"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHKOTA YANG TERLUKA
Matahari sore baru saja meredup ketika sedan hitam milik Arga memasuki kawasan perumahan elit di Menteng.
Di balik kemudi, Arga mempertahankan ekspresi tenang andalannya, namun genggaman tangannya pada setir terasa sedikit lebih erat.
Di sampingnya, Queen duduk gelisah.
Gadis cegil yang biasanya urakan itu kini terus-menerus meremas ujung syalnya, menatap gerbang besi menjulang tinggi yang terbuka otomatis menyambut kedatangan mereka.
Ini adalah rumah utama keluarga Queen.
Sebuah istana megah bernuansa klasik modern yang berdiri di atas lahan seluas ribuan meter persegi.
Seluruh dunia tahu siapa pemilik takhta di dalam rumah ini.
Keluarga Adhitama.
Dinasti bisnis raksasa yang bertengger kokoh di peringkat kedua sebagai keluarga terkaya di dunia.
"Mas... aku mendadak mual lagi, tapi bukan karena bawaan bayi," cicit Queen, suaranya bergetar tipis saat mobil berhenti tepat di depan lobi utama yang dijaga ketat oleh beberapa pengawal berjas hitam.
Arga menoleh, mematikan mesin mobil lalu melepas sabuk pengamannya.
Ia meraih jemari dingin Queen, membawanya ke depan bibir untuk mengecupnya lembut.
"Ada aku. Kita hadapi ini bersama, Kamu tidak sendirian."
Queen mengembuskan napas panjang.
Sebenarnya, ia sudah berbulan-bulan tidak menginjakkan kaki di rumah ini.
Ia lebih memilih mengasingkan diri di apartemen mewahnya di pusat kota.
Bagi Queen, rumah megah ini tak lebih dari sekadar museum berlapis emas.
Sebagai anak tunggal dari konglomerat nomor dua di dunia, hidupnya selalu dipenuhi materi namun miskin kehadiran.
Mommy dan Daddy-nya adalah sepasang mesin pengumpul pundi-manajemen global yang waktunya habis di atas jet pribadi dari satu benua ke benua lain.
Kalaupun Queen pulang, yang menyambutnya hanyalah gema langkah kakinya sendiri di lorong-lorong yang sepi.
Namun hari ini berbeda.
Setelah melalui drama perceraian Arga yang melelahkan dan restu yang didapat dari keluarga Dirgantara, Queen tahu ia harus pulang.
Ia harus memperkenalkan pria yang dicintainya, sekaligus membawa kabar tentang nyawa baru di rahimnya.
Pintu jati kembar setinggi empat meter itu terbuka.
Di dalam ruang tamu utama yang didominasi marmer Italia dan lampu kristal gantung, dua sosok paruh baya berpenampilan teramat elegan sudah duduk menunggu.
Handoko Adhitama, sang Daddy, duduk dengan tegap mengenakan setelan jas buatan penjahit terbaik di London.
Guratan wajahnya tegas, dingin, dan memancarkan aura intimidasi yang mampu membuat para CEO global gemetar.
Di sebelahnya, sang Mommy, Elena Adhitama, tampak anggun dengan gaun sutra minimalis dan perhiasan mutiara yang melingkar di lehernya.
"Akhirnya anak tunggal keluarga Adhitama ingat jalan pulang," suara bariton Handoko menggema, dingin tanpa riak emosi saat melihat Queen melangkah masuk bersama Arga.
"Mommy, Daddy," sapa Queen, berusaha tegap meski hatinya berdegup kencang.
Ia menoleh ke arah Arga.
"Ini... Arga Dirgantara. Dosen aku di kampus, dan... kekasih aku."
Arga melangkah maju secara formal, membungkukkan tubuhnya dengan sopan.
"Selamat sore, Pak Handoko, Ibu Elena.
Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu langsung dengan Anda berdua."
Handoko hanya menatap Arga dengan sepasang mata elang yang menyipit tajam.
