NovelToon NovelToon
Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pengkhianatan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melahirkan Tanpa Suami

Ada rasa sakit yang bisa dijelaskan.

Seperti terjatuh dari motor.

Tersiram air panas.

Atau tertusuk duri.

Tapi ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Rasa sakit ketika kita sedang berjuang mempertahankan hidup, sementara orang yang seharusnya berada di samping kita memilih berpaling.

Dan Nandin merasakan itu.

Di usia kandungannya yang memasuki delapan bulan, tubuhnya mulai memberi tanda bahwa ia sudah terlalu lelah.

Sangat lelah.

Pagi itu seperti biasa Nandin bangun pukul tiga dini hari.

Namun kali ini berbeda.

Begitu mencoba duduk di tepi ranjang, rasa nyeri tiba-tiba menjalar dari pinggang hingga ke perut bagian bawah.

Nandin meringis.

Tangannya langsung memegang perut yang membesar.

"Ngh..."

Ia menarik napas panjang.

Mungkin hanya pegal biasa.

Mungkin karena kemarin terlalu banyak berdiri.

Mungkin karena mengangkat panci yang terlalu berat.

Ia mencoba berdiri.

Lalu berjalan perlahan menuju dapur.

Namun baru beberapa langkah...

Sakit itu datang lagi.

Lebih kuat.

Lebih tajam.

Dan membuat tubuhnya spontan membungkuk.

"Ya Allah..."

Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

Dua bayi di dalam perutnya bergerak aktif.

Seolah ikut gelisah.

Nandin memejamkan mata.

Mengatur napas.

Sampai rasa sakit itu perlahan menghilang.

Namun perasaan tidak tenang mulai muncul di dalam hatinya.

Meski begitu, hidup tetap harus berjalan.

Pesanan katering hari itu cukup banyak.

Ada empat puluh nasi kotak untuk acara pengajian.

Dan Nandin tidak punya pilihan selain mengerjakannya.

Pukul lima pagi dapurnya sudah dipenuhi aroma bawang goreng.

Suara minyak mendesis.

Panci besar mendidih.

Ayam-ayam yang telah dibumbui semalaman mulai matang satu per satu.

Namun setiap beberapa menit sekali...

Perutnya mengeras.

Nyeri datang.

Lalu hilang.

Datang lagi.

Lalu hilang lagi.

Awalnya Nandin mencoba mengabaikannya.

Sampai Bu Rini datang membantu.

Wanita itu langsung menyadari wajah Nandin yang pucat.

"Kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa."

"Jangan bohong."

Nandin tersenyum lemah.

"Perutku agak sakit."

"Sejak kapan?"

"Tadi subuh."

Bu Rini langsung mengernyit.

"Kontraksi?"

"Nggak tahu."

"Kita ke bidan sekarang."

"Nanti dulu."

"Nanti dulu gimana?"

Pesanan masih banyak.

Bu Rini menatap panci-panci yang berjajar di dapur.

Lalu kembali menatap Nandin.

Dan untuk pertama kalinya, wanita itu terlihat marah.

"Kamu ini keras kepala."

Nandin tertawa kecil.

"Kalau aku nggak kerja, siapa yang bayar hidup kami?"

Kalimat itu membuat Bu Rini terdiam.

Karena ia tahu.

Itulah kenyataannya.

Siang hari rasa sakit itu semakin sering datang.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Bahkan dalam satu jam bisa lebih dari lima kali.

Nandin mulai ketakutan.

Namun ia tetap menyelesaikan semua pesanan.

Baru setelah semuanya selesai diantar, ia mau pergi ke klinik.

Dokter langsung melakukan pemeriksaan.

Wajah dokter berubah serius.

"Kamu mengalami kontraksi dini."

Deg.

Jantung Nandin langsung berdegup keras.

"Berbahaya, Dok?"

"Kalau terus seperti ini bisa menyebabkan persalinan prematur."

Tubuh Nandin langsung lemas.

Persalinan prematur.

Kalimat itu terdengar sangat menakutkan.

"Kembar memang berisiko lebih tinggi."

"Tapi kamu juga terlalu capek."

Nandin menunduk.

Ia sudah tahu jawaban itu.

Sejak awal.

Namun mengetahui dan menerima adalah dua hal yang berbeda.

"Kamu harus banyak istirahat."

"Saya nggak bisa, Dok."

"Kalau begitu bayi-bayimu yang akan menanggung risikonya."

Kalimat itu langsung membuat Nandin terdiam.

Tidak bisa membantah.

Tidak bisa menjawab.

Karena dokter benar.

Malamnya ia mencoba menghubungi Wisnu.

Untuk kesekian kalinya.

Panggilan pertama ditolak.

Panggilan kedua tidak diangkat.

Panggilan ketiga juga sama.

