Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: "SIAPA COWOK ITU?!"
Restoran steik di kawasan Senopati itu baru saja menyajikan hidangan pembuka ketika ponsel Anaya di atas meja marmer bergetar sehebat gempa tektonik. Teman-teman alumni D3-nya sedang asyik tertawa, sementara mantan pacar Anaya yang duduk di ujung meja sesekali melemparkan senyum sok modisnya. Namun, semua keseruan itu mendadak lenyap dari radar Anaya begitu dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Drakula Purba is calling...
Anaya menelan ludah, buru-buru menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga sambil berjalan menjauh ke area koridor restoran yang agak sepi. "Ya, Pak Bima? Selamat malam sabtu." Anaya sengaja menekankan kata 'malam sabtu', berharap sang bos tau kalau dirinya mengganggu di waktu menjelang hari libur.
"Kembali ke kantor sekarang, Anaya," potong Bima tanpa basa-basi. Suaranya terdengar sangat dingin, berat, dan mutlak, jenis suara yang biasanya membuat para direktur senior langsung gemetaran di ruang rapat.
Anaya memutar bola matanya malas, meremas ujung blusnya dengan gemas. "Maaf, draf revisi anggaran kuartal tiga kan sudah saya kirim ke email Bapak tadi sore—ada apa ya pak?. Dan ini sudah jam delapan malam. Hari Sabtu pula. Jam kerja saya sudah selesai dari tiga jam yang lalu. Kalau ada revisi darurat, apa tidak bisa hari Senin saja, Pak?"
Di seberang telepon, terdengar suara dengusan sinis yang amat kentara. "Saya tidak menerima penolakan, Anaya Sandriana. Ada beberapa draf analisis risiko dari investor asing yang harus dicetak ulang dan ditandatangani malam ini juga. Kalau dalam waktu tiga puluh menit kamu tidak menampakkan batang hidungmu di ruangan saya, draf surat pemecatan tidak hormat atas nama kamu akan saya tandatangani detik ini juga."
"Pak Bima! Bapak jangan keterlaluan ya! Mana ada pecat karyawan sepihak cuma gara-gara gak mau lembur di malam minggu!" protes Anaya, suaranya naik satu oktav karena emosinya mulai tersulut.
"Tentu saja bisa," sahut Bima dengan nada narsisnya yang kelewat angkuh. "Saya bisa tulis di kolom alasan kalau kamu tidak kompeten dan melakukan pembangkangan terhadap perintah atasan. Kamu pikir, dengan riwayat pemecatan tidak hormat dari Bimantara Group, akan ada perusahaan lain di Asia Tenggara ini yang mau melirik CV kamu? Pikirkan baik-baik, Sekretaris Anaya."
Klik.
Sambungan diputus secara sepihak. Anaya menatap layar ponselnya yang menggelap dengan napas memburu karena dongkol setengah mati.
GUSTIIII! Sumpah ya, ini orang kalau bukan bos saya, udah saya ulek bareng cabai rawit sekilo! Egoisnya bener-bener udah melampaui batas atmosfer bumi! batin Anaya menjerit histeris sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
Anaya memang ingin resign, tapi bukan dengan cara yang tidak terhormat. Dia tetap ingin keluar dengan terhormat, karena tidak pernah ada yang tau masa depan. Siapa tahu dia butuh kembali bekerja. Akhirnya dengan berat hati dan senyum kecut yang dipaksakan, Anaya kembali ke meja makan, berpamitan pada teman-temannya—dan Arden yang menatapnya dengan dahi berkerut bingung—lalu segera memesan taksi daring untuk kembali ke gedung neraka berkedok kantor tersebut.
Tiga puluh menit kemudian, taksi yang membawa Anaya berhenti tepat di lobi Bimantara Tower. Suasana gedung setinggi lima belas lantai itu sudah sangat sepi, kontras dengan kegaduhan sore tadi saat Arden menjemputnya. Hanya ada satu atau dua lampu lobi yang menyala, ditemani seorang petugas keamanan yang menyapa Anaya dengan pandangan penuh simpati.
"Lembur lagi, Mbak Nay? Semangat ya," ujar pak satpam ramah.
"Iya, Pak. Nyari sesuap nasi sekalian menguji tingkat kesabaran iman," jawab Anaya pasrah sambil melangkah masuk ke dalam lift menuju lantai tiga puluh lima.
Gedung itu sudah sangat sepi saat Anaya tiba. Lorong kubikel lantai lima tampak gelap gulita, menyisakan satu-satunya cahaya yang memancar dari balik pintu ruangan CEO yang terbuka sedikit.
