NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Sesuatu yang Mulai Retak

Perjalanan pulang menuju kediaman Kalandra terasa lebih panjang dari biasanya.

Shaka menyetir dalam diam. Jalanan Jakarta sore itu padat, tetapi bukan kemacetan yang membuat pikirannya terasa penuh. Ia bahkan nyaris tidak memperhatikan deretan kendaraan di depannya. Tangannya berada di kemudi, matanya mengarah ke jalan, namun pikirannya tertinggal jauh di butik tadi.

Di sana.

Pada Jenna.

Pada gaun putih syar’i yang membuatnya terdiam.

Pada gaun hijau emerald yang membuat mata cokelat terang perempuan itu terlihat semakin hidup.

Pada tawa kecil Jenna ketika mendengar cerita Syana yang mengancamnya dengan gunting kain.

Shaka mengencangkan genggamannya pada kemudi.

Ia tidak seharusnya berada dalam situasi ini.

Sejak dulu ia sudah memutuskan untuk tidak lagi percaya pada cinta. Baginya, cinta adalah kata yang terlalu mudah diucapkan dan terlalu sering dijadikan alasan untuk melukai. Ia pernah percaya. Pernah mencintai. Pernah memberikan ruang paling dalam di hidupnya kepada seseorang.

Dan balasannya adalah pengkhianatan.

Sejak saat itu, Shaka menutup pintu.

Ia membekukan hatinya, menjaga jarak dari siapa pun yang mencoba mendekat. Ia menolak perjodohan, menolak percakapan tentang pernikahan, menolak harapan yang terlalu lembut untuk dipercaya.

Namun sekarang?

Sekarang ia sedang menuju rumah setelah mengantar calon istrinya fitting gaun pengantin.

Calon istri.

Dua kata itu masih terasa asing. Bahkan terlalu asing.

Shaka mendengus pelan.

Seharusnya ia menolak sejak awal. Seharusnya ia berkata tegas kepada Mama Aruna bahwa ia tidak akan menikah dengan perempuan mana pun, termasuk Jennaira Hanania Mecca. Seharusnya ia tidak datang ke Jenna’s Bloom Café. Seharusnya ia tidak membeli bunga. Seharusnya ia tidak membiarkan rasa penasaran itu tumbuh.

Tetapi semua kata seharusnya itu kalah saat ia mengingat mata Jenna.

Mata cokelat terang itu.

Tenang.

Jernih.

Tidak menuntut.

Tidak memaksa.

Tidak berusaha membuatnya percaya pada apa pun.

Justru karena itu Shaka merasa terganggu.

Jenna tidak datang kepadanya dengan rayuan. Tidak mencoba memikatnya dengan kata-kata manis. Tidak menunjukkan ambisi untuk menjadi bagian dari keluarga Kalandra. Bahkan saat lamaran itu diajukan, Jenna tidak langsung menerima. Ia memilih istikharah. Ia memilih meminta petunjuk. Ia memilih berhenti sejenak sebelum melangkah.

Dan Shaka menghormati itu.

Lebih dari yang ingin ia akui.

Mobilnya berhenti di lampu merah.

Shaka menatap kosong ke depan.

Bayangan Jenna saat keluar dari ruang fitting kembali melintas. Gaun putih itu menutup tubuhnya dengan sempurna, sederhana tetapi anggun. Wajahnya tetap tertutup cadar, tetapi Shaka tidak merasa ada yang kurang. Justru ia merasa terlalu banyak hal yang bisa dilihat dari matanya.

Mata itu membuatnya terpesona.

Dan yang lebih berbahaya, mata itu menumbuhkan rasa ingin memiliki.

Shaka menutup rahangnya rapat.

Ia tidak suka mengakui keinginan semacam itu. Rasa ingin memiliki bisa menjadi awal dari kelemahan. Bisa membuat seseorang berharap. Bisa membuat seseorang takut kehilangan. Bisa membuat seseorang membuka bagian diri yang paling mudah dihancurkan.

Namun ketika ia membayangkan Jenna akan menjadi istrinya empat hari lagi, ada bagian kecil dalam dirinya yang tidak menolak.

Bahkan mungkin, bagian itu diam-diam menerima.

Itulah sebabnya ia tidak menolak pernikahan ini.

Bukan semata-mata karena ibunya. Bukan hanya karena ayahnya. Bukan hanya karena keluarga Nirankara adalah keluarga baik-baik.

Melainkan karena Jenna sendiri.

Karena perempuan itu, dengan kelembutan dan diamnya, berhasil membuat dinding yang Shaka bangun selama bertahun-tahun mulai retak.

Lampu berubah hijau.

Shaka kembali melajukan mobilnya.

“Ini berbahaya,” gumamnya pelan.

Namun kali ini, ia tidak tahu apakah ia benar-benar ingin menyelamatkan diri.