Akhirnya ia mengirim pesan.

"Mas, aku mengalami kontraksi dini."

Dibaca.

Tidak dibalas.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Satu jam.

Tetap tidak ada jawaban.

Hingga akhirnya sebuah pesan masuk.

Bukan dari Wisnu.

Melainkan dari Ibu Sri.

"Kamu jangan lebay."

Nandin membeku.

Tangannya gemetar.

Lalu pesan kedua masuk.

"Kalau hamil ya memang sakit."

Pesan ketiga menyusul.

"Jangan ganggu Wisnu terus. Dia kerja."

Air mata langsung mengalir.

Bukan karena sedih.

Tapi karena kecewa.

Sangat kecewa.

Bahkan setelah mengetahui dirinya terancam melahirkan prematur, yang mereka pikirkan hanya satu.

Jangan ganggu Wisnu.

Beberapa hari kemudian.

Kontraksi mulai berkurang.

Namun kondisi Nandin tetap tidak baik.

Kakinya semakin bengkak.

Tidurnya semakin sulit.

Napasnya sering sesak.

Tubuhnya mudah lelah.

Dan perutnya terasa sangat berat.

Sementara itu...

Di rumah Ibu Sri.

Renovasi mulai dilakukan.

Tetangga sekitar ramai membicarakannya.

Ada tukang datang setiap hari.

Cat baru.

Keramik baru.

Atap baru.

Bahkan dapur yang selama ini masih sederhana mulai dibongkar total.

Semua menggunakan uang kiriman Wisnu.

Uang yang tidak pernah sampai kepada istri dan anak-anaknya.

Suatu sore saat Nandin membeli sayur di pasar, ia melihat sendiri Ibu Sri sedang memilih keramik.

Wajah wanita itu begitu cerah.

Begitu bangga.

"Yang warna krem saja."

"Iya Bu."

"Kalau yang itu terlalu murah."

Nandin mematung beberapa meter dari sana.

Dadanya terasa sesak.

Bukan karena iri.

Melainkan karena merasa tidak dianggap.

Ia hampir melahirkan.

Anak-anak Wisnu hampir lahir.

Tapi yang dipikirkan keluarga itu justru renovasi rumah.

Malam harinya kontraksi kembali datang.

Lebih kuat.

Lebih sering.

Lebih menyakitkan.

Nandin sedang tidur ketika rasa nyeri luar biasa membuatnya terbangun.

"Ngh!"

Tangannya langsung memegang perut.

Sakit.

Sangat sakit.

Ia mencoba duduk.

Namun rasa nyeri itu semakin menjadi.

Lima menit kemudian datang lagi.

Lalu lagi.

Lalu lagi.

Keringat dingin membasahi tubuhnya.

Ia langsung menelepon Bu Rini.

"Bu..."

Suara Nandin bergetar.

"Kayaknya aku mau melahirkan."

Satu jam kemudian.

Nandin sudah berada di rumah sakit.

Lampu IGD terasa begitu terang.

Suara langkah kaki dokter dan perawat terdengar bersahutan.

Bau obat memenuhi udara.

Sementara Nandin terbaring di ranjang dengan wajah pucat.

Dokter melakukan pemeriksaan.

Lalu menghela napas panjang.

"Pembukaan sudah mulai."

Bu Rini yang berdiri di samping langsung panik.

"Tapi kandungannya baru delapan bulan, Dok."

"Kembar memang sering seperti itu."

Jantung Nandin berdebar semakin cepat.

Ini benar-benar terjadi.

Hari yang selama ini ia tunggu.

Hari kelahiran anak-anaknya.

Namun berbeda dari yang ia bayangkan.

Tidak ada suami yang menggenggam tangannya.

Tidak ada keluarga yang menemaninya.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada dukungan.

Hanya dirinya sendiri.

Dan beberapa orang baik yang bukan keluarga.

"Sudah kabari suaminya?"

tanya dokter.

Nandin menunduk.

Belum.

Bukan karena tidak mau.

Tapi karena ia tahu percuma.

Meski begitu, ia tetap mengirim pesan.

"Mas, aku di rumah sakit."

Tidak ada balasan.

"Aku mau melahirkan."

Tidak ada balasan.

"Anak-anak kita mau lahir."

Tetap tidak ada balasan.

Perutnya kembali berkontraksi.

Air matanya jatuh.

Namun kali ini bukan karena sakit.

Melainkan karena kenyataan.

Bahwa bahkan saat anak-anaknya lahir nanti...

Wisnu mungkin tidak peduli.

Beberapa jam kemudian.

Rasa sakit semakin luar biasa.

Tubuh Nandin gemetar.

Keringat membasahi seluruh tubuhnya.

Tangannya menggenggam erat pagar tempat tidur.

"Tarik napas, Bu."

