Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kejutan di Balai Kontribusi
Tiga hari telah berlalu sejak Lin Chen mengambil misi pemusnahan di Lembah Api Penyucian.
Di dalam Balai Kontribusi, suasana tetap bising dan sibuk seperti biasa. Di balik meja administrasi utama, Sun Li duduk santai sambil menyeruput teh spiritualnya. Ada senyum miring yang terukir jelas di wajahnya.
"Kakak Senior Sun, sudah tiga hari. Lin Chen belum juga kembali," bisik salah satu bawahan Sun Li sambil memberikan tumpukan perkamen misi. "Apakah anak sombong itu benar-benar sudah menjadi abu di Lembah Api Penyucian?"
Sun Li mendengus geli. "Bahkan Kakak Senior Zhang Kuang tidak akan berani berhadapan dengan Kera Iblis Bersisik Api sendirian. Ditambah lagi... faksi Puncak Teratai Es telah mengirim dua 'bayangan' untuk memastikan kematiannya. Anak cacat dari kota antah berantah itu tidak punya peluang nol koma sekian persen pun untuk selamat."
"Lalu bagaimana dengan status misinya?"
"Coret namanya," Sun Li melambaikan tangan dengan arogan. "Ubah statusnya menjadi 'Tewas dalam Misi', dan laporkan ke Tetua agar namanya dihapus dari daftar Murid Luar. Sungguh penyelesaian yang bersih dan mu—"
BRAAAK!
Pintu utama Balai Kontribusi raksasa yang terbuat dari kayu besi itu tiba-tiba terdorong terbuka dengan sangat keras hingga engselnya menjerit. Suara berdebum itu membuat ribuan murid di dalam balai seketika menghentikan aktivitas mereka dan menoleh serentak.
Sinar matahari pagi menyinari sosok siluet yang berdiri di ambang pintu. Jubah abu-abunya sedikit kotor oleh debu, dan rambut gondrongnya diikat rapi. Langkah kakinya tenang, nyaris tak bersuara, namun setiap pijakannya seolah menggetarkan lantai batu balai.
Itu adalah Lin Chen.
Sun Li yang tadinya sedang tersenyum seketika tersedak tehnya sendiri. Matanya melotot seolah melihat hantu yang bangkit dari kubur. "L-Lin Chen?! B-Bagaimana mungkin kau...!"
Lautan murid secara otomatis membelah, memberikan jalan lurus bagi Lin Chen menuju meja administrasi. Tidak ada yang berani menghalangi. Aura yang dipancarkan Lin Chen hari ini terasa sangat berbeda. Meskipun ia menyembunyikan kultivasinya, ada sisa-sisa hawa membunuh ekstrem dan bau darah yang membuat murid-murid di sekitarnya merinding dan kesulitan bernapas.
Lin Chen tiba di depan meja Sun Li. Ia menatap murid Bintang 7 itu dengan pandangan sedingin es.
"Kau terlihat sangat kecewa melihatku hidup, Sun Li," ucap Lin Chen datar.
"K-Kau lari dari misi, kan?!" Sun Li buru-buru menunjuk wajah Lin Chen dengan jari gemetar, mencoba mengembalikan otoritasnya. "Benar! Kau pasti ketakutan saat melihat Lembah Api Penyucian dan bersembunyi selama tiga hari! Sesuai aturan sekte, gagal menjalankan misi khusus berarti poinmu akan dikurangi drastis dan kau—"
DUAANG!
Lin Chen tidak repot-repot membalas ucapan Sun Li. Ia hanya mengangkat tangannya dan membanting sebuah objek sebesar kepalan tangan ke atas meja kayu tebal tersebut.
Seketika itu juga, hawa panas yang luar biasa menyengat meledak di dalam balai. Permukaan meja kayu di bawah objek itu langsung hangus dan terbakar. Objek itu adalah sebuah Inti Spiritual berwarna merah membara yang di dalamnya seolah terdapat miniatur kera api yang sedang mengamuk.
"I-Itu... Inti Spiritual Tingkat 3 Puncak!" jerit salah satu murid senior di kerumunan.
"Hawa panas ini tidak salah lagi! Itu Inti dari Kera Iblis Bersisik Api! Ya Surga, dia benar-benar membunuhnya?!"
Wajah Sun Li sepucat kertas putih. Kakinya lemas hingga ia mundur dan menabrak rak di belakangnya. "T-Tidak mungkin! Kau mencurinya! Atau kau membelinya dari Paviliun Harta! Seseorang dengan kekuatan Bintang 1 sepertimu tidak mungkin membunuh monster itu!"
"Bintang 1?" Lin Chen tersenyum miring.
Ia tiba-tiba melepaskan sedikit tekanan Qi dari Dantiannya. Pusaran Taiji Emasnya berputar. Fluktuasi kultivasi meledak keluar dari tubuhnya, menghantam langsung ke wajah Sun Li bagaikan palu godam tak terlihat.
