NovelToon NovelToon
Aku Tak Sanggup Lagi

Aku Tak Sanggup Lagi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Dalam Bahaya

Struktur bangunan lantai dasar supermarket itu mulai goyah. Pilar-pilar beton retak secara mengerikan, dan langit-langit gypsum berjatuhan membawa serta lampu-lampu gantung kristal yang pecah berkeping-keping. Supermarket megah itu kini berubah menjadi reruntuhan neraka yang ambrol secara brutal.

​Di tengah kekacauan yang mencekam itu, di balik kobaran api yang melahap pintu masuk utama, sesosok bayangan manusia berdiri tegak sambil menatap ke dalam bangunan dengan tatapan mata yang kosong namun penuh kepuasan yang mengerikan.

​Dara Mitha Dahayu.

Wanita itu mengenakan jaket hitam berlumuran jelaga, rambutnya kusut masai, dan di tangannya tergenggam sebuah alat pemicu jarak jauh yang masih menyala dengan lampu merah berkedip-kedip. Dara tidak lari. Ia justru berdiri di tengah asap tebal, menertawakan kehancuran di hadapannya dengan suara tawa histeris yang melengking tinggi, menembus deru api dan jeritan ketakutan orang-orang.

​"Hahaha! Bakar! Bakar semuanya!" teriak Dara seperti orang kesurupan, air mata kebahagiaan gila mengalir di pipinya yang kotor. "Nikmati kematian kalian di dalam sana! Tidak ada yang bisa lolos! Anjani... mati kau di dalam api itu!"

Anjani, yang tertimpa reruntuhan rak makanan ringan dan setengah sadar akibat menghirup asap tebal, berusaha membuka matanya dengan susah payah. Telinganya berdenging hebat, dan pandangannya kabur. Di tengah kepulan asap yang menyesakkan dada, ia melihat sosok wanita berdiri di ambang pintu yang hancur—sesosok bayangan yang sangat ia kenali, tertawa di atas penderitaan orang banyak.

​“Dara...” batin Anjani lemah sebelum kegelapan perlahan-lahan merenggut kesadarannya, sementara bangunan supermarket itu terus ambrol, menelan segala sesuatu di dalamnya ke dalam puing-puing yang membara.

****

Udara di lantai tertinggi gedung Jones Group mendadak terasa membeku. Rapat darurat dewan direksi yang dipimpin langsung oleh Tuan Jones Senior—yang berniat menjatuhkan mosi tidak percaya dan melengserkan Oliver dari kursi CEO—terpaksa terhenti seketika saat pintu ruang rapat terbuka secara paksa dengan bantingan keras.

​Julian, sang sekretaris pribadi yang biasanya selalu tenang dan efisien, berlari masuk dengan napas memburu dan wajah sepucat kertas. Ia mengabaikan tatapan murka para anggota dewan direksi tua yang terkejut oleh interupsi tersebut. Julian langsung menghampiri Oliver, menyerahkan sebuah smartphone dengan tangan yang gemetar hebat.

"Sir... Anda harus melihat ini sekarang," suara Julian tercekat, nyaris tak berbentuk. "Ada laporan darurat dari stasiun berita nasional dan jaringan keamanan kita. Sebuah ledakan... ledakan besar baru saja menghantam pusat perbelanjaan tempat Nona Anjani berbelanja."

​Dunia di sekitar Oliver Jones seolah runtuh dalam sepersekian detik.

Seluruh ekspresi dingin dan kalkulatif seorang pemimpin korporat seketika lenyap dari wajahnya. Jantung Oliver seolah berhenti berdetak. Ia merebut ponsel dari genggaman Julian dengan kasar. Layar kecil itu menampilkan siaran langsung dari lokasi kejadian: sebuah supermarket megah di kawasan Jakarta Selatan yang kini telah berubah menjadi lautan api dan puing-puing beton yang ambrol. Asap hitam pekat membumbung tinggi ke langit, disusul oleh deru sirine mobil pemadam kebakaran dan ambulans yang bersahut-sahutan.

​"Anjani..." nama itu terucap dari bibir Oliver dengan nada suara yang begitu rendah, sarat akan kepanikan yang teramat sangat.

​Tuan Jones Senior yang duduk di ujung meja rapat sempat hendak membuka mulut untuk menegur kelancangan putranya, namun urung saat melihat perubahan drastis pada diri Oliver.

Pria Inggris itu tidak lagi peduli pada rapat, tidak peduli pada ancaman dewan direksi, dan tidak peduli pada jabatan CEO yang selama ini mereka perdebatkan. Bagi Oliver, seluruh dunia mendadak kehilangan warnanya.

​"Di mana dia?!" bentak Oliver pada Julian dengan suara menggelegar yang membuat seluruh isi ruang rapat terperanjat kaget. "Cari tahu di mana istriku sekarang! Rumah sakit mana yang merawatnya?! Jawab aku, Julian!"

