"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 Tangan Lembut yang Mengobati Luka Jiwa
Badai di luar masih menderu kencang, namun di dalam gua kecil yang tersembunyi di balik tebing itu, suasana terasa jauh lebih tenang dan hangat. Li Yao telah menyalakan api unggun dari kayu kering yang ia simpan sebelumnya. Nyala api merah keemasan menari-nari, memantulkan cahaya di dinding batu yang lembap, memberikan sedikit rasa hangat di tengah dinginnya malam.
Ling Qingyu kini duduk bersandar di dinding gua, matanya masih terpejam, napasnya teratur namun masih terdengar sedikit lemah. Pakaiannya yang basah telah diperas dan dijemur di dekat api, digantikan oleh selimut tebal dari kulit hewan buruan milik Li Yao yang berbau sedikit apek, namun cukup hangat.
Li Yao duduk tidak jauh dari sana, memeluk lututnya, matanya tak lepas dari wajah wanita itu. Ia masih tidak percaya bahwa makhluk seindah itu ada di hadapannya. Ia terlihat begitu suci, begitu anggun, seolah-olah satu sentuhan saja akan membuatnya hancur.
Perlahan, kelopak mata Ling Qingyu bergetar, lalu terbuka lebar. Matanya yang jernih itu langsung waspada, memindai sekeliling dengan cepat, gerakan refleks seorang pejuang sejati.
"Kau sudah sadar, Nona!" seru Li Yao cepat, langsung mendekat. "Tenanglah... anda aman di sini. Musuh tidak akan menemukan kita."
Ling Qingyu menatapnya, lalu perlahan ketegangan di wajahnya mengendur. Ia mengingat apa yang terjadi. Ia menghela napas panjang, seolah melepaskan beban berat dari dadanya.
"Terima kasih... pemuda desa," ucapnya pelan. Suaranya tidak lagi selembut tadi, namun terdengar lebih tenang. "Kau menyelamatkan nyawaku. Aku berhutang budi padamu."
"Tidak perlu berterima kasih, Nona. Siapa pun akan melakukan hal yang sama," jawab Li Yao sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa canggung. "Tapi... luka anda itu... bagaimana keadaannya? Apakah masih sakit?"
Mendengar pertanyaan itu, Ling Qingyu menunduk melihat luka di lengannya yang kini telah dibalut kain kasar dengan cara seadanya oleh Li Yao. Ia tersenyum tipis, senyum yang membuat wajahnya bersinar lebih terang daripada api unggun di hadapan mereka.
"Lukanya dalam, dan beracun. Jika tidak diobati, bisa berbahaya. Tapi..." Ia menatap Li Yao. "Tanganmu kasar, tapi gerakanmu sangat hati-hati. Terima kasih sudah merawatku."
Li Yao merasa wajahnya memanas. "Saya... saya hanya tahu cara mengobati luka sapi atau babi hutan. Jadi maaf jika caranya kurang sopan."
Ling Qingyu tertawa kecil, suara tawanya seperti lonceng perak yang bergema di dalam gua. "Tidak apa-apa. Justru, ketulusanmu itu yang membuat lukanya terasa tidak terlalu perih."
Wanita itu kemudian mengangkat tangannya yang bebas dari luka. Telapak tangannya yang putih dan halus memancarkan cahaya hijau yang lembut dan menenangkan. Cahaya itu merambat perlahan menuju lukanya sendiri.
Li Yao membelalakkan mata, terpesona. "Itu... itu sihir?!"
"Bukan sihir, ini adalah seni penyembuhan menggunakan energi alam," jelaskan Ling Qingyu sambil memejamkan mata, berkonsentrasi. "Namun, tenagaku masih sangat lemah setelah pertarungan tadi. Prosesnya akan lambat."
Melihat keringat dingin mulai membasahi dahi wanita itu meski suhu di gua cukup dingin, Li Yao tanpa sadar meraih sebuah kain bersih. Ia mendekat, lalu dengan ragu-ragu menyeka keringat di pelipis wanita itu.
Gerakannya sangat pelan, sangat lembut, seolah takut menyakiti.
Ling Qingyu membuka matanya, terkejut dengan sentuhan itu. Ia menatap wajah Li Yao yang begitu serius dan penuh perhatian. Selama hidupnya, ia hanya mengenal dunia kultivasi yang kejam—dunia di mana yang kuat menindas yang lemah, dunia di mana persahabatan dan cinta seringkali hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan.
Namun sentuhan pemuda desa ini... begitu murni. Tanpa pamrih. Tanpa keinginan akan kekuatan atau jabatan.
"Kenapa... kau melakukan ini untukku?" tanya Ling Qingyu pelan, suaranya bergetar sedikit. "Kau bahkan tidak tahu siapa aku. Aku bisa saja orang jahat, atau membawa malapetaka bagimu."
Li Yao berhenti sejenak, lalu menatap mata wanita itu dalam-dalam.
"Saya tidak tahu apa-apa tentang dunia anda, Nona. Saya tidak tahu soal kultivasi, tidak tahu soal dendam atau pertarungan. Tapi saya tahu satu hal," kata Li Yao tegas, matanya bersinar tulus. "Anda orang baik. Dan orang baik tidak pantas menderita sendirian."
Kalimat sederhana itu, bagaikan sebuah palu yang menghantam jantung Ling Qingyu. Air mata yang selama ini ia tahan karena rasa sakit dan kesepian, tiba-tiba ingin meluncur turun. Selama ini ia selalu berpura-pura kuat, selalu menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan pemuda bodoh dan polos ini, tembok pertahanannya runtuh.
"Terima kasih, Li Yao..." bisiknya, menyebut nama pemuda itu untuk pertama kalinya dengan penuh rasa. "Tanganmu memang kasar karena cangkul dan tanah, tapi hatimu... hatimu jauh lebih lembut daripada sutra termahal di dunia."
Ia meraih tangan kasar Li Yao, lalu meletakkannya di atas tangannya sendiri. Sentuhan kulit itu membuat jantung Li Yao berdegup kencang seperti hendak meledak.
"Mulai hari ini," kata Ling Qingyu dengan senyum hangat yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya. "Aku tidak akan membiarkanmu merasa rendah diri lagi. Selama aku ada, kau tidak akan sendirian."
Di dalam gua kecil itu, di bawah nyala api yang hangat, dua jiwa yang berbeda dunia itu saling bertaut. Luka fisik mungkin masih ada, tapi luka jiwa akibat hinaan dan cemoohan yang selama ini dialami Li Yao... seketika itu juga sembuh total, disembuhkan oleh sentuhan lembut dan senyum seorang bidadari.