NovelToon NovelToon
Di Bawah Lampu Operasi

Di Bawah Lampu Operasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Starry Light

Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.

Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.

Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.

Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OK 3 - CABG Elektif

Savira sedikit bergetar, bukan karena takut. Tapi karena ditatap se-intens itu oleh dokter Devan. Pria tampan itu benar-benar tidak mengedipkan kelopak matanya. Savira menelan ludahnya sebelum menjawab pertanyaan itu.

"Karena guideline ESC 2020 merekomendasikan 120-150 J untuk kardioversi AF pada dewasa dengan defibrilator bifasik. Saya mulai dari dosis rendah untuk mengurangi risiko luka bakar miokard."

Dokter Devan masih menatapnya, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Bagus. Kamu tidak panik. Kamu punya alasan."

Lutut Savira terasa lemas, tapi sebisa mungkin dia berdiri tegak.

Dokter Devan menoleh ke arah orang-orang yang duduk dalam ruangan itu. "Morning report bukan tempat adu siapa paling pintar. Ini tempat kita memastikan, kalau pasien di bed 3 drop jam 08:00, orang yang jaga tahu apa yang harus dilakukan tanpa tanya WhatsApp."

Dokter Devan berdiri. "Presentasi diterima. Tapi Savira, besok kamu presentasi kasus Tn. Sudarto. Dan kali ini saya mau kamu bahas ventilator-induced lung injury. Baca dulu."

Savira mengangguk. "Siap, Dokter." Dokter Devan kembali menatapnya satu detik, sebelum keluar dari ruangan itu.

Morning report berakhir. Para residen, konsulen, dan moderator membubarkan diri. Pekerjaan sudah menanti mereka.

Riko berjalan menghampiri Savira. Menepuk pelan pundak dokter muda itu. "Kamu selamat. Biasanya dewa maut potong presentasi orang di menit ke-2."

Savira menarik napas pelan. "Bukan selamat. Dia hanya belum menemukan kesalahan ku." katanya.

"Kesalahan? Apakah tatapan itu mencari kesalahan?" monolog Savira, mengingat tatapan dokter Devan.

Di ujung koridor. Dokter Devan sudah berjalan menuju OK. Tanpa menoleh, dia berbicara pelan ke fellow yang ada disebelahnya.

"Dia cepat. Tapi keras kepala. Bagus. Kita butuh itu di OK."

Savira tidak dengar. Tapi dia merasakan itu.

Morning report selesai. Dan untuk pertama kalinya Savira tidak disebut 'residen baru yang lemah'. Disebut dengan nada 'dia bisa diajak kerja'.

~OK 3~

Jam 08:27, lampu OK 3 nyala hijau.

Di dalam mesin bypass sudah dites. Suara alarm EKG berdetak stabil. Bau antiseptik, karet sarung tangan, dan logam dingin memenuhi ruangan.

Savira berdiri di sisi kepala pasien. Scrub biru, penutup rambut, masker rapat, hanya menyisakan mata yang tidak tertutup.

Ini pertama kalinya dia jadi anestesi kedua di kasus CABG dengan dokter Devan sebagai operator.

Riko di sisinya berbisik. "Kamu siap mati ditatap, Vi?"

Savira tidak menjawab. Dia cek ulang dosis propofol, fentanyl, rukoronium. Jarinya tidak gemetar. Gadis itu sangat percaya diri.

Pintu scrub terbuka. Aroma sandalwood masuk lebih dulu sebelum empunya. Dokter Devan masuk, scrub biru gelap, sarung tangan biru, tatapannya lurus ke meja operasi.

"Status pasien?"

Savira lapor cepat, tanpa melihat catatan. "Tuan Sugandi, 61 tahun. EF 45% . LIMA ke LAD, SVG ke RCA dan OM. Induksi selesai. Intubasi sukses single attempt. Line arteri dan CVC terpasang. Heparin sudah diberikan. ACT 480 detik."

Dokter Devan mengangguk sekali. "Bagus. Kamu pegang hemodinamik. Kalau MAP turun di bawah 65, kasih tahu sekarang. Jangan tunggu saya tanya."

"Siap, Dokter."

Insisi dimulai. Ruangan jadi sunyi. Hanya ada suara suction, bib monitor, dan instruksi pendek.

"Scalpel."

"Retractor."

"Bypass on pump."

Savira tidak berkedip. Matanya bolak-balik antara monitor, syringe pump, dan arteri line.

MAP 72. HR 68. CVP 8. Semua stabil.

Sampai...

"Bib...bib...bib..." Alarm tekanan arteri turun. 58. 55. 52.

Dokter Devan tidak menoleh. "MAP?"

"52, Dokter. CVP turun ke 4. Saya curiga hypovolemia relatif pas on-pump." Savira sudah memegang syringe berisi efedrin. "Izin bolus efedrin 5 mg dan tambah cairan 500 ml."

"Go!" sahut dokter Devan tanpa menoleh.

Satu detik kemudian, MAP naik ke 67. Alarm mati.

Dokter Devan melirik sekilas dari balik kacamatanya. Tidak ada komentar. Tapi tangannya yang sedang anastomosis tidak berhenti. Itu tandanya dia puas.

