NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Kecil di Kafetaria

Pagi itu, Viona bangun lebih awal dari biasanya. Ia memilih baju blazer krem yang membuatnya terlihat profesional namun tetap muda, dan rok panjang selutut. Di depan cermin, ia merapikan rambutnya untuk kesepuluh kalinya, memastikan tidak ada helai pun yang keluar dari tempatnya.

"Kamu mau presentasi atau mau ke pesta pernikahan?" tanya Rani sambil tertawa melihat putrinya yang gelisah di ruang makan.

Viona memerah. "Ini penting, Bu. Zidan bakal nonton."

Rani mengangkat alis, senyumnya melebar penuh arti. "Oh, jadi karena Kakak Zidan yang nonton, makanya dandan segitunya? Kalau dosenmu saja kamu nggak pernah serapi ini."

"Ibu!" protes Viona, meski pipinya semakin panas. "Aku cuma ingin terlihat rapi. Biar percaya diri."

Rani terkekeh, menyerahkan piring berisi roti bakar dan telur dadar. "Ya sudah, makan yang banyak. Jangan sampai gemetar saat bicara nanti. Doa Ibu menyertaimu. Dan... semoga Kakak Zidan juga 'menyertai' dengan caranya sendiri."

Kalimat terakhir Rani membuat jantung Viona berdebar kencang. Ia menelan rotinya dengan susah payah, matanya terus melirik jam dinding. Pukul 08.30. Zidan belum turun.

Tepat pukul 09.00, Zidan muncul di tangga. Ia mengenakan kemeja biru dongker lengan panjang yang digulung hingga siku, celana kain abu-abu, dan jam tangan hitam yang elegan. Penampilannya sederhana, namun aura kewibawaannya langsung memenuhi ruangan.

"Siap?" tanya Zidan singkat, mengambil kunci mobil dari meja.

Viona bangkit cepat, meraih tas laptopnya. "Siap, Kak!"

"Eh Zidan sarapan dulu Nak."

"Enggak Bu, nanti biar Zidan makan disana. Boleh kan? Kebetulan hari ini adalah hari yang sangat penting untuk Viona. Jangan sampe telat Bu."

"Oh .... Yaudah nanti disana jangan lupa Sarapan ya Nak."

Mereka berangkat tanpa banyak bicara. Di dalam mobil, Zidan menyetir dengan tenang, sementara Viona membuka catatan presentasinya di tablet, mencoba menghafal poin-poin terakhir. Namun, pikirannya terus melayang ke pria di sebelahnya.

"Kak," panggil Viona tiba-tiba.

"Hm?"

"Kalau... kalau aku gugup tadi, boleh aku lihat ke arah Kakak sebentar?"

Zidan melirik sekilas, lalu kembali ke jalan. "Jangan. Fokus pada audiens mu. Jika kau melihatku, kau akan mencari validasi, bukan memberikan informasi. Presentasi yang baik adalah tentang menyampaikan pesan, bukan mencari persetujuan pribadi."

Jawaban itu tajam, logis, dan sedikit menyakitkan. Tapi Viona tahu Zidan benar. Ia menghela napas.

"Iya, Kak. Maaf."

"Tapi," tambah Zidan setelah jeda beberapa detik, suaranya lebih rendah.

"Jika kau benar-benar kehilangan arah... cari titik fokus di dinding belakang. Anggap itu aku. Itu akan memberimu stabilitas visual tanpa mengganggu interaksi dengan audiens."

Viona menoleh, menatap profil Zidan dengan takjub. Pria itu selalu menemukan solusi tengah. Tidak emosional, tapi juga tidak sepenuhnya dingin. Ia memberikan jaring pengaman, tanpa harus mengakui bahwa ia peduli.

"Titik fokus di dinding belakang," ulang Viona pelan, tersenyum. "Oke. Aku ingat."

Kampus Universitas Negeri Semarang ramai seperti biasa. Zidan memarkir mobil di area VIP dekat gedung fakultas, lalu mengantar Viona hingga ke depan ruang kuliah.

"Nomor ruang 304," ucap Zidan, memeriksa jadwal di ponsel Viona.

"Aku akan ke kafetaria lantai dua. Ada Wi-Fi stabil di sana."

"Kak," panggil Viona sebelum Zidan berbalik.

Zidan berhenti, menoleh. "Apa lagi?"

"Semoga hari Kakak lancar. Meeting-nya jangan terlalu lama ya."

Zidan menatapnya lama. Matanya seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya mengangguk singkat.

"Presentasimu juga. Ingat jangan gagal."

Kalimat itu terdengar seperti ancaman, tapi Viona tahu artinya: Jangan mengecewakan dirimu sendiri. Karena aku tidak akan membiarkanmu gagal.

Viona masuk ke ruang kuliah dengan hati yang lebih ringan. Saat ia berdiri di depan kelas, menghadap dua puluh mahasiswa dan satu dosen penguji yang berwajah serius, kakinya memang sedikit gemetar. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu matanya secara refleks mencari jendela besar di dinding belakang.

Di sana, melalui kaca jendela yang tembus pandang ke koridor luar, ia tidak melihat Zidan. Tapi ia mengingat kata-katanya: Anggap itu aku.

Viona memusatkan pandangannya pada bingkai jendela itu. Ia membayangkan Zidan duduk di sana, tenang, dengan ekspresi datar namun mata yang memperhatikan setiap gerakannya. Perlahan, kegugupannya surut. Suaranya menjadi lebih lantang, argumennya lebih terstruktur, dan gestur tangannya lebih alami.

