NovelToon NovelToon
The Return Of The Lost Heiress

The Return Of The Lost Heiress

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Keluarga & Kasih Sayang / Drama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Haena_Llulia

Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.

Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Pembalikan Mutlak di Ruang Sidang

Suasana di dalam ruang sidang utama Pengadilan Negeri Jakarta Pusat seketika membeku. Kehadiran Vanya dan Tuan Agharna yang mengenakan pakaian tahanan oranye, disusul oleh Ibu Aminah yang didorong menggunakan kursi roda medis modern oleh Clarissa, menciptakan efek kejut yang luar biasa masif. Para wartawan di barisan belakang langsung menegakkan punggung, sementara lampu kilat kamera berkelebat tiada henti, menangkap ekspresi Nyonya Rosalind yang kini gemetar hebat dengan wajah sepucat mayat.

Nyonya Rosalind mencengkeram tepi meja pengacaranya hingga kuku jarinya yang dipoles merah menyala hampir patah. Matanya melotot tajam menatap Vanya, putri kedua yang dia harapkan bisa menjadi senjata rahasia, namun kini justru berjalan dengan kepala tertunduk dalam-dalam di bawah kawalan ketat Gavin.

TOK! TOK! TOK!

Hakim ketua mengetuk palu dengan keras untuk meredam kegaduhan yang mulai merayap naik.

"Tertuduh Haena Dirgantara, silakan jelaskan relevansi dari kehadiran para saksi ini terhadap gugatan pembatalan hak waris yang sedang kita sidangkan."

Haena berdiri dari kursi tergugat dengan keanggunan mutlak yang memancarkan aura dominasi seorang pemimpin masa depan. Setelan blazer formal desainer berwarna hitam pekat yang dikenakannya melekat sempurna pada siluet tubuhnya yang tinggi dan anggun, sangat kontras dengan kemeja sutra putih murni di bagian dalamnya. Dari balik kacamata dengan bingkai transparan, sepasang mata jernihnya menatap langsung ke arah hakim ketua tanpa ada setitik pun keraguan. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya sebuah gestur refleks yang menandakan komputasi taktis di dalam otak jeniusnya telah mengunci kemenangan mutlak.

"Yang Mulia Hakim yang terhormat," suara Haena yang jernih dan sarat akan otoritas bergema lantang, seketika membungkam seluruh ruangan.

"Pihak penggugat baru saja menyerahkan selembar kertas yang mereka sebut sebagai rekam medis otentik terkait kondisi kejiwaan Ibu Aminah. Namun, saya menghadirkan Tuan Agharna dan Vanya untuk membongkar di hadapan hukum bahwa dokumen tersebut adalah produk dari konspirasi pemalsuan, penyuapan, dan spionase korporat."

Haena melangkah maju beberapa tindak, mendekati meja saksi tempat Tuan Agharna dan Vanya telah diposisikan.

"Tuan Agharna, silakan jelaskan kepada Yang Mulia Hakim, siapa yang mendanai dan memerintahkan Anda untuk merekayasa dokumen medis tersebut bersama pihak rumah sakit jiwa swasta di bawah faksi Nyonya Rosalind."

Tuan Agharna mengembuskan napas berat, melirik ketakutan ke arah Kaelen Arkananta yang berdiri bersandar di dekat pilar ruang sidang dengan tatapan elang yang sedingin es dan mematikan. Sadar bahwa jaringan internasionalnya di Selat telah dihancurkan total oleh kekuatan Arkananta Group dan tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi, Tuan Agharna akhirnya membuka suara dengan nada pasrah.

"Semua itu adalah rencana Nyonya Rosalind, Yang Mulia," ucap Tuan Agharna, suaranya yang serak terdengar bergetar melewati mikrofon sidang.