Ranah Pengumpulan Qi Bintang 7!
Tekanan Qi Emas itu begitu murni dan berat hingga Sun Li—yang juga berada di Bintang 7—merasa seperti tertimpa gunung karang. Ia jatuh berlutut dengan suara bruk yang keras, memuntahkan seteguk darah karena meridiannya terguncang hebat.
"BINTANG 7?! Dia berada di Bintang 7 Pengumpulan Qi!"
"Bukankah tiga hari yang lalu dia baru mendaftar dengan kekuatan Bintang 1?! Monster macam apa anak ini?!"
Seluruh Balai Kontribusi meledak dalam kekacauan. Bahkan para Tetua yang mengawasi dari lantai atas terbelalak tak percaya. Melompat enam tingkatan dalam tiga hari adalah sesuatu yang melanggar hukum alam!
"Selain Kera Iblis," Lin Chen menatap Sun Li yang kini berlutut gemetar di bawahnya, "Lembah Api Penyucian ternyata dipenuhi hama."
Lin Chen kembali merogoh cincinnya dan menjatuhkan dua benda kecil berlumuran darah kering ke atas meja, tepat di sebelah Inti Kera Iblis.
Klang. Klang.
Itu adalah dua lencana identitas logam berwarna hitam. Di atasnya, terukir jelas nama dua pembunuh bayaran sekte yang dikirim oleh Liu Meng'er.
Melihat dua lencana itu, bola mata Sun Li nyaris copot. Napasnya tercekat. Ia tahu betul siapa pemilik lencana itu. Dua ahli Bintang 8 yang dikirim khusus oleh Puncak Teratai Es... mati?! Dibunuh oleh anak berusia lima belas tahun ini?!
"Kirimkan lencana ini pada tuan putrimu," bisik Lin Chen, suaranya hanya bisa didengar oleh Sun Li. "Katakan padanya, jika dia mengirim hama lagi, aku tidak akan hanya mengirimkan lencana mereka kembali, tapi juga kepala mereka ke depan pintu kamarnya."
"Ada keributan apa ini?!"
Sebuah suara berat memecah ketegangan. Seorang Tetua berjubah cokelat dengan aura Ranah Inti Emas tahap awal turun dari lantai dua balai. Itu adalah Tetua Feng, penanggung jawab utama Balai Kontribusi.
Melihat Tetua Feng, Sun Li seperti melihat dewa penolong. "Tetua Feng! Lin Chen membuat keributan! Dia menekan sesama murid dan memalsukan bukti misi!"
Tetua Feng mengerutkan kening. Ia berjalan mendekati meja, mengabaikan Sun Li yang merengek, dan matanya langsung tertuju pada Inti Kera Iblis. Sang Tetua mengambilnya perlahan, merasakan energi murni yang masih bergejolak di dalamnya.
"Energi sisa kehidupan di dalam inti ini belum hilang. Monster ini baru dibunuh dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Tidak ada yang dipalsukan," Tetua Feng menatap Lin Chen dengan tatapan rumit, campuran antara takjub dan waspada. "Murid Lin Chen, kau berhasil menyelesaikan misi pemusnahan tingkat tinggi sendirian."
Sang Tetua mengeluarkan plakat giok milik Lin Chen dan menggeseknya ke sebuah artefak kristal di atas meja.
"5.000 Poin Kontribusi telah dimasukkan ke dalam plakatmu. Selain itu, sesuai janji misi, ini adalah Token Akses Khusus," Tetua Feng menyerahkan sebuah medali perak. "Kau diizinkan memasuki Lantai Dua Paviliun Teknik Bela Diri selama tiga hari."
"Terima kasih, Tetua," Lin Chen mengambil plakat dan medali itu dengan sopan. Sikap arogannya ia simpan hanya untuk mereka yang mengusiknya.
Lin Chen berbalik dan melangkah keluar dari Balai Kontribusi, sama tenangnya dengan saat ia masuk. Begitu ia menghilang dari pandangan, Sun Li merosot ke lantai, seluruh pakaiannya basah oleh keringat dingin. Ia tahu, mulai hari ini, status quo di Pelataran Luar telah hancur lebur.
Paviliun Teknik Bela Diri, Lantai Dua.
Setelah keluar dari Balai Kontribusi, Lin Chen tidak kembali ke asramanya. Ia langsung menuju Paviliun Teknik Bela Diri.
Di Ranah Pengumpulan Qi Bintang 7, teknik Tapak Guntur Pecah miliknya (yang hanya berada di tingkat Fana Menengah) sudah tidak bisa menampung jumlah dan kualitas Qi Emas yang ia keluarkan. Terlalu banyak kekuatan yang terbuang percuma karena batasan saluran teknik tersebut. Ia membutuhkan teknik tingkat Bumi.
