NovelToon NovelToon
Mantan Istri Rahasia Sang CEO

Mantan Istri Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pertiwi Dian

​"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."

​Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.

​Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.

​Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dansa di Bawah Langit Malam

Malam merambat pelat di atas resor apung terpencil Kepulauan Seribu, membawa serta angin laut yang sejuk dan suara deburan ombak yang ritmis menenangkan. Langit bersih tanpa awan, menampilkan hamparan bintang yang berpendar seperti taburan berlian di atas kain beludru hitam.

​Elena baru saja selesai bersiap di dalam kamar vila ketika lampu utama mendadak padam. Jantungnya sempat berdesir panik, namun sedetik kemudian, deretan lampu gantung kecil berwarna kuning hangat (warm white) di sepanjang jembatan kayu luar ruangan menyala otomatis, membentuk jalur bercahaya menuju dek apung utama.

​Di ujung dek, sebuah meja makan bundar untuk dua orang telah tertata dengan sangat mewah. Lilin-lilin aromaterapi beraroma lavender dan kayu cendana tersusun rapi, menari-nari ditiup angin laut dan menguapkan wewangian yang menenangkan.

​Arthur sudah berdiri di sana, menunggunya. Pria itu tampak luar biasa tampan di bawah sorotan lampu temaram. Begitu Elena melangkah keluar dengan gaun sutra satin berwarna merah marun yang pas di tubuh indahnya, tatapan mata elang Arthur menggelap seketika terpesona dan penuh dengan rasa kepemilikan yang mutlak.

​"Kamu sangat cantik, Elena," bisik Arthur, melangkah maju untuk menyambut tangan Elena dan mengecup punggung tangannya dengan lembut namun penuh penekanan.

​Elena tersenyum, pipinya merona alami. "Kamu merencanakan semua ini sendirian? Di mana para pelayan?"

​"Aku menyuruh mereka menyiapkan hidangan sebelum matahari terbenam dan langsung kembali ke kapal pesiar yang bersandar dua mil dari sini," jawab Arthur sambil menarikkan kursi untuk Elena. "Malam ini hanya ada aku dan kamu. Aku tidak suka ada mata lain yang memandangimu."

​Makan malam privat itu berlangsung dengan sangat intim. Hidangan laut segar berlapis bumbu premium khas Prancis disajikan dengan sempurna, ditemani oleh alunan musik instrumental klasik yang mengalun lembut dari pemutar suara nirkabel tersembunyi.

​Arthur yang biasanya irit bicara dan berwajah sedingin es di depan dewan direksi, malam ini menjelma menjadi pria yang sangat perhatian. Setiap kali Elena menyeka sudut bibirnya, atau ketika angin malam membuat tubuh Elena sedikit bergidik, Arthur dengan sigap memakaikan jas hitam mahalnya ke bahu sang istri.

​"Arthur, terima kasih," ucap Elena tulus, menatap suaminya dari balik nyala lilin. "Setelah semua kekacauan dengan Rosa dan perjuangan membangun butik, malam ini terasa seperti mimpi yang sangat indah."

​Arthur menggenggam tangan Elena di atas meja, mengusap jemari lentik itu dengan ibu jarinya. "Ini bukan mimpi, Elena. Ini adalah kenyataan yang seharusnya kamu dapatkan sejak lima tahun lalu. Dan aku akan memastikan setiap hari berikutnya akan terasa seperti ini untukmu."

​Setelah hidangan penutup selesai dinikmati, Arthur bangkit berdiri. Dia mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Elena dengan membungkuk hormat layaknya seorang pangeran kerajaan. "Nyonya Arkananta, maukah Anda berdansa denganku?"

​Elena terkekeh geli melihat sisi romantis suaminya yang tidak biasa ini. Dia menyambut uluran tangan kekar itu. "Dengan senang hati, Tuan Arkananta."

​Di bawah hamparan miliaran bintang dan disaksikan oleh samudra luas, kedua tubuh itu bergerak selaras mengikuti alun musik lambat. Tangan Arthur mendekap erat pinggang Elena, menarik tubuh mungil itu tanpa menyisakan jarak sedikit pun, sementara tangan Elena mengalung nyaman di leher kokoh Arthur.

​Mereka berdansa dengan lambat, menikmati kehangatan tubuh satu sama lain di tengah dinginnya angin laut. Detik itu terasa berhenti berputar.

​Saat lagu berakhir, Arthur tidak melepaskan dekapannya. Dia justru meraba saku jasnya yang kini bertengger di bahu Elena, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua dengan ukiran emas lambang keluarga Arkananta.

​Begitu kotak itu dibuka, sebuah kalung berlian berdesain kuno namun sangat elegan berkilau dengan megahnya di bawah cahaya bulan. Berlian utama di tengahnya berbentuk air mata berwarna biru safir langka yang sangat jernih.

​Elena menutup mulutnya dengan tangan, terkesiap takjub. "Arthur... ini..."

​"Ini The Heart of Arkananta," ucap Arthur rendah, suaranya sarat akan emosi mendalam. "Kalung turun-temurun yang hanya diberikan kepada wanita yang secara resmi menjadi ratu di dalam hidup pemimpin tertinggi Arkananta. Ibu mendiangku memakainya, dan kini, kalung ini telah menemukan pemilik sahnya yang abadi."

​Arthur membalikkan tubuh Elena, menyingkap rambut panjang istrinya ke samping dengan lembut, lalu memakaikan kalung mewah itu ke leher jenjang Elena. Dinginnya logam mulia itu menyentuh kulit Elena, namun kehangatan yang menjalar di hatinya jauh lebih mendominasi.

​Saat Elena berbalik kembali menghadapnya, Arthur menatap safir biru di leher Elena yang berpadu sempurna dengan kecantikan wajah istrinya. Pria itu menundukkan kepalanya, mengunci bibir Elena dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, posesif, dan penuh dengan janji pelindung yang tak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun di dunia ini.

1
Indah Wahyuni
bagus ceritanya, alurnya tidak bertele-tele, penokohannya kuat. tinggal bertumbuh dan berkembang SJ authornya.
Dian Pertiwi: Baik siap kakak Terimakasih atas masukannya dan penilaian nya 🙏🏻🥰😘🩷
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!