Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Cahaya pagi yang masuk melalui jendela besar Zamora Beautiful Clinic terasa begitu menyengat, kontras dengan hawa dingin yang menyelimuti hati pemiliknya.
Briella Zamora duduk di balik meja kerjanya, Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan ketegasan yang mematikan.
"Kau gila, Briella! Kau benar-benar sudah gila!" Belle berteriak sambil mondar-mandir di depan meja Briella. "Kau menikahinya kemarin, bercinta dengannya semalam, dan meninggalkannya dengan catatan sampah itu subuh tadi? Apa yang kau pikirkan?!"
Briella hanya menatap kosong ke arah deretan botol serum di raknya. "Kau paling tahu, Belle. Kau saksi hidup bagaimana hancurnya aku lima tahun lalu. Dan kau juga lihat bagaimana dia datang ke apartemenku dua minggu lalu, menawarkan pernikahan seolah itu adalah kesepakatan bisnis untuk menutupi skandal. Dia pikir semua masalah selesai hanya karena satu malam dan selembar sertifikat pernikahan? Tidak. Aku tidak akan pernah memaafkan pria brengsek itu."
"Tapi kau masih memakai cincin itu, Bodoh!" Belle menunjuk jari manis Briella di mana sebongkah berlian memantulkan cahaya. "Jika kau membencinya, lepaskan itu sekarang juga!"
Briella baru saja hendak membuka mulut untuk membalas, ketika suara gaduh dari lobi kliniknya memecah ketenangan.
Suara benturan pintu dan teriakan yang sangat ia kenal—suara bariton yang biasanya tenang dan presisi, kini terdengar pecah oleh amarah yang tak terkendali.
"Minggir! Kubilang minggir!" teriak Lexington di luar. "Istriku ada di dalam ruangan itu, jangan berani-berani menghalangi jalanku!"
"Tuan Valerio, Anda tidak bisa masuk tanpa—"
BRAK!
Pintu ruangan Briella terbuka dengan bantingan keras hingga engselnya berderit. Lexington berdiri di sana, napasnya memburu, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan. Matanya yang merah menatap tajam ke arah Briella.
Belle menegang, kakinya mundur selangkah melihat aura gelap yang dibawa Lexington. Namun, Briella tetap duduk tegak. Ia bahkan sempat menyunggingkan senyum cantik—senyum meremehkan yang seolah berkata bahwa ia telah memenangkan satu babak dalam permainan ini.
"Berhenti membuat keributan di klinik milikku, Honey..." ucap Briella dengan nada santai, seolah Lexington hanyalah pasien yang datang terlambat. "Kau merusak suasana tenang para pelangganku."
Dengan tiga langkah lebar, Lexington sudah berada di depan meja Briella. Tanpa peringatan, ia merunduk dan mencengkeram dagu Briella dengan jari-jarinya yang kuat, memaksa wanita itu mendongak menatap matanya yang berkilat penuh obsesi dan luka.
"Kau ingin bermain-main denganku, Briella Zamora?" desis Lexington, suaranya rendah namun menggetarkan udara di ruangan itu. "Hidupku selama ini baik-baik saja. Aku memiliki karier yang sempurna, reputasi yang tak bercelah. Tapi sejak komentar 'ceroboh' milikmu itu, aku jadi bahan tertawaan nasional. Aku benar-benar mengira kita sudah berbaikan semalam... aku mengira kita membuka lembaran baru saat kau mendesah namaku di bawah kendali ku!"
"TIDAK!" Briella menyentak dagunya hingga cengkeraman Lexington terlepas. Ia berdiri, menantang tatapan suaminya dengan amarah yang sama besarnya. "Kau pikir kata ceroboh itu hanya lelucon bagimu? Kau selalu memandang segala kekuranganku sebagai bahan evaluasi, sebagai cacat produksi yang harus kau perbaiki! Aku tidak akan pernah memaafkanmu sejak kejadian lima tahun lalu, Lexington Valerio. Dan kau lupa? Kau bahkan menceritakan pada Flavia bahwa istrimu ini tidak bisa memasak! Kau menjadikan kelemahanku sebagai bahan obrolan dengan wanita lain!"
"AKU SUDAH MINTA MAAF SOAL SEMUA ITU, BRIELLA!" teriakan Lexington menggema, memantul di dinding ruangan yang kedap suara itu.
"Maaf tidak cukup!" suara Briella tiba-tiba pecah. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya. "Hatiku terlalu sakit, Lex... kau tidak pernah mengerti."
