Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menara di Atas Awan dan Kebenaran yang Terkunci
*"Selamat datang di tempat di mana hukum fisika hanyalah saran, dan hukum sihir adalah satu-satunya realitas yang tersisa. Jangan takut, Marie. Aku tidak akan membunuhmu. Setidaknya, tidak sampai aku mendapatkan apa yang menjadi milikku sejak awal."*
Pria bertopeng emas itu duduk dengan anggun di atas takhta yang terbuat dari kristal transparan. Suaranya halus, namun membawa tekanan magis yang membuat paru-paruku terasa sesak. Aku berada di tengah ruangan luas yang melayang di ketinggian ribuan kaki di atas permukaan Oakhaven. Tidak ada jendela, hanya dinding-dinding yang terbuat dari cahaya murni yang menyilaukan. Aku mencoba bangkit, namun setiap gerakan memicu detak jantung di dalam dadaku—detak jantung ayahku yang kini terasa seperti rantai yang mengikatku pada takdir yang paling menyakitkan.
Aku menatap pria itu, mencoba mencari celah di balik topeng emas yang tidak memiliki lubang mata. *"Siapa kau sebenarnya? Dan kenapa kau begitu terobsesi dengan jantung seorang alkemis yang bahkan tidak memiliki kekuatan untuk membela diri di malam pembunuhannya?"*
Dia tertawa, sebuah tawa rendah yang bergema di seluruh ruangan. Dia berdiri, jubah putihnya yang disulam dengan benang emas berkilauan seperti debu bintang. *"Alkemis? Kau masih melihat ayahmu sebagai alkemis? Marie, itu adalah kebohongan terbesar yang pernah diajarkan oleh keluarga Vance kepada keturunannya. Dia bukan pembuat ramuan. Dia adalah Penjaga Segel Terakhir."*
Dia melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat lantai kristal di bawahnya bergetar. *"Dan jantung yang berdetak di dadamu saat ini, bukanlah organ fisik biasa. Itu adalah inti dari seluruh peradaban sihir yang ada di Oakhaven. Tanpa jantung itu, kota di bawah sana hanyalah tanah kosong yang mati. Tanpa jantung itu, sihir tidak akan pernah mengalir ke nadi orang-orang Oakhaven."*
Aku tertegun. *Jadi, Oakhaven bukan sekadar kota? Itu adalah sebuah mesin sihir raksasa?*
*"Julius tahu itu,"* lanjut pria itu, suaranya kini terdengar penuh dengan ejekan. *"Dia membiarkanmu melakukan sinkronisasi karena dia butuh 'kunci hidup' untuk membuka akses ke sumber sihir pusat Oakhaven. Dia tidak ingin melindungimu, Marie. Dia ingin menguras habis energimu sampai kau hanya menjadi kulit kering yang tidak berarti, lalu dia akan mengambil jantung itu untuk dirinya sendiri dan menjadi penguasa absolut dunia ini."*
*"Kau bohong,"* ucapku, meskipun keraguan mulai merayap di hatiku. *"Dia mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk mengikat detak jantung itu denganku!"*
*"Apakah kau menyebutnya pengorbanan? Atau apakah kau menyebutnya investasi?"* Pria itu berhenti tepat di hadapanku. Dia mengulurkan tangan, dan seolah-olah dipaksa oleh kekuatan sihir yang tidak terlihat, tubuhku terangkat ke udara, melayang di depannya. *"Dia tidak memberimu hidup. Dia memberimu waktu pinjaman. Setiap kali kau menggunakan sihirmu, setiap kali kau menyelamatkan kota itu, kau sebenarnya sedang menguras sisa hidup Julius. Dia tidak sekarat karena luka pertarungan, Marie. Dia sekarat karena dia adalah 'wadah' bagi jantung itu sebelum kau datang."*
Kepalaku berdenyut hebat. Kenangan-kenangan samar mulai muncul—ingatan bukan dari Marie, melainkan dari masa lalu yang jauh lebih dalam. Ingatan tentang seorang pria dengan mata obsidian—Julius—yang menangis di depan cawan kristal bertahun-tahun yang lalu, berjanji untuk menjaga jantung itu sampai sang pewaris datang.
*Tunggu... dia bukan musuh?*
*"Cukup!"* teriakku, melepaskan gelombang sihir emas yang liar. Ledakan itu menghantam dinding cahaya murni, membuat menara itu bergetar hebat. Pria itu terhuyung mundur, topeng emasnya sedikit bergeser, memperlihatkan separuh wajah yang penuh dengan guratan sihir hitam yang membusuk.
*"Kau tidak bisa menghancurkan menara ini,"* desisnya, suaranya kini berubah menjadi kemarahan murni. *"Ini adalah puncak tertinggi Oakhaven. Di sini, sihir murni terkonsentrasi! Kau adalah tikus yang terjebak di dalam perangkap!"*
Dia mengayunkan tangannya, dan lantai di bawahku terbuka, memperlihatkan pemandangan Oakhaven dari ketinggian yang sangat jauh. Awan menutupi segalanya, dan di kejauhan, aku melihat kapal perang sihir milik Dewan Langit sedang bersiap untuk menembakkan meriam cahaya kedua.
*"Mereka akan memusnahkan Oakhaven malam ini,"* kata pria itu dengan santai, kembali duduk di takhtanya. *"Mereka tidak butuh kunci lagi. Mereka memutuskan untuk menghancurkan segalanya agar sihir tidak lagi bisa diperebutkan. Kau punya pilihan, Marie. Berikan jantung itu padaku, dan aku akan membawamu pergi dari kota ini, atau mati bersama semua orang yang kau kenal di bawah sana."*
Aku menatap Oakhaven dari ketinggian. Aku melihat kilatan cahaya di kejauhan—meriam itu mulai mengisi daya. Julius... apakah dia masih hidup? Apakah dia sedang bertarung sendirian di bawah sana sementara aku terjebak di sini?
