NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lebih Mengenalnya

"Ri!?"

Riyani menoleh.

"Iya?"

"Kalau kamu mau cerita, kamu boleh cerita sama saya,"

Riyani terdiam mendengarnya.

"Jangan terlalu banyak memendam, Ri. Semuanya harus dikeluarkan dalam bentuk hal apapun. Gak baik buat tubuh kamu, kalau terus ditumpuk begitu," lanjut Hanif.

Riyani mengedar pandangannya saat Hanif menoleh dengan sedikit senyuman padanya.

"Dokter tau kan anak kecil yang waktu itu dibawa sama saya?"

"Haikal?"

Riyani mengangguk.

"Dia keponakan saya, yang rasanya sudah saya anggap seperti anak sendiri. Dari dia bayi, dia lebih sering sama saya dibandingkan orang tuanya."

"Tapi kenapa dia bisa begitu, Ri? Saya lihat dia kekurangan gizi."

"Setahun yang lalu, abang saya membeli rumah. Haikal dibawa dan cukup jarang dititipkan sama saya ataupun orang tua karena cukup jauh jaraknya. Beberapa bulan kemudian, Haikal dibawa sama ayahnya ke rumah, dalam keadaan sakit dan kurus sekali. Saya yang merawatnya, sampai dia kembali sehat," ucap Riyani dengan air mata yang mulai meluruh.

Hanif mengelus punggung riyani agar lebih tenang.

"Kalau kamu gak sanggup cerita lebih lanjut, jangan dipaksa. Kamu bisa cerita pelan-pelan sama saya."

"Dokter tau apa yang membuat saya merasa tidak mendapat keadilan?"

"Apa?"

"Saya disalahkan atas sakitnya Haikal, saya tidak pernah mendapat ucapan terima kasih sudah menjaga anaknya, saya dipaksa untuk terus sabar padahal saya sudah ditampar dan dimaki," jawab Riyani sesenggukan.

Hanif kembali mengelus punggungnya.

(Ri, kamu wanita kuat)

...----------------...

Hari sudah mulai gelap, angin malam sudah mulai meriuk. Hanif mengajak Riyani untuk kembali ke ruang perawatannya. Tidak baik juga berdiam diri di taman seorang diri saat seperti ini.

Riyani memasang senyumannya.

Mengembalikan jas putih yang sejak tadi ia pakai untuk menghadang angin.

"Makasih ya Dok, untuk jas yang saya pakai sama untuk menjadi pendengar saya tadi."

Hanif tersenyum dengan anggukan.

"Kamu boleh cerita sama saya lagi kalau misalnya kamu gak bisa cerita sama orang lain."

Riyani mengangguk.

"Kalau gitu saya pamit dulu ya!"

Baru saja ia berbalik, lelaki itu menghentikan langkahnya—kembali menghadap pada Riyani.

"Ri!?"

"Iya Dok?"

Hanif mengepalkan tangannya.

"Kalau saya mau lebih mengenal kamu, boleh?"

"HAH?"

"Saya sebenernya sudah bicara sama Seyila tentang hal ini. Mungkin Seyila belum bilang sama—"

Riyani tersenyum.

"Yila udah kasih tau kok."

"HAH?"

"Yila udah kasih tau kalau Dokter Hanif mau lebih mengenal saya, minta dikenalkan sama saya,"

"Saya kira kamu gak tau hal itu,"

"Saya boleh tanya sesuatu?"

Hanif mengangguk.

"Dokter kenapa mau lebih mengenal saya. Padahal kita sama sekali belum pernah kenal bahkan ketemu?"

Hanif tersenyum tipis.

(Kamu yang gak pernah lihat saya, Ri)

"Saya sering melihat kamu."

"Dimana? Selama saya ke rumah yila, saya gak pernah tau muka abang dia yang mana."

Hanif hanya tersenyum.

"Jadi, saya boleh mengenal lebih jauh tentang kamu atau enggak?"

Riyani menunduk.

"Kalau emang kamu gak mau atau gak siap, saya—"

"Boleh," jawab Riyani.

Hanif tersenyum senang.

"Tapi saya gak janji akan sesuai dengan ekspektasi dokter,"

Lelaki itu terkekeh.

"Memangnya ekspektasi saya tentang kamu gimana?"

Hanif mendekat kembali padanya.

"Jadi diri kamu sendiri seperti biasanya, yang suka baca buku, banyak cerita, suka tempat-tempat sejuk dan indah. Kamu gak perlu jadi orang lain biar orang lain tertarik sama kamu."

Tatapan mereka beradu.

