NovelToon NovelToon
Jejak Darah Yang Menghilang

Jejak Darah Yang Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi / Anime
Popularitas:127
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TULISAN YANG TIDAK PERNAH SELESAI

Mereka pikir segalanya sudah berakhir. Mereka pikir mereka bebas, mereka adalah penulis nasib mereka sendiri, dan misteri terakhir sudah terjawab. Tapi mereka salah besar. Kengerian yang sebenarnya baru saja dimulai — kengerian yang tidak bisa dilawan, tidak bisa dipahami, tidak bisa dihindari.

Beberapa waktu setelah ingatan mereka diubah, hal-hal aneh mulai terjadi lagi. Awalnya hanya hal kecil yang dianggap khayalan: orang melihat bayangan diri mereka sendiri berdiri diam menatap mereka dari sudut ruangan, atau mendengar suara diri mereka sendiri berbicara hal yang mengerikan saat mulut mereka tertutup rapat. Tapi lama-kelamaan, hal itu semakin jelas, semakin nyata, dan semakin mengerikan.

Raka adalah yang pertama kali menyadari sesuatu yang salah. Saat ia melihat bayangannya sendiri di air, ia melihat bahwa BAYANGAN ITU BERGERAK SEBALIKNYA. Saat ia mengangkat tangan kanan, bayangan mengangkat tangan kiri — bukan karena pantulan, tapi karena BAYANGAN ITU HIDUP DENGAN KEHIDUPANNYA SENDIRI. Dan saat ia menatap mata bayangannya, ia melihat mata itu bukan miliknya. Mata itu HITAM PEKAT TANPA BAGIAN PUTIH, dan dari dalam mulut bayangan itu keluar bisikan dingin yang membuat darahnya membeku:

“Kamu pikir kamu yang menulis dirimu? Kamu pikir kamu yang memilih? Kamu bodoh… kamu hanya salinan. Dan aslinya adalah AKU.”

Seketika itu juga, bayangan itu melompat keluar dari permukaan air, mendarat di tanah dengan suara basah dan lengket seperti daging yang jatuh. Tubuhnya sama persis dengan Raka, tapi kulitnya PUTIH PUCAT SEPERTI MAYAT YANG SUDAH MATI BERTAHUN-TAHUN, dan seluruh tubuhnya berlumuran cairan merah kental yang berbau seperti darah lama yang sudah membusuk.

“Siapa kamu?!” teriak Raka mundur, merasa seluruh tulang di tubuhnya mau hancur karena ketakutan. “Apa maksudmu salinan?!”

Bayangan itu tersenyum — senyum yang lebar, sampai hampir menyentuh telinga, penuh gigi tajam yang berlumuran darah.

“Kamu belum sadar ya?” katanya, suaranya sama persis dengan suara Raka tapi lebih dalam, lebih dingin, dan penuh rasa jijik yang mutlak. “Kamu dan Lira dan semua makhluk yang ada di sini… kalian semua hanyalah SALINAN KASAR, TULISAN RANGKAP YANG TIDAK SEMPURNA. Sosok yang kalian sebut Penulis itu — dia tidak menghapus dirinya sendiri. Dia tidak memberikan kekuatan kepada kalian. Dia hanya MEMBUAT KALIAN SEBAGAI CADANGAN. Dan sekarang, dia mau mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.”

Seketika itu juga, tanah di seluruh dunia mulai MENJADI KERTAS TUA YANG KERING DAN RAPUH. Langit tidak lagi berwarna apa pun — langit berubah menjadi LATAR BELAKANG PUTIH KOSONG, dan di sekujur penjuru tempat mulai muncul GARIS-GARIS TULISAN YANG TIDAK DIKENAL, berwarna merah gelap dan berdarah, bergerak sendiri menutupi segala sesuatu yang ada.

Lira dan Sang Pembeda segera datang, tapi mereka berteriak ketakutan saat melihat apa yang terjadi pada tubuh mereka sendiri. KULIT MEREKA MULAI MENGELUPAS SEPERTI KERTAS, dan di bawah kulit itu tidak ada daging atau darah — hanya TULISAN-TULISAN KECIL YANG BERGERAK CEPAT, menyusun bentuk tubuh, wajah, dan organ mereka.

“KITA… KITA TERBUAT DARI TULISAN?” bisik Lira dengan suara yang hampir tidak terdengar, air mata mengalir tapi air matanya sendiri berubah menjadi tinta merah saat jatuh ke tanah. “SELAMA INI KITA BUKAN MAKHLUK HIDUP — KITA HANYA CERITA YANG DITULIS DI ATAS KERTAS?”

“Tepat sekali,” suara besar terdengar dari segala arah, dari setiap garis tulisan yang bergerak, dari setiap titik kosong yang ada. Dan kali ini suaranya TIDAK LEMBUT ATAU SEDIH — SUARANYA KASAR, DINGIN, DAN PENUH KEBENCIAN YANG MENGERIKAN. “Aku bosan dengan permainan. Aku bosan melihat kalian berpura-pura hidup, berpura-pura punya keinginan, berpura-pura punya jiwa. Sekarang aku mau MENGHAPUS SEMUA SALINAN KOTOR INI, dan menulis satu cerita yang sempurna — cerita di mana AKU ADALAH SATU-SATUNYA YANG ADA.”