"Nyonya Rosalind mendatangi saya tiga minggu lalu melalui jalur privat. Beliau menawarkan akses logistik maritim lama Dirgantara Corp sebagai jaminan, asalkan saya bisa menggunakan koneksi saya di rumah sakit jiwa swasta tersebut untuk menerbitkan rekam medis palsu atas nama Ibu Aminah. Tujuannya adalah untuk menciptakan cacat hukum pada garis keturunan Haena jika sewaktu-waktu Tuan Bramasta menyerahkan saham pengendalinya."

BZZZZT! GLUDUK!

Bisik-bisik histeris kembali meledak di bangku penonton. Nyonya Rosalind berdiri dari kursinya dengan histeris, menunjuk Tuan Agharna dengan telunjuk yang bergetar.

"Bohong! Dia berbohong! Jangan dengarkan bajingan jalanan ini, Yang Mulia! Dia pasti sudah disuap oleh Haena dan keluarga Arkananta untuk menjatuhkan nama baik saya!"

"Diam, Pihak Penggugat! Jaga sikap Anda atau saya akan memerintahkan petugas untuk menyeret Anda keluar dari ruang sidang!" tegur hakim ketua dengan sangat tegas sembari mengetuk palu berulang kali.

Haena sama sekali tidak terpengaruh oleh ledakan histeris Nyonya Rosalind. Mental bajanya membuatnya tetap berdiri tenang, membetulkan letak kacamata transparannya dengan gerakan yang teramat elegan.

"Jika kesaksian Tuan Agharna dirasa belum cukup karena dianggap memiliki bias kepentingan," Haena menoleh ke arah Vanya, "maka silakan dengarkan pengakuan dari putri kandung Anda sendiri. Vanya, katakan yang sebenarnya."

Vanya mendongak lambat, air matanya mengalir deras merusak seluruh sisa penampilannya yang kusam. Jaket denim longgarnya tampak bergetar mencerminkan ketakutan psikologis yang luar biasa masif setelah melewati interogasi taktis dari Gavin dan tim komando Arkananta di markas rahasia semalam.

"M-Maafkan aku, Papa... maafkan aku..." Vanya meracau pelan sembari melirik ke arah gawai satelit di meja Pak Baskara yang masih terhubung dengan Tuan Bramasta di Swiss.

"Semua itu benar, Yang Mulia. Ibu yang menyuruhku menyalin cetak biru navigasi dari brankas pribadi Papa dan menggunakannya sebagai alat transaksi dengan Tuan Agharna. Dokumen kesehatan Ibu Aminah itu... Ibu sendiri yang mendikte isinya kepada dokter bayaran kami agar seluruh hak waris Haena bisa dibatalkan secara mutlak."

Mendengar pengakuan jujur dari mulut putri kandungnya sendiri, Tuan Bramasta di seberang telepon internasional terdengar mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa muak dan kekecewaan yang teramat dalam.

"Rosalind... kamu benar-benar iblis berbaju sosialita. Pak Baskara, pastikan seluruh tim pengacara kita mencabut setiap jaminan finansial yang tersisa untuk wanita itu!"

Nyonya Rosalind terduduk lemas di kursinya, seluruh kekuatannya seolah menguap keluar dari tubuhnya. Namun, pengacara senior yang disewanya masih mencoba melakukan perlawanan terakhir demi menyelamatkan reputasi profesional mereka.

"Yang Mulia Hakim!" pengacara Nyonya Rosalind berdiri dengan suara lantang.

"Meskipun ada dugaan konspirasi di balik pembuatan dokumen tersebut, fakta bahwa Ibu Aminah saat ini duduk di atas kursi roda medis menunjukkan bahwa kondisi fisiknya memang tidak stabil. Kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan adanya distorsi memori yang sesungguhnya pada diri saksi kunci ini. Kami menuntut adanya pemeriksaan independen dari lembaga forensik negara!"

Mendengar tuntutan itu, Haena justru menarik sudut bibirnya tipis, memancarkan seulas senyuman sinis yang teramat menawan namun sarat akan ancaman kehancuran bagi siapa saja yang berani menantang kapasitas intelektualnya.

