Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lihat Saja Nanti!
“Sudah tahu alergi udang tapi masih aja dimakan, kulitmu sudah seperti kulit orang penyakitan, Res.”
Ares tak memedulikan apa yang dikatakan oleh Leo- sahabat sekaligus dokter pribadinya.
“Tapi bekasnya yang mulai pudar ini bukan seperti alergi melainkan bekas ciuman wanita, yang nggak tahu akan berpikir kamu baru saja menghabiskan malam panas dengan beberapa wanita. Apalagi sekarang bekasnya cuma tersisa yang di leher.”
“Harap maklum, Dok. Ares itu suka banget sama udang tapi si udang justru jadi makanan terlarang. Tahu sendiri ‘kan apa yang terlarang itu justru semakin menantang, contohnya ….” Lian-sahabat Ares menimpali. “Seperti menikahi calon adik ipar sendiri.”
Ares langsung mendongak, menghunuskan tatapan tajam pada Lian yang hanya mengedikkan bahu.
Ia memang alergi udang, makan sedikit saja seluruh tubuhnya akan merah-merah, gatal dan perih. Butuh waktu berhari-hari untuk pulih tapi beberapa hari yang lalu Ares menghabiskan satu piring udang.
“Kalau memang menantang kenapa harus melarikan diri di malam pernikahan?” Leo terkekeh mengejek sambil membereskan barang-barangnya setelah memeriksa alergi Ares yang sudah hampir sembuh. “Jangan lupa oleskan obat luarnya biar nggak berbekas, kalau nggak orang akan ngira ada yang menghisap lehermu, Res.”
“Kamu nggak ngerti, Leo.” Lian yang sejak tadi duduk di sofa kini berdiri, ia menghampiri Ares yang kini memasang kemejanya kembali. “Tuan Ares yang terhormat ini ….” Dengan gerakan sensual, Lian menyentuh dada bidang Ares. “Takut nggak bisa menahan diri makanya memilih lari seperti pengecut.”
“Singkirkan tanganmu!” Ares menyingkirkan tangan Lian dengan kesal dari dadanya. “Sudah kubilang jangan sentuh aku.”
“Ya … ya … ya, Tuan yang paling benci skinship.” Lian terkikik melihat wajah kesal Ares tapi dalam sepersekian detik wajahnya langsung berubah serius, pria itu menatap mata Ares lalu berkata, “Sebenarnya ada hal penting yang mau aku katakan, Res.”
“Apa?” tanya Ares yang ikut serius, apalagi saat ini keduanya sedang menangani proyek yang bermasalah.
“Cewek nggak, cowok nggak, sebenarnya ke mana orientasi seksualmu?”
“LIAN!” Ares menggeram sementara Lian langsung terbahak-bahak, pun dengan Leo. Wajah Ares yang merah padam karena marah itu justru terlihat sangat lucu di mata kedua sahabatnya.
“Aku normal, sialan!”
“Normal kok masih perjaka padahal sudah 32 tahun. Oh, jangan-jangan kamu impoten ya?”
“Leo, punya obat yang bisa buat orang bisu?” Ares menatap Leo dengan tajam. “Berikan padanya.”
“Obat untuk buat orang bisu … nggak ada. Tapi obat untuk buat orang teriak di atas ranjang, banyak. Mau?”
“Matilah kalian berdua.” Ares mendesis tajam lalu meninggalkan ruang kerja Leo yang segera diikuti oleh Lian.
“Besok main golf?” tanya Lian yang yang langsung dijawab dengan gelengan oleh Ares. “ “Kenapa?”
“Istriku selalu nanya kapan aku pulang.” Ares tersenyum tipis lalu masuk ke mobil di mana sudah ada Vano- sopir sekaligus sekretaris pribadi yang menunggunya.
“Maksudnya?” teriak Lian yang tak diindahkan oleh Ares.
“Sudah dua minggu, Tuan Ares. Setiap malam Nyonya selalu bertanya pada Bi Mia kapan Anda akan pulang,” ujar Vano sambil melirik sang majikan yang tampak lelah.
Melarikan diri di malam pernikahan adalah tindakan konyol yang tidak pernah terbersit dalam pikiran Ares, tetapi memang benar apa yang Lian katakan, ia tidak sanggup menghadapi Lyra.
Wanita itu selalu menanti kepulangannya pasti hanya untuk membicarakan batasan-batasan dalam pernikahan mereka, bahkan mungkin akan menentukan kapan harus bercerai.
Ares masih belum bisa menemukan jawaban untuk apa yang akan Lyra katakan atau lakukan sebagai istrinya, sehingga ia berpikir sebaiknya menghindari wanita itu untuk sementara waktu.
“Apa malam ini dia bertanya lagi?” Ares membuka tabletnya lalu memantau cctv di rumah.
“Iya, seperti biasa.”
Ares tersenyum samar saat melihat tingkah Lyra di rumahnya. Saat di luar rumah, Lyra selalu berperan sebagai wanita yang cerdas dan anggun tapi saat di dalam rumah, wanita itu sering memperlihatkan sisi yang berbeda.