Riko disisinya kembali berbisik. "Anjir, kamu baru aja nangkis peluru."

Savira tidak tersenyum. "Belum selesai." jawabnya singkat.

30 menit kemudian, bypass selesai. Weaning dari CPB. Ini fase paling gampang gagal.

"Wean." kata dokter Devan.

Savira atur ventilator, titrasi noradrenalin, cek ABG yang baru keluar. "pH 7.36. K+ 4.1. Laktat 1.8. Siap wean, Dokter." lapornya.

Dokter Devan mengangguk. Proses weaning berjalan mulus. Jantung tuan Sugandi mulai ambil alih. MAP 75. HR 80. Irama sinus.

Di meja, dokter Devan akhirnya bicara. Bukan ke pasien. Tapi ke Savira. "Kamu tidak terlambat satu detik pun. Bagus."

Savira tahan napas. Itu pujian kedua dari dokter Devan, padahal belum 24 jam.

"Terimakasih, Dokter." ucap Savira tersenyum tipis dibalik masker.

Operasi selesai jam 12:30. Sukses. Tanpa komplikasi besar.

Saat pasien di dorong keluar, dokter Devan melepas sarung tangan. Dia berhenti di depan Savira. "Besok kasus redo valve. Kamu anestesi utama. Saya supervisi."

Savira mengangkat wajahnya tidak percaya. "Siap, Dokter." jawabnya cepat.

Dokter Devan mengangguk sekali, lalu pergi. Meninggalkan aroma sandalwood nya.

Riko langsung memeluk pundak Savira. "Woahhh.... Kamu di angkat jadi anestesi utama! Aku 8 bulan baru dapat itu."

Savira hanya mendesah pelan. Tangannya yang tadi stabil, sekarang sedikit gemetar. Bukan karena takut gagal. Tapi karena untuk pertama kalinya ada orang yang percaya dia bisa tidak gagal.

Dan orang itu adalah Devan Adiguna Handaru. Si Dewa Maut yang berasal dari serpihan gletser Antartika.

*****

Jam 12:45, Ruang Istirahat Residen.

Savira duduk sendiri di kursi plastik, kepalanya nyungsep diatas meja. Matanya menatap bekas bungkus mie instan yang sudah kosong, kuah rasa sotonya habis duluan, mie nya masih setengah. Plus susu kotak rasa coklat yang mengisi lambungnya. Empat jam berdiri di OK membuat perutnya mual liat nasi.

Masih ada waktu 15 menit lagi sebelum visite ke ICCU.

Pintu didorong. Riko masuk membawa segelas kopi panas untuk dirinya sendiri, dan yogurt stroberi untuk Savira.

"Makasih." Savira mengangkat kepala sebentar, ambil yogurt nya. Tangannya masih bau sabun bedah.

Pria itu meletakkan plastik diatas meja. "Aku juga beli beberapa roti. Makan. CABG empat jam itu nguras gula. Kalau pingsan pas visite, malu." kata Riko. Duduk di seberang meja, menyeruput kopi hitamnya.

Savira melihat plastik putih yang ada di depannya, tapi sama sekali tidak membuatnya selera. Bukan tidak menghargai niat baik Riko, hanya saja, mulutnya terlalu malas untuk mengunyah.

Tangannya membuka tutup yogurt dengan gerakan malas. Riko mendengus melihatnya, sangat berbeda dengan tangan yang dia lihat di OK. Cekatan. Presisi, dan kuat.

"Sepertinya lebih berat plastik itu dari pada spuit yang harganya jutaan." sindir Riko, kembali menyeruput kopinya.

Savira tidak menjawab, hanya tersenyum tipis. Begitulah Savira, irit bicara. Orang yang tidak mengenalnya akan mengatakan sombong padahal ada alasan kenapa Savira bersikap seperti itu. Hanya Riko dan Erika yang tahan berteman dengannya, karena dua orang itu sangat vokal, mereka butuh teman seperti Savira yang diam tapi selalu mendengar ceritanya.

Yogurt stroberi di mulutnya dingin. Manisnya menyebar, menyentuh bagian otak yang tadi 4 jam cuma mikirin tekanan perfusi dan ACT.

"Katupnya tidak bocor, weaning berhasil, dokter Devan gak nyentuh syringe pump sama sakali." monolog Savira dalam hati.

Di seberang Riko yang biasanya ngoceh, kaki ini tidak bersuara. Bagus, pikir Savira. Karena kalau Riko ngomong, kayaknya dia bakal nangis. Bukan karena sedih, tapi karena sekarang badannya sadar. Dia capek.

Di luar, bel visite ICCU bunyi 5 menit lagi. Savira yang baru tiga kali menyendok yogurt nya berhenti. Dia menatap Riko dengan tatapan melas.

Riko menarik sudut bibirnya. "Masih ada waktu. Habiskan dulu." katanya, seakan tahu arti tatapan mata Savira. Gadis itu menghela napas pasrah, dan kembali memakan yogurt stroberi nya.

*

*

*

*

*

To be continued

1
Oktafiani Azzahra
alur nya bagus banget
Aryati Ningsih
lanjut Thor ..semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!