Perawat mencoba menenangkan.

"Tahan."

"Buang perlahan."

Namun semua teori itu terasa mustahil saat rasa sakit datang.

Nandin menangis.

Bukan karena manja.

Bukan karena lemah.

Tapi karena rasa sakit itu memang luar biasa.

Dan di tengah semua itu...

Ia merasa sendirian.

Sangat sendirian.

Pukul dua dini hari.

Tangisan bayi akhirnya memenuhi ruang bersalin.

Nyaring.

Kuat.

Indah.

Air mata langsung membanjiri wajah Nandin.

"Bayi pertama perempuan."

Tangisan kedua menyusul tidak lama kemudian.

Lebih kecil.

Namun sama indahnya.

"Bayi kedua juga perempuan."

Dunia seakan berhenti.

Semua rasa sakit.

Semua penderitaan.

Semua kesepian.

Seolah menghilang sesaat.

Saat dua bayi mungil itu akhirnya diperlihatkan kepadanya.

Cantik.

Sangat cantik.

Mata Nandin langsung dipenuhi air mata.

"Halo..."

Bisiknya lirih.

"Halo sayang."

Tangannya gemetar saat menyentuh pipi bayi pertama.

Lalu bayi kedua.

Mereka begitu kecil.

Begitu rapuh.

Dan begitu berharga.

"Terima kasih sudah bertahan bersama Ibu."

Tangis Nandin pecah.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan...

Tangisan itu bukan karena kesedihan.

Melainkan karena kebahagiaan.

Ia berhasil.

Mereka berhasil.

Pagi harinya.

Nandin kembali membuka ponsel.

Masih berharap.

Mungkin Wisnu akan menjawab.

Mungkin setelah tahu anak-anaknya lahir.

Mungkin kali ini saja.

Namun yang ia temukan hanyalah foto status WhatsApp Ibu Sri.

Sebuah foto renovasi dapur.

Dengan tulisan:

"Alhamdulillah rezeki anak soleh."

Air mata yang sempat berhenti kembali jatuh.

Karena saat itu...

Wisnu masih belum membalas satu pun pesannya.

Bahkan setelah kedua putri mereka lahir ke dunia.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Nandin benar-benar merasa menjadi ibu tunggal.

Meski statusnya masih seorang istri.

Di ranjang rumah sakit yang sederhana itu, Nandin memandangi dua bayi mungil yang tidur di sisinya.

Mereka belum memiliki nama.

Namun sudah memiliki tempat terbesar di hatinya.

Nandin mengusap kepala keduanya perlahan.

Lalu tersenyum di tengah air mata.

"Tenang saja."

Bisiknya.

"Kalian punya Ibu."

"Mungkin kita nggak punya siapa-siapa lagi."

"Tapi Ibu janji akan menjaga kalian."

Apa pun yang terjadi.

Seberat apa pun hidup nanti.

Ia akan bertahan.

Untuk mereka.

Karena sejak hari ini...

Dunia Nandin bukan lagi tentang Wisnu.

Melainkan tentang dua malaikat kecil yang baru saja lahir dan memberinya alasan baru untuk hidup.

1
Dhatu Lukita
semangat buat akuu😂
falea sezi
males MC di buat oon gini thor🤣 buat dia kuat gk menye bales dendam bego😒
Dhatu Lukita: hehehhe ya maap🙏
total 1 replies
falea sezi
😒 jalang.. emank pelakor nih buat nadin waras dan minta cerai dr laki kardus lah
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa
bagus kak, mampir dikarya ku juga😍
tazayaa
halo kak, mampir di cerita ku yuu😍
Dhatu Lukita: haloo,,
oke baik. mari kita berkawan💗
total 1 replies
falea sezi
laki kardus g tau diri
Dhatu Lukita
pantengin terus ya kak 🤭💗
anakmafia
up tiap hari 10 episod bisa gasih thor hehehe
waya520
halooo aku mampir nih 🤭
Dhatu Lukita: haloo kaka🤭😍
total 1 replies
Arwondo Arni
cerai aja lebih bahagia semoga ketemu pria yg lbh segalanya dari bpknya si kembar yg berengsek.
Dhatu Lukita: heheheh pantengin terus ya kak🤭😍
total 1 replies
Wawan
Mawar dan iklan buat si kembar... ✍️💪
Dhatu Lukita: ahhh terimakasih banyak 🤭😍
total 1 replies
Lintang_Tara✨
saling dukung ygy❤️
Musea
udah mampir nih, semangat terus ya dari sesama authorr
Dhatu Lukita: siaaapppp💪💪💪
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
Dhatu Lukita: ho.ohh tengkyu kak😍🥰🥰
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
D. Nightshade
semangat terus thor,💗
Wawan
Salam kenal buat Nandin ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!