Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Rencana lain
Musibah memang tidak tahu kapan atau pada siapa yang menimpa seolah seperti mimpi yang tak pernah bisa di bayangkan oleh siapapun termasuk Nayra.
Kalau tahu ujung-ujungnya akan seperti ini Nayra tak akan melembutkan hatinya untuk mengizinkan putranya. Datu jam yang lalu, Rayyan pamit dengan semangat, tapi tak pernah di bayangannya kalau pulangnya dengan kondisi seperti itu.
Setelah pria itu pergi Nayra kembali ke kamar Rayyan yang sudah tidur. Ia tak pernah beranjak dari sana sambil sesekali melihat pergerakan dada atau meletakkan tangan tak jauh dari hidung putranya, memastikan kalau anaknya masih ada.
Saat ini Rayyan sudah bangun bahkan mengabaikan pengusiran anaknya yang mengaku sudah baik-baik saja.
Karna tak membuahkan hasil, akhirnya anak itu menyerah dengan membiarkan Nayra duduk di sampingnya yang sedang bermain ponsel. Berjam-jam terlewati tak ada yang terjadi pada putranya.
"Jadi kenapa kamu bisa tenggelam?" Tanya Nayra pada akhirnya setelah merasa sang anak sudah baik-baik saja serta bisa untuk di tanya-tanya.
"Tiba-tiba aja kaki Rayyan kram, Ma. Padahal tadi baik-baik aja bahkan Rayyan udah bolak balik berenang... tiba-tiba aja sakit."
Nayra hendak menyampaikan pendapatnya karna mungkin saja tubuh putranya sudah memberikan sinyal lelah, tapi karna terlalu semangat, anak itu jadi mengabaikannya.
Tapi karna tidak tega menceramahinya dalam kondisi seperti ini pada akhirnya Nayra hanya menahannya. "Untung aja kamu di selamatkan sama Om itu, kalau enggak, ngga tahu lagi Mama gimana."
"Jangan ngomong gitu, Ma. Sekarang Rayyan udah sehat, udah bisa makan, terpenting udah kuat main game dan les renang lagi."
"Ada aja jawaban," sahut Nayra sambil menggeleng. "Untuk les renang lebih baik kamu berhenti selama seminggu ini dulu sampai kondisimu pulih."
"Ngga mau!" Rayyan menolak. "Sampai kapanpun Rayyan enggak akan berhenti!"
Nayra berusaha untuk bersabar lalu memberikan pengertian pada putranya. "Mama pengen kamu fokus sama pemulihan dulu sebelum–"
"Tapi Rayyan baik-baik aja, Ma. Buktinya udah bisa main game." Selanya sambil mengangkat ponsel. "Intinya Rayyan ngga mau berhenti renang, sekalipun hanya untuk satu hari! Mendingan Mama larang Rayyan berhenti ngegame aja dari pada berhenti les renang."
Putranya dengan kolam renang adalah sesuatu yang tak bisa di pisahkan sejak anak itu di perkenalkan oleh suaminya. Sampai saat ini Nayra heran, di keluarganya atau suaminya tak pernah ada yang segila itu dengan olah raga air, tapi putranya seolah tak mau lepas darinya.
Sejak dulu Nayra selalu melarang, tapi itu justru membuat Rayyan sering berbohong dengan alasan ingin bermain bola dengan sahabatnya, tapi ternyata diam-diam malah pergi ke kolam renang umum.
Sampai akhirnya Nayra tak lagi melarang mengingat apa yang di lakukan putranya sangat berbahaya. Jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada anak itu maka Nayra pasti sangat menyesalinya.
"Kalau Mama masih maksa, Rayyan mogok ngomong selama sebulan!" Ancam Rayyan tak main-main membuat Nayra memijit keningnya pelan.