Presentasi berlangsung selama empat puluh menit. Saat sesi tanya jawab tiba, Viona menjawab setiap pertanyaan dosen dengan percaya diri. Ia merasa seperti sedang berbicara hanya untuk satu orang: pria yang menunggu di lantai dua, yang mungkin sedang membaca email, tapi juga mungkin—hanya mungkin—sedang memikirkan bagaimana gadis kecilnya tumbuh menjadi wanita yang cakap.

Saat dosen mengangguk tanda puas dan memberi nilai A, Viona hampir melompat kegirangan. Ia membereskan barang-barangnya dengan cepat, lalu berlari keluar ruangan.

Kafetaria lantai dua tidak terlalu ramai. Viona menyapu pandangan ke sudut-sudut ruangan, dan jantungnya berhenti sejenak saat melihat sosok familiar di meja dekat jendela.

Zidan duduk di sana, laptop terbuka di depannya, secangkir kopi hitam setengah habis di sampingnya. Ia sedang mengetik dengan cepat, wajahnya serius. Tapi saat Viona mendekat, jari-jarinya berhenti bergerak.

"Gimana?" tanya Zidan tanpa menoleh, seolah ia bisa merasakan kehadiran Viona.

"Dapat A, Kak!" seru Viona bahagia, meletakkan tasnya di kursi seberang Zidan. "Dosen bilang argumenku sangat solid!"

Akhirnya Zidan menoleh. Ada kilatan kepuasan di matanya, meski ia berusaha menekannya. "Bagus. Berarti revisi bab tiga kemarin efektif."

Viona duduk, masih tersenyum lebar. "Kakak dari tadi ngeliatin aku presentasi?"

Zidan menutup laptopnya perlahan. "Aku lewat di koridor lantai tiga saat istirahat antar sesi. Kebetulan jendela ruanganmu terlihat dari sana."

"Kebetulan?" Viona menyipitkan mata, skeptis. "Kaka sengaja naik ke lantai tiga buat liat aku, ya?"

Zidan tidak menjawab. Ia hanya mengambil gelas kopinya.

"Kopinya sudah dingin. Mau pesan sesuatu?"

"Kak Zidan!" desak Viona, tapi ia tahu pria itu tidak akan mengakui. "Ya udahlah. Yang penting Kakak tau aku berhasil."

"Aku tahu," ucap Zidan lembut. "Sejak kau mulai berbicara lima menit pertama, aku sudah tahu kau akan berhasil. Postur tubuhmu tegak, kontak matamu stabil. Itu tanda kepercayaan diri."

Viona terdiam, tersentuh oleh observasi detail Zidan. Pria itu memang memperhatikannya. Dari jarak jauh, melalui kaca jendela, Zidan membaca bahasa tubuhnya lebih baik daripada siapa pun.

"Terima kasih, Kak," bisik Viona. "Untuk... semuanya. Untuk anter-jemput, untuk revisi skripsi, untuk... jadi titik fokusku."

Zidan menatapnya. Kali ini, ia tidak mengalihkan pandangan. Ia membiarkan tatapan mereka bertemu, membiarkan keheningan di antara mereka berbicara.

"Viona," ucap Zidan pelan. "Kau tidak butuh aku untuk sukses. Kau punya bakat dan kerja keras. Aku hanya... memastikan jalannya mulus."

"Tapi jalan itu terasa lebih aman kalau ada Kakak di pinggirnya," jawab Viona jujur.

Zidan tersenyum tipis, senyum yang jarang terlihat di tempat umum. "Kalau begitu, aku akan tetap di pinggir jalan. Selama kau masih butuh penyeimbang."

Viona merasa dadanya sesak oleh kebahagiaan. Itu bukan janji cinta romantis. Itu bukan deklarasi hubungan. Tapi bagi Viona, itu adalah komitmen yang lebih kuat: Aku akan tetap ada. Aku akan tetap mendukung. Aku tidak akan pergi.

"Mau makan siang?" tanya Zidan tiba-tiba, memecah momen emosional itu. "Ada nasi goreng spesial di sini. Rasanya enak."

"Eh.. Kaka gak sarapan ya?"

"Udah. Tadi aku juga pesan Nasi Goreng."

"Aku kira belum, biar nanti aku kabari Ibu dan Ayah kalau Kaka hari ini tidak sarapan."

Viona tertawa, air mata bahagia menggenang di matanya.

"Boleh. Tapi Kakak yang traktir ya. Sebagai hadiah karena aku dapat A."

Zidan menggelengkan kepala, tapi ia sudah berdiri, mengambil jaketnya.

"Dasar pemeras. Ayo."

Mereka berjalan berdampingan menuju konter makanan. Bahu mereka hampir bersentuhan, tapi tidak benar-benar menyentuh. Jarak aman itu masih ada. Tapi kini, jarak itu terasa seperti benang tipis yang menghubungkan dua jiwa yang saling memahami, tanpa perlu melanggar aturan dunia.

Dan di tengah keramaian kafetaria kampus, di bawah sorotan mata mahasiswa lain yang mungkin bertanya-tanya siapa pria tampan dan dingin itu, Viona merasa paling berbeda.

Karena ia memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli: perhatian tulus dari pria yang paling sulit dipahami, namun paling konsisten dalam menjaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!