Sebagai pria yang menguasai hajat hidup orang banyak, ia bisa membaca aura kedewasaan, ketegasan, dan wibawa dari dalam diri Arga.
Namun, insting seorang ayah memberi tahunya bahwa ada sesuatu yang tidak beres dari kedatangan mereka yang mendadak ini.
"Duduk," perintah Handoko mutlak.
Setelah mereka duduk berhadapan, keheningan yang mencekam kembali merayap.
Elena menatap putrinya dengan jeli, menyadari kepucatan di wajah baby face Queen serta bagaimana tangan Arga yang terus menggenggam posesif jemari putrinya di bawah meja.
"Langsung ke intinya, Queen.
Daddy tidak punya waktu banyak untuk obrolan basa-basi. Apa tujuanmu membawa dosenmu ini ke rumah?"
tanya Handoko, matanya mengunci pergerakan Arga.
Queen menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanian cegil-nya yang ugal-ugalan.
Ia menatap lurus ke dalam mata sang Daddy.
"Aku... aku sedang hamil, Dad.Anak Mas Arga."
'Blam!'
Kata-kata itu laksana hantaman gada besi yang meruntuhkan keangkuhan di ruang tamu megah tersebut.
Elena spontan membekap mulutnya dengan wajah syok yang luar biasa, sementara wajah Handoko seketika berubah menjadi merah padam, menegang hebat hingga urat-urat di pelipisnya menonjol mengerikan.
"Apa kamu bilang?!"
Handoko berdiri dari kursinya.
Auranya mendadak berubah menjadi sangat pekat dan membunuh.
"Kamu menghamili putri tunggal saya?!"
Sebelum Arga sempat mengeluarkan sepatah kata untuk menjelaskan, Handoko sudah melangkah lebar memutari meja.
Dengan kecepatan dan amarah yang meledak-ledak, tinju mentah pria paruh baya yang masih sangat bertenaga itu melayang keras, menghantam rahang tegas Arga.
'Bugh!'
Tubuh tegap Arga tersungkur ke lantai marmer yang keras.
Sudut bibirnya langsung robek, mengeluarkan darah segar yang mengalir ke dagunya.
"Daddy! Stop!" jerit Queen histeris, langsung berdiri dari duduknya.
Namun, Handoko yang sudah gelap mata oleh rasa murka karena kehormatan putri semata wayangnya telah dinodai, tidak memberi ampun.
Ia menarik kerah kemeja Arga, memaksa pria berusia 30 tahun itu berdiri, lalu kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi ke perut dan wajah Arga.
'Bugh! Bugh! Krak!'
Arga tidak membalas.
Sedikit pun tidak.
Sebagai pria jantan dan dewasa, ia tahu ini adalah konsekuensi dari perbuatannya.
Ia menerima setiap hantaman fisik itu sebagai bentuk pertanggungjawabannya kepada ayah dari wanita yang dicintainya.
Arga terengah-engah, tubuhnya kembali terjerembab di atas lantai dengan napas yang memburu ngos-ngosan, darah mulai menetes membasahi lantai marmer putih yang suci.
"Pria keparat!
Saya membesarkan Queen dengan gelimang harta dan kehormatan, dan kamu berani merusaknya sebelum pernikahan?!"
bentak Handoko, bersiap melayangkan tendangan keras ke arah dada Arga.
"Daddy, aku mohon hiks... Stop!"
Queen langsung melompat dari tempatnya, menjatuhkan dirinya di atas lantai marmer, memeluk erat tubuh tegap Arga yang sudah babak belur.
Tangis histerisnya pecah tanpa kendali.
Air matanya mengalir deras membasahi pipi, bercampur dengan darah Arga yang mengenai kemejanya.
"Jangan pukuli Mas Arga lagi, Dad! Aku yang salah!
Aku yang ngejar-ngejar dia! Tolong... jangan sakiti ayah dari anak aku, Daddy!"
Arga dengan sisa tenaganya menggerakkan tangan kekarnya, mendekap punggung Queen yang bergetar hebat karena menangis.
