Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPECIAL SEASON Episode 3 : Rahasia yang Dijaga Rendra
Gema suara detak jantung yang berpacu cepat di ruang tengah malam itu masih menyisakan kehangatan yang mendalam di kamar utama. Namun, bagi Adrian Dirgantara, kebahagiaan sedalam apa pun tidak pernah bisa melunturkan kewaspadaannya.
Dunia tempatnya berpijak puncak dari piramida korporasi Dirgantara Group adalah tempat yang kejam, di mana kabar tentang kelemahan atau titik lunak seorang pemimpin bisa menjadi amunisi bagi para musuh di bursa saham.
Pukul sebelas malam, saat Kirana sudah terlelap dengan tangan yang masih mendekap foto USG pertamanya, Adrian melangkah pelat dari ranjang. Ia mengenakan jubah tidur sutra hitamnya, lalu berjalan menuju ruang kerja pribadi yang terletak di sudut vila yang kedap suara.
Di atas meja kayu jati yang kokoh, laptopnya menyala, merefleksikan cahaya biru di wajah tegasnya. Tanpa menunggu lama, Adrian menekan tombol panggilan cepat pada jaringan terenkripsi miliknya.
Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum wajah Rendra muncul di layar melalui sambungan video.
Rendra tampak masih berada di ruang kerjanya di Jakarta. Setelan jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan dasi yang sudah dilonggarkan. Di belakangnya, tumpukan dokumen audit tahunan dan laporan pasca-likuidasi aset Baskoro Group berserakan.
"Aku baru saja akan mengirimkan laporan padamu, Adrian," buka Rendra, suaranya terdengar serak karena kelelahan, namun matanya tetap tajam.
"Bagaimana pemeriksaan pertamanya? Profesor dari Jakarta itu tidak mengecewakan, kan?"
"Semuanya sempurna, Rendra. Detak jantungnya sangat kuat," jawab Adrian, ekspresi dinginnya sedikit mencair saat memikirkan momen beberapa jam lalu. Namun, rahangnya kembali mengeras sedetik kemudian.
"Sekarang, bagaimana situasi di Jakarta? Apakah ada pergerakan mencurigakan setelah kabar Danuar masuk sel?"
Rendra menghela napas panjang, memutar kursi kerjanya sedikit.
"Itulah yang ingin ku bicarakan. Masuknya Danuar ke jeruji besi ternyata menciptakan kekosongan kekuasaan di beberapa sektor logistik yang dulu mereka kuasai. Saham Dirgantara Group memang sudah stabil setelah buy back yang kamu lakukan, tapi... ada desas-desus baru yang mulai digoreng oleh beberapa spekulan di pasar modal."
Adrian menyipitkan mata elangnya. "Desas-desus apa?"
"Seseorang diam-diam mencoba melacak aktivitas medis privat yang kamu lakukan di Bali," desis Rendra, memajukan tubuhnya ke arah kamera.
"Kemarin, seorang jurnalis dari media gosip finansial ‘Investasi Nusantara’mencoba menyuap salah satu staf administrasi di rumah sakit pusat Jakarta, mencari tahu kenapa Profesor kandungan terbaik kita mendadak meminta izin terbang ke Bali secara mendadak dengan peralatan lengkap."
Rahang Adrian mengatup begitu keras hingga urat di pelipisnya menonjol.
"Siapa yang mendanai jurnalis itu?"
"Kami sedang melacak aliran dananya, tapi indikasinya mengarah pada beberapa mantan sekutu bisnis keluarga Baskoro yang tidak senang dengan peleburan Baskoro Logistics ke dalam perusahaan kita," Rendra mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja.
"Mereka tahu, jika mereka bisa mengembuskan rumor bahwa istri CEO Dirgantara Group sedang dalam kondisi rentan atau mengalami gangguan pasca-trauma akibat kehamilan, mereka bisa memicu kepanikan kecil di bursa saham untuk menurunkan nilai modal kita sebelum rapat umum pemegang saham bulan depan."
"Brengsek," umpat Adrian rendah, suaranya terdengar seperti geraman singa yang terganggu. "Mereka ingin menjadikan anakku sebagai alat spekulasi pasar?"
"Tenang, Adrian. Aku sudah mengurusnya sebelum berita itu sempat diketik," sela Rendra dengan senyuman taktisnya.
"Aku langsung mengirimkan tim hukum Hendra Wijaya untuk memberikan surat peringatan somasi berlapis kepada pemimpin redaksi mereka atas dugaan pelanggaran privasi dan pencemaran nama baik. Aku juga sudah memperketat semua data rekam medis Kirana dengan enkripsi militer. Tidak akan ada satu pun dokumen yang bisa bocor."
Adrian bersandar pada kursi kerjanya, memijat pangkal hidungnya.
"Terima kasih, Rendra. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada fokusku di Bali tanpa kamu di Jakarta."
