Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Prahara Seblak Maut
"Kalau gitu, gue bungkus aja gimana? Terus gue makannya di dalam mobil lo, biar lo nggak usah nungguin gue makan, dan kita nggak bakalan kena macet."
Rahsya yang duduk di kursi belakang langsung tertawa mengejek sampai memukul jok. "Udah kayak emak-emak yang lagi ngidam anak pertama lo, Ren! Segala mau makan seblak di mobil sport!"
"Kalau lo makan seblak di dalam mobil gue, yang ada nanti bau interior mobil gue berubah jadi bau kencur, terasi, sama kuah cabe! Gue nggak mau, harganya turun nanti!" tolak Adit tegas dan mutlak.
"Terus gue harus gimana dong? Gue pengen banget makan seblak! Udah di ubun-ubun banget ini keinginannya, geus teu kuat hayang pisan, Dit!" keluh Reno dalam bahasa Sunda yang kental dengan wajah melas luar biasa mirip anak kucing hilang arah.
Adit memutar bola matanya malas. Temannya yang satu ini jika sudah menyangkut makanan berkuah pedas bernama seblak, bicaranya akan nyerocos terus tanpa henti seperti petasan banting tetangga.
"Ck! Nyusahin lo. Lo tinggal pesan via Gofood aja nanti kalau kita udah nyampe di mansion Opa. Gak usah ribet pakai drama segala."
"Gue nggak mau, Dit! Yang ada kelamaan kalau gue pesen lewat Gofood, gue harus nunggu abangnya nyari alamat lagi. Gue maunya sekarang juga, titik gak pake koma!"
"Lo bener-bener nyusahin ya! Tahu gitu gue tinggal aja lo di apartemen tadi, nggak bakalan gue ngajak-ngajak lo!" gerutu Adit yang mulai tersulut emosi. "Gini aja, gue kasih dua pilihan adil. Lo beli seblak tapi lo makannya nanti pas kita udah sampai di mansion, atau lo nggak usah beli sama sekali!"
"Kaburu beukah seblakna atuh, Adit!" (Keburu mengembang seblaknya nanti, Adit!) protes Reno tidak terima membayangkan kerupuk seblaknya melar seukuran ban mobil.
"Beli tapi makan di mansion, atau nggak sama sekali," putus Adit final dengan nada tidak bisa diganggu gugat.
Reno akhirnya menyerah kalah, bahunya merosot lemas. "Ya udah, nggak perlu berhenti. Gue pesan lewat Gofood aja sekarang dari HP," gumamnya pasrah sambil mulai mengutak-atik ponselnya, memesan seblak level dewa dengan ekstra ceker untuk diantar langsung ke alamat Mansion Abraham.
****
Di dalam Mansion Abraham yang tenang dan mewah, Linzy—anak perempuan di rumah itu—baru saja menyelesaikan ritual paginya di dalam kamar mewah lantai dua. Wajahnya tampak luar biasa cantik, putih, dan bercahaya alami.
Rahasianya? Tentu saja karena ia rajin mengonsumsi ubi ajaib itu dua kali sehari; sekali di siang hari dan sekali lagi tepat setelah lewat tengah malam demi menjaga keajaiban Cinderella Effect pada wajahnya agar tidak luntur seperti Alin.
"Bi, tolong rebusin ubi ini ya, seperti biasa. Kalau sudah matang, tolong langsung antarkan ke kamar aku," perintah Linzy kepada Bi Susi sambil menyerahkan potongan ubi misterius yang tersisa di dalam wadah kotak.
"Baik, Nona Linzy," sahut Bi Susi patuh.
Setelah lima belas menit berkutat di dapur mansion yang luas, ubi itu akhirnya matang dengan sempurna, mengepulkan uap panas yang manis. Bi Susi meletakkannya di atas piring porselen kecil yang cantik.
Baru saja ia hendak melangkah menuju tangga untuk mengantarkannya ke kamar Linzy, bel rumah utama berbunyi nyaring di area depan.
Ting Tong! Ting Tong!
Bi Susi terkesiap kaget. Ia terpaksa mengurungkan niatnya menuju lantai dua dan dengan ceroboh meletakkan piring berisi ubi rebus magis itu di atas meja makan kayu jati yang luas di ruang tengah. Ia bergegas berjalan ke depan untuk membukakan pintu utama yang megah.
"Silakan masuk, Tuan Muda Adit," sambut Bi Susi ramah pada Adit, Rahsya, dan Reno yang baru saja sampai dari apartemen.
Tak lama setelah mereka melangkah masuk ke dalam rumah, seorang kurir Gofood juga tiba di gerbang, mengantarkan pesanan seblak milik Reno yang aromanya menyengat tajam memenuhi seisi ruangan.
"Bi, Oma di mana? Jam segini kok sepi?" tanya Adit sambil melepas kacamata hitamnya dan menaruhnya di atas meja.
"Nyonya Oma sedang istirahat di kamarnya, Tuan Muda. Beliau baru saja pulang dari butik sehabis meninjau model baru," jelas Bi Susi sopan.
"Oh, ya udah. Bi, tolong buatin minuman dingin ya buat kita bertiga, terus anterin ke ruang tamu tengah. Sama sekalian bawa mangkuk kosong sama sendok buat temen saya yang mau makan makanan bau terasi ini," perintah Adit lagi sambil melirik sinis ke arah kantong seblak Reno.
