NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

​Sinar matahari sore yang mulai meredup memantulkan kilau keemasan pada pilar-pilar kokoh sebuah rumah megah berlantai dua di kawasan hunian elite kota. Rumah besar dengan arsitektur modern itu berdiri dengan angkuh, dikelilingi oleh pagar besi menjulang tinggi dan halaman luas yang tertata rapi.

Di garasi besarnya, terparkir sebuah mobil sedan mengkilap keluaran terbaru. Rumah ini adalah lambang kesuksesan dan kesombongan Prasetyo, sebuah aset yang selalu ia pamerkan kepada semua orang untuk menegaskan bahwa dirinya adalah pria kantoran dengan jabatan mapan dan masa depan yang luar biasa cerah.

​Di dalam rumah mewah itu, suasana terasa begitu sejuk berkat embusan pendingin ruangan yang menyala di setiap sudut. Pras baru saja menyelesaikan mandi sorenya setelah seharian penuh bergelut dengan tumpukan berkas dan rapat penting di kantor. Ia keluar dari kamar tidur utamanya yang luas dengan mengenakan kaos oblong putih berkualitas premium dan celana pendek santai.

Sembari menuruni anak tangga marmer yang berkilau, tangan kanan Pras sibuk mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan selembar handuk kecil.

​Langkah kakinya membawa tubuh tegap itu menuju ke ruang keluarga di lantai bawah. Pras merebahkan tubuhnya di atas sofa kulit impor yang empuk, menyilangkan kakinya dengan gestur yang teramat angkuh. Ia meraih remot televisi, menyalakan layar datar berukuran besar di hadapannya, namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada tayangan berita sore itu.

​Pikiran Pras justru melayang, berputar-putar memikirkan jadwal sidang perdana perceraiannya yang tinggal menghitung hari di Pengadilan Agama. Setiap kali mengingat nama Arumi, ada secercah rasa dongkol dan amarah yang membakar egonya. Sebagai pria sukses yang memiliki rumah besar dan penghasilan tinggi, Pras merasa harga dirinya telah diinjak-injak. Bagaimana bisa seorang Arumi wanita yang selama sepuluh tahun ini dinilainya hanya hidup luntang-lantung dari belas kasihan uang nafkah tahunannya memiliki keberanian luar biasa untuk mendaftarkan gugatan cerai terlebih dahulu? Pras mendengus sinis, bertekad akan membuat Arumi berlutut memohon ampun di depan hakim nanti.

​Brammm!

​Suara pintu jati berukuran besar di bagian depan yang dibuka dengan sentakan kasar seketika membuyarkan seluruh lamunan Pras. Ia menolehkan kepalanya dengan dahi berkerut, menatap ke arah koridor pintu utama.

​Dari sana, muncul Ibu Pras yang berjalan dengan napas memburu dan langkah kaki yang tergesa-gesa. Namun, wajah tua yang biasanya penuh guratan ketegangan itu kini tampak luar biasa cerah, merah padam oleh sebersit kegembiraan yang meledak-ledak. Di belakangnya, Rika menyusul dengan kecepatan yang sama. Sepasang mata gadis muda itu berkilat-kilat penuh kelicikan yang kentara, sementara tangan kanannya menggenggam erat sebuah ponsel pintar seolah sedang membawa sebuah harta karun yang paling berharga di dunia.

​"Pras! Prasetyo! Anakku yang paling tampan, paling sukses sedunia! Sini, Nak! Cepat kamu lihat ini! Sini!" jerit Ibu Pras dengan suara melengking tinggi yang memekakkan telinga, bahkan sebelum wanita paruh baya itu sempat melepas sandal bermereknya di atas lantai granit. Ia setengah berlari menghampiri sofa tempat anak lelaki kesayangannya itu sedang bersantai.

​Pras mengerutkan alisnya semakin dalam, memandangi tingkah laku ibu dan adiknya yang tampak seperti orang kesetanan yang baru saja memenangkan lotre materi. "Ada apa sih, Bu? Rika? Datang-datang kok langsung heboh dan ribut begitu seperti habis kejatuhan durian runtuh dari langit? Memangnya ada kabar apa dari luar?"