Ketika mobil Shaka memasuki halaman kediaman Kalandra, langit sudah mulai gelap.

Lampu taman menyala hangat di sepanjang jalan masuk. Rumah besar itu tampak tenang seperti biasa, tetapi bagi Shaka, sesuatu dalam dirinya tidak lagi setenang pagi tadi.

Ia turun dari mobil dan menyerahkan kunci kepada salah satu staf rumah.

Begitu masuk ke ruang keluarga, Aruna sudah duduk di sofa dengan secangkir teh hangat di hadapannya. Seolah sejak tadi ia memang menunggu putranya pulang.

“Shaka,” panggil Aruna dengan wajah cerah.

Shaka berjalan mendekat. “Ma.”

Aruna menatap putranya dari atas sampai bawah, lalu tersenyum penuh rasa ingin tahu.

“Bagaimana? Fitting-nya lancar?”

Shaka duduk di sofa seberang ibunya.

“Lancar.”

“Cincinnya sudah dipilih?”

“Sudah.”

“Jenna suka?”

“Suka.”

Aruna tersenyum semakin lebar. “Gaunnya?”

“Dia memilih di butik sahabatnya.”

“Oh, yang namanya Syana itu?”

Shaka menatap ibunya. “Mama tahu?”

“Tentu saja. Bu Zahra sempat cerita kalau Jenna punya sahabat dekat pemilik butik pengantin.”

Shaka mengangguk singkat.

“Gaunnya bagus?”

“Bagus.”

Aruna menatap Shaka lebih teliti.

Jawaban putranya memang tetap pendek seperti biasa, tetapi sebagai ibu, ia bisa menangkap sesuatu yang berbeda. Nada suara Shaka tidak sedingin biasanya. Wajahnya masih datar, tetapi matanya tidak sepenuhnya kosong.

Ada sesuatu di sana.

Sesuatu yang hidup, meski masih sangat ia sembunyikan.

Aruna meletakkan cangkir tehnya.

“Jenna cantik memakai gaun pengantin?”

Shaka terdiam.

Pertanyaan itu datang terlalu langsung.

Aruna menahan senyum.

“Kenapa diam?”

Shaka memalingkan wajah sedikit. “Gaunnya cocok.”

“Bukan itu yang Mama tanya.”

“Ma.”

“Mama hanya bertanya apakah Jenna cantik.”

Shaka menghela napas pendek.

Ia bisa saja menghindar. Bisa saja berkata tidak memperhatikan. Bisa saja menjawab datar seperti biasa.

Namun bayangan Jenna dalam gaun putih itu muncul lagi.

Dan Shaka tahu, untuk pertanyaan itu, ia tidak bisa berbohong sepenuhnya.

“Dia terlihat anggun,” jawabnya akhirnya.

Aruna membeku sesaat.

Lalu senyumnya merekah dengan sangat pelan, sangat puas.

“Anggun,” ulangnya lembut. “Itu pujian yang besar dari kamu.”

Shaka langsung menatap ibunya. “Jangan mulai.”

“Mama tidak mulai. Mama hanya bahagia.”

“Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan.”

“Bagi Mama, ada.” Aruna menatap putranya dengan mata yang mulai menghangat. “Sudah lama Mama tidak mendengar kamu bicara seperti itu tentang seorang perempuan.”

Wajah Shaka mengeras sedikit.

Aruna menyadari batas itu. Ia tidak ingin menyentuh luka lama putranya terlalu dalam.

Maka ia mengubah arah pembicaraan.

“Mulai besok, kamu cuti saja.”

Shaka mengangkat alis. “Cuti?”

“Iya. Pernikahan tinggal empat hari lagi. Kamu harus istirahat. Jangan terus bekerja sampai wajahmu seperti orang mau menghadapi perang.”

“Aku tidak perlu cuti selama itu.”

“Perlu.”

“Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.”

“Serahkan kepada timmu.”

“Tidak semua bisa diserahkan.”

Aruna menatapnya tegas.

“Shaka, kamu akan menikah. Setidaknya beri ruang untuk dirimu sendiri sebelum hari besar itu.”

Shaka diam.

Bagi Shaka, bekerja adalah cara terbaik untuk mengalihkan pikiran. Angka, laporan, rapat, keputusan bisnis—semuanya lebih mudah dipahami daripada perasaan. Ia tahu bagaimana membaca risiko perusahaan. Ia tahu bagaimana mengendalikan negosiasi. Ia tahu bagaimana mengambil keputusan dingin dalam tekanan.

Tapi pernikahan?

Jenna?

Hidup baru?

Tidak ada laporan yang bisa membantunya memahami itu.

“Mama,” ucap Shaka akhirnya, “besok hari terakhir aku kerja sebelum menikah.”

Aruna menatapnya, memastikan ia serius.

“Benar?”

“Iya.”

“Setelah itu kamu cuti?”