"Semua itu Mama lakukan buat kamu, Ray. Kamu tahu yang terjadi pada kamu hari ini adalah peringatan supaya kamu–"
"Siapa yang bilang gitu? Rayyan enggak pernah denger tuh." Anak laki-laki berusia empat belas tahun itu menggeleng pelan. "Rayyan pernah denger dari kontan sama teman-teman di sekolah juga ada yang bilang gini, kalau kamu jatuh sekali atau dua kali, bukan untuk berhenti, tapi untuk terus maju dengan lebih semangat dan hati-hati!"
"Kamu emang paling pinter kalau ngomong," ungkap lelah. "Terserahlah, lakukan semua yang kamu suka."
"Mama memang terbaik!" Rayyan maju untuk memeluk Nayra yang duduk di pinggir ranjang. "Kalau gitu Mama boleh keluar, Rayyan mau tidur lagi."
"Kamu ngusir Mama?"
"Bukan ngusir, tapi mau ingatkan kalau anak Mama yang paling ganteng ini baru aja mengalami kecelakaan jadi perlu banyak istirahat untuk memulihkan tubuhnya seperti sedia kala lagi."
Nayra mendengus, tapi tak menuruti keinginan putranya. Ibu dari satu anak itu malah mengedarkan pandangan menatap kamar yang muat satu tempat tidur anak kecil, dua lemari pakaian, satu lemari belajar menghadap jendela dengan pemandangan kota sambil tersenyum tipis. "Menurutmu, gimana dengan tempat tinggal sementara kita ini? Kamu suka?"
"Bagus bangat, aku suka tinggal di sini. Kalau bisa aku mau selamanya–"
"Uang Mama udah habis buat beli rumah yang nyaman bagi kita jadi jangan coba-coba minta macam-macam lagi!"
Rayyan nyengir pada mamanya. "Kalau uang kita habis, kita ngga mungkin bisa tinggal di sini, Ma."
"Ngga boleh boros," balas Nayra. "Mama jadi nyesel minta orang buat renovasi semua bagian di rumah kita. Coba aja waktu itu minta renov sebagian aja, kita ngga perlu tinggal di sini."
"Rayyan bilang ke Tante kalau Mama nyesel–"
"Bukan gitu, bukan karna tinggal di sini, tapi ke pilihan Mama buat renovasi semuanya karna pengen cepat-cepat tinggal di rumah dengan konsep yang Mama pengen."
"Berarti Mama yang boros," balas Rayyan sambil tertawa mendapati tatapan marah mamanya. "Maaf-maafin Rayyan, Ma. Oh ya, Om tadi baik banget, Ma. Mama tahu ngga namanya? Dan tinggal di unit mana?"
"Astaga, Mama lupa nanya lagi dan ngga sempat nganterin." Sesal Nayra. "Padahal besok Mama rencananya mau ngasih dia sama tetangga lain kue sebagai perkenalan."
"Besok Minggu jadi Rayyan dari pagi sampai jam tiga atau empat sore ngga ada kegiatan, jadi biar Rayyan tunggu di lobi buat nyari tahu."
"Ngga perlu lah, nanti dia ngga nyaman. Oh Mama ingat, katanya dia tetangga kita jadi ngga mungkin dia tinggalnya di lantai beda dengan kita."
Rayyan mengangguk-angguk seolah setuju dengan pendapat Mamanya, tapi diam-diam ia punya rencana berbeda, ia akan menunggu pria baik itu di depan lift.
Anak berusia empat belas tahun itu berencana mengetahui alasan Gatra menyembunyikan kesalahannya pada Mamanya di saat Rayyan sudah bersiap-siap di ceramahi.
Rayyan juga sudah mencari alasan yang tepat sebelum di marahi karna sebenarnya kejadian itu sebagai bentuk ingin membuktikan kalau dirinya bisa berenang pada Gatra.
Anak itu tidak terima di remehkan oleh pria itu, Rayyan bahkan mengabaikan rasa tak yakin serta takutnya saat merasakan kedalam kolam sampai pada akhirnya kakinya terasa sakit dan tak bisa di gerakkan.