"Tuntutan Anda dikabulkan bahkan sebelum Anda mengucapkannya, Tuan Pengacara," balas Haena dingin. Dia memberi isyarat kepada Clarissa yang berdiri di samping kursi roda Ibu Aminah.

Clarissa segera melangkah maju, menyerahkan sebuah map berkas digital berhologram resmi Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Forensik Nasional kepada panitera sidang untuk diteruskan kepada hakim ketua.

"Di hadapan Yang Mulia," Haena melanjutkan dengan nada bicara yang penuh komputasi hukum yang matikan, "adalah hasil pemindaian otak digital (fMRI) dan evaluasi kognitif komprehensif yang dilakukan oleh Kepala Ikatan Dokter Forensik Nasional terhadap Ibu Aminah yang diselesaikan pagi ini pada pukul enam subuh. Hasil medis ini menyatakan secara mutlak bahwa Ibu Aminah memiliki fungsi kognitif, daya ingat, dan stabilitas mental yang berada di atas rata-rata untuk wanita seusianya. Tidak ada setitik pun jejak skizofrenia atau distorsi memori seperti yang dituduhkan oleh faksi penggugat."

Ibu Aminah, meskipun wajahnya tampak lelah, menatap Haena dengan sepasang mata yang memancarkan rasa bangga dan kasih sayang yang teramat dalam. Wanita tua yang dulu membesarkan Haena dengan peluh di kedai soto itu memegang mikrofon kecil di kursi rodanya dengan tangan yang stabil.

"Yang Mulia Hakim," ucap Ibu Aminah dengan suara yang tenang namun berwibawa.

"Saya sadar sepenuhnya saat mengadopsi Haena dua puluh tahun lalu di jalanan Kupang setelah dia terpisah dari Tuan Bramasta. Saya menyimpan seluruh dokumen pakaian bayi, kalung berinisial Dirgantara, dan catatan sipil asli dengan rapi. Ingatan saya tidak pernah cacat, dan gadis berkacamata di depan Anda ini... adalah putri kandung sejati dari keluarga Dirgantara yang sah demi hukum dan Tuhan."

Kata-kata Ibu Aminah yang jujur dan menyentuh hati seketika menyapu bersih seluruh keraguan yang tersisa di dalam ruang sidang. Panggung konspirasi hukum yang disusun dengan penuh kelicikan oleh Nyonya Rosalind kini telah berbalik menjadi bumerang yang menghancurkan dirinya sendiri dalam hitungan menit.

TOK! TOK! TOK!

Hakim ketua mengetuk palu sidang sebanyak tiga kali dengan pukulan yang sangat tegas, menandakan keputusan akhir persidangan darurat telah dikunci secara mutlak.

"Menimbang kesaksian langsung dari para saksi kunci, bukti forensik digital dari Kementerian Kesehatan, serta pengakuan dari pihak terkait," hakim ketua membacakan amar putusan dengan suara lantang yang berwibawa, "Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan menolak seluruh gugatan pembatalan hak waris yang diajukan oleh Pihak Penggugat untuk selama-lamanya! Pengadilan menyatakan dokumen pengalihan aset lima puluh satu persen saham pengendali atas nama Haena Dirgantara adalah sah, mengikat, dan tidak dapat diganggu gugat oleh pihak mana pun!"

"Selain itu," lanjut hakim ketua, menatap tajam ke arah Nyonya Rosalind yang sudah tidak berdaya, "pengadilan memerintahkan pihak kepolisian yang hadir di dalam ruangan ini untuk segera melakukan penahanan darurat terhadap Nyonya Rosalind atas dakwaan pemalsuan dokumen otentik, penyuapan, spionase korporat, dan konspirasi percobaan pembunuhan karakter."

