Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: RAHASIA KAMAR 301
Seminggu setelah insiden gudang itu, Tuan Arga makin dingin. Kalo dulu dia diem kayak patung, sekarang dia diem kayak mayat. Nggak ada suara, nggak ada napas, nggak ada kehidupan. Dia bahkan nggak mau makan di rumah lagi. Tiap malam cuma naruh jas di sofa, terus ngunci diri di kamar kerja sampe subuh.
Aku? Aku makin penasaran sama Alina. Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia meninggal pas hamil 7 bulan? Kecelakaan? Sakit? Atau... dibunuh? Pikiran-pikiran jahat itu terus muter di otakku tiap malem. Aku jadi susah tidur, lingkar mataku udah kayak panda. Si Mbok Inah sampe nyindir, "Mbak, tidur dong. Muka Mbak kayak mayat hidup."
Hari ke-15 nikah kontrak, pembantu-pembantu pada sibuk banget. Si Mbok Inah nyuruh-nyuruh mereka ngepel, ngebersihin kaca, ganti seprai baru, semprot pewangi ruangan mahal. "Tuan mau ada tamu penting dari Singapura, Mbak. Jangan keliaran di ruang tamu ya. Nanti malu-maluin," kata Mbok Inah ketus sambil nyapu.
Tamu penting? Perasaan selama 2 minggu ini nggak pernah ada tamu ke rumah segede kuburan ini. Penasaran, jam 7 malem aku ngintip dari tangga lantai 2. Ada suara mobil mewah, kayaknya Lamborghini, berhenti di depan. Tuan Arga yang biasanya jas item, sekarang pake jas biru dongker. Rapi banget. Rambutnya disisir klimis, minyak wanginya kecium sampe lantai 2.
Pintu dibuka sama supir, masuk seorang wanita cantik. Tinggi, langsing, rambut pirang dicat, umur sekitar 30an. Pakaiannya mahal dari ujung rambut sampe ujung kaki. Tasnya Hermes Birkin, sepatunya Louboutin yang sol merah. Dia langsung nyamperin Tuan Arga dan... meluk dia. Meluk erat banget, lama, sampe nggak mau lepas.
"Arga, sayang... I miss you so much. Kamu makin kurus tau," kata wanita itu manja. Logatnya logat Jakarta orang kaya, dicampur Inggris. Tuan Arga? Dia diem aja dipeluk. Mukanya datar. Tapi... dia nggak nolak. Tangannya bahkan sempet naik buat nepuk punggung wanita itu. Cuma sedetik, terus diturunin lagi kayak kaget.
Darahku langsung naik ke ubun-ubun. Panas. Tanganku ngepal sampe kuku nusuk telapak tangan. Jadi selama ini dia dingin ke aku karena... dia udah punya selingkuhan?! Pantesan dia nggak mau aku hamil. Pantesan dia nggak mau sentuh aku. Pantesan dia bilang "aku nggak mau punya anak dari kamu". Dia udah punya wanita lain! Dan kayaknya wanita ini yang dia mau!
Malam itu aku nggak bisa tidur sama sekali. Suara ketawa wanita itu dari ruang tamu kedengeran sampe ke kamarku di lantai 3. Mereka ngobrol, minum wine, ketawa-ketiwi, dengerin musik jazz. Jam 12 malem, aku denger langkah kaki high heels naik ke lantai 2. Ke arah... kamar Tuan Arga. Diikutin suara langkah berat sepatu Tuan Arga.
Gila. Dia bawa selingkuhannya nginep? Di rumah ini? Di saat statusku masih istrinya, walau cuma di atas kertas? Mau nikah kontrak kek, mau nikah bohongan kek, harga diriku tetep diinjek-injek. Aku bukan patung, aku manusia. Aku punya darah, punya hati.
Nggak tahan, aku keluar kamar. Pake daster, rambut acak-acakan. Aku mau labrak mereka berdua. Aku mau tanya, sebenernya aku ini apa di mata Tuan Arga? Boneka? Pembantu? Pelunas utang? Atau cuma pengganti Alina yang gagal?
Aku jalan jinjit di lantai 2 yang gelap. Lampu kamar Tuan Arga masih nyala dari celah bawah pintu. Kedengeran suara wanita itu lagi ngomong manja, "Arga, kapan kamu ceraiin boneka pajangan itu? Aku udah nggak sabar jadi Nyonya Pratama lagi. Aku janji bakal jadi ibu yang baik buat anak kita nanti. Aku nggak kayak Alina yang lemah itu."
