Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pov Gavin
Sudah lebih satu jam aku di bar, mengistirahatkan pikiran setelah seharian sibuk bekerja, pencahayaan temaram namun hangat memberikan efek relaksasi yang saat ini kubutuhkan.
Tawa Alvin begitu lepas saat ku kabarkan jika aku akan segera menceraikan Azalia.
"Akhirnya hari indahmu akan segera kembali." Kata Alvin sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Selain aku, Alvin juga salah satu orang yang membenci Azalia.
"Kau harus segera menyelesaikan urusan dengan Azalia, karena Renata akan segera kembali." Alvin tampak malas saat menyinggung hubunganku dengan Azalia.
Aku menegakkan tubuhku, dua tahun kekasihku yang pergi akan kembali, dan pernikahan gila ini akan segera berakhir. Renata adalah gadis yang kuinginkan. Tidak seperti Azalia.
"Apa kau tidak merasa rugi menceraikannya begitu saja, tanpa mencicipi tubuh Azalia?" Salah satu temanku menimpali, suaranya setengah mengejek.
Aku mendengus pelan. "Aku tidak tertarik dengan tubuhnya."
"Tapi apa dia benar-benar rela melepaskanmu begitu saja? Ingat bagaimana liciknya mereka menjebakmu!" Alvin mengingatkanku. Ekspresinya berubah lebih serius.
Aku diam. Ucapan Alvin ada benarnya. Aku tidak percaya pada Azalia atau keluarganya. Selama perceraian belum sah, mereka pasti akan mencari cara untuk mempertahankan pernikahan ini. Azalia tidak lebih dari alat bagi keluarganya untuk memperpanjang eksistensi mereka. Dia pura-pura patuh, berpura-pura tidak menginginkan apapun, tapi aku tahu pada akhirnya, dia akan melakukan sesuatu untuk mempertahankan statusnya sebagai istriku.
Getaran dari saku celana menarik perhatianku. Aku mengeluarkan ponsel dan membuka pesan singkat yang masuk.
[Aku sudah pergi dari rumahmu. Tapi aku berjanji akan menunggumu di balai catatan sipil sesuai waktu yang kita sepakati. Aku tidak akan melarikan diri, aku pasti datang]
Sialan!
Ku cengkram ponsel di tanganku.
Persis seperti yang kuduga. Ini caranya untuk menghindar dari perceraian. Pura-pura setuju agar aku sedikit lengah. Aku tidak bodoh, Azalia pasti sedang menyusun sesuatu untuk kabur dari perceraian.
Aku bangkit dari kursi bar. Membuat Alvin dan yang lain menatapku. "Aku pulang."
"Serius? Kita belum selesai bicara."
Ku abaikan Arvin, kuletakkan beberapa lembar uang merah di atas meja sebelum berjalan keluar. Suasana di luar terasa lembab, karena hujan baru saja reda. Aku buru-buru masuk kedalam mobil.
Aku kendarai mobil dengan kecepatan lebih dari batas normal, jemariku mencengkram setir dengan tidak sabar. Aku tahu Azalia. Dia penuh kepura-puraan, selalu sok polos, selalu pura-pura tenang di depanku. Ini pasti caranya untuk menarik ulur jalannya perceraian.
Namun begitu aku tiba di rumah, sesuatu yang tidak biasa menyambutku.
Rumah ini....sangat sunyi.
Aku melangkah masuk, menyapu pandangan ke sekeliling. Sofa yang biasa ia duduki saat membaca tidak lagi ada selimut andalannya. Vas bunga yang selalu ada bunga mawar putih kesukaannya, hilang. Aku berjalan lebih jauh, ke dapur, ke ruang makan, lantas ke kamarnya.
Tidak ada.
Semua kosong.
Perhatianku teralih pada lemari pakaiannya yang terbuka. Tidak ada satupun pakaiannya yang tersisa. Tidak ada sepatu, tidak ada tas, tidak ada tanda bahwa seseorang pernah tinggal di sini.