Dua petugas kepolisian berseragam lengkap langsung melangkah maju, memborgol kedua pergelangan tangan Nyonya Rosalind dengan bunyi klik besi yang dingin, tepat di hadapan ratusan kamera jurnalis yang terus mengabadikan kejatuhan tragis sang mantan ratu sosialita ibu kota.

Haena berdiri tegak, merapikan blazernya yang elegan, lalu berjalan mendekati kursi roda Ibu Aminah. Dia menggenggam erat tangan keriput ibu angkatnya itu dengan kehangatan tersembunyi yang hanya dia miliki khusus untuk wanita tua ini.

Di seberang ruangan, Kaelen Arkananta melangkah mendekat dengan seulas senyuman misterius yang sangat menawan di bibir tipisnya. Aliansi taktis mereka baru saja menyapu bersih ancaman internal terbesar di ibu kota dengan kemenangan mutlak yang sempurna.

"Komputasi hukum yang sangat indah, Tuan Putri," bisik Kaelen dengan suara baritonnya yang berat dan rendah tepat di samping telinga Haena, memancarkan aura protektif yang kian kental.

"Sekarang, tidak ada lagi satu pun batu sandungan yang tersisa di Jakarta. Imperium Dirgantara Corp telah sepenuhnya berada di bawah kendali jemarimu."

Haena menoleh sedikit, menatap Kaelen dari balik kacamata transparannya dengan kilatan mata yang penuh kecerdasan mutlak.

"Ini baru permulaan, Kaelen. Sesi pembersihan di ruang sidang telah selesai. Sekarang... saatnya kita membawa kapal logistik utama kita kembali bertolak menuju Kupang untuk membangun pelabuhan pintar yang sesungguhnya."

Dengan langkah yang mantap dan punggung yang tegak, Haena berjalan keluar dari ruang sidang melewati kerumunan jurnalis yang kini menatapnya dengan rasa segan dan takjub yang teramat luar biasa. Sang putri sejati yang dulu sempat hilang dan dibuang, kini tidak hanya kembali ke rumahnya dia telah menaklukkan seluruh dunia hukum dan korporasi yang pernah mencoba mencampakkannya.

(Cliffhanger)

"Satu jam setelah Haena dan Kaelen meninggalkan gedung pengadilan untuk menuju bandara jet pribadi, Pak Baskara yang sedang merapikan sisa berkas di meja ruang sidang mendadak menerima sebuah amplop hitam tanpa identitas pengirim yang ditinggalkan di kursi roda Ibu Aminah. Di dalam amplop tersebut terdapat sebuah foto satelit beresolusi tinggi yang menampilkan area vila peristirahat privat Ibu Aminah di pinggiran kota, dengan tanda silang merah besar di atas atap bangunan dan sebuah pesan ketikan singkat: "Kemenangan di ruang sidang tidak bisa menyelamatkan nyawa ibumu dari hulu ledak jarak jauh milik organisasi sisa sekutu asing Tuan Agharna yang baru saja aktif."

1
Osie
rosalind mak kandung harga bukan yaa?? kok malah jd musuh anak sendiri
Haena_Llulia: kamu tau kan maknya gimana😔
total 1 replies
Osie
ini hana apa udah gak sekolah ya..kok mainnya diperusahaan terus
Haena_Llulia: iya, kayaknya gitu deh. ini jg pasti krn masalah yg muncul
total 1 replies
Osie
eh nyonya rosalind ente emak kandung haena kan??? kok kayak mak tiri ya yg takut kehilangan harta warisan
Haena_Llulia: iya aku juga jadi ngedek dehhh sama dia😡
total 1 replies
Osie
mampir akuh nya..msh nyimak dan moga MC nya sosok tangguh. benar benar tangguh n smart
Haena_Llulia: Terimakasih banyak, aminnnn🙏🤗
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak bebkuhhhh😳🙏❤
total 1 replies
Alia Chans
mampir thor✍️👈
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🙏
total 1 replies
Siru06
mampir thor👍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!