"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31. Pecahnya Sangkar Emas
Hujan di luar semakin lebat, menghantam atap rumah keluarga Baskara dengan suara bergemuruh yang seolah meratapi kehancuran di dalam ruang tengah. Bau anyir darah kini bercampur dengan aroma tanah basah yang terbawa angin dari pintu depan yang terbuka lebar. Di atas lantai marmer yang dingin, Alea masih terduduk. Pakaian kasual yang ia kenakan kini telah ternoda sepenuhnya oleh bercak merah pekat yang keluar dari sudut bibir Bima yang baru saja dihajar habis-habisan oleh Daddy.
Namun, Bima bukanlah pria yang mudah ditumbangkan oleh rasa sakit fisik. Menggunakan sisa tenaganya, ia bertumpu pada lengan sofa dan bangkit berdiri. Tubuhnya sempat terhuyung, namun dengan cepat ia menegakkan punggungnya kembali. Bima menyeka darah di dagunya dengan punggung tangan, lalu merapikan kerah kemeja hitamnya yang sedikit kusut dengan keangkuhan yang tak terusik.
Tidak ada binar penyesalan di mata elang itu. Meskipun wajahnya dipenuhi luka memar, aura dominan dan intimidatifnya tidak berkurang sedikit pun. Bima menolak untuk terlihat kalah di depan Baskara maupun Revan.
"Baskara," suara Bima terdengar serak namun tetap menyimpan vibrasi yang dingin dan tenang. "Aku tidak akan meminta maaf, dan aku tidak akan mengakui bahwa apa yang kulakukan adalah kesalahan. Aku menginginkan Alea, dan putri tunggalmu ini menyerahkan dirinya padaku secara sadar. Hubungan ini nyata, dan kau tidak bisa mengubahnya."
"BIMA! KAU BENAR-BENAR BINATANG!" raung Baskara, langkahnya hendak maju lagi untuk menghajar Bima, namun tiba-tiba langkah pria paruh baya itu terhenti.
Baskara mencengkeram dadanya sendiri dengan sangat kuat. Wajahnya yang semula merah padam karena amarah, mendadak berubah menjadi pucat pasi. Napasnya tersedat-sedat, menjadi pendek dan sangat berat seolah pasokan oksigen di sekitarnya telah habis. Kekecewaan yang teramat dalam, dikhianati oleh sahabat karib sekaligus putri tercintanya di malam yang sama, memicu serangan sesak napas yang mematikan bagi fisiknya yang mulai menua.
"D-Dad... Daddy?" Alea memekik ngeri saat melihat tubuh ayahnya limbung dan akhirnya terduduk lemas di sofa ruang tengah, terengah-engah sembari memegangi dadanya yang kesakitan. Air mata Baskara menetes di sela-sela ringisannya—sebuah pemandangan hancur yang belum pernah Alea lihat seumur hidupnya.
Bima sama sekali tidak memedulikan kondisi Baskara yang sedang sekarat menahan sesak. Di mata Bima, ini adalah kesempatan emas untuk membawa Alea keluar dari rumah ini untuk selamanya. Ia mengulurkan tangannya yang kokoh, mencengkeram pergelangan tangan Alea dengan sangat kuat, lalu menarik gadis itu agar berdiri di sampingnya.
"Kita pergi sekarang, Alea," perintah Bima dengan nada dingin yang mutlak. "Tempatmu bukan di sini lagi. Mulai malam ini, kau ikut denganku ke rumahku. Biarkan pria tua ini menyelesaikan urusannya sendiri."
Mendengar kata-kata dingin Bima, sesuatu di dalam diri Alea mendadak patah. Pertahanan mentalnya yang selama ini ia kunci rapat-rapat runtuh seketika. Gendang telinganya dipenuhi oleh suara renggutan napas Daddy-nya yang kepayahan, beradu dengan cenckeraman posesif Bima di tangannya. Rasa bersalah, muak, ngeri, dan amarah yang luar biasa mendadak bergolak menjadi satu, meledak keluar seperti lava yang tak terbendung lagi.
"LEPASKAN AKU, BIMA!" bentak Alea dengan suara melengking histeris. Ia menyentakkan tangannya dengan sekuat tenaga hingga cengkeraman pria itu terlepas.
Alea mundur beberapa langkah, menatap Bima dengan pandangan yang penuh dengan kilatan emosi yang campur aduk. Air matanya tumpah ruah, membasahi pipinya yang pucat. Seluruh tubuhnya bergetar hebat saat ia akhirnya meneriakkan semua ketakutan terdalam yang selama ini menghantui jiwanya.