​Ibu Pras langsung menghempaskan tubuh gempalnya dengan kasar di samping Pras, membuat sofa kulit itu sedikit amblas. Tanpa memedulikan rasa lelahnya, wanita tua itu langsung memukul-mukul paha Pras dengan gemas berkali-kali sembari tertawa girang.

​"Bukan lagi sekadar durian runtuh, Pras! Ini namanya keadilan jagat raya yang nyata! Gusti Allah itu memang adil, langsung mengabulkan doa-doa Ibu yang selama ini tersakiti oleh mantan istrimu yang tidak tahu diri itu! Kualat, Pras! Si Arumi itu sekarang benar-benar kualat, kuwalat kuadrat, dan langsung kena batunya hari ini juga!" cerocos Ibu Pras dengan mata yang membelalak puas.

​Mendengar nama Arumi disebut dengan penekanan yang begitu emosional, ketertarikan Pras yang semula datar langsung melonjak tajam ke titik tertinggi. Ia membetulkan posisi duduknya menjadi tegak, melemparkan handuk kecilnya ke sandaran sofa, lalu menatap ibunya dengan tatapan mata yang penuh selidik serta rasa penasaran yang membuncah.

​"Arumi? Kenapa lagi dengan wanita itu, Bu? Dia mendadak datang ke kantor saya untuk mengemis minta rujuk? Atau dia menelepon Ibu sambil menangis kelaparan karena tidak punya uang sepeser pun untuk membelikan sekotak susu buat Bintang dan Langit?" tanya Pras dengan nada meremehkan yang sangat kental.

​"Lebih dari itu, Mas! Jauh lebih parah, lebih tragis dan pastinya seribu kali lebih memuaskan daripada sekadar menangis mengemis susu!" timpal Rika yang kini ikut bergabung dalam percakapan. Ia duduk di lengan sofa tepat di sebelah Pras, menampilkan senyuman lebar yang dipenuhi racun kelicikan. Rika langsung menyodorkan dan mengacungkan layar ponsel pintarnya tepat di depan wajah kakaknya.

​"Tadi siang, Rika sama Ibu kebetulan lewat daerah kampung gang sempit tempat gubuknya si Arumi berdiri, karena kami mau pergi ke rumah Tante Lastri di ujung sana. Dan Mas Pras harus tahu apa yang kami lihat dengan mata kepala kami sendiri di sana! Rumah gubuk reyot peninggalan bapaknya si Arumi yang diagung-agungkan itu... hari ini dirubuhkan total sampai rata dengan tanah! Hancur lebur dihantam palu besar, ditarik pakai linggis, digempur habis-habisan sama warga kampung!" lanjut Rika dengan tawa melengking yang tertahan.

​Deg!

​Pras seketika tertegun membeku di tempat duduknya. Sepasang matanya membelalak lebar, memandang Rika dan ibunya secara bergantian dengan rasa tidak percaya yang amat sangat. "Maksudmu... rumah Arumi dihancurkan? Dirubuhkan bagaimana? Kok bisa ada kejadian seperti itu? Bukankah itu tanah hak milik peninggalan mendiang mertua saya?"

​Ibu Pras langsung menyambar dan mengambil alih kembali pembicaraan dengan nada suara yang semakin menggebu-gebu, tangannya bergerak aktif ke sana kemari di udara demi mendramatisir suasana sore itu.

​"Apalagi kalau bukan karena masalah penyitaan dan penggusuran akibat utang, Pras! Tadi Ibu sama Rika menyaksikan sendiri di depan gang, belasan laki-laki berbadan kekar sedang menghantam dinding-dinding batako rumah gubuk itu sampai hancur berantakan dan debunya mengepul tinggi ke langit. Si Arumi?

Oalah, dia cuma bisa berdiri lemas, pucat, dan membeku di pojokan teras tetangga sambil memeluk kedua anaknya yang ketakutan. Melihat pemandangan bagus itu, Ibu langsung turun dari motor dan sengaja memancing obrolan dengan Bu RT dan Bu Ida yang wajahnya sudah melas, layu, dan mau menangis sesenggukan. Dan tebakan Ibu selama ini seratus persen akurat, Pras! Ternyata, semenjak kamu lepas tangan dan tidak lagi memberikan jatah uang nafkah tahunan serta bonus bulanan yang besar, si Arumi itu diam-diam terlilit banyak utang piutang di luar sana!"

