencapai batas maksimal, Tuan Albert. Dan seperti yang Anda tahu, aturan di kasino Salvatore... penunggakan utang memiliki konsekuensi fisik," ucap sang lintah darat sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Dua pengawal berbadan tegap lainnya mulai melangkah mendekati meja, mempersempit ruang gerak Albert.
Panik yang luar biasa seketika mencengkeram dada Albert.
Keringat dingin mengucur semakin deras di pelipisnya.
Ia tahu betul reputasi mengerikan dari pemilik kasino ini.
Elvano Lucane Salvatore bukanlah pengusaha biasa, dia adalah iblis berwajah tampan yang tidak segan-segan menenggelamkan pengutang di dasar laut atau menjadikannya fondasi beton bangunan.
"Aku... aku harus ke kamar mandi sebentar. Perutku mendadak sakit," kilah Albert dengan suara bergetar, mencoba memasang wajah seringkih mungkin.
Tanpa menunggu jawaban, ia berdiri dengan lutut yang lemas dan berjalan terburu-buru meninggalkan area meja baccarat.
Para pengawal kasino mengawasinya dari kejauhan, membiarkannya berjalan ke arah koridor toilet.
Namun, Albert tidak berniat ke kamar mandi. Begitu berbelok di sudut koridor yang sepi, matanya menangkap sebuah pintu besi hijau dengan tulisan EXIT menyala kemerahan di atasnya, pintu keluar darurat yang terhubung dengan jalur penyimpanan dan pintu belakang kasino.
"Persetan! Aku harus kabur dari kota ini malam ini juga!" bisik Albert dalam hati.
Berselimut ketakutan yang mencekam, ia berlari sekencang mungkin, mendorong pintu besi itu hingga terbuka, dan menerobos masuk ke dalam lorong beton yang remang-remang.
Langkah kaki Albert yang tergesa-gesa menggema di lorong sepi itu.
Ia bisa melihat ujung lorong yang terbuka menuju area parkir belakang yang gelap.
Harapan palsu mulai membubung di dadanya. Ia merasa bisa lolos dari cengkeraman mafia Salvatore.
Namun, tepat tiga langkah sebelum ia berhasil mencapai pintu keluar, tiga bayangan besar tiba-tiba melangkah keluar dari kegelapan, menutup jalan keluar satu-satunya dengan sempurna.
Albert mengerem langkahnya mendadak hingga hampir tersungkur di atas lantai beton yang dingin.
Jantungnya mencelos ke dasar perut ketika melihat siapa yang berdiri di depannya.
Tiga orang pria dengan tinggi masing-masing hampir dua meter, mengenakan setelan jas hitam dengan tubuh sekokoh dinding batu, berdiri tegak menghalanginya.
Mereka adalah para pengawal elit klan Salvatore, anak buah langsung dari Kaiven Axel Moretti yang terkenal kejam dan tak kenal ampun.
Pria yang berdiri di tengah seorang pria berdarah lokal dengan bekas luka segaris di pipinya menatap Albert dengan senyum meremehkan.
"Mau pergi ke mana terburu-buru begini, Tuan Albert? Pestanya kan belum selesai," ucap pria berbekas luka itu dengan suara bariton yang berat dan mengintimidasi.
Albert mundur beberapa langkah, matanya liar mencari celah untuk kabur, namun ketika ia menoleh ke belakang, lorong tempatnya datang sudah ditutup oleh dua pengawal lain yang mengejarnya dari dalam kasino.
Ia terjebak di tengah-tengah lorong beton yang sempit, dikepung oleh para predator dunia bawah.
"T-tolong... lepaskan aku. Aku berjanji akan membayar semuanya! Aku punya aset, aku punya rumah besar di Jakarta Selatan!" ratap Albert, lututnya akhirnya benar-benar kehilangan kekuatan hingga ia bersimpuh di atas lantai beton, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada untuk memohon ampun.
Pria berbekas luka itu maju selangkah, menunduk menatap Albert yang malang bagai seekor semut yang siap diinjak.
"Rumah yang sertifikatnya cacat hukum itu? Bos kami, Tuan Elvano, tidak suka barang palsu. Dan dia jauh lebih tidak suka pada tikus yang mencoba lari dari utangnya."
Sebelum Albert sempat mengeluarkan pembelaan lagi, sebuah tangan besar berkulit kasar mencengkeram kerah kemeja batiknya dengan kasar, mengangkat tubuh paruh bayanya yang gemuk dengan mudah seperti mengangkat karung beras.
"Bawa bajingan ini ke ruang interogasi belakang," perintah sang kepala pengawal dingin kepada anak buahnya.
"Hubungi Tuan Kaiven. Katakan mangsanya sudah tertangkap saat mencoba kabur lewat lubang tikus."
Albert menjerit ketakutan, meronta-ronta sia-sia saat kedua lengannya dikunci ke belakang dan tubuhnya diseret kembali masuk ke dalam kegelapan kasino.
***