Seakan .... Azalia benar-benar telah pergi.
Aku berdiri di tengah ruangan yang terasa lebih luas, terlalu sepi. Jemariku mengepal.
Azalia.
Apa yang sebenarnya kau rencanakan?
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Waktu berjalan semestinya....
Besok adalah hari yang kami sepakati untuk bertemu di catatan sipil.
Orang-orang yang aku suruh mencarinya, sama sekali tidak menemukan keberadaan wanita itu.
Sialan!
Perempuan brengsek!
Ku sapu berkas-berkas di atas meja kerja dengan penuh kekesalan.
Alvin muncul dari pintu.
"Lihat? Sudah kubilang bukan? Dia itu tidak sepolos wajahnya! Dia itu adalah alat bagi keluarga Sanjaya. Dan kau tahu mereka licik! Susah payah mereka mengatur untuk menjebakmu bersama anak mereka, mana mungkin mereka membiarkan umpan lepas begitu saja?"
Aku meremas telapak tanganku lebih kuat, jika saja Azalia tepat berada di depanku, aku tak segan mencekiknya hingga mati.
"Kau hanya bisa menunggu, lihat saja. Keluarga hama itu akan segera menghubungimu, mereka akan memaksamu membagi aset secara adil, guna menyetujui perceraian yang kau inginkan." Alvin memukul pintu.
"Mereka itu sudah tidak punya malu! Benar-benar keluarga hama, semakin dipelihara, semakin serakah dan ingin menggerogoti hartamu!" Cibir Alvin lagi. "Cara licik agar kau menikahi anak mereka saja sudah mereka lakukan, apa ada batasan untuk mempertahankan pernikahan kalian? Tentu tidak! Yang ada, mereka hanya akan mencari cara bagaimana terus bertahan di posisi nyaman mereka saat ini."
Aku mengusap wajah frustasi.
Awas aja jika sampai besok dia tidak muncul!
Sejak semalam hujan terus mengguyur bumi dengan derasnya. Sampai pagi ini pun, rintik kecil masih membasahi kap mobil yang ku kendarai. Mataku menatap lurus ke arah gedung biro catatan sipil yang tampak basah karena sisa hujan semalam.
Sudah berhari-hari aku mencari keberadaan Azalia. Berhari-hari aku membayangkan berbagai kemungkinan, mempersiapkan segala cara untuk menghadapi usahanya mempertahankan pernikahan ini. Namun, kenyataannya justru jauh dari apa yang kubayangkan.
Dia telah tiba lebih dulu.
Aku melihatnya dari balik kaca jendela mobil. Azalia berdiri di dekat pintu masuk, tubuhnya dibalut jaket kulit yang terlihat terlalu besar untuk badannya yang kurus. Bahkan dari kejauhan, aku bisa melihat wajahnya yang pucat, lingkaran hitam di bawah matanya, serta pundaknya yang tampak ringkih, seolah sedikit saja angin bertiup, wanita itu akan roboh.
Tanpa sadar aku mengepalkan jemariku di atas paha, merasakan ketidaknyamanan yang samar di dadaku.
Akhirnya, aku keluar dari mobil, membiarkan rintik hujan membasahi ujung jasku. Langkahku menuju ke arahnya, tapi Azalia hanya menoleh sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangannya.
Tidak ada harapan di matanya. Tidak ada air mata. Kosong.
Dia hanya diam.
Entah mengapa, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa ada sesuatu yang tidak benar.
Tanpa sapaan, tak ada sepatah katapun, Azalia lebih dulu melangkah ke dalam gedung. Petugas menyambut kami dengan ramah, menyerahkan dokumen yang harus kami tanda tangani.
Aku menunggu.
Aku menunggu dia mengatakan sesuatu. Aku menunggu dia menatapku, tiba-tiba aku berharap Azalia memohon, bertanya apakah aku benar-benar ingin begini.
Tapi dia hanya diam, dia lebih sering menunduk, benar-benar tidak melakukan apa-apa.
