"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Darah di Hamparan Salju
Cahaya matahari pagi yang samar perlahan menerobos masuk melalui celah-celah batu yang sempit di balik air terjun kecil itu. Sinar keemasan yang tipis jatuh miring, membelah kabut embun sebelum akhirnya menyinari wajah pucat seorang anak kecil yang tertidur meringkuk, memeluk lututnya di sudut tebing yang gelap.
Kelopak mata Lin Ling bergerak pelan, terasa begitu berat seolah kelopaknya telah membeku.
Ketika matanya perlahan terbuka, untuk beberapa saat dia hanya menatap kosong ke arah dinding batu yang lembap di depannya. Tubuhnya bergeming.
Wajah kecilnya tampak kuyu dan lelah, dengan lingkaran hitam yang pekat di bawah matanya, sementara bibirnya pecah-pecah hingga mengeluarkan sedikit darah kering akibat embusan hawa dingin malam bawah gunung. Tatapannya kosong, mencerminkan keputusasaan yang teramat dalam.
Semalam, dia bahkan tidak tahu bagaimana tubuh ringkihnya bisa bertahan hidup dan tertidur di tempat sekejam ini.
Di luar celah batu, suara gemuruh aliran sungai masih terdengar konstan, membawa gema yang dingin, asing, dan sunyi.
Lin Ling perlahan menundukkan kepalanya dalam-dalam, kembali memeluk lututnya erat-erat. Jari-jarinya yang kaku mencengkeram jubah lusuhnya yang masih terasa basah dan menempel dingin di kulit. Perutnya berbunyi nyaring, melilit menyakitkan karena lapar, sementara seluruh sendi tubuhnya terasa kaku membeku.
Dia menggertakkan giginya pelan, mencoba mengusir rasa kantuk kematian yang sempat merayap di benaknya.
"...Aku... harus menyusuri sungai ini," bisik Lin Ling dengan suara yang teramat serak dan lemah, hampir tenggelam oleh suara air.
Di dalam pengetahuannya yang terbatas, aliran air di pegunungan liar seperti ini biasanya akan mengarah ke dataran rendah—tempat di mana kehidupan manusia berada. Entah itu sebuah desa pemburu, atau setidaknya sebuah jalan keluar dari hutan yang dihuni oleh Binatang Iblis ini.
Lin Ling perlahan mengangkat kepalanya kembali. Meskipun matanya masih diselimuti kelelahan yang luar biasa, kabut keputusasaan di sepasang manik hitamnya perlahan mulai terkikis, digantikan oleh kilatan tekad murni untuk tetap bertahan hidup. Dia menolak untuk mati sekonyol ini.
Setelah beberapa puluh menit menyeret langkah kakinya yang goyah menyusuri tepian sungai yang berbatu, langkah Lin Ling mendadak terhenti. Di atas tanah berlumpur yang tertutup lapisan salju tipis dekat aliran air, dia melihat sepasang guratan dalam yang memanjang.
Itu adalah bekas roda kereta.
"Karavan dagang...?" Mata Lin Ling sedikit menyipit.
Harapan baru seolah disuntikkan ke dalam tubuhnya. Dia segera mempercepat langkah kecilnya, mengikuti jejak roda tersebut menembus barisan pepohonan hutan yang mulai memutih akibat salju.
Namun, belum sempat senyumnya mengembang, langkah kakinya justru kembali terkunci rapat.
Di hadapannya, beberapa kereta kuda kayu tampak hancur berantakan menjadi puing-puing. Peti-peti barang dagangan pecah berserakan, isinya berupa kain dan rempah-rempah terhambur di atas tanah. Kain penutup karavan robek besar-besar, menyisakan bekas robekan yang kasar seperti baru saja dicabik oleh cakar raksasa dengan paksa.
Warna merah tua dari cipratan darah segar terlihat sangat kontras, menodai hamparan salju yang putih bersih di sekeliling area tersebut.
Pupil mata Lin Ling mengecil perlahan saat aroma yang sangat dia takuti kembali tercium. Bau anyir darah yang pekat bercampur dengan uap dingin dari daging yang membeku seketika menusuk hidungnya, membuat isi perutnya bergolak mual.
Mayat-mayat manusia—para pengawal dan pedagang—tergeletak di berbagai sudut dalam posisi yang mengerikan. Beberapa tubuh mereka tidak lagi utuh, menyisakan jejak seretan panjang di atas tanah yang mengarah masuk ke dalam kegelapan hutan yang lebih dalam.
Lin Ling tanpa sadar menelan ludah dengan susah payah, seluruh tubuhnya menegang. 'Binatang Iblis... tempat ini baru saja diserang.'
Kriuuuk...