Shaka mengangguk singkat. “Sampai acara selesai.”

Aruna tersenyum lega.

“Bagus. Mama akan bilang Papa.”

“Tidak perlu dijadikan pengumuman keluarga.”

“Tentu perlu. Ini kemajuan besar.”

Shaka mendengus pelan.

Aruna tertawa kecil, lalu menatap putranya dengan penuh kasih.

“Shaka.”

“Hm?”

“Mama tahu semua ini cepat. Mama juga tahu kamu belum sepenuhnya siap.”

Shaka tidak menjawab.

Aruna melanjutkan dengan suara lebih lembut.

“Tapi Mama percaya, tidak semua yang cepat itu buruk. Kadang Allah mempertemukan seseorang dengan cara yang tidak kita rencanakan, justru karena kalau terlalu lama dipikirkan, kita akan terus mencari alasan untuk lari.”

Kalimat itu membuat Shaka terdiam.

Lari.

Apakah selama ini ia memang lari?

Dari cinta. Dari kepercayaan. Dari kemungkinan untuk bahagia lagi.

Aruna berdiri, lalu berjalan mendekat. Ia menyentuh bahu putranya dengan lembut.

“Mama tidak meminta kamu langsung mencintai Jenna. Tapi Mama minta, perlakukan dia dengan baik. Dia datang ke hidupmu bukan untuk membayar kesalahan masa lalumu.”

Shaka menatap ibunya.

Ada ketegasan dalam suara Aruna yang jarang ia gunakan. Bukan keras, tetapi dalam. Seolah seorang ibu sedang menaruh batas yang tidak boleh dilewati putranya.

“Aku tahu,” jawab Shaka pelan.

Aruna mengangguk.

“Jenna anak baik. Mama bisa merasakannya. Tapi Mama juga tahu, kamu anak Mama. Kamu mungkin dingin, keras kepala, dan sering menyebalkan, tapi hati kamu tidak buruk.”

Shaka menunduk sedikit.

“Ma.”

“Apa?”

“Jangan terlalu berharap.”

Aruna tersenyum tipis.

“Mama tidak berharap berlebihan. Mama hanya berdoa.”

Shaka tidak menjawab.

Karena doa ibunya selalu menjadi sesuatu yang tidak sanggup ia lawan.

Beberapa saat kemudian, Aruna kembali duduk dan mengambil buket bunga dari Jenna’s Bloom Café yang masih terletak cantik di vas ruang keluarga. Bunga itu sudah ia pindahkan dengan hati-hati agar tetap segar.

“Kamu tahu, Shaka?” ucap Aruna sambil memandangi lily putih itu. “Bunga ini berbeda dari yang biasa kamu beli.”

Shaka menoleh. “Berbeda bagaimana?”

“Yang ini terasa lebih hidup.”

Shaka diam.

Aruna tersenyum kecil, tidak menatap putranya.

“Mungkin karena dirangkai oleh orang yang tepat.”

Shaka tidak membalas.

Namun diamnya kali ini bukan penolakan.

Malam itu, setelah masuk ke kamarnya, Shaka berdiri lama di depan jendela.

Jakarta berkilau di kejauhan. Lampu-lampu kota tampak seperti ribuan titik kecil yang bergerak tanpa henti. Dulu, pemandangan itu selalu membuatnya merasa aman. Dunia di luar sana sibuk, keras, dan jelas. Dunia yang ia pahami.

Tetapi sekarang, dunia yang akan ia hadapi bukan hanya gedung, kontrak, atau perusahaan.

Ada Jenna.

Perempuan yang akan masuk ke hidupnya dalam empat hari.

Perempuan yang membuatnya mempertanyakan ulang keputusan-keputusan yang dulu ia anggap final.

Shaka mengeluarkan ponsel dari saku, membuka galeri, lalu berhenti pada satu foto yang dikirim Syana ke Jenna dan tanpa sengaja diteruskan kepadanya untuk konfirmasi desain gaun.

Foto itu hanya memperlihatkan detail gaun putih akad. Tidak ada wajah Jenna. Tidak ada pose pengantin. Hanya kain, renda, dan sedikit bagian lengan.

Namun Shaka tahu siapa yang akan memakainya.

Ia menatap foto itu beberapa saat, lalu mematikan layar ponselnya.

“Empat hari,” gumamnya.

Empat hari lagi, Jenna akan menjadi istrinya.

Dan untuk pertama kalinya, kata itu tidak lagi terdengar sepenuhnya seperti beban.

Masih asing.

Masih menakutkan.

Tetapi tidak lagi ia benci.

Di tempat yang selama ini dingin dan terkunci, sesuatu mulai bergerak pelan.

Mungkin belum cinta.

Mungkin belum percaya.

Tapi ada keinginan.

Keinginan untuk mengenal.

Keinginan untuk menjaga.

Dan diam-diam, keinginan untuk memiliki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!