"Aku bingung, Bima! Aku benar-benar bingung dan tersesat!" jerit Alea di depan wajah Bima, suaranya parau menahan sesak. "Selama ini aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri... apakah apa yang kita lakukan ini adalah cinta yang tulus? Ataukah semua ini hanyalah nafsu belaka?! Atau jangan-jangan... semua perasaan ini lama-kelamaan sudah berubah menjadi rasa takut yang luar biasa karena aku berada di bawah kendalimu?!"
Bima mematung. Untuk pertama kalinya, ada riak keterkejutan yang nyata di wajah keras pria itu. Ia tidak pernah menyangka burung kecilnya yang penurut bisa memuntahkan kata-kata seberani itu di hadapannya.
"Alea, jaga bicaramu—"
"KAU YANG DIAM!" potong Alea membabi buta, menunjuk wajah Bima dengan jari yang bergetar. "Aku memang mencintaimu, Bima! Kau tahu seberapa gila aku menyerahkan seluruh hidup dan tubuhku padamu! Tapi selama ini hanya Daddy satu-satunya untukku! Dia yang membesarkanku, dia yang menyayangiku tanpa syarat! Dan sekarang kau memintaku meninggalkannya dalam keadaan sekarat seperti ini?!"
Alea melangkah maju, mendorong dada bidang Bima dengan sisa tenaganya yang tersisa. "Pergi kau dari sini, Bima! PERGI! Aku muak melihatmu! Aku mengusirmu dari rumah ini! Jangan pernah berani mendekatiku lagi!"
Melihat Alea yang sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri, Bima sempat tertegun lama. Ego predatornya tersentak melihat penolakan sekasar itu. Namun, saat matanya beralih melihat Baskara yang matanya mulai memutih karena kekurangan oksigen, rasa panik kecil tampaknya mulai merayap di bawah kulit Bima. Pria itu menurunkan egonya sejenak, menyadari situasi ini bisa berubah menjadi kasus pembunuhan jika Baskara mati di rumah ini.
"Baik, Alea. Tenanglah," ujar Bima, suaranya melembut, mencoba mendekat kembali. "Aku akan membantumu. Mobilku ada di depan, aku yang akan mengantarkan ayahmu ke rumah sakit sekarang juga."
Mendengar tawaran Bima, Alea justru tertawa sumbang di sela tangisnya. Ia menepis tangan Bima yang mencoba meraih pundaknya dengan sangat kasar.
"Bukankah tadi kau memintaku untuk meninggalkan Daddy?! Bagaimana bisa kau membiarkan sahabatmu mati, Bima?!" teriak Alea dengan suara yang melengking tinggi, memecah keheningan malam yang dingin. "Kau egois! Kau monster! Bagaimana bisa kau menawarkan diri mengantarnya setelah kau menghancurkan seluruh sisa hidupnya?!"
Alea berbalik, mengabaikan Bima yang terpaku membisu. Ia menatap Revan yang sejak tadi berjaga di samping sofa. "Revan! Aku mohon... bantu aku bawa Daddy ke mobilmu. Kita ke rumah sakit sekarang!"
Revan tanpa membuang waktu langsung mengangguk cepat. Dengan sigap, Revan memapah tubuh lemas Baskara yang sudah tidak berdaya, melingkarkan lengan pria paruh baya itu di bahunya. Alea ikut membantu menopang tubuh ayahnya dari sisi lain, mengerahkan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki.
Sebelum melangkah keluar melewati pintu, Alea menoleh ke arah Bima untuk terakhir kalinya malam itu. Tatapannya tidak lagi menyiratkan ketundukan, melainkan kebencian dan rasa muak yang mendalam.
"Aku bisa pergi sendiri, Bima. Jangan pernah berani mengikuti kami," desis Alea tajam, sebelum akhirnya ia dan Revan membawa Daddy keluar menembus derasnya hujan, masuk ke dalam mobil sedan milik Revan.
Bima berdiri kaku, sendirian di tengah ruang tengah kediaman Baskara yang luas dan sunyi. Darah segar dari lukanya menetes lambat di atas lantai marmer, sementara suara raungan mesin mobil Revan yang bergerak cepat meninggalkan pekarangan terdengar semakin menjauh. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, sang predator ditinggalkan dalam kekalahan mutlak. Jeruji sangkar emas yang ia bangun dengan penuh keangkuhan telah dihancurkan sendiri oleh burung kecil yang paling ia puja, menyisakan dirinya yang termangu di tengah puing-puing dosa yang ia ciptakan sendiri.