NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Vonis Jantung

"Jadi... maksud kamu, kamu bisa kembali normal dan secantik dewi ini hanya gara-gara memakan umbi-umbian rebus dari pengemis tua itu?!"

"Iya, begitu kronologi mistisnya, Oma. Kalau Oma tidak percaya dan mengira aku sudah gila juga tidak apa-apa," sahut Linzy mulai menunduk pelan, takut neneknya akan memanggil dokter jiwa.

"Oma percaya kok sama kamu! Bagaimana Oma tidak percaya kalau buktinya sekarang kamu berdiri di depan Oma tanpa cacat?!" ucap Oma Karin cepat, langsung mengusap rambut pirang Linzy dengan penuh kasih sayang. "Kamu kelihatan sangat bahagia sekarang, Sayang. Justru Oma bersyukur luar biasa melihat kamu bisa tersenyum lagi. Pikirkan saja ini sebagai mukjizat takdir untuk keluarga kita."

Oma Karin tersenyum lebar, namun sedetik kemudian ia teringat sesuatu dan ingatan itu memicu memori lain di kepalanya. "Kalau saja Opa kamu sudah pulang dari dinasnya, dia pasti akan pingsan saking terkejutnya melihatmu. Sayangnya, Opa baru dua minggu lagi bisa menyelesaikan urusan dan pulang dari Jepang."

Oma Karin menghela napas panjang, teringat suaminya yang saat ini sedang bekerja keras di Tokyo mengurus gurita bisnis perusahaan keluarga Alexius—perusahaan raksasa yang seharusnya dipegang oleh almarhum menantunya, Bintang Alexius, dan putri sulungnya, Alysa.

Sementara putra bungsunya, alias paman Linzy, berada jauh di Paris mengelola cabang butik mode internasional mereka.

Kini, di mansion yang terlampau luas ini, setidaknya ada satu cahaya harapan yang kembali bersinar terang benderang. Namun, di tengah rasa bahagianya memandang wajah cantik Linzy, pikiran Oma Karin mendadak melesat mundur ke kejadian satu jam yang lalu di restoran mal.

Wajah Linzy yang sekarang, bentuk bibirnya, dan cara matanya berkedip... entah mengapa memiliki kemiripan yang sangat menakutkan dengan gadis yatim piatu miskin bernama Alin yang tadi ia temui di mal. Gadis yang baru saja ia rekrut menjadi model dadakan dengan gaji dua juta rupiah itu.

Kenapa... kenapa struktur wajah Alin si pencuci piring dan Linzy cucuku bisa semirip itu jika jerawat di wajah anak itu dihilangkan? Apakah ini hanya kebetulan geografi Jakarta, atau... ada rahasia malam kebakaran setahun lalu yang belum terbongkar? batin Oma Karin berspekulasi di dalam hatinya, melahirkan sejuta teka-teki baru yang siap meledak di hari esok.

****

Drrtt!! Drrtt!!

Ponsel di saku celana jeans Rakha bergetar hebat dengan ritme brutal, memecah kesunyian malam di kamar kos barunya yang sempit. Ia melirik layar yang menyala garing dengan malas, sebelum akhirnya menempelkan benda itu ke telinga.

"Halo, Ma. Ada apa lagi?" tanya Rakha datar, suaranya sedingin es batu.

"Rakha, kamu di mana sekarang? Kamu tidak pulang-pulang ke rumah. Mama pengen kamu pulang, Nak! Dan Mama mohon... maafkanlah Papa kamu," suara Rossalina Maurin terdengar serak di seberang sana, menyiratkan rasa lelah psikologis yang mendalam.

Rakha mendengus sinis, jemarinya mencengkeram pinggiran meja kosan hingga memutih. "Maaf, Mah. Rakha sudah tidak mau lagi tinggal di rumah itu. Rakha capek kalau terus-terusan dibanding-bandingkan dengan Rayi! Rakha juga anak kandung Mama dan Papa, tapi kenapa Papa selalu menutup mata dan tidak pernah sedikit pun peduli sama keberadaan Rakha?!"

"Bukan begitu, Nak. Sebenarnya Papa sayang sama kamu, jangan berpikir sempit seperti itu. Pulanglah, Nak... sudah lama kita tidak makan malam bersama. Di rumah Mama hanya berdua dengan Rayi sekarang. Papa kamu baru saja terbang lagi ke Paris untuk urusan bisnis," bujuk Rossa dengan nada memohon.

Mendengar sang ayah yang ia benci sedang tidak ada di rumah, pertahanan ego Rakha sedikit goyah. "Iya, Rakha bakalan pulang sekarang. Tapi ingat, hanya untuk makan malam saja!"

Tut!

Sambungan telepon diputus sepihak.

Beberapa saat kemudian...

Mansion megah keluarga Bagaskara berdiri angkuh di bawah pendar sinar lampu jalanan elit Jakarta. Rakha melangkah masuk, namun atmosfer di dalam sana terasa sangat mencekam dan mati.

