Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: SELINGKUHAN TUAN ARGA
Aku nggak tidur semaleman. Duduk di lantai kamar, punggung nyender ke pintu, nungguin matahari terbit. Punggungku masih nyeri bekas didorong Tuan Arga ke tembok. Tapi yang lebih nyeri: hati sama harga diriku. Rasanya kayak diremet-remet terus dibuang ke comberan.
Kata "KW-nya" dari mulut wanita pirang itu terus muter di otak kayak kaset rusak yang nggak bisa dimatiin. KW. Barang tiruan. Palsu. Murahan. Diskon 90%. Jadi selama 2 minggu ini aku disuruh main peran jadi almarhumah istri orang? Disuruh jadi pemeran pengganti yang bahkan nggak dibayar? Pantesan Tuan Arga nggak pernah nengok aku. Pantesan dia jijik sampe nggak mau punya anak dariku. Di matanya aku emang bukan siapa-siapa. Cuma versi murahnya Alina yang dia beli pake utang 500 juta.
Jam 6 pagi, kedengeran suara pintu kamar Tuan Arga kebuka. Suara high heels klak-klok-klak turun tangga pelan-pelan. Suara wanita pirang itu ketawa manja, "Bye sayang, jangan kangen ya. Nanti malam aku ke sini lagi atau kamu ke apartemenku? I miss you already." JIJIK. Mau muntah dengernya. Perutku mual kayak naik kora-kora.
Setelah suara mobil mewah, kayaknya Porsche, itu pergi ninggalin gerbang, aku baru berani keluar kamar. Kakiku masih lemes. Di dapur, Si Mbok Inah lagi bikin kopi hitam tanpa gula buat Tuan Arga. Rutinitas tiap pagi. Mukanya datar pas liat aku, tapi matanya nyelidik dari atas sampe bawah. "Mbak, mau sarapan apa? Nasi uduk apa roti gandum? Kayak Tuan?" tanyanya, tapi nadanya nggak nanya, nadanya ngusir halus.
"Mbok..." aku narik kursi dan duduk. Tanganku dingin. "Wanita yang semalem itu siapa? Yang rambut pirang, pake tas Hermes?"
Tangan Mbok Inah yang lagi nuang kopi langsung berenti di udara. Cangkirnya goyang, air kopinya hampir tumpah. Mukanya pucet kayak liat setan. "Mbak nggak usah tau. Nggak penting. Nggak ada urusannya sama Mbak. Urusan Tuan sama temennya."
"Penting, Mbok. Aku istrinya. Walaupun cuma di atas kertas, walaupun cuma 6 bulan," jawabku. Suaraku geter tapi aku paksa tegas. "Dia bilang aku KW-nya Alina. Emang bener aku mirip sama almarhumah? Semirip itu?"
Mbok Inah naruh gelas kopi kenceng banget sampe bunyi PRANG. Kopi muncrat ke meja. "UDAH DIBILANGIN TUAN JANGAN BAHAS IBU ALINA! Mbak ini ngeyel ya! Kupingnya ditaruh mana?! Mau diusir dari rumah ini?! Mau balik ke kos-kosan butut Mbak?!"
Aku kaget. Baru kali ini Mbok Inah bentak aku sampe urat lehernya keluar. Selama 2 minggu ini dia cuma ketus, nyindir, nggak pernah marah meledak gini. Berarti nama Alina emang haram banget disebut di rumah ini. Kayak nama Voldemort di Harry Potter. Ada apa sih sebenarnya? Misteri apa yang mereka tutup-tutupin?
"Mbak denger ya," Mbok Inah deketin mukanya ke mukaku. Nafasnya bau jengkol. Bisik-bisik tapi galak, kayak mau nelen aku hidup-hidup. "Mbak Siska itu beda JAUH sama Ibu Alina. Ibu Alina itu lembut, anggun, pinter, ngomongnya halus, dari keluarga konglomerat Wijaya. Lulusan S2 di London. Mbak? Mbak cuma anak kos dari kampung yang nggak lulus kuliah. Bapaknya tukang bangunan. Ngaca dulu Mbak! Jangan GR bisa gantiin Ibu Alina. Mimpi!"
Tamparan. Tapi tamparan pake kata-kata lebih sakit, lebih perih, lebih berbekas daripada tamparan pake tangan. Aku nunduk. Kuku nancep ke telapak tangan. Iya, aku sadar aku bukan siapa-siapa. Aku cuma Siska yang kuliah aja DO semester 3 karena nggak kuat bayar UKT. Bapakku tukang bangunan yang utangnya 500 juta karena ketipu proyek. Aku nggak level sama Alina.
"Tapi Mbok..." aku masih nekat nanya dengan suara lirih. Air mata udah ngumpul di pelupuk mata. "Alina meninggal kenapa? Terus wanita pirang itu siapa? Dia kenal Alina? Kok bisa dia bilang Alina lemah?"
"DIAM!" Mbok Inah gebrak meja makan sampe piring-piring keramik bergetar. "SATU KATA LAGI TENTANG IBU ALINA, SAYA LAPOR TUAN! BIAR MBAK DIUSIR SEKARANG JUGA! BIAR MBAK DIJEMPUT DEBT COLLECTOR DI JALAN! MENDING MBAK DIEM, MAKAN, TIDUR, NYAPU, NUNGGU 6 BULAN ABIS TERUS PERGI DARI RUMAH INI! JANGAN CARI PENYAKIT! PAHAM?!"
