NovelToon NovelToon
Gadis Berjari Enam

Gadis Berjari Enam

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Reinkarnasi / Penyesalan Suami
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.

Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.

bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Melarikan Diri dari Bencana

Menyeret Keluarga Yan ke neraka bersama-sama—ancaman Nara tadi terdengar begitu lantang dan bergema kuat memenuhi seluruh ruangan.

Seketika, orang-orang di dalam rumah utama langsung kehilangan ketenangan mereka.

Kakek Yan yang tadinya memejamkan mata langsung duduk tegak di atas ranjang dengan wajah luar biasa muram. Sementara itu, raut wajah Nenek Lou mendadak berubah pucat pasi.

"Berani-beraninya kamu mengutuk Keluarga Yan! Dasar anak durhaka tidak tahu diuntung!" bentak Nenek Lou sambil menunjuk wajah Nara dengan jari gemetar.

"Belasan tahun kami memberi kamu makan, tahu begitu makanannya lebih baik dikasih ke anjing saja!" maki wanita tua itu berapi-api.

"Tuh kan, Ibu! Sejak dulu sudah aku bilang kalau anak cacat ini seperti serigala bermata putih yang tidak tahu balas budi," hasut Han Ruo gencar menyiram minyak ke dalam api.

"Sudah, bakar aja dia sampai mati!" teriak Yan Ran ikut-ikutan memanasi situasi.

"Ara..." Nyonya Mu memanggil dengan suara bergetar karena ketakutan, sambil meremas kuat lengan anak sulungnya itu.

Nara menepuk pelan tangan ibunya untuk menenangkan. Sama sekali tidak ada niat dalam dirinya untuk mundur, matanya justru membalas tatapan tajam Kakek Yan tanpa rasa takut sedikit pun.

Nara tahu betul apa risiko dari tindakan nekatnya hari ini.

Kemungkinan terburuknya adalah diusir dari Keluarga Yan—hasil yang sebenarnya sangat dia harapkan—atau mendapat perlakuan yang jauh lebih kejam dari sebelumnya. Tapi semua itu jelas masih jauh lebih baik daripada harus mati konyol dibakar hidup-hidup.

Nara belum begitu paham bagaimana hukum yang berlaku di kerajaan ini. Namun, dia tahu kalau masyarakat zaman kuno sangat percaya takhayul, dan jika mereka membakarnya atas nama mengusir roh jahat, pembunuhan itu bisa aja dianggap legal tanpa perlu ada tebusan nyawa.

Makanya, biarpun Nara kelihatan seperti sedang mempertaruhkan nyawanya, tindakan ini sebenarnya cuma gertakan semata. Dia sengaja menyerang titik kelemahan Nenek Lou yang paling cemas soal masa depan pernikahan Yan Ming dan Yan Ling.

"Semuanya keluar!" Tiba-tiba sebuah teriakan menggelegar dari arah pintu masuk, memecah ketegangan yang mendebarkan.

Nara menoleh dan melihat paman mudanya yang berbadan kekar, Yan Ming, baru saja melangkah masuk. Di belakangnya, mengekor seorang pria tua kurus berkulit gelap yang menjinjing tas kain—Mang Heri, sang ahli urut tulang.

Begitu menginjakkan kaki di dalam rumah, Yan Ming langsung membentak Mbah Kusno dengan wajah galak. "Kamu lagi, dasar dukun palsu yang hobi menipu orang! Pergi sana keluar dari rumahku!" usir Yan Ming tanpa basa-basi.

"Terakhir kali kamu sudah menipu uangku dengan dalih jimat pemikat jodoh sialan itu, tapi hasilnya mana? Penipu!" maki Yan Ming berang.

Mbah Kusno seketika menciut melihat perawakan Yan Ming yang tinggi besar. Wajah dukun itu berubah masam karena kedoknya dibongkar di depan umum, membuat tubuhnya agak gemetar karena malu.