"Kita sudah melewati neraka bersama sejak setahun lalu, Adrian. Menjaga rahasia ini adalah hal kecil," Rendra menatap sahabatnya dengan pandangan tulus.
"Tugasmu sekarang hanya satu pastikan Kirana tidak mendengar satu jengkal pun tentang riak di Jakarta ini. Jiwanya baru saja sembuh. Jangan biarkan tikus-tikus bursa saham ini mengotori kebahagiaannya."
"Aku mengerti," ucap Adrian mutlak sebelum memutuskan panggilan.
Keesokan harinya, Adrian memutuskan untuk bekerja dari rumah. Ia memindahkan seluruh agenda rapat direksinya menjadi pertemuan virtual. Ia ingin memastikan sendiri bahwa setiap sudut vila aman dan Kirana mendapatkan ketenangan seutuhnya.
Siang itu, Kirana sedang berada di ruang tengah, mencoba merajut sepasang sepatu bayi kecil berwarna putih sebuah aktivitas baru yang ia pelajari dari Mbak Lastri untuk mengisi waktu luangnya selama Adrian melarangnya pergi ke butik terlalu lama.
Saat Kirana sedang fokus pada benang wol di tangannya, ponselnya yang tergeletak di atas meja kaca bergetar. Sebuah notifikasi berita dari aplikasi media sosial muncul di layar.
Biasanya Kirana mengabaikannya, namun tajuk utama berita itu memuat nama yang sangat ia kenal Dirgantara Group.
Tangan Kirana bergerak secara refleks untuk mengambil ponsel tersebut. Baru saja jemarinya akan menyentuh layar, sebuah tangan besar yang kokoh dengan cepat mendahuluinya, menyambar ponsel tersebut dari meja.
Kirana tersentak, mendongak, dan mendapati Adrian sudah berdiri di sampingnya dengan wajah datar yang tak berekspresi.
"Mas? Kenapa ponselku diambil?" tanya Kirana bingung, menatap suaminya yang kini langsung memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celananya.
"Sudah waktunya makan siang, Sayang," jawab Adrian mengalihkan pembicaraan dengan suara baritonnya yang tenang.
Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Kirana bangkit dari sofa.
"Aku sudah meminta koki untuk memasak sup ayam herbal untukmu. Radiasi ponsel tidak baik jika kamu menatapnya terlalu lama saat sedang hamil muda."
Kirana menyipitkan mata bulatnya, menatap Adrian dengan pandangan menyelidik. Sebagai wanita yang sudah hidup bersama Adrian cukup lama, ia tahu betul perbedaan antara perhatian tulus dan sikap Adrian yang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Mas Adrian... kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?" tanya Kirana langsung, melepaskan pegangan tangan Adrian dan mundur satu langkah.
"Sejak tadi pagi, aku perhatikan pengawal di luar bertambah dua orang lagi. Dan sekarang kamu melarang ku melihat ponsel? Apa ada hubungannya dengan Jakarta? Apakah Danuar..."
Mendengar nama Danuar disebut, sorot mata Adrian seketika menegang, meskipun ia mencoba mengendalikannya dengan cepat. Ia melangkah maju, memotong jarak di antara mereka, lalu merangkul pundak Kirana dengan kelembutan yang protektif.
"Tidak ada hubungannya dengan Danuar, Kirana. Dia sudah membusuk di selnya," ucap Adrian tegas, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya untuk menyalurkan rasa aman.
"Ini hanya urusan fluktuasi pasar modal yang membosankan. Rendra sedang mengurus beberapa spekulan nakal di Jakarta yang mencoba memainkan sentimen berita korporasi kita. Aku hanya tidak ingin kamu membaca berita-berita ekonomi yang tidak penting dan membuat pikiranmu lelah."
Kirana menatap dada bidang Adrian, mendengarkan detak jantung suaminya yang sedikit lebih cepat dari biasanya tanda bahwa Adrian sedang menahan kecemasan di dalam dirinya sendiri.
Kirana menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya di dada Adrian, melingkarkan lengannya di pinggang suaminya.
"Mas... kita sudah berjanji untuk menghadapi semuanya bersama, bukan?" bisik Kirana lirih.
"Aku tahu kamu dan Rendra sedang melindungi ku dari luar. Tapi tolong, jangan biarkan rahasia-rahasia kecil ini membuatmu menanggung beban sendirian.
Aku tidak selembek yang kamu kira. Anak kita... dia juga kuat di dalam sini."
Adrian tertegun. Ia membalas pelukan Kirana dengan sangat erat, mengecup rambut istrinya berulang kali.
Di dalam hati, Adrian bersumpah akan menjadi dinding baja yang paling tebal untuk menahan setiap peluru rumor dan konspirasi apa pun yang mencoba mengusik kedamaian lentera kecil yang baru menyala di dalam hidup mereka.
Bersambung~