"Baik, Tuan Muda. Segera Bibi siapkan."
Bi Susi pun kembali ke area dapur dengan terburu-buru. Ia begitu sibuk membuatkan tiga gelas sirup dingin dan menyiapkan mangkuk porselen untuk seblak Reno, hingga pikirannya teralihkan sepenuhnya.
Alhasil, Bi Susi benar-benar lupa pada piring ubi rebus milik Linzy yang masih tergeletak manis dan pasrah di atas meja makan kayu jati.
****
Beberapa saat kemudian...
Di ruang tamu Mansion Abraham, suasana yang tadinya damai sentosa mendadak berubah menjadi panggung film horor bagi Reno. Belum ada lima menit pemuda playboy itu melahap habis seblak prasmanan level 100 miliknya dengan lahap, wajahnya langsung berubah merah keunguan, menyerupai warna buah naga yang menodai hoodie mahal milik Rakha kemarin sore.
"Ssshh... aduh... perut gue... perut gue kayak diremas pake tang, woy!" Reno meringis fana.
Tangannya mencengkeram perut dengan kekuatan penuh seolah takut ususnya copot detik itu juga. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan dan balapan merosot di dahi tampannya.
"Mampus! Salah lo sendiri, makan seblak level seratus pake kuah sekental oli begitu! Mau nyeblak apa mau menantang malaikat maut lo? Dasar lambung baja berhati rempeyek! Sekarang lo rasain sendiri tuh akibatnya!" ejek Rahsya tanpa ampun, tertawa puas di atas penderitaan sahabatnya yang hobi gonta-ganti pacar itu.
"Gue... gue ke kamar mandi dulu! Ini panggilan alam semesta sudah di ubun-ubun, geus teu kuat hayang boker pisan!!" teriak Reno dengan suara melengking panik.
Ia langsung bangkit berdiri dan berlari tunggang langgang, zigzag melewati pot-pot bunga mahal Oma Karin, mencari toilet terdekat demi menyelamatkan harga diri celananya.
Tak lama setelah Reno menghilang di belokan lorong layaknya atlet lari estafet, Adit muncul kembali dari area belakang setelah sempat mengecek keberadaan Omanya di lantai atas.
"Lho, Dit, teman kamu si playboy cap kapak itu kemana? kok temennya sekarang cuma sendiri? Yang satu lagi ke mana?" tanya Oma Karin yang kebetulan baru saja berjalan anggun menuruni anak tangga setelah berganti pakaian rumah.
"Nggak tahu juga, Oma. Tadi pas aku tinggal ke belakang sih masih lengkap formasi mereka," jawab Adit kebingungan sambil menggaruk alisnya yang tebal.
"Reno sedang berjuang di jalan yang lurus, Oma. Maksudnya sedang sakit perut parah, tadi dia lari terbirit-birit ke arah kamar mandi," Rahsya menimpali sambil menahan tawa agar tidak terdengar durhaka di depan wanita tua pemilik butik tersebut.
"Oh, begitu? Ya sudah, mungkin kaget sama hawa dingin mansion. Kalau begitu, Oma mau ke atas dulu ya, mau ke kamar Linzy di lantai dua. Mau ngasih tahu dia kalau kalian datang berkunjung," ujar Oma Karin dengan senyum lembut keibuan.
Oma Karin pun melangkah anggun menuju lift mansion yang berlapis kaca mewah, meninggalkan Adit dan Rahsya yang kembali sibuk melirik sisa mangkuk seblak Reno yang baunya masih awet memenuhi ruangan.
Di lantai atas, Oma Karin mengetuk pintu kamar cucunya dengan irama yang tenang.
Tok! Tok!
"Linzy sayang, ini Oma, Nak. Oma boleh masuk sebentar?" panggil Oma Karin lembut.
Pintu kamar bercat putih itu terbuka perlahan, menampilkan paras cantik Linzy yang sempurna dan bercahaya—berkat dedikasi tingginya memakan ubi rebus tepat waktu setiap tengah malam.
"Iya, Oma? Ada apa?" tanya Linzy dengan nada suara datar tanpa ekspresi, ciri khasnya sejak kejadian tragis setahun lalu.
"Hari ini sepupu kamu, si Adit, datang ke sini lagi. Dia nggak sendirian, bawa dua orang temannya buat nengokin kamu. Mereka ada di ruang tamu bawah," ujar Oma Karin penuh harap agar cucunya mau bersosialisasi dengan keluarga.
Linzy membuang muka, menatap ke arah jendela kamarnya. "Terus aku harus gimana, Oma? Aku harus pasang spanduk selamat datang?" jawab Linzy ketus dan dingin.
"Kamu temuin lah sepupu kamu itu, Nak. Kamu juga kan udah lama banget nggak ketemu sama dia semenjak kamu ngurung diri. Padahal waktu kalian masih bocil, kalian itu deket banget lho, sering rebutan mainan sampai nangis," bujuk Oma Karin lagi, mencoba mencairkan kebekuan hati cucunya.
Linzy menghela napas ketat, menyilangkan kedua tangan di dada. "Aku nggak mau, Oma. Malas. Oma aja yang temuin mereka, aku mau lanjut baca buku."