"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secangkir Sup Hangat dan Ancaman Baru
Pintu kayu yang tebal itu tertutup rapat, meninggalkan Luna dalam kesunyian kamar yang begitu luas. Dia menarik selimut berbulu itu hingga sebatas dada, mencoba menghirup aroma maskulin kayu pinus yang tertinggal di sana. Aroma itu entah bagaimana perlahan-lahan menidurkan rasa panik yang sejak tadi mencengkeram dadanya.
Luna menatap sekeliling. Kamar ini terlalu megah untuk seseorang yang baru saja melarikan diri dari kehancuran hidup. Ada sebuah perapian batu di sudut ruangan yang apinya menari-nari dengan stabil, memancarkan kehangatan yang kontras dengan hawa dingin hutan di luar sana.
Tidak sampai lima belas menit, ketukan pelan terdengar di pintu.
Luna tersentak, refleks mencengkeram selimutnya lebih erat. "S-siapa?" tanyanya dengan nada bergetar.
Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok gadis muda berambut pendek dengan pakaian pelayan sederhana berwarna abu-abu. Gadis itu membawa nampan kayu yang mengepulkan uap panas beraroma gurih. Alih-alih menatap Luna dengan kilatan mata keemasan yang mengerikan seperti orang-orang di aula bawah, gadis ini justru tersenyum ramah meskipun ada sedikit guratan cemas di wajahnya.
"Selamat malam, Nona Luna. Saya Maya," sapa gadis itu dengan suara lembut. Dia melangkah masuk dan meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping ranjang.
"Alpha Yudha meminta saya untuk mengantarkan sup daging hangat dan teh herbal ini untuk Anda."
Mendengar nama Yudha disebut, ketegangan di bahu Luna sedikit mengendur. Bau sup itu begitu menggoda, membuat perutnya kembali berbunyi tanpa permisi.
Maya terkekeh pelan, menyadari kecanggangan Luna. Dengan telaten, dia membantu Luna untuk duduk bersandar pada tumpukan bantal empuk. "Silakan dimakan, Nona. Anda pasti sangat kelelahan setelah menembus hutan perbatasan. Sungguh keajaiban Anda bisa selamat sampai ke sini."
Luna menerima mangkuk sup hangat itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Rasa gurih dan hangat dari suapan pertama langsung menjalar di tenggorokannya, mengembalikan sedikit energi yang sempat terkuras habis.
"Maya..." panggil Luna perlahan setelah menyelesaikan beberapa suap.
"Tempat apa... ini sebenarnya? Dan kenapa mereka semua memanggil Yudha dengan sebutan Alpha?"
Gerakan tangan Maya yang sedang merapikan cangkir teh mendadak terhenti. Gadis pelayan itu menatap Luna dengan pandangan beralih antara kasihan dan bimbang. "Nona Luna... Anda benar-benar tidak tahu tentang kami?"
Luna menggeleng pelan. "Aku hanya berlari menyelamatkan diri dari kota, lalu tersesat di dalam kabut tebal sampai pria itu maksudku, Yudha menemukanku."
Maya menghela napas panjang, lalu berlutut di samping ranjang agar posisinya sejajar dengan Luna. "Alpha Yudha adalah pemimpin tertinggi kami. Kawanan *Silver Moon*. Di dunia ini, kami bukan manusia biasa, Nona. Kami adalah bangsa serigala."
Tangan Luna membeku di udara, hampir saja menjatuhkan sendok yang dipegangnya.
"Serigala? Tapi kalian... berwujud manusia."
"Kami bisa berubah wujud saat bulan purnama atau saat emosi kami terpancing," jelas Maya dengan suara yang sengaja direndahkan.
"Dan bagi bangsa kami, keberadaan manusia di dalam wilayah kastil adalah hal yang sangat terlarang. Itulah kenapa para tetua dan anggota kawanan sangat marah di bawah tadi."
Maya kemudian menatap lekat-lekat mata Luna, suaranya berubah menjadi bisikan yang sangat serius. "Namun, yang paling mengejutkan bagi kami semua adalah sikap Alpha Yudha. Dia adalah pemimpin yang terkenal dingin, kejam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun membantah perintahnya. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, dia mempertaruhkan otoritasnya di depan para tetua demi melindungi seorang gadis manusia. Dia menyatakan Anda sebagai belahan jiwanya."
Luna tertegun, debaran jantungnya kembali berpacu cepat. *Belahan jiwa.* Kata-kata Yudha beberapa saat lalu kembali terngiang di kepalanya. Bagaimana mungkin makhluk sekuat dan seberbahaya Yudha terikat takdir dengan manusia rapuh seperti dirinya?
Belum sempat Luna menanggapi penjelasan Maya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa di koridor luar. Langkah kaki itu berhenti tepat di depan kamar, disusul oleh suara bentakan yang tertahan dari balik pintu.
"Minggir! Aku tahu Alpha Yudha sedang tidak ada di dalam ruangan ini! Aku hanya ingin melihat sekebal apa manusia sialan yang sudah meracuni pikiran pemimpin kita!"
Suara pekikan tajam seorang wanita dari balik pintu membuat mangkuk di tangan Luna benar-benar bergetar. Maya langsung berdiri dengan wajah pucat pasi, beralih posisi berdiri di depan ranjang Luna seolah siap menjadi perisai.
"Nona, tetaplah di atas ranjang," bisik Maya panik, matanya berkilat cemas menatap pintu kayu besar yang mulai digedor dengan kasar dari luar. Ancaman baru telah tiba, bahkan sebelum Luna sempat menyelesaikan sup hangatnya.