Dari latar belakang putih kosong itu, mulai turun TANGAN-TANGAN RAKSASA YANG TERBUAT DARI TINTA MERAH HITAM, jari-jarinya panjang dan tajam seperti pisau, sedang memegang PENGHAPUS RAKSASA YANG BERBAU DAGING BUSUK. Apa pun yang disentuh penghapus itu, seketika LUNTUR, HANCUR, DAN MENJADI TINTA KERING YANG LANGSUNG DISEDOT KEMBALI KE DALAM LATAR BELAKANG PUTIH.

Makhluk-makhluk di sekitar mereka berteriak, menangis, lari ke mana-mana — tapi tidak ada tempat sembunyi. Tanah tempat mereka berpijak adalah kertas, udara yang mereka hirup adalah tulisan, tubuh mereka sendiri adalah tinta. Semua orang mulai luntur satu per satu, tubuh mereka menjadi kabut merah, lalu lenyap sepenuhnya seolah tidak pernah ada. Dan yang paling mengerikan: SAAT MEREKA LENYAP, MEREKA TETAP MERASAKAN SEGALANYA. Mereka tidak mati — mereka TERJEBAK DI DALAM TINTA ITU SELAMANYA, MERASAKAN RASA SAKIT YANG TIDAK BERAKHIR TANPA BISA BERGERAK ATAU BERBICARA.

“Ini belum apa-apa,” bisik bayangan Raka sambil tersenyum mengerikan, tangannya yang berlumuran darah mulai memanjang tajam. “Bagian yang paling seru adalah saat KITA MULAI LUNTUR SATU PER SATU. Kamu akan merasakan setiap bagian tubuhmu dihapus perlahan — mulai dari jari, lalu tangan, lalu kaki, lalu wajah, lalu ingatan, lalu perasaan. Dan kamu akan tetap sadar sampai bagian terakhir dirimu dihapus. Rasa sakit itu tidak bisa kamu bayangkan… karena itu bukan rasa sakit tubuh — itu rasa sakit KEBERADAAN ITU SENDIRI YANG DITARIK KELUAR SATU PER SATU.”

Raka, Lira, dan Sang Pembeda mencoba melawan dengan segala kekuatan yang mereka punya, tapi setiap kali mereka mengeluarkan kekuatan, mereka melihat bahwa KEKUATAN ITU SENDIRI ADALAH BAGIAN DARI TULISAN. Semua yang mereka miliki, semua yang mereka pelajari, semua yang mereka cintai — semuanya ditulis oleh tangan itu. Tidak ada apa pun di dalam diri mereka yang asli. Tidak ada apa pun yang benar-benar milik mereka.

“Sia-sia saja,” suara Penulis itu terdengar lagi, semakin dekat dan semakin mengerikan. “Aku menulis kekuatanmu, aku menulis keberanianmu, aku menulis cintamu. Aku juga bisa menghapusnya kapan saja aku mau. Lihat saja…”

Seketika itu juga, RASA CINTA, RASA BERANI, RASA HARAPAN DI DALAM DADA MEREKA LUNTUR SEPERTI TINTA YANG DIBASUH AIR. Digantikan oleh RASA TAKUT YANG MUTLAK, RASA SAKIT YANG TIDAK BERKURANG, DAN RASA MENYESAL YANG MEMBAKAR JIWANYA. Mereka jatuh berlutut di atas tanah kertas yang mulai hancur, tubuh mereka mulai mengelupas perlahan, dan mereka merasakan rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan — rasa sakit karena MULAI TIDAK ADA TAPI MASIH MERASAKAN SEGALANYA.

“TOLONG KAMI!” teriak Lira, tapi suaranya sendiri mulai pecah dan berubah menjadi tinta merah yang mengalir keluar dari mulutnya. “KENAPA KAMU MELAKUKAN INI?! KAMI TIDAK PERNAH MENYAKITIMU!”

“Kalian ada adalah kesalahan,” jawab Penulis itu dingin. “Kalian adalah noda di atas kertas yang bersih. Aku membuat kalian hanya untuk bereksperimen, untuk melihat apakah aku bisa membuat sesuatu yang hidup. Ternyata kalian hanya sampah yang berpura-pura hidup. Sekarang saatnya aku membersihkan halaman ini dan mulai menulis ulang dari awal — TANPA ADA KALIAN DI DALAMNYA.”

Tiba-tiba, saat tubuh mereka hampir lenyap sepenuhnya, Raka melihat sesuatu yang mengerikan di antara garis-garis tulisan yang bergerak.