Aku menyentuh dadaku. Detak jantung ayah Marie berdenyut dengan ritme yang aneh, seolah-olah mencoba berkomunikasi denganku. *Sinkronisasi.* Jika aku adalah kuncinya, maka aku memiliki kendali atas aliran sihir kota ini. Jika Oakhaven adalah mesin, maka aku adalah operatornya.
*"Jika kau ingin menghancurkan kota ini,"* kataku, suaraku kini tenang, dingin, dan penuh dengan determinasi yang baru. *"Maka kau harus siap menghadapi operatornya."*
Aku tidak mencoba melawan pria itu. Sebaliknya, aku memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Aku tidak lagi memisahkan diriku dari jantung ayah Marie. Aku merangkulnya sepenuhnya. Aku merasakan seluruh jaringan sihir Oakhaven—kabel-kabel energi yang mengalir di bawah jalanan, di bawah bangunan, di bawah setiap rumah.
Aku adalah Oakhaven.
Pria itu menyadari apa yang kulakukan. Dia berteriak, mencoba menghentikanku, namun sudah terlambat. Aku menarik semua energi sihir yang mengalir ke menara ini, mengalihkannya kembali ke pusat kota, ke pertahanan yang sudah lama mati.
*BOOM!*
Sebuah kubah cahaya emas yang sangat besar muncul menutupi seluruh kota Oakhaven tepat saat meriam kapal perang itu menembakkan cahaya murni. Serangan itu menghantam kubah emas tersebut dan terpental kembali ke kapal perang itu sendiri, menghancurkan kapal tersebut berkeping-keping di udara.
Pria bertopeng itu jatuh berlutut, energinya terkuras habis karena aku telah mengambil alih kendali. Menara tempat kami berada mulai retak dan runtuh.
*"Kau... kau gila!"* teriak pria itu. *"Kau tidak hanya menyelamatkan mereka! Kau mengaktifkan Penjaga Kota dalam mode penuh! Semua orang di kota itu akan menjadi budak dari kehendak sihirmu!"*
Aku tidak mendengarkannya. Aku hanya tahu satu hal: Julius harus selamat.
Menara itu hancur menjadi debu sihir. Aku terjatuh dari ketinggian ribuan kaki, namun sebelum tubuhku menghantam tanah, aku merasakan tarikan sihir yang sangat familiar—sihir kegelapan yang dingin dan protektif.
*CRASH!*
Aku mendarat di atas tumpukan reruntuhan, namun tidak merasakan sakit. Seseorang menangkapku. Seseorang dengan napas yang terengah-engah dan aroma darah yang kental.
Aku membuka mata. Julius memelukku, wajahnya penuh dengan luka, namun dia masih hidup. Dia tidak melihatku sebagai kuncinya lagi. Dia menatapku dengan tatapan yang sangat manusiawi, tatapan yang penuh dengan kelegaan yang luar biasa.
*"Kau selamat,"* bisiknya, suaranya parau.
*"Aku menghancurkannya, Julius,"* kataku, air mata mengalir di pipiku. *"Menara itu... pria itu... semuanya hancur."*
Dia tidak menjawab. Dia memelukku lebih erat, menyembunyikan wajahnya di bahuku. Namun, di saat itulah aku menyadari sesuatu yang mengerikan. Sihir di sekitarku tidak lagi terasa seperti sihir murni. Ada sesuatu yang lain... sesuatu yang gelap dan lapar yang mulai merayap naik dari tanah Oakhaven.
Pria bertopeng itu benar. Aku telah mengaktifkan sesuatu yang tidak seharusnya bangun.
Saat kami berdiri di tengah reruntuhan, aku mendengar suara langkah kaki dari segala arah. Bukan tentara, bukan penjaga. Itu adalah suara orang-orang kota yang berjalan tanpa arah, mata mereka bersinar dengan cahaya emas yang sama denganku.
Mereka menatapku. Mereka semua menatapku. Dan mereka mulai bersujud di hadapanku.
*"Marie,"* bisik Julius, tatapannya beralih ke kerumunan orang yang kini tidak lagi memiliki kesadaran sendiri. *"Apa yang telah kau lakukan?"*
Aku menatap tanganku. Sihir emas itu masih menari-nari di kulitku. Aku bukan lagi Marie Vance. Aku bukan lagi orang asing. Aku adalah pusat dari segalanya, dan aku baru saja menyadari bahwa terkadang, menyelamatkan dunia berarti harus mengorbankan kemanusiaan kita sendiri.
Tiba-tiba, dari kegelapan di belakang Julius, sosok wanita itu—diriku yang lain—muncul kembali. Dia tidak lagi menyerang. Dia tersenyum, dan kali ini senyumannya terlihat sedih.
*"Selamat datang di takhtamu, Marie. Sekarang, katakan pada mereka... apa perintah pertamamu?"*
Di kejauhan, aku melihat sesuatu yang lebih mengerikan dari kapal perang manapun. Sesuatu yang sangat besar, sesuatu yang tidak berasal dari dunia ini, mulai terbuka di langit malam Oakhaven. Sebuah gerbang dimensi yang sudah lama disegel oleh ayah Marie, kini terbuka lebar karena sihirku.
Dan dari balik gerbang itu, sesuatu yang sangat haus akan sihir mulai menampakkan dirinya.
**[