Di ruang makan yang luas dengan meja panjang berbahan kayu ek mahal abad pertengahan, suasana begitu hening. Hanya terdengar bunyi sendok perak yang berdenting pelan beradu dengan piring porselen—suara minor yang justru membuat telinga terasa sakit.

"Rakha, apakah kamu masih bekerja di butik fashion milik temannya Oma?" tanya Rossa memecah kesunyian, matanya menatap sang putra sulung dengan sorot cemas.

"Iya, Ma. Memangnya kenapa? Apakah salah kalau Rakha bekerja kasar dan bisa menghasilkan uang sendiri?" sahut Rakha ketus tanpa mengalihkan pandangan dari potongan daging di piringnya.

"Memang tidak salah, Nak. Tapi kenapa kamu tidak memakai kartu kredit yang Papa kamu berikan saja? Kamu tidak perlu capek-capek diperas tenaga menjadi model atau apa pun itu," Rossa mencoba meraih tangan Rakha, namun pemuda itu menarik lengannya menjauh dengan gerakan halus namun dingin.

"Tidak, Ma. Rakha haram menyentuh uang pemberian Papa. Karena Papa sendiri yang bilang dengan mulut terhormatnya, bahwa aku ini anak sialan yang memalukan dan tidak sepintar Rayi! Papa bilang aku ini cuma beban warisan!" suara Rakha meninggi, memuntahkan seluruh kepahitan yang ia pendam selama belasan tahun.

"Bang! Jaga mulut Lo! Jangan berbicara kurang ajar seperti itu kepada Papa!!" bentak Rayi yang duduk tepat di seberang Rakha. Wajah remaja itu tampak luar biasa pucat, namun sepasang matanya menatap tajam mematikan sang kakak.

"Apa urusan Lo, hah?! Lo mendingan diam aja, nggak usah ikut campur urusan gue! Anak kesayangan, pangeran mahkota, dan kebanggaan Papa yang paling terhormat!" sindir Rakha dengan nada sarkas yang menusuk ulu hati.

Brakk!

Rayi menggebrak meja makan marmer dengan sisa tenaga fisiknya yang lemah. Kekuatan hentakannya membuat piring, gelas kristal, dan sendok berjatuhan ke lantai, menimbulkan suara dentingan pecah yang memilukan.

"Cukup, Bang! Lo udah keterlaluan menghina keluarga ini!!"

"Ck!! Yang keterlaluan di sini tuh Lo dan Papa!"

Rakha berdiri seketika, kursinya terdorong kasar ke belakang hingga menimbulkan decitan nyaring. "Gue udah banyak mengalah dari dulu sampai sekarang! Papa lebih sayang sama Lo hanya karena Lo mungkin punya otak lebih pintar. Dan Mama pun selalu lebih perhatian sama Lo karena Lo anak bungsu yang manja dan lemah!"

Rakha membalikkan badan, melangkah lebar dengan rahang mengeras meninggalkan ruang makan yang kini kacau balau.

"Rakha, cukup!! Berhenti kamu!! Dengerin dulu, Mama masih mau bicara sama kamu, Nak!" teriak Rossa histeris. Ia segera berlari sekencang mungkin mengejar Rakha hingga ke depan pagar besi mansion yang menjulang tinggi.

Sementara itu, di dalam ruang makan yang mendadak sunyi senyap, Rayi masih terduduk lemas di kursinya. Kata-kata Rakha seolah bertransformasi menjadi belati berkarat yang menghujam tepat di dada kirinya.

Tiba-tiba, rasa sakit yang teramat sangat, seperti diremas oleh tangan raksasa, menyerang jantungnya.

Napas Rayi mendadak menjadi sangat pendek dan sesak. Dengan tangan yang gemetar hebat dan pandangan mata yang mulai berkunang-kunang, ia mencoba berdiri. Ia memaksakan langkah kakinya yang berat menuju kamar tidur lantai satu untuk mencari botol obat butiran kecil yang menjadi penyambung nyawanya setiap hari.

Di luar pagar mansion, Rossa berhasil mencekal kuat lengan jaket Rakha. "Rakha, berhenti! Dengarkan penjelasan Mama dulu!"

"Apalagi yang mau dibahas, Ma?! Rakha capek, mau pulang ke kosan!" Rakha menepis tangan ibunya dengan sentakan kasar.

"Kenapa kamu malah memilih tinggal di kos-kosan triplek pengap itu?! Kenapa tidak tinggal di mansion ini saja?!" tanya Rossa dengan air mata yang mulai mengalir deras membasahi pipinya.

"Udahlah, Ma. Kemarin-kemarin pas Rakha menderita, Mama ke mana saja? Bahkan Rakha tidak pulang seminggu pun Mama tidak pernah repot-repot mencari! Jangan sok peduli sekarang! Apa mungkin sekarang karena Papa lagi nggak ada di rumah, jadi Mama baru berani menghubungi aku, iya?!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!