Briella memukul dada Lexington dengan tangan terkepal, sebuah pukulan yang lemah namun sarat akan penderitaan. "Aku menyerahkan semuanya padamu dulu. Aku menyerahkan hatiku, tubuhku, masa depanku... aku begitu mencintaimu! Hingga hari ini, di detik ini pun, aku masih sangat mencintaimu, Bajingan!"
Lexington terpaku, tangannya yang tadi hendak membalas argumen Briella kini tergantung kaku di udara.
"Tapi..." Briella terisak, bahunya berguncang hebat. "Tapi setiap kali aku melihatmu, setiap kali aku menciummu, kata 'ceroboh' dan kenyataan bahwa aku hanyalah 'ketidaksempurnaan' di matamu selalu menamparku untuk sadar. Bahwa ada jurang yang begitu besar antara aku yang penuh kekurangan dan kau yang selalu merasa sempurna! Aku tidak bisa hidup dalam bayang-bayang penilaianmu setiap hari!"
Ruangan itu mendadak sunyi. Keheningan yang menyakitkan. Lexington menatap istrinya yang tampak hancur berkeping-keping di depannya.
Kemarahan yang tadi membara di dadanya mendadak padam, digantikan oleh rasa bersalah yang menghujam jantungnya. Ia baru menyadari bahwa luka yang ia torehkan lima tahun lalu bukan sekadar retakan kecil, melainkan lubang hitam yang menghisap seluruh kepercayaan diri Briella.
Rupanya, permasalahan mereka tidak sesederhana maket plastik yang pecah atau tuntutan hukum. Ini tentang harga diri seorang wanita yang merasa tidak pernah cukup baik untuk pria yang ia cintai.
Lexington maju satu langkah, tidak lagi dengan amarah, melainkan dengan kerentanan yang jarang ia tunjukkan. Ia menarik Briella ke dalam pelukannya, mendekap kepala wanita itu di dadanya yang bidang. Briella memberontak sejenak, memukul punggung Lexington, namun akhirnya ia menyerah dan menumpahkan segala tangisnya di sana.
Belle dan Hadiyan yang berdiri di dekat pintu hanya bisa menyaksikan pemandangan itu tanpa berani berkata-kata. Mereka saling pandang, lalu secara perlahan mundur keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan rapat, meninggalkan pasangan pengantin baru itu dalam kehancuran mereka sendiri.
Di dalam ruangan, hanya terdengar suara isak tangis Briella. Lexington mencium puncak kepala istrinya berkali-kali, menghirup aroma rambut Briella yang selalu membuatnya tenang sekaligus gila.
"Lalu apa maumu sekarang, Honey?" bisik Lexington pelan, suaranya bergetar karena emosi. Ia merenggangkan pelukannya sedikit agar bisa menatap wajah sembab Briella.
"Katakan padaku apa yang harus kulakukan untuk menutup lubang itu. Tapi kumohon... jangan minta perceraian. Aku bisa memberikanmu segalanya, aku bisa menghancurkan dunia untukmu, tapi jangan minta aku untuk melepaskanmu lagi."
Briella menatap mata Lexington, mencari kepastian di balik tatapan sang dosen muda itu. "Kau tidak akan pernah berubah, Lex. Kau akan tetap menjadi si Mr. Perfect yang tidak bisa menoleransi kesalahan."
"Aku akan belajar, jika itu artinya aku bisa memilikimu," jawab Lexington sungguh-sungguh. "Aku akan membiarkanmu menjatuhkan semua piring di mansion, aku akan membiarkanmu membakar dapur setiap hari, asal kau tidak pergi dari sisiku. Jadi, apa maumu?"
Briella menyeka air matanya, menatap cincin di jarinya. "Aku ingin kau membuktikan bahwa aku bukan sekadar 'properti' atau 'tanggung jawab' bagimu. Aku ingin kau mencintai kecerobohanku sebagaimana kau mencintai mesin-mesinmu."
Lexington tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang jarang terlihat. "Itu tantangan tersulit yang pernah kuterima, Dokter Zamora. Tapi aku adalah seorang insinyur... aku tidak pernah menyerah pada proyek yang paling rumit sekalipun. Dan kau... adalah proyek seumur hidupku."
emosinya kaya nyata dapet banget.
sehat selalu yaaa, semoga hari kamu baik terus
Tuhan memberkati 😇😇😇