NovelToon NovelToon
REPLAY

REPLAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Anyelir 02

Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.

Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.

Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.

Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 - Plan

Ehem!

Deheman dari ketiga pria dalam ruangan itu menyadarkan keempat wanita yang sedang asyik berpelukan, melupakan bahwa ada pasangan mereka yang sedang memperhatikan. Dipta yang tau tabiat istrinya jika sudah bertemu dengan adiknya sudah memaklumi. Hanya saja kali ini berbeda. Mereka melupakan 2 orang yang belum mengenal Nala. Lebih tepatnya lupa untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Bukankah hal itu tampak kurang sopan?

Agas dan Arsyad tak mengenal Nala, bahkan ini adalah kali pertama mereka bertemu. Namun mereka tau bahwa Nala adalah orang yang baik dan tampak cukup ramah. Melihat kedua calon istri mereka yang menyayangi Nala seperti saudara sendiri, mereka dapat menilai bahwa hubungan diantara para wanita itu cukup baik. Bahkan terlihat seperti keluarga sendiri. Kedekatan yang bahkan dalam keluarga sendiri belum tentu seperti mereka.

Sadar bahwa sedang diperhatikan, keempatnya melepaskan pelukan mereka. Nala nyengir saat melihat tatapan kakaknya yang sedang menajam itu. Sadar bahwa sudah berperilaku kurang sopan, Nala berdiri dan sedikit menunduk ke arah Agas dan Arsyad

“Maaf atas kelancangan saya yang datang dan masuk secara tiba-tiba. Bahkan saya lupa untuk memperkenalkan diri saya. Saya minta maaf atas sikap saya yang kurang sopan!” ujarnya. Dipta tersenyum bangga melihat hal itu. Ini adalah ajaran ayah mereka. Ayah mereka selalu mengatakan bahwa harus bersikap sopan dimana pun keberadaan keberadaannya.

“Tidak masalah, nona. Anda hanya sedang meluapkan emosi dan rasa rindu anda terhadap mereka.” ujar Agas yang mengerti bahwa Citra sangat rindu pada Nala

“Iya, tidak masalah nona. Bahkan tadi mereka bertiga masuk kesini dengan cara yang sangat unik. Bukan begitu, sayang?” ujar Arsyad terhadap Zara

Zara yang merasa tersindir hanya bisa meringis merasa bersalah. Dirinya tau bahwa tadi bersikap kurang sopan. Bahkan dirinya tidak meminta maaf atas sikapnya tadi. Tidak hanya Zara, Citra dan Maya pun merasakan hal yang sama.

Arsyad hanya menggelengkan kepalanya, memaklumi sikap kekasihnya. Jika yang berbuat bukan Zara mungkin orang itu sudah mengalami masalah, misalnya jika itu pekerja maka akan langsung dipecat tanpa alasan dan pesangon dan jika itu orang luar yang mencoba masuk maka bisa saja dia menghilang secara tiba-tiba.

“Oh iya, beb! Kenalin, ini sahabat tercinta kami yang baru saja pulang dari luar negeri. Devika Nala Arutala, biasa dipanggil Nala.”

Zara sangat semangat memperkenalkan sahabatnya. Nala hanya tersenyum sebagai responnya. Senyum sopan, tanpa maksud di dalamnya. Pandangan Nala menilai kedua calon suami sahabatnya. Hanya dalam sekilas, Nala sudah mampu melihat karakter keduanya. Tidak hanya itu, perlakuan mereka sejak tadi tak lepas dari matanya. Tataan cinta keduanya terhadap sahabatnya terlalu kentara untuk disembunyikan.

Nala mengulurkan tangannya untuk berjabatan.

“Senang bertemu kalian. Perkenalkan, saya Nala. Semoga mampu berteman dengan baik!” salam hangat Nala. Merasa mereka aman, maka Nala akan memperlakukan mereka dengan baik.

Arsyad menerima uluran tangan Nala dan berjabat tangan.

“Senang bertemu dengan Anda, nona Nala. Saya Arsyad dan ini saudara kembar saya Agastya.” Agas pun ikut menerima jabatan tangan itu. Agas dapat melihat bahwa ada yang tak biasa dari Nala.

Maya yang tau bahwa adik iparnya telah melakukan screening terhadap calon pengantin tertawa kecil. Namun, respon Nala yang hangat membuktikan bahwa karakter keduanya tidak ada yang salah, terlihat positif bagi Nala.

“Sini!” Citra menarik Nala agar duduk di sampingnya. Kemudian keduanya kembali berbincang banyak hal. Maya dan Zara pun ikut nimbrung dan kembali tak acuh terhadap sekitarnya.

“Kalian bisa lanjut mengobrol nanti, sebaiknya kita makan dulu. Lihat, makanan itu akan segera menangis jika tak kunjung di makan.”

Dipta sangat menghargai makanan. Apalagi Dipta meyakini bahwa istrinya dan adiknya itu belum makan. Maya dengan sejuta alasan dan Nala yang jika sedang lelah akan lupa untuk makan.

Dipta mengulurkan burger yang tersedia dan ia yakini bahwa itu pesanan Maya.

“Makasih, mas sayang!”

Maya menerimanya dengan senang hati. Arsyad dan Agas pun ikut suasana hangat itu. Mereka ingin mengenal Nala, sahabat baik calon istri mereka. Apalagi, Arsyad tampak tak asing dengan wajah Nala. Begitu pula dengan Agas. Nala tampak familiar di ingatan mereka, hanya saja mereka berdua tak ingat dimana mereka melihat Nala pertama kali.