Aku diem. Air mata netes satu-satu ke meja. Aku ini apaan sih di rumah ini? Bahkan pembantu aja bisa bentak-bentak aku kayak maling ayam. Nggak ada yang anggap aku manusia.
Siang itu Tuan Arga nggak ke kantor. Tumben. Dia di kamar kerja terus dari pagi, pintunya ditutup. Aku iseng ngintip dari celah pintu yang nggak ketutup rapet. Dia lagi telepon, suaranya pelan tapi aku masih denger jelas karena sepi.
"Clarissa, udah gue bilang jangan datang ke rumah kalo boneka itu ada... Iya, gue tau kamu cemburu, tapi tahan dulu... Bukan, dia bukan apa-apa gue... Cuma buat jaga nama baik keluarga doang di depan direksi... Iya, abis kontrak 6 bulan gue ceraiin, terus kita nikah... Sabar, Sayang. Nanti malam aku ke apartemen kamu aja ya... Bawain bunga kesukaan kamu..."
KLEK. Telepon ditutup. Darahku mendidih sampe ubun-ubun rasanya mau pecah. Clarissa. Jadi nama selingkuhannya Clarissa Wijaya. Dan dia bilang aku "bukan apa-apa"? Cuma "jaga nama baik keluarga"? Jadi aku cuma tameng? Boneka pajangan di etalase biar orang nggak gosip dia duda kelamaan? Biar saham perusahaan nggak turun?
Malemnya bener aja, Tuan Arga pergi. Pake jas Armani, rambut klimis, minyak wangi Dior Sauvage semprot banyak-banyak sampe satu rumah wangi. "Saya keluar. Nggak usah nungguin. Tidur aja sana," katanya dingin ke Mbok Inah, bahkan nggak noleh sedetik pun ke aku yang duduk di sofa ruang tamu sambil meluk guling.
Begitu mobilnya keluar gerbang, lampu belakangnya ngilang di tikungan, aku langsung lari ke lantai 2. Ke depan kamar 301. Kamar bayi Alina. Tadi malam Tuan Arga nangis di sini. Pasti ada sesuatu di dalam. Ada jawaban.
Gagang pintunya dikunci. Tapi aku inget, di laci meja rias kamarku ada kunci cadangan semua kamar yang dikasih Mbok Inah pas hari pertama. Katanya "buat jaga-jaga". Aku ambil, balik lagi ke lantai 2, coba satu-satu dengan tangan gemeteran. Kunci ketiga... KLEK. Kebuka. Jantungku deg-degan kayak mau lomba lari.
Bau debu sama parfum wanita yang udah lama, kayaknya parfumnya Alina, langsung nyerang hidung. Aku nyalain lampu. Dan... astaga. Kamarnya bagus banget, kayak di katalog IKEA. Dinding biru muda, lukisan awan-awan putih dilukis di plafon, box bayi ukir jati di tengah, lemari penuh baju-baju bayi laki-laki warna biru masih ada bandrolnya Sogo. Di atas meja ada pigura foto USG 4D. Di pojok ada stroller mahal merek Bugaboo yang masih kebungkus plastik.
Tapi yang bikin aku merinding sampe ke tulang: di dinding ada foto gede ukuran satu meter, Alina lagi hamil 8 bulan, pake dress putih, elus-elus perut. Senyumnya... tulus banget. Bahagia banget. Matanya berbinar. Di samping foto, ada tulisan pake kapur warna-warni: "Welcome Home, Baby Arga Jr. We Love You."
Arga Junior. Jadi anaknya Alina laki-laki. Dan harusnya namanya Arga Junior. Penerus Pratama Group.
Tiba-tiba bulu kudukku berdiri semua. Hawa di kamar jadi dingin banget padahal nggak ada AC. Kayak ada yang merhatiin dari belakang. Aku noleh ke arah lemari kaca. Di kaca lemari... ada pantulan bayangan wanita rambut panjang banget berdiri tepat di belakangku. Gaunnya putih. Pas aku noleh beneran sambil jerit... nggak ada siapa-siapa. Kosong.
Tapi di lantai, di deket kakiku, ada tetesan air. Satu, dua, tiga. Merah. Darah. Darah netes dari atas. Aku dongak pelan-pelan ke plafon dengan napas ketahan.
Di plafon, tepat di atas box bayi, ada tulisan gede banget pake darah yang udah kering kehitaman: "DIA MEMBUNUHKU".
Jantungku mau copot. Dengkul lemes langsung jatuh ke lantai. Aku mau jerit sekenceng-kencengnya tapi suara nggak keluar, kayak dicekek. Siapa "DIA"? Tuan Arga? Clarissa? Mbok Inah? Siapa yang bunuh Alina?
Dan yang paling penting, yang bikin mual: kalo Alina dibunuh pas hamil 8 bulan... berarti anak di perutnya juga... ikut mati. Arga Junior nggak pernah lahir.
Kamar 301 bukan kamar bayi. Kamar 301 adalah makam. Makam ibu dan anak. Dan aku, si barang KW, si boneka murahan, sekarang tidur di rumah yang sama sama pembunuhnya. Atau sama orang yang nutupin pembunuhan itu.