Cukup dekat.

Hanif tersenyum—melihat meronanya pipi wanita yang ia sukai.

"Kamu..... lagi malu ya?"

Riyani sontak menjauh darinya.

Mengedarkan pandangan, sembari menutup pipinya yang terasa cukup panas dan memerah.

Hanif menahan senyumnya.

(Lucu sekali)

Dengan santainya ia mengusak kerudung riyani lalu pamit.

(Dia.... santai banget ngacak-ngacak kerudung aku)

(ARGHHHHHH!!!)

...----------------...

Selama Riyani dirawat, bapak ataupun mamah tidak pernah menanyakan keadaannya. Tapi disaat Riyani akan pulang, bapak menjemputnya—dengan sopir kakek yang sudah diminta malam itu.

Pak Imran—sopir kakek yang membawa barang-barang riyani selama dirawat. Sedangkan bapak menjulurkan tangannya untuk membantu Riyani.

"Gak usah, Neng bisa sendiri. Bapak jalan duluan aja," ucap Riyani.

Baru saja keluar dari ruangan, Hanif tersenyum membawa kotak bekal yang dibawanya dari rumah.

"Kamu sudah boleh pulang ya?"

Riyani mengangguk.

"Makasih ya Dok, selama saya di sini. Dokter selalu nemenin saya."

Hanif mengangguk.

"Saya antar sampai ke parkiran ya!"

Riyani tersenyum.

Wanita itu tidak menolak, ia bahkan mengangguk dengan cepat.

Bapak yang jalan lebih dulu terkejut melihat anak gadisnya digandeng lelaki yang tidak dikenalnya.

Dengan cepatnya bapak melepaskan tangan hanif dari tangan riyani.

"Gak usah pegang-pegang anak saya. Dia sudah bisa jalan sendiri."

Riyani tersenyum remeh.

"Dia dokter yang selalu jagain neng, Pak. Dia bahkan setiap hari ada waktu buat neng, ketimbang bapak."

Riyani menoleh pada Hanif.

"Dok maaf ya! Saya pamit dulu."

Hanif mengangguk.

Riyani masuk ke mobil begitu saja.

"Neng mau pulang ke mana?" tanya sopir kakek—Pak Imran.

"Ke rumah saya, Pak," jawab bapak.

"Ke rumah kakek aja, Pak."

"Neng, kamu kan baru sembuh. Masa gak mau diem di rumah dulu," ucap bapak.

"Yang ada penyakit aku kambuh lagi kalau pulang ke sana," timpal Riyani lalu memejamkan matanya.

...----------------...

Sesampainya di rumah kakek, Riyani langsung masuk ke kamarnya tanpa berpamitan pada bapak.

Kakek—yang dimana ayah dari bapak sendiri mengajaknya untuk berbicara.

"Kalau kamu gak mau menyayangi neng lagi, kasih dia sama kakek. Biar kakek yang biayai hidup dia."

"Bukan begitu, Pak. Tapi—"

"Tapi apa?"

"Tapi takut sama menantu kamu yang katanya gajinya lebih besar dari anak kamu itu?"

"Inget Dam! Kamu itu seorang ayah dari dua anak. Bukan hanya anak sulung kamu."

"Kamu gak inget waktu kamu sakit, istri kamu sakit. Siapa yang ngurus? Siapa yang rela gak kemana-mana karena kalian?"

"Tapi dengan entengnya kalian memperlakukan dia kagak gitu?"

"Bapak aja sakit hati liat cucu bapak digituin."

"Bapak aja cemas tiap malam waktu dia dirawat."

"Kamu tau gak dia sakit apa dan karena apa?"

Bapak menunduk di hadapan kakek.

"Biarin dia tinggal di sini. Selama kamu belum paham apa yang sudah kamu lakukan sama dia."

"Silahkan kamu pulang ke rumah kamu."

Bapak tidak berbicara kembali. Lelaki itu langsung pergi mengendarai motornya—pulang ke rumah yang sudah ia bangun sejak bersama dengan mamah.

...----------------...

Beberapa hari berlalu,

Semenjak tinggal bersama kakek dan nenek, Riyani lebih sering membantu nenek menjaga toko kue yang sudah dibangunnya bertahun-tahun.

Sedangkan kakek, sibuk mengurus pabrik teh yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Siang itu, Riyani sedang asik memanggang kue yang baru dicobanya. Resep yang baru ia pelajari dari neneknya.

"Neng, itu ada yang tanyain kamu di depan," ucap nenek yang baru saja masuk ke dapur.

"Siapa Nek?" tanya Riyani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!