​"Berdasarkan informasi darurat dari tim medis lapangan, Nona Anjani berhasil dievakuasi sebelum bangunan sepenuhnya runtuh, Sir," lapor Julian cepat, berusaha menenangkan atasannya meski ia sendiri diliputi ketakutan. "Beliau saat ini sedang dalam perjalanan darurat menuju Rumah Sakit Medika Sentra di bawah pengawalan ketat tim medis karena mengalami keracunan asap berat dan luka benturan."

****

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Oliver berbalik badan. Ia melangkah lebar meninggalkan ruang rapat megah itu tanpa menoleh sedikit pun ke arah ayah maupun para anggota dewan direksi yang terperangah.

​"Batalkan seluruh agenda hari ini!" seru Oliver lantang sambil berjalan cepat menuju lift pribadi, rahangnya mengeras hingga otot-otot di wajahnya menonjol tajam. "Kerah seluruh pasukan pengamanan swasta kita ke Rumah Sakit Medika Sentra! Jika satu helai rambut istriku terluka... aku akan meratakan bumi ini untuk mencari pelakunya!"

Kemarahan yang membakar dada Oliver kini telah mencapai titik didih yang paling mengerikan. Di dalam kepalanya, hanya ada satu nama yang bertanggung jawab atas teror beruntun ini: Dara Mitha Dahayu. Wanita gila itu telah melewati batas akhir dari kesabaran seorang Oliver Jones.

Ledakan di rumah mereka belum cukup, kini Dara mencoba membunuh Anjani secara langsung.

​“Tunggu pembalasanku, Dara,” sumpah Oliver dalam hati dengan tatapan mata biru yang menyala-nyala penuh darah dingin. “Kali ini, aku tidak akan menyerahkanmu pada hukum atau rumah sakit jiwa. Aku sendiri yang akan mengakhiri hidupmu.”

****

Sementara itu, di IGD Rumah Sakit Medika Sentra, situasinya tampak sibuk dan tegang. Para tenaga medis bergerak cepat menangani para korban ledakan supermarket yang berdatangan. Anjani Direja, yang baru saja tiba menggunakan ambulans, segera dilarikan ke ruang perawatan intensif di lantai tiga.

​Meskipun ia berhasil ditarik keluar dari reruntuhan sebelum bangunan supermarket itu ambrol sepenuhnya, tubuh Anjani dipenuhi luka lebam, goresan pecahan kaca di lengannya, serta saluran pernapasan yang teriritasi parah akibat terlalu banyak menghirup asap hitam beracun. Ia terbaring lemah di atas brankar rumah sakit, napasnya tersengat pelan dengan bantuan masker oksigen yang menutupi separuh wajahnya. Kesadarannya berada di ambang batas antara nyata dan pingsan.

​Seorang dokter spesialis dan dua orang perawat memindahkan Anjani ke dalam sebuah ruang rawat inap khusus yang steril dan tenang.

​"Pastikan kondisinya stabil dan berikan infus dekongestan untuk membersihkan paru-parunya dari sisa asap," instruksi sang dokter kepala kepada perawat yang bertugas. "Jangan biarkan siapa pun masuk kecuali keluarganya langsung. Kondisinya masih sangat rentan."

​"Baik, Dok," jawab seorang perawat wanita berambut hitam sebahu yang mengenakan seragam putih bersih lengkap dengan masker penutup wajah dan topi medis. Perawat itu menunduk hormat, mencatat instruksi dokter di papan klip kecilnya.

Setelah sang dokter meninggalkan ruangan, perawat tersebut menutup pintu kamar rawat rapat-rapat. Ia berdiri di samping tempat tidur Anjani, menatap wanita yang sedang berbaring lemah di bawah pengaruh obat penenang itu dengan tatapan mata yang memancarkan kebencian murni yang dingin dan mengerikan.

​Perawat itu perlahan-lahan menurunkan masker medis yang menutupi wajahnya.

​Itu bukan perawat asli rumah sakit. Itu adalah Dara Mitha Dahayu.

1
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Adi Sudiro
cerita dibikin dramatis tapi penuh cela dan kebodohan
di rumah sakit kenapa tidak di bius atau di suntik mati misalkan...... tapi cerita ya tetap cerita....
Serena Muna: EMANG DIBIKIN DRAMATIS NAMANYA JUGA CERITA!
total 1 replies
Siti M Akil
g mati² ky tom Jery 🤣🤣
Heriyani Lawi
ceritanya ky film India, meskipun ditangkap bbrp kali msh aja lolos. klo aku mungkin dah kutembak mati aja tuh si dara, ngapain diserahkn ke polisi klo ujung2nya lepas lg
Heriyani Lawi
ceritanya agak aneh menurutku thor. sdh tau dara melarikan diri dan bersifat licik, knp ayahnya Anjani tidak dikawal dan dibiarkan sendiri
Dew666
👍
Iffanaya 😽
dara tu gk bisa dimasukin penjara lg, orang mcm dara lbih baik dimusnahkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!