Paviliun Teknik Bela Diri adalah sebuah menara pagoda berlantai lima. Lantai satu ditujukan untuk murid luar biasa, berisi teknik Tingkat Fana. Lantai dua berisi teknik Tingkat Bumi Rendah, biasanya hanya boleh diakses oleh murid luar di peringkat sepuluh besar atau mereka yang memiliki token khusus.
Setelah menunjukkan medalinya pada Tetua Penjaga, Lin Chen menaiki tangga spiral menuju lantai dua.
Lantai dua jauh lebih sepi. Rak-rak kayu gaharu berjejer rapi, dilindungi oleh formasi pelindung kecil agar buku dan gulungan bambu di dalamnya tidak lapuk.
"Pilih teknik yang mengutamakan kecepatan dan kekuatan ledakan destruktif," saran Mo Xuan. "Qi Emasmu terlalu berat. Teknik yang anggun atau berlarut-larut tidak cocok dengan gaya bertarungmu."
Lin Chen mengangguk. Ia mulai menyusuri barisan rak, membaca satu per satu judul gulungan.
Tinju Penghancur Bintang? Terlalu kaku.
Langkah Angin Berkabut? Terlalu lemah pertahanannya.
Setelah menghabiskan waktu dua jam memilah ratusan gulungan, langkah Lin Chen berhenti di sudut paling gelap dari lantai dua. Di sana, di atas sebuah pilar batu kecil tanpa pelindung, tergeletak sebuah buku kuno bersampul kulit binatang yang sudah menghitam. Tidak ada yang mau mengambilnya karena sampulnya terlihat mengerikan dan memancarkan aura membunuh yang tajam.
Lin Chen membersihkan debu di sampulnya. Judul buku itu ditulis dengan darah yang telah mengering:
[Langkah Bayangan Iblis Sembilan Pembunuhan] - Tingkat Bumi Menengah (Tidak Lengkap)
"Tingkat Bumi Menengah? Mengapa ada di lantai dua?" gumam Lin Chen.
"Baca deskripsinya, bocah," sahut Mo Xuan.
Lin Chen membuka halaman pertama. Matanya menyipit saat membaca peringatan yang tertulis di sana:
Teknik ini diciptakan oleh seorang kultivator jalan iblis ratusan tahun yang lalu. Merupakan teknik pergerakan sekaligus seni pembunuhan instan. Kultivator harus menekan batas tubuh mereka hingga meridian merobek otot untuk mencapai kecepatan absolut. Dari ribuan murid sekte yang mencoba mempraktikkannya, 99% berakhir cacat atau mati meledak. Gulungan ini tidak lengkap, hanya berisi Tiga Pembunuhan Pertama.
"Hanya tiga langkah pembunuhan, namun diakui sebagai Tingkat Bumi Menengah... Menarik," Lin Chen tersenyum.
"Bagi orang biasa, ini adalah surat bunuh diri. Tapi bagi Meridian Nagamu yang bisa menyembuhkan diri dalam hitungan detik, ini adalah sayap yang akan membuatmu terbang!" Mo Xuan tertawa puas. "Ambil ini! Dengan kecepatan dari Langkah Bayangan Iblis dan daya hancur fisikmu, tidak ada kultivator di bawah Ranah Inti Emas yang bisa lari darimu!"
Lin Chen segera mengambil buku tersebut dan membawanya ke meja pendaftaran lantai dua.
Tetua yang bertugas di lantai dua—seorang kakek bongkok yang sedang tertidur—terbangun saat Lin Chen meletakkan buku itu di depannya. Ia melirik judulnya dan langsung mengerutkan dahi.
"Anak muda, apa kau tidak menyayangi nyawamu?" suara kakek bongkok itu serak. "Sudah sepuluh tahun tidak ada yang berani meminjam buku terkutuk ini. Bahkan jenius peringkat pertama Pelataran Luar pun nyaris lumpuh saat mencoba mempraktikkan langkah pertamanya."
"Terima kasih atas peringatannya, Tetua. Tapi jalan kultivasi saya memang berbeda dengan orang biasa," jawab Lin Chen penuh hormat namun tidak menyembunyikan tekadnya.
Kakek bongkok itu menatap mata Lin Chen lekat-lekat, lalu menghela napas. "Baiklah. Kesombongan masa muda. Waktu peminjamanmu tujuh hari. Jika meridianmu mulai terasa seperti terbakar, segera hentikan aliran Qi-mu."
"Saya mengerti."
Lin Chen mengambil buku itu dan berjalan turun. Kini, dengan pondasi kultivasi yang stabil dan teknik pergerakan mematikan di tangannya, Lin Chen siap menantang hierarki tertinggi di Pelataran Luar.
Dua minggu lagi adalah Ujian Peringkat Luar. Saatnya membersihkan semua sisa sampah yang ditinggalkan Liu Meng'er sebelum ia menaiki Puncak Teratai Es.