NovelToon NovelToon
Bos Kucing Oranye

Bos Kucing Oranye

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: La Runa

Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.

​Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.

​Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Canggung Pasca Transformasi

Jika ada kompetisi untuk situasi paling mematikan bagi kesehatan mental seorang sekretaris, Kinanti Amalia yakin dirinya akan keluar sebagai juara pertama tanpa perlawanan.

Bagaimana tidak? Detik ini, Arkananta Mahardika—pria yang biasanya membuat seluruh direksi gemetar hanya dengan satu deheman—sedang berada tepat di atas tubuhnya. Saking dekatnya, Kinanti bisa merasakan hembusan napas hangat Arkan di keningnya. Namun, yang membuat pasokan oksigen di paru-paru Kinanti mendadak menipis bukan hanya ketampanan sang bos yang di luar nalar, melainkan pakaian yang dikenakannya.

CEO PT Mahardika Megah itu kini hanya mengenakan kaus dalam putih tipis, dipadukan dengan celana pendek boxer satin warna merah muda bermotif kepala kucing mini—yang merupakan baju tidur santai milik Kinanti yang tergeletak di kasur sejak pagi.

"Pak... Pak Arkan," cicit Kinanti, kedua tangannya yang tadi refleks menahan pinggang Arkan agar tidak jatuh menimpanya kini mendadak kaku seperti tripleks. "Bisa... tolong geser sedikit? Bapak... berat banget."

Arkan mengerutkan kening. Menggunakan sisa-sisa harga diri aristokratnya, ia menumpu berat tubuhnya dengan kedua siku, lalu dengan gerakan cepat—yang masih menyisakan kelincahan seekor kucing—ia berguling ke samping, duduk di atas lantai semen ekspos apartemen Kinanti.

Pria itu menatap penampilannya sendiri. Kedua mata elangnya melebar saat menyadari lengan kekarnya terekspos, dan kakinya yang panjang dibungkus oleh celana pendek bermotif kucing yang super ketat.

"Kinanti," suara bariton Arkan terdengar sangat rendah, jenis suara yang biasa ia gunakan sebelum memecat kepala divisi. "Apa yang saya pakai ini?"

Kinanti buru-buru bangkit, duduk sambil merapikan kemeja kerjanya yang agak kusut. Wajahnya sudah merah padam sampai ke telinga. "Itu... itu celenang—eh, maksud saya celana tidur saya, Pak! Tadi saat Bapak bersinar dan mendadak membesar, Bapak menimpa kasur, dan... ya, tubuh Bapak langsung terbungkus baju terdekat yang ada di sana!"

Arkan memejamkan mata rapat-rapat. Jemari panjangnya memijat pangkal hidungnya yang mancung, mencoba meredam badai rasa malu yang siap meledakkan kepalanya. "Lupakan soal celana ini. Jangan pernah bicarakan hal ini lagi di kantor, atau saya pastikan bonus tahunanmu berubah jadi potongan absen."

"Siap, Pak! Ingatan saya tentang lima menit terakhir ini sudah resmi saya hapus dari otak!" jawab Kinanti sambil membuat gestur mengunci mulut dan membuang kuncinya ke udara.

Arkan mengembuskan napas berat, lalu berdiri. Postur tubuhnya yang tegap dan tinggi menjulang langsung membuat apartemen berukuran 4x4 meter itu terasa semakin sempit dan sesak. Ia melirik map dokumen di atas meja yang baru saja selesai mereka tandatangani.

"Kerja bagus untuk dokumennya," kata Arkan, suaranya kembali datar dan profesional, seolah-olah dia tidak sedang memakai boxer merah muda. "Kamu berhasil mendeteksi rencana Rangga dengan cepat. Saya tidak salah memilih kamu sebagai sekretaris pribadi."

Mendengar pujian yang tulus dari mulut Arkan saat berwujud manusia—bukan berupa meongan—membuat jantung Kinanti melewatkan satu detakan. "Terima kasih, Pak. Sudah tugas saya untuk melindungi kepentingan Bapak dan perusahaan."

"Sekarang, masalahnya adalah..." Arkan berjalan mendekati jendela, menatap ke luar ke arah jalanan Jakarta yang mulai padat di hari Sabtu siang. "...saya tidak bisa pulang ke rumah saya dengan pakaian seperti ini. Supir saya, Bambang, juga sudah saya suruh pulang semalam."

Kinanti mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari. "Kalau Bapak mau, saya bisa membelikan kemeja dan celana panjang di mal seberang jalan, Pak. Ukuran baju Bapak berapa?"

Arkan menoleh, menatap Kinanti dengan alis terangkat. "Kamu sudah menjadi sekretaris saya selama dua tahun, Kinanti. Kamu yang menjadwalkan semua pengukuran jas pas bodi saya di penjahit Prancis itu. Masa kamu tidak tahu ukuran tubuh saya?"