​Ibu Pras menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan dengan senyuman kemenangan yang semakin lebar. "Dia meminjam uang ke sana-kemari, gali lubang tutup lubang demi memenuhi gaya hidup dan biaya makan sehari-hari karena terlanjur gengsi sudah menggugat cerai kamu di pengadilan! Akhirnya apa? Utangnya menumpuk setinggi gunung, tidak bisa bayar, dan hari ini rumah gubuk pembawa sial itu disita secara paksa lalu diratakan dengan tanah oleh warga untuk melunasi semua tunggakannya! Hahaha! Rasakan itu! Mampus kamu, Rum!"

​Mendengar rangkaian cerita yang begitu sinkron dengan imajinasi dan harapan buruknya selama ini, sebuah kepuasan yang teramat sangat, dingin, dan pekat perlahan-lahan merayap naik mengisi seluruh rongga dada Prasetyo. Rasa dongkol yang menyiksa batinnya beberapa hari ini, ego kelaki-lakiannya yang sempat terluka parah karena digugat cerai terlebih dahulu, serta rasa jengkelnya mendadak menguap tanpa sisa sama sekali. Rangkaian informasi palsu yang dibawa oleh ibu dan adiknya itu benar-benar menjadi angin segar yang menerbangkan sisa-sisa kewarasannya, membuatnya merasa berdiri di puncak dunia yang paling tinggi, jauh di atas rumah besarnya yang megah ini.

​"Rika, cepat putar dan perlihatkan videonya ke Mas! Ibu jangan cuma mengada-ada atau melebih-lebihkan cerita, saya mau melihat dan membuktikan buktinya sendiri dengan mata saya!" perintah Pras dengan nada suara yang bergetar menahan desakan tawa bahagia yang sudah mau pecah dari tenggorokannya.

​"Tenang, Mas, tenang. Jangan tidak percaya begitu sama adik sendiri. Ini Rika sudah rekam dan putar videonya dari detik pertama. Tonton ini baik-baik, Mas Pras yang tampan, kualitas rekamannya sengaja Rika pakai yang paling jernih dan bagus biar detail penderitaannya kelihatan jelas," ucap Rika penuh kelicikan sembari menekan tombol play pada permukaan layar ponsel pintarnya.

​Pras dengan cepat menyambar ponsel itu dari cengkeraman tangan adiknya, mendekatkannya ke arah wajah dengan pandangan mata yang tak berkedip sedikit pun. Di dalam rekaman video berdurasi beberapa menit tersebut, terlihat dengan sangat jelas pemandangan atap genting rumah Arumi yang sudah bolong-bolong hancur. Beberapa pria paruh baya tampak berdiri tegap di atas kap sisa dinding sembari menghantamkan palu besi berukuran besar ke arah susunan batako hingga rontok, pecah, dan hancur berhamburan ke tanah bawah. Debu-debu tanah cokelat beterbangan memenuhi udara sekitar, mempertegas kesan sebuah bangunan yang sedang dieksekusi dihancurkan secara paksa tanpa belas kasihan.

​Di sudut rekaman video yang agak buram karena jarak, memang terlihat siluet sosok Arumi yang sedang berdiri diam mematung bersama Bintang dan Langit di teras rumah Bu Ida. Karena pengambilan video yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dari kejauhan, Pras tentu saja tidak bisa melihat dengan jelas bahwa gurat wajah Arumi saat itu adalah gurat ketenangan dan senyuman yang terukir tipis di sudut bibirnya adalah senyuman kepuasan batin. Dalam tempurung otak Pras yang sudah telanjur diselimuti oleh kabut kesombongan dan keangkuhan materi, ia mengira Arumi sedang membeku menahan rasa malu yang luar biasa besar, tersiksa, dan meratapi nasibnya yang malang karena kehilangan satu-satunya tempat bernaung yang tersisa di dunia ini.

​"Hahaha! Mampus! Benar-benar hancur lebur tidak bersisa!" Pras akhirnya tidak bisa lagi membendung ledakan tawa besarnya. Suara tawa baritonnya menggema keras, memenuhi setiap sudut ruang keluarga rumah besarnya yang mewah itu. Terdengar begitu puas, kejam, dingin, dan sarat akan kesombongan yang tiada tara.