Saat berkas itu sampai ditangannya. Tanpa ragu, tanpa jeda, tanpa melirik aku sedikitpun, Azalia meraih pena dan menandatangani surat perceraian kami.
Tanganku yang menggenggam pena seketika terasa kaku.
Aku melihat tanda tangannya yang terukir rapi di atas kertas, lalu menoleh ke arahnya. Dia masih menunduk, jemarinya yang kurus mengepal di atas pangkuannya, seolah menahan sesuatu... seperti..rasa sakit? Tapi dia tetap tidak mengatakan apa pun.
Bukankah wanita ini mencintaiku?
Bukankah selama ini dia bertahan karena tidak ingin kehilangan status sebagai istriku?
Lalu kenapa? Kenapa dia membiarkan perceraian ini terjadi begitu mudah?
Aku benar-benar tidak bisa memahami ini.
Tanpa sadar, aku merasa marah tanpa alasan yang ku pahami, lalu menorehkan tanda tanganku di sebelah namanya.
Azalia benar-benar membiarkanku pergi.
Dia baru saja berdiri dari kursinya ketika tanganku terulur, menahan pergelangan tangannya sebelum dia bisa melangkah pergi.
Azalia menoleh perlahan, matanya yang sendu menatapku dengan sorot datar, seolah yang baru saja terjadi bukan hal yang penting. Seolah pernikahan yang sudah 2 tahun kami lalui tidak memiliki arti apapun baginya.
Kutatap dia dengan dingin. "Ini belum selesai, Azalia. Jangan berpikir kau bisa menghilang begitu saja."
Dia tidak bereaksi, tidak juga berusaha menarik tangannya.
Aku melanjutkan, "masih ada masa tunggu 1 bulan sebelum perceraian ini benar-benar sah. Aku ingin kau benar-benar datang ke sini sesuai tanggal yang ditentukan." Kuamati wajahnya, mencoba mencari celah di balik ketenangan itu. "Aku tidak mau nantinya kau akan mangkir, dan membuat semua sia-sia!"
Azalia masih diam, hanya matanya yang berkedip sekali sebelum menarik napas pelan.
"Aku akan datang, Gavin." Katanya, suaranya nyaris tenggelam oleh suara rintik hujan. "Satu bulan lagi aku akan menunggumu di sini."
Aku menyipitkan mata, mencoba membaca maksud tersembunyi dari perkataannya.
"Kau tidak akan bisa merencanakan sesuatu yang gila, Azalia." Ucapku, kali ini lebih rendah, lebih menekan. "Jangan coba-coba mengelabuiku!"
Dia tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah kulihat darinya sebelum hari ini.
"Aku tidak berencana melakukan apa pun, Gavin." Azalia menghela napas kecil, lalu menatap tanganku yang masih mencengkram pergelangan tangannya. "Bisa tolong lepaskan?"
Aku menahan diri sesaat, sebelum akhirnya melepas genggamanku.
Azalia tidak langsung pergi. Dia menatapku untuk beberapa detik yang terasa begitu panjang. Seolah ada sesuatu yang ingin dia katakan, sesuatu yang menggantung di ujung bibirnya.... Tapi dia hanya mengangguk kecil sebelum melangkah keluar dari ruangan.
Aku tetap berdiri di tempatku, mendengar suara langkah kakinya yang ringan perlahan menjauh.
Dan entah mengapa, perasaan tidak nyaman kembali menyusup ke dalam dadaku.
Azalia benar-benar tidak menoleh ke belakang.
########
Komen lebih dari 5
Episode selanjutnya segera hadir...
happy Reading....
Jadi Gedeg sama dua laki laki kakak beradik ini.
seabaiknya km kmbalikn ginjal azalea dech....
mulut laki" sampah kau alvin🙄🙄
punya org tua nyatanya hidupmu layaknya yatim piatu....
punya suami... tpi km seolah janda... bhkn km harus merasakn kbencian dri suami & keluarga besarnya...
smoga kelak ada keajaiban untukmu hidup bahagia azalea...