Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Aku Cemburu?
Melody sempat menangis di bawah shower. Ia tidak bisa menahan emosinya setelah hari yang sangat melelahkan. Matanya pasti merah dan bengkak, tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin segera pergi dari tempat ini.
Ia tidak mau terjebak selamanya dalam sistem yang penuh kebohongan dan ketidakpedulian. Ia ingin hidup normal, punya teman, pekerjaan, dan seseorang yang mencintainya apa adanya.
Melody tidak pernah meminta nasib buruk ini. Ia tidak minta lahir dari ibu pecandu narkoba atau Papa yang tidak menganggapnya ada. Ia menangis bukan karena omongan Messy, tapi karena kecewa. Sosok yang ia percaya ternyata berubah menjadi orang asing yang membencinya.
Mungkin lebih baik ia pergi saja. Ia tidak sanggup melihat pangeran impiannya berubah menjadi monster. Tapi Melody tahu, hidup bersama monster mengajarkannya untuk tidak lari. Ia harus menghadapi mereka, hanya saja bukan saat ia masih berusia sebelas tahun.
"Dengar, kejadian tadi bukan salah aku. Itu ulah Adden sama Mihoy. Cewek itu naksir berat sama Adden dari waktu mereka..."
Lelaki itu tiba-tiba berhenti bicara saat menatap wajah Melody.
Sial.
Pasti dia melihat matanya yang sembab dan sadar Melody baru saja menangis.
Melody yakin Adden sudah mendekati hampir semua cewek di sekolah. Wajar sih, soalnya dia memang ganteng. Melody paham betul dunia seperti itu. Di tempat asalnya dulu, cowok-cowok seperti itu biasanya tidak punya masa depan dan akhirnya terjerat geng atau narkoba.
"Udah hubungan badan," potong Melody cepat. "Maksud kamu sejak mereka bercinta kan? Jadi aku harus waspada nih sama cewek yang ngejar Adden, takutnya dia nyerang aku pas Adden ada di situ. Beruntung banget mukanya belum aku hancurin."
Lelaki itu mengangkat alis, seakan kaget melihat reaksi Melody. Melody tahu ia mungkin terlihat cemburu, tapi sebenarnya tidak. Mana mungkin ia cemburu pada orang yang selera ceweknya begitu-begitu saja.
Cewek baik dan cantik itu contohnya kayak Giggi, kakaknya Jojo. Gadis itu jelas-jelas suka sama Messy, tapi si cowok ini tidak peka. Tapi itu bukan urusan Melody.
"Kamu enggak denger aku ngomong begitu. Aku serius, aku enggak suruh mereka ganggu kamu. Itu murni ide mereka, dan aku udah bilang biarin kamu sendiri."
Melody percaya. Soalnya Adden menyimpan rahasia besar yang tidak boleh orang lain tahu.
Bahwa mereka sudah kenal sejak kecil. Selama setahun penuh mereka bertemu setiap minggu saat berusia sebelas tahun. Mereka sahabat baik, bahkan sampai berbagi ciuman pertama. Ciuman singkat itu manis dan tak terlupakan.
Jauh berbeda dengan ciuman paksaan yang sering ia dapatkan di panti asuhan dari cowok brengsek.
"Bisa enggak kita turun dan pura-pura enggak ada apa-apa? Tolong ya." Lelaki itu menatapnya memohon.
"Demi Mama aku." Ia menelan ludah. "Beliau itu... lemah. Aku enggak tahu sampai mana beliau bisa terima situasi ini."
"Nanti aku bilang sama Papa kalau kamu kecelakaan di kantin, terus habis sekolah numpang sama teman dan minjem baju di tempat barang hilang. Itu juga bukan bohong sepenuhnya kok."
Kalau dibilang 'lemah', Melody langsung paham. Orang kaya biasanya menyebut depresi dengan istilah halus seperti itu. Besar kemungkinan Ibu nya memang depresi. Melody jadi penasaran.
"Kenapa Mama kamu lemah?"
Lelaki itu mengalihkan pandangan, memasukkan tangan ke saku celana. "Setelah melahirkan aku, Mama enggak bisa punya anak lagi," jawabnya pelan.
Sial.
Jadi itu artinya wanita itu tidak menginginkan Melody di sana. Kehadirannya mungkin menyakitkan bagi ibunya.
Tapi selama ini Pujiana bersikap sangat ramah. Mungkin anak ini bilang begitu supaya Melody bisa menjaga sikap.
"Oke, aku setuju. Aku ke sini bukan mau ngerusak kehidupan sempurna kamu atau Mama kamu. Rencanaku cuma satu, lulus terus pergi. Aku enggak butuh saudara, dan aku juga enggak mau ngerebut Papa kamu."
"Terus kenapa kamu ada di sini? Jawab jujur."
Melody tersenyum miring. "Aku juga enggak tahu. Aku udah minta sama Papa kamu biarin aku sama dinas sosial, tapi dia nolak. Aku dari awal memang enggak mau pindah ke sini."
Suaranya merendah, tegas dan jelas. "Aku... enggak... mau... ada... di... sini. Semuanya di luar kendali aku."
Saat Melody menutup pintu, lelaki itu mundur selangkah kaget.
Gadis itu berjalan menuju tangga lalu menoleh ke belakang. Ia melihat teman itu masih berdiri mematung dengan wajah bingung.
"Ayo jalan, 'Bro'," ejek Melody sambil menganggukkan kepala ke arah tangga.
Melody memang ahli berpura-pura. Kalau cara ini bisa memberinya kebebasan dan menjauhkannya dari masalah, maka ia akan lakukan.
Melody berjalan menuju meja makan yang cukup luas untuk sepuluh orang. Meja terbesar yang pernah ia tempati sebelumnya hanya untuk empat orang, dan mereka bahkan harus bergantian duduk.
Ia duduk di kursi kayu beralas bantal krem, tepat di hadapan Pujiana. Tuan Lukita duduk di sebelah kiri wanita itu, sementara Messy berada di sebelah kanannya. Pemandangan ini terasa begitu wajar, seakan mereka adalah keluarga yang sudah melakukan rutinitas ini selama bertahun-tahun.
Tuan Lukita menatapnya dengan rasa ingin tahu saat Melody mengamati tata letak meja yang sangat rapi. Piring dan mangkuk serasi terhampar penuh dengan kentang lembut dan meatloaf yang menggugah selera.
Bahkan ada roti gulung hangat dan mentega kocok, ditambah berbagai pilihan minuman seperti soda, limun, dan air es. Setelah mengamati sajian itu, pandangannya beralih ke Pujiana yang sedang menyesap segelas anggur.
"Setelah makan malam, Papa akan ajak kamu beli keperluan, seperti janji Papa," ucap Edgard sambil mendorong kursi Melody sedikit ke depan.
"Oke," jawabnya singkat.
Messy langsung menyenduk makanan dengan porsi sangat banyak, seakan ia makan untuk tiga orang sekaligus. Tuan Lukita menyusul, lalu Pujiana. Melody justru terdiam kaku, bingung harus melakukan apa.
Ia belum pernah mencoba meatloaf seumur hidupnya. Makanan terdekat yang pernah ia rasakan hanyalah makanan kaleng sarden. Kentang yang biasa ia makan pun hanya instan dari kemasan, dicampur air dan garam.
Ia bahkan tak pernah punya kesempatan untuk minum soda sembarangan, berbeda dengan Tuan Lukita yang dengan santai menuang minuman itu. Semua ini terasa asing baginya, duduk di sini menyaksikan mereka makan tenang tanpa perlu khawatir soal makanan esok hari.