​Pras menggeleng-gelengkan kepalanya sembari terus menatap layar ponsel dengan binar mata yang kejam. "Lihat itu wajahnya yang selama ini sok suci dan sok tegar! Kemarin di depan petinggi Pengadilan Agama lagaknya seperti wanita mandiri yang paling hebat sedunia, menolak uang damai dan menggugat cerai saya seolah-olah dia bisa hidup makmur bergelimang harta tanpa uang sepeser pun dari saya. Sekarang, lihatlah! Baru hitungan hari semenjak saya lepas tangan dan tidak sudi memedulikannya lagi, gubuk warisannya langsung roboh rata dengan tanah karena dikejar utang piutang! Rasakan itu akibat dari kesombonganmu, Arumi!"

​Ibu Pras ikut tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar, menatap sekeliling interior rumah mewah milik anak laki-lakinya itu dengan rasa bangga yang melambung tinggi setinggi langit. "Benar kan apa yang Ibu bilang sama kamu dulu, Pras? Perempuan udik macam Arumi itu kalau tidak menumpang hidup di rumah besarmu yang mewah ini, kalau tidak mencicipi sisa uang dari hasil kerja kerasmu, dia itu tidak akan ada harganya sama sekali di masyarakat!

Dia itu cuma parasit tak berguna yang selama sepuluh tahun ini beruntung bisa hidup enak karena belas kasihan suami kaya seperti kamu. Belum juga resmi ketuk palu sidang cerai dari hakim, gusti Allah sudah memperlihatkan kelas sosialnya dia yang sebenarnya di selokan bawah. Biar dia tahu rasa, biar dia bingung mau tidur di kolong jembatan mana malam ini bersama dua anakmu yang membawa sial itu!"

​"Ih, benar banget, Bu! Rika setuju seratus persen sama Ibu!" timpal Rika dengan nada manja yang dibuat-buat sembari melipat kedua tangannya di dada.

"Kemarin waktu kita datang ke sana kan dia sok berani, sok galak mengusir Ibu dari halaman depan rumahnya yang sempit itu. Sekarang lihat, dia sendiri yang terusir secara tragis, bahkan sudah tidak punya jengkal tanah lagi untuk dipijak kaki kotornya. Kalau dibandingkan dengan rumah Mas Pras yang besar, bertingkat, dan mewah ini, gubuknya yang hancur itu tidak ada seujung kukunya pun! Paling-paling nanti malam si Arumi bakal menangis tersedu-sedu mendekap anak-anaknya di bawah pohon pisang tetangga karena kedinginan."

​Pras memandangi rekaman video di ponsel Rika berulang-ulang kali tanpa ada rasa bosan, memutar kembali adegan demi adegan di mana dinding bagian depan rumah tua Arumi roboh berantakan dihantam oleh palu warga. Setiap kali serpihan batako itu jatuh runtuh ke tanah, rasa puas dan kemenangan di dalam lubuk hati Pras semakin berlipat ganda, membelai ego kelelakiannya yang sempat terluka.

​Namun, lama-kelamaan, rasa puas yang hanya dinikmati dari balik layar ponsel pintar berukuran kecil itu dirasa kurang memuaskan bagi ego besarnya yang teramat masif. Ada sebuah hasrat baru yang mendadak bangkit dan menggebu-gebu di dalam dada Pras untuk menyaksikan penderitaan dan kehancuran total mantan istrinya itu secara langsung, nyata, dengan mata kepala pribadinya sendiri. Pras ingin berdiri tegap di depan reruntuhan rumah itu, melipat kedua tangannya di dada dengan pakaian mewahnya, lalu menertawakan kemiskinan dan kemalangan Arumi tepat di hadapan wajah wanita itu yang pucat pasi.

​Pras meletakkan ponsel Rika di atas meja kaca dengan sebuah hentakan pelan, lalu bangkit berdiri dari sofanya dengan mata yang berkilat-kilat penuh rencana busuk yang licik. Ia berjalan beberapa langkah, memandangi halaman rumah besarnya yang luas melalui jendela kaca besar.

​"Bu, Rika... besok pagi kan kebetulan hari Sabtu, kantor Aku sedang libur akhir pekan dan tidak ada jadwal pertemuan dengan klien. Rasanya... kurang afdol, kurang puas dan kurang mantap kalau saya cuma melihat kehancuran gubuk pembawa sial milik Arumi itu lewat rekaman video sekecil ini," ucap Pras dengan suara yang berat namun dipenuhi nada kelicikan yang kentara.

