Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Menghitung Hari Menuju Badai Pertama
Menghitung hari menuju badai pertama, Hana mendapati seluruh isi koper besarnya telah berserakan di atas lantai teras paviliun saat matahari baru saja terbit. Pakaian kota miliknya yang penuh warna cerah tampak sengaja dikeluarkan secara paksa oleh beberapa pengurus senior asrama atas perintah langsung sang mertua. Angin pagi yang berembus kencang menerbangkan selembar syal sutra kesayangannya hingga tersangkut pada ranting pohon kamboja yang tumbuh di dekat pagar pembatas. Hana berdiri terpaku di ambang pintu, merasakan dadanya mendadak sesak menyaksikan penghinaan terbuka yang kini terpampang nyata di depan matanya sendiri.
"Apa maksud dari semua kekacauan ini, Mbok, mengapa barang pribadi saya dikeluarkan tanpa izin?" tanya Hana dengan suara yang bergetar menahan amarah.
Mbok Siti yang sedang memegang sebuah daster brokat milik Hana segera menundukkan kepala dengan wajah yang diliputi rasa bersalah yang teramat dalam. "Mohon maaf yang sebesar besarnya, Mbak Hana, kami hanya menjalankan titah dari Umi Kalsum untuk menertibkan isi kamar ini."
"Umi menganggap pakaian dari kota ini tidak mencerminkan kesucian lingkungan pesantren kita," timpal sebuah suara lantang yang tiba tiba terdengar dari arah belakang.
Hana membalikkan badan dengan cepat, mendapati sosok mertuanya telah berdiri anggun di dekat anak tangga teras dengan tatapan mata yang sangat dingin. Kain jarik yang dikenakan wanita tua itu tampak meluncur kaku, seirama dengan langkah kakinya yang penuh wibawa namun menyimpan ketegasan yang mematikan. Di belakang sang tokoh utama pesantren, tampak beberapa santri senior berdiri mengawasi situasi dengan pandangan menghakimi yang membuat suasana pagi terasa semakin mencekam. Hana menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang ia miliki demi mempertahankan harga diri yang terus diinjak secara perlahan.
"Umi, jika ada busana saya yang dirasa kurang sesuai, saya bisa menyimpannya sendiri di dalam lemari tanpa perlu diperlakukan seperti ini," ujar Hana mencoba tenang.
Umi Kalsum melangkah mendekat, lalu ujung selop kulitnya menyentuh pinggiran koper kain yang sudah kosong melompong di atas ubin. "Lemari di dalam paviliun anakku hanya boleh diisi oleh benda yang membawa keberkahan, bukan pakaian yang mengundang syahwat duniawi."
"Namun semua baju ini sangat sopan dan menutup aurat dengan baik, Umi," bela Hana dengan mata yang mulai berkaca kaca.
Azzam yang baru saja menyelesaikan koordinasi pembangunan ruang kelas baru bergegas berlari menuju lokasi kejadian setelah mendengar kegaduhan yang terjadi. Langkah sang ustaz muda terhenti seketika begitu melihat istrinya sedang berdiri berhadapan dengan sang ibu kandung di tengah serakan pakaian. Wajahnya yang semula tampak segar kini langsung berubah pucat pasi, mendapati ketegangan domestik telah mencapai titik yang sangat krusial pagi ini. Kedua tangan pria itu saling meremas di balik saku baju koko, mencerminkan kebimbangan besar yang kembali mencengkeram jiwanya sebagai seorang penengah yang tidak berdaya.
"Ada apa ini, Umi, mengapa masalah pakaian harus diselesaikan di luar ruangan seperti ini?" tanya Azzam dengan nada suara yang memelas lembut.
Sang ibu menoleh lambat, menatap putra tunggalnya dengan sorot mata penuh tuntutan kepatuhan mutlak yang tidak boleh dibantah sama sekali. "Ibumu sedang membersihkan rumahmu dari sisa pengaruh peradaban luar yang bisa merusak konsentrasi ibadahmu, Azzam."
"Hana adalah istriku sekarang, Umi, biarkan bimbingan itu menjadi tanggung jawab pribadi saya di dalam kamar," mohon Azzam seraya mendekati Hana.
Sentuhan tangan Azzam pada lengan Hana kali ini terasa sangat gamang, tidak mampu memberikan rasa aman yang dibutuhkan oleh sang wanita kota. Hana melepaskan kaitan jemari suaminya secara perlahan, memilih untuk mengemasi sendiri lembar demi lembar pakaiannya yang mulai kotor terkena debu teras. Setiap gerakan tangan Hana diiringi oleh rasa perih yang teramat dalam, menyadari bahwa sang suami tidak akan pernah benar benar berani berdiri tegak melindunginya dari otoritas sang bunda. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh satu per satu, membasahi kain katun yang sedang dilipatnya dengan penuh rasa getir yang mendalam.
Kondisi psikologis yang kian tertekan membuat Hana merasa setiap sudut pesantren kini telah berubah menjadi sebuah penjara tak kasat mata yang siap mematikan seluruh karakternya. Aturan demi aturan yang diterapkan seolah sengaja dirancang hanya untuk mencari cari kesalahan terkecil dari setiap gerak gerik yang ia lakukan sehari hari. Ketika ia mencoba memasukkan kembali gaun malam terakhir ke dalam tas, selembar kertas memo kecil jatuh dari saku pakaian tersebut ke atas lantai. Umi Kalsum dengan gerakan cepat langsung memungut kertas tersebut sebelum Hana sempat meraihnya, memicu gelombang ketegangan baru yang jauh lebih menegangkan.