Kinanti menelan ludah. Ya tahu, Pak! Sangat tahu malah! Lingkar dada 102 senti, pinggang 84 senti, tapi kan nanya basa-basi itu sopan santun korporat! jeritnya dalam hati.

"Ah, iya. Ukuran L untuk kemeja, dan nomor 32 untuk celana, kan Pak? Baik, saya akan segera membelinya. Bapak tunggu di sini saja, jangan buka pintu untuk siapa pun, dan kalau bisa... jangan melompat ke atas lemari lagi," kata Kinanti, sengaja menyindir kejadian lalat tadi pagi.

Arkan mendelik tajam. "Kinanti."

"Iya, Pak, saya berangkat sekarang!" Kinanti menyambar tas kecilnya dan langsung ngacir keluar pintu sebelum sang bos sempat melayangkan omelan mautnya.

Sepeninggal Kinanti, suasana apartemen menjadi sunyi. Arkan duduk di sofa lipat milik sekretarisnya. Matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang sangat sederhana ini. Di pojok ruangan, ada sebuah meja kecil dengan cermin, tempat beberapa produk perawatan wajah lokal milik Kinanti tertata rapi. Di dekat kasur, ada beberapa buku tentang manajemen bisnis dan novel romantis yang halamannya sudah agak terlipat.

Arkan menunduk, menatap telapak tangan manusianya. Rasa hangat saat Kinanti mengusap dagunya semalam entah mengapa masih tersisa. Selama bertahun-tahun, sejak kutukan keluarga ini jatuh kepadanya saat ia menginjak usia remaja, Arkan selalu mengisolasi diri. Setiap kali hujan turun, ia akan mengunci diri di ruangan kedap suara di rumah mewahnya, sendirian, ketakutan, dan dipenuhi rasa marah terhadap takdir.

Namun semalam... untuk pertama kalinya, ia tidak sendirian. Ada seorang gadis yang tidak memandang dirinya sebagai CEO kaya raya yang menakutkan, melainkan sebagai seekor makhluk berbulu yang butuh dilindungi dan diberi makan mi instan.

Arkan menyandarkan punggungnya ke sofa, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat jarang terlihat di wajah tegasnya. "Gadis yang aneh," gumamnya pelan.

Satu jam kemudian, Kinanti kembali dengan membawa sebuah kantong belanjaan besar dari merek pakaian pria ternama. "Pak Arkan, ini bajunya. Saya juga belikan kopi arabika dari kafe di bawah, barangkali Bapak butuh kafein."

Arkan menerima kantong tersebut. "Terima kasih. Saya pinjam kamar mandimu."

Ketika Arkan keluar dari kamar mandi sepuluh menit kemudian, Kinanti hampir saja menjatuhkan cangkir kopinya. Arkan telah kembali menjadi dirinya yang semula: kemeja hitam polos yang pas di tubuh atletisnya, celana kain abu-abu gelap, dan rambut yang disisir rapi ke belakang menggunakan sisa air. Aura bos besar yang karismatik langsung kembali memenuhi ruangan.

"Dokumen ini," Arkan mengambil map dari Rangga, "akan saya bawa sendiri. Hari Senin, saya ingin kamu menjadwalkan rapat direksi jam delapan pagi tajam. Jangan beri tahu Rangga tentang revisi halaman tiga yang kita lakukan."

"Baik, Pak," jawab Kinanti, kembali ke mode profesional, meskipun hatinya masih sedikit berdegup kencang melihat penampilan baru bosnya.

Arkan berjalan menuju pintu, namun sebelum ia memutar knop pintu, ia menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap Kinanti yang berdiri di tengah ruangan.

"Kinanti," panggilnya, suaranya melembut, kehilangan nada dingin yang biasanya selalu melekat.

"Ya, Pak?"

"Soal semalam... terima kasih karena tidak membuang saya ke tempat penampungan hewan," kata Arkan dengan bumbu humor kering khas dirinya. "Dan terima kasih untuk mi instannya. Rasanya tidak seburuk yang saya bayangkan."

Kinanti terkekeh, rasa canggung yang sempat membeku di antara mereka perlahan mencair. "Sama-sama, Pak. Tapi kalau boleh jujur, saya lebih suka Pak Arkan versi kucing. Lebih penurut dan tidak suka memotong bonus karyawan."

Arkan menaikkan satu alisnya, memberikan tatapan mengancam yang jenaka. "Jangan harap. Di kantor, saya tetap bosmu. Bersiaplah untuk hari Senin, karena kita punya seorang direktur operasional yang harus kita bereskan."

Dengan kata-kata itu, Arkan melangkah keluar dari apartemen Kinanti, meninggalkan sang sekretaris yang kini menatap pintu tertutup dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. Akhir pekan ini luar biasa melelahkan, namun untuk pertama kalinya dalam dua tahun bekerja, Kinanti merasa hari Senin tidak lagi terasa menakutkan.

1
Ana Dww
😭
Ana Dww
Wait, 6 Kilogram?
Ana Dww
😭Sama seperti Cleo—Kucing oranyeku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!