"Queen... jangan menangis...
saya tidak apa-apa," bisik Arga dengan suara yang teramat serak dan lemah di dekat rungu gadis itu.
Elena yang tidak tega melihat putrinya menangis histeris seperti itu akhirnya ikut berdiri dan memegang lengan suaminya.
"Sudah, Dad...
Cukup.
Kamu bisa membunuhnya kalau begini terus."
Handoko menarik napasnya dalam-dalam, dadanya naik turun dengan emosi yang perlahan ia tekan kembali ke dalam dadanya.
Ia menatap tajam ke arah Arga yang masih berusaha melindungi Queen di dalam pelukannya meskipun tubuhnya sendiri sudah kesakitan luar biasa.
Ada secercah rasa hormat yang timbul di hati Handoko melihat bagaimana Arga sama sekali tidak melawan dan tetap memprioritaskan keselamatan Queen.
"Berdiri kamu, Arga," perintah Handoko dengan suara yang kembali dingin bak es batu.
Dengan dibantu oleh Queen yang terus terisak, Arga perlahan-lahan menegakkan tubuh tegapnya kembali duduk di sofa, mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan.
Handoko kembali duduk di kursinya, merapikan jasnya yang sedikit kusut.
Tatapannya menatap lurus ke arah sepasang kekasih di hadapannya.
"Saya merestui kalian untuk menikah," ucap Handoko tiba-tiba, membuat tangisan Queen seketika terhenti.
Namun, sebelum Queen sempat merasa lega, Handoko kembali melanjutkan kalimatnya dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.
"Tapi... pernikahan kalian baru akan dilaksanakan secara sah dan megah setelah bayi di dalam kandungan Queen lahir ke dunia."
"Kenapa harus nunggu lahir, Dad?"
tanya Queen dengan suara serak pasca menangis.
"Karena saya tidak mau cucu pertama dari dinasti Adhitama menerima akibat dari perbuatan ugal-ugalan kedua orang tuanya," jawab Handoko tegas, matanya melirik tajam ke arah perut Queen.
"Jika kalian menikah sekarang di saat kamu sedang hamil muda, seluruh dunia akan tahu bahwa putri tunggal keluarga Adhitama hamil di luar nikah.
Gosip, media, dan tekanan publik akan menyerang mentalmu dan janin itu.
Saya tidak akan membiarkan nama baik cucu saya cacat sejak hari kelahirannya."
Handoko beralih menatap Arga dengan pandangan mengintimidasi.
"Gunakan waktu selama kehamilan Queen ini untuk menyelesaikan seluruh proses hukum perceraianmu dengan mantan istrimu sampai bener-bener bersih tanpa sisa.
Saya tidak ingin putri saya dikaitkan dengan drama rumah tangga masa lalumu.
Dan selama itu pula... kamu harus membuktikan kepada saya bahwa kamu bener-bener mampu menjaga Queen dan calon penerus Adhitama.
Paham?"
Arga menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Handoko.
Meski wajahnya dipenuhi lebam dan rasa sakit yang mendera fisiknya, sorot mata elang Arga kembali memancarkan ketegasan dan determinasi seorang pria sejati.
"Saya paham, Pak Handoko," sahut Arga dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan penuh kepatuhan yang jantan.
"Saya menerima semua syarat Anda.
Aku akan menjaga Queen dengan seluruh jiwa dan raga saya, dan saya pastikan...
saat anak kami lahir, segalanya akan siap dan bersih untuk menyambut pernikahan kami."
Queen yang mendengar penuturan mantap dari Arga langsung menggenggam erat lengan kekar pria itu, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh yang malam ini terasa begitu hangat dan melindungi.
Di balik dinding ruang tamu megah keluarga terkaya nomor dua di dunia ini, sebuah komitmen besar baru saja ditempa lewat darah dan air mata.
Langkah mereka ke depan mungkin masih panjang, namun dengan cinta gila mereka yang kian mengikat kuat, mereka siap menghadapi dunia.
recom lah pokoknyaa