Rasa lapar yang teramat sangat kembali menghantam perutnya, melilit begitu menyakitkan hingga membuat tubuh Lin Ling membungkuk. Tatapannya yang bergetar perlahan jatuh pada sebuah kantong kain tebal yang terlempar di dekat roda kereta yang patah.
Roti gandum.
Mata Lin Ling bergerak dengan tingkat kewaspadaan tertinggi, menyapu seluruh semak-semak di sekitarnya sebelum akhirnya tubuh kecilnya berlari cepat mendekati kantong tersebut. Tangannya yang mati rasa dan gemetar membuka ikatan kantong dengan tergesa-gesa.
Beruntung, beberapa potong roti keras di dalamnya masih utuh dan tidak terkena darah.
Aroma gandum kering langsung memenuhi rongga hidungnya. Tenggorokan Lin Ling bergerak naik-turun. Di titik ini, dia tidak lagi memedulikan pemandangan mengerikan atau mayat-mayat di sekitarnya. Dia langsung memasukkan roti keras itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan rakus.
Roti yang dingin dan sekeras batu itu terasa kasar menoreh dinding tenggorokannya yang kering, memaksanya menelan dengan rasa sakit yang menusuk. Namun, Lin Ling terus mengunyah tanpa berhenti, menjejalkan makanan itu seolah-olah ini adalah harinya yang terakhir.
Baru setelah rasa melilit di perutnya sedikit mereda, gerakan mulut Lin Ling perlahan-lahan melambat.
Dia mengangkat kepalanya pelan. Angin musim dingin kembali berembus melewati bangkai karavan yang hancur, membuat sisa-sisa kain yang robek di atas kereta berkibar dengan suara kepakan yang sunyi.
Lin Ling kembali menyapu pandangannya ke sekeliling dengan mata yang kini jauh lebih jernih. Organ dalam yang berceceran dan sisa-sisa tubuh manusia yang dicabik-cabik itu sempat memicu rasa jijik di hatinya. Namun, setelah itu, ekspresinya kembali berubah menjadi dingin.
Dia mencoba memeriksa beberapa pakaian mayat untuk mencari barang berharga atau senjata kecil, namun tampaknya karavan ini sudah dijarah habis oleh monster atau manusia lain sebelum dirinya tiba. Tidak ada apa pun yang tersisa.
"Aku harus segera pergi dari sini," gumam Lin Ling lirih. "Jika aku terlalu lama berada di tempat berdarah ini, bau anyir ini pasti akan memancing monster lain datang, dan aku akan menjadi mayat berikutnya yang tergeletak di sini."
Tanpa membuang waktu lagi, Lin Ling membalikkan tubuhnya dan mulai berlari, mengikuti jalur tanah luas yang sebelumnya ditempuh oleh karavan tersebut.
Satu jam berlalu sejak Lin Ling meninggalkan area pembantaian karavan.
Kerapatan pohon-pohon kuno di sekitarnya perlahan mulai berkurang, menandakan dia telah mencapai tepi hutan. Jalan tanah di bawah kakinya berubah menjadi semakin lebar dan padat, dengan bekas roda kereta yang saling bertumpuk memenuhi jalur, sebuah tanda bahwa ini adalah jalan utama yang sering dilalui oleh banyak orang.
Langkah kaki Lin Ling perlahan melambat. Dari arah depan, samar-samar telinganya menangkap suara riuh rendah manusia, bercampur dengan derap kaki kuda dan decit roda kayu yang berputar.
Sepasang matanya membelalak kecil. Dia segera mempercepat langkahnya, menuruni lereng perbukitan terakhir yang membatasi hutan.
Tak lama kemudian, sebuah pemandangan yang luas dan hidup akhirnya terhampar di depan matanya.
Di bawah kaki gunung yang tertutup salju tipis, berdiri sebuah desa besar yang sangat ramai. Pagar kayu yang tinggi dan kokoh mengelilingi seluruh area pemukiman, sementara puluhan kereta karavan tampak mengalir keluar masuk melalui gerbang utama yang dijaga ketat.
Jalanan di dalam sana dipenuhi oleh para pedagang yang berteriak menawarkan barang, kuda-kuda pengangkut yang memikul beban berat, serta orang-orang yang sibuk memindahkan peti dan karung besar. Bangunan-bangunan kayu yang kokoh berdiri rapat memenuhi area desa. Bahkan, beberapa kedai dan penginapan bertingkat terlihat berdiri megah di dekat jalan utama, menjadi tempat singgah bagi para pengembara.
Dibandingkan sebuah desa biasa, tempat ini jauh lebih mirip dengan kota kecil yang hidup dan makmur.
Lin Ling berdiri mematung di tepi lereng untuk beberapa saat. Setelah melewati malam panjang yang penuh teror, dingin, dan genangan darah di hutan monster, pemandangan manusia yang ramai dan hangat di bawah sana terasa hampir tidak nyata bagi bocah berusia delapan tahun itu.