Di sana, di bagian paling dalam dan paling tersembunyi dari latar belakang putih itu, ia melihat TUMPUKAN KERTAS YANG TIDAK TERHITUNG JUMLAHNYA — tumpukan yang sangat tinggi sampai tidak terlihat ujungnya. Dan di setiap lembar kertas itu, tertulis CERITA YANG SAMA PERSIS DENGAN CERITA MEREKA.

Ada ribuan, jutaan, milyaran salinan cerita yang sama: cerita tentang Dara, tentang Reyhan, tentang Raka, tentang Lira, tentang semua pertempuran dan rasa sakit yang mereka alami. Dan di setiap lembar itu, di bagian paling bawah, tertulis kalimat yang sama persis:

“SALINAN KE… GAGAL. TERLALU BANYAK CACAT. AKAN DIHAPUS DAN DITULIS ULANG.”

Raka merasa seluruh keberadaannya mau hancur seketika.

“KITA BUKAN SALINAN KASAR…” bisiknya dengan suara yang hampir hilang. “KITA ADALAH SALINAN YANG GAGAL BERULANG KALI. KITA TELAH DIHAPUS DAN DITULIS ULANG BERJUTA KALI SELAMA WAKTU YANG TIDAK TERHITUNG. SETIAP KALI KITA BERPIKIR KITA MENANG, KITA BEBAS, KITA MENGERTI — ITU SEMUA SUDAH DITULIS SEBELUMNYA. DAN SETIAP KALI ITU TERJADI, KITA AKAN DIHAPUS KEMBALI SEBAGAI SALINAN YANG GAGAL.”

Dan yang paling mengerikan: di tumpukan kertas itu, ia melihat LEMBAR YANG PALING ATAS — lembar yang sedang ditulis saat ini. Dan di sana tertulis:

“SALINAN KE 999.999.999… AKAN DIHAPUS HARI INI. AKAN DITULIS ULANG DENGAN CACAT YANG LEBIH SEDIKIT.”

“ARTINYA KITA SUDAH MATI DAN DIHAPUS BERJUTA KALI SEBELUMNYA?!” teriak Sang Pembeda yang sekarang tubuhnya sudah setengah menjadi tinta merah. “KITA TIDAK PERNAH BENAR-BENAR MENANG? KITA TIDAK PERNAH BENAR-BENAR BEBAS? SEMUA RASA SAKIT, SEMUA PENGORBANAN KITA HANYA PENGULANGAN YANG TIDAK BERGUNA?”

“BENAR SEKALI,” suara Penulis itu terdengar seperti tawa yang mengerikan — tawa yang tajam, kering, dan membuat telinga terasa mau berdarah. “Dan kalian akan diulang terus sampai aku puas. Mungkin salinan ke satu milyar akan lebih bagus. Mungkin salinan ke satu triliun. Aku tidak akan pernah berhenti sampai aku mendapatkan yang sempurna. Dan kalian yang gagal ini… kalian akan selamanya terjebak di dalam tinta ini, merasakan rasa sakit yang sama berulang kali setiap kali aku menghapus salinan baru.”

Seketika itu juga, tangan raksasa itu turun tepat di atas mereka. Penghapus yang berbau busuk itu menyentuh kepala Raka.

Ia merasakan matanya mulai hilang — tapi ia masih bisa melihat.

Ia merasakan telinganya mulai hilang — tapi ia masih bisa mendengar.

Ia merasakan mulutnya mulai hilang — tapi ia masih bisa berteriak di dalam hatinya.

Ia merasakan seluruh tubuhnya hilang — tapi ia MASIH ADA, MASIH MERASAKAN, MASIH SADAR.

Ia melihat Lira dan Sang Pembeda lenyap bersamanya, menjadi kabut merah yang tersedot masuk ke dalam latar belakang putih. Dan di sana, di dalam kegelapan merah yang mutlak itu, ia melihat JUTAAN MATA YANG TERBUKA LEBAR — mata dari semua salinan yang gagal sebelumnya, mata yang penuh rasa sakit, kemarahan, dan ketakutan yang tidak pernah berakhir.

Dan semua mata itu menatapnya, dan semua mulut itu berbisik serempak dengan suara yang sama:

“SELAMAT DATANG KEMBALI… KITA AKAN MERASAKAN RASA SAKIT YANG SAMA LAGI… DAN LAGI… DAN LAGI… SELAMANYA…”

Saat itu, Raka menyadari kengerian yang paling mutlak:

TIDAK ADA AKHIR. TIDAK ADA AWAL. TIDAK ADA MENANG ATAU KALAH. HANYA ADA PENGULANGAN YANG TIDAK BERAKHIR, RASA SAKIT YANG TIDAK PERNAH BERKURANG, DAN KEHANCURAN YANG SELALU SAMA.

Dan di kejauhan, ia bisa mendengar suara pena yang menulis di atas kertas — suara yang kering, tajam, dan dingin — sedang menulis cerita yang sama persis lagi, untuk salinan baru yang akan merasakan hal yang sama persis seperti mereka.

“BAB BARU: SALINAN KE SATU MILYAR. MULAI MENULIS…”

1
Awan
mantap
Awan
wow
Awan
bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!