NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.

Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.

Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.

Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penuh Intrik

Zevana menatap manik mata basah milik Madam Mia sembari tersenyum tipis.

"Madam, saya akan tawarkan harga yang sangat murah untuk nyawa usaha Madam." Zevana semakin mendekat lalu berbisik.

Madam Mia mendongak kaget.

"Saya percaya Madam cukup cerdas untuk memilih mana yang sekiranya akan menguntungkan, atau menyelamatkan nyawa usaha anda."

Zevana menunjuk berkas kasus yang ada di meja.

"Masalah pemasok? Saya akan kembalikan, bahkan saya berikan akses barang lebih murah dan berkualitas. Masalah laporan polisi soal pekerja di bawah umur dan kontrak ini? Saya pastikan ini hanya akan menjadi mimpi di siang bolong. Semua bukti akan hilang seolah tak pernah ada. Nama baik Madam akan kembali bersih."

Zevana meremas bahu Madam Mia pelan namun menekan, persis seperti seseorang yang sedang menahan mangsanya agar tidak lari.

"Tapi pilihannya ada di tangan Madam sendiri. Mengabaikan saya, dan bersiaplah melihat usahanya ditutup paksa, lalu masuk penjara bertahun-tahun karena kasus narkoba dan perdagangan manusia yang akan saya tumpuk di atas kepala anda. Atau ... Mengikuti saran saya tadi."

Zevana kembali berbisik tepat di telinganya.

Madam Mia menunduk, air mata ketakutan dan kepasrahan jatuh membasahi pipinya. Dia sadar, dia tidak punya pilihan lain.

"Saya akan mengikuti kata-kata anda," ucap Madam Mia dengan air mata berlinang.

"Bagus. Keputusan cepat dan tepat."

Zevana bangkit lalu melengos pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu.

Klap!

Pintu tertutup. Madam Mia ambruk ke kursi, napasnya tersengal lega sekaligus ngeri. Permainan sudah berubah. Mia yang biasanya memegang kendali dan menyetir semua permainan yang ada, kini ia berada di bawah kendali seorang gadis yang usianya dua kali lebih muda darinya.

***

"Apa Bos tidak akan marah kalo tahu? Nona?" tanya Bani sembari membukakan pintu mobil.

Zevana menatapnya dengan tatapan sulit diartikan, lalu tersenyum miring.

"Memangnya apa yang kulakukan?" tanya Zevana.

"Aku hanya melakukan sama seperti sebelumnya. Berinisiatif, dan mencari solusi yang sekiranya akan menguntungkan perusahaan. Apa kamu sedang memikirkan sesuatu yang lain?" tanya Zevana sarkas.

Mendengar hal itu, seketika Bani terdiam.

"Atau kamu sedang mencoba mencari celah kesalahanku?" tanya Zevana dingin.

Bukannya menjawab, Bani hanya menghela nafas lemah lalu mempersilahkan Zevana melangkah masuk ke kediamannya.

"Hentikan semua kekakuanmu itu. Kita sudah 5 tahun bersama, dan kamu masih saja menganggapku gadis yang sama. Padahal kuharap kamu sedikit berubah walau hanya sekedar sikap. Benar kata Pak tua Rendra, kamu itu tidak punya inisiatif, itu sebabnya kamu diam di tempat," gumam Zevana sebelum akhirnya ia melengos melewati Bani.

"Sebaiknya kamu segera pulang ke rumah Tuanmu. Gak usah lama-lama di sini, gak akan dibiarin masuk juga," ketus Zevana sembari membuka pintu gerbang halaman rumah barunya.

Zevana masuk ke rumah minimalis bernuansa semi klasik dengan cat putih dan coklat yang belum lama ia beli dan tinggali setelah memohon untuk memisahkan diri dari kediaman Garda. Dengan sedikit teras dan taman mini yang dipenuhi tanaman hias, rumah itu benar-benar mencerminkan Zevana yang berpenampilan sederhana namun tetap mempesona dengan balutan dan gaya seperti apapun.

Drrrk....!

Gerbang ditutupnya tanpa melirik lagi ke arah Bani, ia lalu masuk tanpa memedulikan pria yang seharian mengekorinya kemanapun itu.

Ceklek!

Klap!

Mengganti sepatu heelsnya dengan sandal rumah, ia pun langsung menuju ke arah kamarnya.

Tap! Tap! Tap!

Zevana menekan langkah di setiap anak tangga yang ia pijak. Lantai marmer berwarna krem itu menggemakan bunyi langkahnya seolah ia ingin semua orang rumah tahu bahwa dirinya sudah pulang. Namun tentu saja, di rumah megah yang penuh kemewahan itu hanya ada dirinya saja. Ia bahkan tak mempercayakan satu detail pun pekerjaan kepada pembantu rumah tangga, dan hanya menyewa jasa kebersihan seminggu sekali saja.

Brukh!

Tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu, Zevana langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang king size kepunyaannya. Tubuh mungilnya bahkan tidak cukup mengisi sepertiga ranjang itu. Ia pun berguling ke tengah ranjang lalu meraih sebuah bantal dan memeluknya.

"Dia benar-benar mengendus seperti anjing," desah Zevana sembari menutup wajahnya dengan bantal.

Dengan malas ia menarik diri lalu beringsut lagi ke tepi ranjang, lalu turun dan berjalan menuju kamar mandi.

Splash!

Diputarnya keran air lalu ia menatap pantulan dirinya di depan cermin wastafel kamar mandi.

"Kamu bukan Zara gadis lemah tak berdaya lagi. Zevana Ardhani, kehidupan baru yang tak memiliki cacat dan noda. Gak ada yang perlu dikhawatirkan...." gumam Zevana sembari menatap dua manik legam dengan kelopak mata indahnya yang tajam.

"Semuanya aman terkendali selagi semua berjalan sesuai rencana," gumamnya sembari menyentuh permukaan cermin yang memantulkan sosok dirinya.

Sementara itu di kediaman Garda, Bani baru saja tiba dan langsung menghadap Tuannya itu.

"Bagaimana kabar serigala cantikku?" tanya Garda yang sedang duduk berendam air hangat di bath-tub bundar yang langsung terhubung dengan kamarnya.

Sedangkan Bani, ia berdiri di ambang pintu kamar Garda. Kepulan uap hangat memenuhi ruangan hingga membuat buram kaca penyekat ruangannya.

"Sepertinya Nona Zevana sedang punya rencana lain Tuan," lapor Bani dengan sopan dan hati-hati."Hm? Ya ... Dia memang cukup liar," jawab Garda tanpa nada suara.

"Lagipula, dia baru saja menikmati masa kejayaannya. Itu umum terjadi," imbuh Garda.

"Ya, Tuan," jawab Bani tanpa menatap ruangan tempat Garda berada.

"Menurutmu? Cara seperti apa yang cocok untuk menjinakkan hewan liar sepertinya?" gumam Garda tanpa mengharap jawaban maupun komentar, karena ia tahu bahwa Bani hanya akan bergerak sesuai perintahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!