​Ibu Pras mendongak, menatap wajah anak kesayangannya itu dengan binar mata yang dipenuhi ketertarikan mendalam. "Maksudmu bagaimana, Pras? Kamu punya rencana apa besok?"

​Sebuah senyuman licik yang sangat lebar dan dingin terukir di wajah tampan Pras. Ia berbalik badan, menatap ibu dan adiknya dengan pandangan kemenangan yang mutlak. "Besok pagi-pagi sekali, kita bertiga datang lagi ke kampung gang sempit itu. Saya mau pergi ke sana untuk melihat sendiri dengan mata kepala saya bagaimana rumah Arumi benar-benar dihancurkan sampai rata dengan tanah oleh warga. Saya mau melihat secara langsung bagaimana menderitanya dia meratapi nasibnya yang sebatang kara, terusir, tanpa ada suami kaya dan rumah besar berlantai dua seperti yang saya miliki saat ini untuk melindunginya."

​Pras mengepalkan tangan kanannya dengan penuh tekad kejam, lalu melanjutkan kalimatnya, "Saya ingin melihat dia membeku ketakutan, dan kalau bisa, saya ingin melihat dia berlutut bersujud di bawah kaki saya besok pagi, menangis tersedu-sedu memohon ampun, menyesali gugatan cerainya, dan meminta uang receh nafkah kepada saya agar anak-anaknya bisa makan sesuap nasi besok!"

​"Wah! Setuju sekali, Mas Pras! Itu benar-benar ide yang sangat brilian dan luar biasa mantap!" seru Rika kegirangan setengah mati, langsung melonjak berdiri dari sofa dan bertepuk tangan berulang kali membayangkan drama kepuasan yang akan terjadi besok pagi di gang sempit itu. "Kita besok datang ke sana harus pakai mobil mewah Mas Pras yang paling mengkilap, kita pakai pakaian kita yang paling mahal, paling bagus, dan paling mencolok, biar si Arumi makin kelihatan seperti gembel selokan dan sadar diri sedalam-dalamnya betapa ruginya dia sudah berani melepaskan lelaki sukses, mapan, dan kaya seperti Mas Pras!"

​Ibu Pras mengangguk-angguk setuju dengan gerakan cepat, sepasang matanya menyipit penuh dengan dendam kesumat yang kini terasa telah terbalaskan dengan sangat indah oleh takdir palsu. "Benar, Pras. Ibu juga wajib ikut ke sana besok pagi! Ibu sudah tidak sabar mau berdiri di atas reruntuhan gubuk itu, lalu meludahi sisa-sisa tanahnya tepat di depan wajah sombongnya. Biar tetangga-tetangga sialan di gang itu yang kemarin sok jagoan membelanya ikut melek matanya lebar-lebar, kalau pahlawan wanita mereka yang mereka bangga-banggakan itu sekarang sudah resmi jadi gembel tunawisma yang tidak punya tempat tinggal akibat kesombongannya sendiri menceraikan anak Ibu!"

​Malam itu, di dalam kamar-kamar luas rumah besar mereka yang megah dan bergelimang fasilitas mewah, keluarga Prasetyo tertidur dengan sangat nyenyak dan pulas. Mereka dibuai oleh mimpi-mimpi indah tentang kejayaan, tentang kepuasan batin, dan tentang kemenangan mutlak yang mereka ciptakan sendiri dari sebuah kesalahpahaman yang teramat konyol dan menggelikan.

​Pras, ibunya, dan Rika sama sekali tidak menyadari bahkan tidak akan pernah bisa membayangkan dalam mimpi terburuk mereka sekalipun bahwa di balik reruntuhan dinding batako tua yang mereka tertawakan habis-habisan malam ini, sebuah fondasi istana megah berlantai tiga senilai miliaran rupiah milik Arumi sedang dipersiapkan oleh seluruh warga desa untuk segera berdiri tegak menjulang tinggi ke langit. Sebuah kenyataan pahit yang teramat dahsyat sedang mengintai di balik tikungan esok hari, siap menghantam balik, meremukkan, dan menghancurkan seluruh keangkuhan keluarga Pras hingga tak bersisa lagi di atas tanah merdeka milik Arumi.

1
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
Uthie
dasar manusia2 Toxic 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!