...****************...

Waktu berjalan cukup cepat. Dipta yang melihat adiknya ingin mengambil soda, segera mencegahnya.

“Nala, cukup!”

Mendengar peringatan itu, Nala segera mengurungkan niatnya. Hanya saja dia memasang wajah memelas agar kakaknya luluh.

“Cukup Nala, kakak tau sejak tadi kau meminum minuman manis dan belum meminum air putih kan?” tebak Dipta. Dipta sangat tau bahwa adiknya ini sangat susah intuk meminum air putih. Selalu hanya ingin meminum minuman manis.

“Darimana abang tau?” Nala selalu heran, bagaimana kakaknya itu bisa mengetahuinya padahal dirinya tak menceritakan apapun. Bahkan mengatur wajahnya agar tak terlihat gugup dan takut.

“Jika kau lupa, abang jemput kau tadi bandara dan kakak dapat melihat apa saja yang kau pesan di kafe tadi Nala. Dan baru saja kau sudah meminum jus melon dan segelas soda. Itu sudah termasuk toleransinya untuk Nala.

Nala lupa bahwa kakaknya adalah mantan anggota kepolisian yang menangani bandit narkoba. Berbohong di depan Dipta adalah sebuah kesalahan.

Dipta mengulurkan botol minum yang berisi air putih yang tersedia di ruangan Arsyad. “Minum!”

Melihat aura dominan kakaknya yang tak bisa di ajak kompromi, Nala menerima saja dan meminumnya dengan setengah hati. Air putih sungguh musuh untuknya.

“Bagus!” puji Dipta saat melihat adiknya mau meminumnya, ya meskipun itu dengan setengah hati.

Agas dan Arsyad menggelengkan kepalanya melihat kakak-beradik yang sedang beradu mulut itu. Mereka merasa heran dengan keakraban mereka yang cukup aneh. Bahkan mereka yang kembar pun tak seakrab Nala dan Dipta.

“Oke, saatnya kita capcus pergi ngemal bareng!” Zara berucap dengan sangat semangat

“No!” ujar Maya dan Dipta berbarengan. Mana mungkin mereka berdua membiarkan Nala mengikuti Zara yang ingin belanja, sedangkan Nala baru saja sampai dan butuh istirahat.

“Kenapa?” Zara tak terima idenya ditentang seperti ini. Dirinya rindu berbelanja dengan Nala. Apalagi selera Nala itu sangat elegan dan sangat pas untuknya.

“Ini bocah baru sampai dan lo mau ajak di keliling mall? Yang benar aja!” Maya mana mungkin membiarkan adik iparnya ini harus mengikuti Zara yang jika sudah berbelanja sangat tak kenal waktu dan tempat. Dipta mengangguk setuju. Adiknya baru saja sampai dan harus digeret Zara?

Sedangkan Nala hanya menyimak. Lagipula, dirinya tau bahwa kakak dan kakak iparnya akan sangat membantu dirinya untuk menolak.

Zara yang mendengar itu segera melihat ke arah Nala. Dapat dilihatnya wajah lesu dan lelah Nala. Apalagi, Zara sangat tau bahwa Nala belumlah mandi dan tidur setelah perjalanan jauh.

“Baiklah, tapi besok harus ngemal. Sekalian fitting baju bridesmaid punya lo. Tinggal lo doang yang belum nyoba bajunya.”

Nala hanya mengangguk mengerti saja. Dirinya sudah tak memiliki tenaga untuk beradu mulut.

“Nala! Ya, besok kita ngemal bareng ya!” cerocos Zara

“Iya, iya. Kalau bisa tapi!”

Mendengar itu, Zara langsung cemberut. Namun dirinya tau, mungkin saja masih beristirahat. Jadi, mana mungkin dia terlalu memaksa.

Arsyad yang tau bahwa Zara masih ingin bermain pun memiliki ide. “Gini aja deh, lusa kita adain pertemuan dan kalian yang menyiapkan. Pertemuan keluarga buat membahas acara pernikahan kita. Kan keluarga kita belum mempertemukan keluarga besar kita kan?”

Mau menikah dan belum mempertemukan keluarga?

Terdengar aneh, namun itulah kenyataanya. Keluarga si kembar memang belum bertemu dengan ibu panti yang merawat calon istri mereka. Keluarga mereka hanya pernah bertemu dengan keluarga Maya dan Dipta sebagai perwakilan dari keluarga mempelai wanita.

“Pertemuan keluarga ya,” gumam Citra. Teringat bahwa mereka belum mengajak ibu panti untuk bertemu di acara keluarga membuatnya terpikir.

“Oh iya, Papa dan Mama belum bertemu dengan ibu panti ya,” ujar Zara

“Yap! Dan kalian juga belum bertemu dengan orang tuanya Bang Arya kan?”

“Ah, mereka sudah pulang?” tanya Citra

“Ya, kemarin lusa mereka datang. Mereka ingin bertemu dengan kalian.” ujar Agas

“Baiklah, sudah putuskan lusa kita adakan pertemuan keluarga lengkap!” girang Zara. Inilah yang selalu ia dambakan. Sebuah keluarga besar, keluarga yang ada dirinya di dalamnya.

1
Noona Rara
Aku mampir yah kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!