JLEB. Anak kita? Jadi wanita ini pernah hamil anaknya Tuan Arga? Atau... dia lagi hamil sekarang? Terus Alina? Siapa dia di antara mereka berdua? Kenapa dia bilang Alina lemah? Apa Alina meninggal karena wanita ini?
Tiba-tiba pintu kamar di ujung lorong kebuka pelan... kreek. Kamar nomor 301. Kamar yang selalu digembok dan kata Mbok Inah isinya cuma barang rongsokan almarhumah. Yang keluar... Tuan Arga. Mukanya kacau balau. Rambutnya berantakan. Jasnya udah dilepas, kemeja putihnya kusut. Matanya merah, bengkak, kayak orang habis nangis sejam.
Dia kaget lihat aku berdiri di depan kamarnya. "Kamu ngapain di sini?! Nguping?! Nggak punya etika?!" bentaknya, tapi suaranya serak. Nggak sekuat bentakan di ruang makan waktu itu. Kayak orang yang kehabisan tenaga.
Aku nggak jawab. Mulutku terkunci. Mataku malah jelalatan ke pintu kamar 301 yang masih kebuka sedikit. Dari celah pintu, aku lihat... kamar itu bukan gudang rongsokan. Kamar itu kamar bayi. Cat temboknya biru muda, ada awan-awan putih dilukis di plafon, ada ranjang bayi ukir di tengah, ada boneka-boneka beruang gede, ada baju-baju bayi kecil warna biru digantung rapi di lemari. Semuanya berdebu, tapi masih tertata sempurna. Kayak... kamar yang ditinggalkan tiba-tiba 5 tahun lalu dan nggak pernah disentuh lagi. Kayak museum.
Itu kamar calon anaknya Alina. Anaknya Tuan Arga.
Tuan Arga sadar aku ngintip. Mukanya langsung berubah dari sedih jadi buas. Dia dorong bahuku kenceng sampe punggungku kejedot tembok. DUAK! Sakit banget. "PERGI DARI SINI! JANGAN LIAT-LIAT! ITU BUKAN URUSAN KAMU! URUS AJA UTANG BAPAK KAMU!" Dia banting pintu kamar 301 sampe bunyinya menggelegar di lorong sepi.
Wanita pirang dari kamar Tuan Arga keluar denger ribut-ribut. Dia pake lingerie satin merah, rambutnya tergerai. "Ada apa sayang? Kok ribut-ribut? Ganggu aja." Dia liat aku berdiri di lorong pake daster butut, terus senyum sinis sambil ngeluarin asep rokok dari mulutnya. "Oh... ini toh boneka barunya kamu, Arga? Yang dari kampung itu? Mukanya emang mirip Alina ya. Pinter kamu cari yang KW-nya. Lebih murah, lebih gampang diatur."
Kata-kata "KW-nya" itu nusuk tepat di jantungku. Lebih sakit dari didorong ke tembok. Jadi aku ini KW? Barang tiruan? Produk gagal? Pantesan Tuan Arga nggak pernah nganggep aku manusia. Pantesan dia nggak mau aku hamil. Dia trauma. Dia jijik.
Tuan Arga narik tangan wanita itu masuk kamar lagi dan banting pintu. KLEK. Dikunci. Ninggalin aku sendirian di lorong gelap, dengan punggung sakit, air mata netes, dan harga diri yang hancur jadi debu.
Malam itu aku tau 3 hal:
Satu, Tuan Arga punya selingkuhan namanya... aku nggak tau, tapi dia kenal Alina.
Dua, Alina meninggal pas hamil 7 bulan dan kamar bayinya dibiarin utuh selama 5 tahun kayak makam.
Tiga, aku Siska, cuma barang KW Super buat ngobatin lukanya Tuan Arga, dan dia benci banget sama aku.
Tapi aku bukan KW yang bisa diinjek selamanya. Aku bakal cari tau apa yang sebenarnya terjadi sama Alina 5 tahun lalu. Apa dia dibunuh? Apa selingkuhan itu yang bunuh? Dan kalo Tuan Arga terlibat... aku sumpah demi arwah ibu, bakal bikin mereka nyesel udah pernah kenal sama Siska si anak kos. Aku bakal bongkar semua.