"Tanpa kamu usir pun aku tidak sudi menginjakkan kaki di sini lagi! Rumah ini penuh kesialan, pantas saja kamu melajang seumur hidup!" umpat Mbah Kusno dengan wajah kecut sebelum buru-buru melesat pergi meninggalkan halaman.

Nara menghela napas panjang, perasaan lega seketika mengalir di dadanya. Dia tidak menyangka kalau pamannya ini bakal datang di waktu yang tepat, mengacaukan rencana Han Ruo dan menyelamatkannya secara tidak langsung.

Nara baru aja mau melemparkan pandangan berterima kasih kepada Yan Ming. Namun, pamannya itu justru langsung membalasnya dengan tatapan penuh kejengkelan yang tidak berusaha disembunyikan sama sekali, membuat Nara refleks mengusap hidungnya dengan canggung.

"Lho, Adik Ming, kenapa kamu malah mengusir Mbah Kusno?" protes Han Ruo sambil menepuk pahanya dengan raut wajah tidak puas. "Roh jahat di tubuh si Nara kan belum sempat diusir!" lanjutnya mencoba memprovokasi lagi.

Yan Ming langsung menyipitkan matanya, menatap Han Ruo dengan pandangan dingin. "Memangnya kakak Kedua sengit sekali mau membakar Nara sampai mati agar tetangga mencap Keluarga Yan sebagai pembunuh berdarah dingin?" tanya Yan Ming tajam.

"Kalau rumor kejam itu sampai menyebar ke desa lain, apa kakak Kedua mau bertanggung jawab kalau aku, Yan Ming, jadi bujangan tua seumur hidup karena tidak ada wanita yang sudi kunikahi?" cecar Yan Ming mematikan.

"Aku..." Kalimat Han Ruo langsung terputus, matanya mendadak berkaca-kaca karena terpojok. Dia buru-buru menyandarkan tubuhnya ke bahu Yan Shong sambil pura-pura menangis sesenggukan mencari pembelaan.

"Ming, lancang sekali kamu bicara begitu kepada kakak tirimu?!" tegur Yan Shong dengan wajah memerah menahan kesal melihat selirnya disudutkan.

Yan Ming cuma mendengus malas, sama sekali tidak berniat meladeni kemarahan kakak sulungnya itu.

"Ming, apa benar kamu sempat menyerahkan sejumlah koin perak kepada dukun palsu itu kemarin?" tanya Nenek Lou tiba-tiba dengan nada suara yang meninggi karena panik memikirkan uang.

"Ibu, itu kan masalah yang sudah lalu, buat apa diungkit-ungkit sekarang?" sahut Yan Ming dengan nada tidak sabar. "Sekarang semuanya lebih baik keluar dari kamar ini. Jangan sampai kalian mengganggu Mang Heri yang mau mengobati kaki Abah," potong Yan Ming tegas.

Nara yang merasa sudah lolos dari ancaman maut tentu aja tidak mau membuang waktu lebih lama lagi di tempat terkutuk itu. Dia segera menggandeng erat tangan ibunya dan berbisik pelan, "Ibu, ayo kita keluar dari sini."

Nyonya Mu mengangguk cepat dengan perasaan lega luar biasa, walau kakinya masih terasa sangat lemas. Dengan sisa tenaga yang ada, dia setengah diseret dan dipapah oleh Nara serta Yan Ning untuk bergegas meninggalkan ruangan utama yang mencekam itu.

1
Andira Rahmawati
hadir thor..👍
Ntaaa___
Jangan lupa mampir ya ka💪😇😍
Ntaaa___
Jangan lupa mampir ya ka💪😇
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
maaf kak aku skip ya
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
aduh... makin kesini makin kesana
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
tahap ini masih belum apa-apa ya 🤔
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
saran kak jangan terlalu lembek ya pemeran utama nya🤭
Puji Pangestuti: iya PU nya lembek bnr dah,yg jahat malah yg berkuasa😎
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
masih nyimak aku kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!