Saat duduk di sofa, Lyra sering duduk dengan sangat tidak sopan, bahkan tidak peduli dengan pakaiannya yang tersingkap, wanita itu juga sering keluar kamar dengan rambut yang acak-acakan seperti baru saja main jambak-jambakan, bahkan Ares pernah menemukan video saat Lyra kentut nyaring lalu cekikikan sambil menepuk perutnya.
Vano geleng-geleng kepala melihat tuan mudanya yang senyum-senyum sendiri, ia juga heran apa yang sebenarnya Ares inginkan dengan menghindari Lyra tapi selalu mengawasi wanita itu selama 24 jam.
Dinas di luar kota?
Itu adalah kebohongan yang sangat konyol karena kenyataannya Ares tinggal di hotel dekat rumah selama dua minggu terakhir, pria itu bahkan tidak keluar dari hotel kecuali ke rumah sakit sewaktu alergi karena makan udang, pria itu takut tidak sengaja berpapasan dengan Lyra.
“Ini main petak umpet atau bagaimana?” gumam Vano dalam hati. “Lagian sekarang sudah suami istri meskipun nikahnya rahasia dan terpaksa, tapi masa mau main kucing-kucingan seumur hidup?”
“Kenapa ke sini?” protes Ares saat menyadari Vano membawanya ke hotel.
“Memangnya ke mana lagi, Tuan?”
“Rumah.”
“Oh.”
Vano segera menancap gas lalu melajukan mobilnya ke rumah Ares dengan senang hati. Meskipun gajinya besar sebagai sekretaris pribadi Ares, tetapi ia cukup kesal karena sekarang pekerjaannya justru lebih sering mengawasi Lyra, Vano bahkan berpikir ia seperti seorang penguntit tapi versi premium.
Sesampainya di rumah, Ares langsung disambut oleh Bi Mia yang juga tampak lega dengan kepulangannya.
Bukan hanya Vano, Bi Mia pun tahu bahwa sang tuan tidak benar-benar dinas melainkan sembunyi seperti kucing yang baru saja mencuri seekor ikan, ia juga kesal karena harus selalu menjawab pertanyaan Lyra yang selalu sama setiap malam.
“Bagaimana keadaannya?”
“Baik, Tuan. Saya melakukan semua yang Tuan Ares perintahkan. Saya hanya memasak apa yang Nyonya minta, saya juga memasang di kamar seprei seperti yang Nyonya inginkan.”
Ares mengangguk mengerti. “Mungkin sekarang Nyonya sudah tidur, Tuan. Katanya lelah sekali hari ini.”
Ares kembali mengangguk lalu bergegas ke kamar di mana lampunya masih menyala terang.
“Ya Tuhan.” Ares sedikit terkejut melihat posisi tidur Lyra yang benar-benar tidak cantik. Selimutnya entah bagaimana berakhir di kaki ranjang, bantal guling juga terlempar ke ranjang.
Tubuh Lyra membentuk huruf X yang berantakan, satu kaki menggantung di tepi ranjang sementara kaki lainnya terselip di bawah bantal.
Rambut Lyra menyebar seperti sarang burung yang baru saja diterjang badai, kedua tangannya berada di atas kepala.
“Ck, tutup mulutmu, Lily.”
Ares meringis melihat mulut Lyra yang sedikit terbuka dan mengeluarkan air liur dari sudut bibirnya.
“Buka mulutmu saat menciumku saja.” Tiba-tiba Ares merasa sangat gemas dengan sosok di hadapannya itu. Posisi Lyra sekarang bukan seperti orang tidur melainkan seperti orang yang baru saja dilempar dari atas pesawat.
“Ternyata percuma.” Ares tertawa kecil karena mulut Lyra terbuka lagi setelah ia mengatupkannya.
Dengan hati-hati, pria itu membenarkan posisi tidur Lyra, ia memungut selimut lalu menyelimuti tubuh mungil istrinya hingga pandangannya tertuju pada jari Lyra yang terluka.
“Dasar ceroboh.”
Ares cemas, meski itu hanya luka kecil yang sama sekali tidak berbahaya, Ares tetap sangat cemas. Seandainya bisa, bahkan Ares tidak akan membiarkan seekor nyamuk pun menyentuh istrinya itu.
“Lain kali harus hati-hati, Lily.” Ares mengobati luka di jari Lyra, meniupnya dengan penuh kasih sayang. “Jangan biarkan dirimu terluka karena yang sakit itu aku.”
Setelah membalut luka Lyra, Ares berbaring di sisi wanita itu, memeluknya dengan erat tapi beberapa menit kemudian ia justru ditendang hingga terjatuh dari ranjang.
“Tidur aja tenaganya sekuat itu.” Ares menggerutu kesal lalu kembali naik ke ranjang tapi Lyra justru tampak terganggu dengan keberadaannya, bahkan dalam tidurnya Lyra menggerutu sambil mendorong Ares.
“Oke, malam ini aku tidur di ruang tamu.”
Ares bangkit dari ranjang, sekali lagi membenarkan selimut Lyra lalu mengecup kening, pipi dan bibir sang istri. “Tapi lain kali akan aku kuras tenagamu di ranjang ini, Lily. Lihat saja nanti.”
duh giliran ada gratisan langsung ok hehwhe
Kudukung kamu..
apa iya . hilangnya Ryan hari itu ulah ortunya lira