"Tulisan apa lagi ini, apakah ini bukti bahwa pikiranmu masih tertinggal pada gemerlap kehidupan malam di kota?" selidik Umi Kalsum dengan suara yang meninggi.
Hana mendongak dengan tatapan mata yang kini memancarkan ketegasan yang tak terduga sebelumnya. "Itu hanya sebuah kartu nama dari pemilik butik tempat saya bekerja dulu, Umi, tidak ada hubungannya dengan kemaksiatan."
"Seorang wanita yang sudah menjadi bagian dari keluarga pesantren tidak boleh lagi menyimpan impian untuk mengejar karier keduniawian," tegas sang mertua seraya merobek kertas itu menjadi serpihan kecil.
Tindakan sewenang wenang yang dipertontonkan oleh sang mertua di depan para santri membuat bendungan kesabaran Hana terasa semakin menipis dari waktu ke waktu. Ia bangkit berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat, menatap lurus ke dalam sepasang mata tua yang selama ini selalu memandangnya dengan penuh kejijikan dan rasisme sosial. Azzam yang melihat gelagat perubahan sikap istrinya segera menyela, mencoba meredam bom waktu emosi yang siap meledak kapan saja di area terbuka tersebut. Namun kharisma kepemimpinan Umi Kalsum terlalu kuat, mendominasi seluruh jalannya percakapan hingga membuat sang anak kembali terbungkam seribu bahasa.
"Azzam, bawa istrimu masuk ke dalam dan pastikan dia tidak keluar sebelum fajar esok untuk merenungkan seluruh kesalahannya hari ini," perintah Umi Kalsum mutlak.
Azzam mengangguk lemah, lalu memegang pundak Hana dengan sisa sisa kekuatan emosional yang ia miliki. "Mari masuk ke dalam dulu, Hana, tolong dengarkan ucapan Umi demi kebaikan hubungan kita semua."
"Kebaikan yang mana lagi yang kamu maksud, Mas, jika setiap hari aku harus menyerahkan seluruh harga diriku untuk dihancurkan?" bisik Hana dengan suara yang teramat serak.
Langkah kaki Hana saat memasuki ambang pintu kamar paviliun terasa sangat berat, laksana seorang terpidana yang sedang digiring menuju ruang pengasingan yang sunyi. Daun pintu kayu jati ditutup rapat oleh Azzam, memutuskan segala akses komunikasi dengan dunia luar yang semula menjadi pelipur lara bagi jiwa sang istri. Di dalam keremangan ruang tidur yang luas, Hana memilih duduk di sudut lantai yang paling gelap, menjauhkan diri dari jangkauan sang suami yang kini tampak laksana seorang asing. Hari hari ke depan terasa semakin menakutkan, membentangkan sebuah kalender penderitaan yang harus ia lalui dalam kesunyian tanpa kepastian kapan semua ini akan berakhir.
Azzam mencoba berlutut di hadapan Hana, meraih kedua telapak tangan istrinya yang terasa sedingin es batu akibat hantaman syok yang bertubi tubi. "Aku mohon bersabarlah sedikit lagi, Hana, Umi hanya membutuhkan waktu untuk bisa menerima kehadiranmu sepenuhnya di sini."
"Waktu tidak akan pernah mengubah apa pun, Mas, selama kamu sendiri selalu memilih untuk mengunci rapat mulutmu di depan ibumu," tutur Hana dengan pandangan kosong.
"Aku melakukan semua ini demi menjaga syariat bakti seorang anak kepada orang tua yang telah membesarkanku," kilah Azzam mencari pembenaran atas kepasifannya.
Kata bakti yang selalu diucapkan oleh sang suami kini terdengar laksana sebuah kalimat kutukan yang mengunci seluruh ruang gerak keadilan bagi diri Hana. Wanita muda itu memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca yang terkunci rapat, enggan lagi mendengarkan rentetan untaian janji manis yang tidak pernah mewujud menjadi sebuah tindakan nyata perlindungan. Di luar sana, langit sore mulai berubah warna menjadi merah kehitaman, menandakan pergantian waktu yang kian mendekatkan dirinya pada titik nadir sebuah pernikahan. Hana tahu bahwa ketenangan semu di dalam kamar ini hanyalah sebuah jeda singkat sebelum gelombang badai penghancuran yang sesungguhnya datang menerjang seluruh dinding pertahanan batinnya yang kian rapuh.
Ketika genta penanda waktu salat magrib mulai bergema dari arah menara utama pesantren, Azzam bangkit berdiri untuk bersiap menuju masjid besar. Pria itu menatap istrinya dengan gurat kecemasan yang mendalam, namun tuntutan peran sebagai seorang pemuka agama kembali memaksanya untuk melangkah pergi meninggalkan paviliun. Hana membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan malam yang kian pekat, tanpa ada niat sedikit pun untuk menyalakan sakelar lampu ruangan yang berada di dekat pintu. Dalam kegelapan yang sunyi tersebut, sebuah rencana besar mulai tersusun secara rapi di dalam benak Hana, sebuah langkah nekat yang mungkin akan mengubah seluruh jalannya takdir kehidupan rumah tangga mereka. Sambil meraba raba permukaan tas jinjingnya yang tersembunyi di balik selimut bed, jemari Hana tidak sengaja menyentuh sebuah benda logam kecil yang selama ini sengaja ia sembunyikan dari pengetahuan seluruh isi rumah.