Anaya menarik napas panjang, menguatkan mentalnya, lalu mendorong pintu tersebut. "Selamat malam, Pak Bima. Saya—"
Langkah Anaya langsung terkunci di ambang pintu. Suasana di dalam ruangan sangat temaram. Bima tidak sedang duduk rapi di balik meja marmernya. Pria itu menyandar di kursi kebesaran CEO-nya dengan penampilan yang sudah sangat berantakan.
Tiga kancing teratas kemeja navy-nya terbuka lebar, mengekspos dada bidangnya yang atletis. Lengan kemejanya digulung asal-asalan hingga siku, dan di tangan kanannya, ada segelas wiski dengan es batu yang berdenting pelan. Aroma alkohol mahal berbaur dengan parfum amberwood yang pekat langsung menyergap indra penciuman Anaya.
"Sini, Anaya," panggil Bima, suaranya terdengar parau, berat, dan dipenuhi aura intimidasi yang pekat.
Anaya melangkah ragu-ragu mendekati meja. "Mana dokumen yang harus saya revisi, Pak? Biar saya kerjakan sekarang."
Bukan jawaban yang diterima Anaya. Begitu jarak mereka menyusut, Bima mendadak berdiri. Dengan gerakan kilat yang tidak terduga, tangan besar Bima mencengkeram pergelangan tangan Anaya, menarik tubuh wanita itu dengan satu sentakan kuat hingga Anaya kehilangan keseimbangan.
Ah!
Anaya terpekik shock saat tubuhnya mendarat tepat di atas pangkuan Bima. Pria itu kembali duduk di kursi kebesarannya, mengunci pinggang longgar kulot krem Anaya dengan kedua lengan kekarnya yang kokoh seperti belenggu besi.
"Pak Bima?! Apa-apaan ini! Lepas pak!" Anaya syok berat, jantungnya langsung maraton fana. Dia mulai berontak, memukul dada bidang Bima dan berusaha bangkit, namun pelukan Bima di pinggangnya justru semakin mengencang, menahan pinggul Anaya agar tetap terkunci di atas paha kekarnya.
Jarak mereka menghilang total. Anaya bisa merasakan deru napas Bima yang hangat dan beraroma wiski menerpa ceruk leher dan pipinya. Mata elang Bima yang biasanya berkilat angkuh, malam ini tampak meredup frustrasi, menatap Anaya dengan sorot posesif yang teramat liar.
"Diam, Anaya. Jangan banyak gerak kalau kamu gak mau saya bertindak lebih jauh," bisik Bima tepat di depan wajah Anaya, membuat wanita itu seketika merinding dan menghentikan gerakannya karena ngeri.
Bima mencengkeram dagu Anaya lembut namun penuh penekanan, memaksa mata hazel sekretarisnya untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang menggelap.
"Siapa dia, Anaya?" tanya Bima dengan nada suara yang bergetar menahan amarah dan cemburu yang membakar akal sehatnya. "Siapa cowok kekar yang jemput kamu pakai motor gede sore tadi, hah?!"
Anaya mengerjapkan matanya, masih berusaha mencerna situasi gila ini. "Pak, lepasin dulu! Itu bukan urusan—"
"Jawab saya, Anaya Sandriana!" bentak Bima rendah, mengeliminasi jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Suaranya terdengar sangat frustrasi, hancur, dan tidak sabaran. "Kamu bersikeras mau resign minggu lalu... apa cuma demi brondong ingusan yang suka pamer otot itu? Kamu mau ninggalin saya demi cowok modal jaket kulit itu?!"
Anaya tertegun. Untuk pertama kalinya selama lima tahun bekerja, dia melihat celah kerapuhan di balik topeng narsis sang CEO. Pria di bawahnya ini beneran sedang mengamuk layaknya dewa mabuk hanya karena salah paham soal hal remeh seperti ini.
Melihat wajah Bima yang memerah frustrasi dengan napas yang memburu di depan bibirnya, rasa takut Anaya mendadak berubah menjadi rasa ingin tertawa yang amat sangat.
"Pak Bima..." Anaya mengatur napasnya yang ikut memburu, tangannya kini berhenti memukul dan beralih bertumpu di bahu kokoh Bima untuk menyeimbangkan tubuhnya. "Bapak sengaja neror saya pakai draf pemecatan, maksa saya balik ke kantor malam-malam, terus meluk saya kayak gini... cuma gara-gara cemburu sama cowok itu?"
"Saya tidak cemburu!" sangkal Bima cepat dengan ego narsisnya yang setinggi langit, meski pelukannya di pinggang Anaya sama sekali tidak melonggar. "Saya hanya tidak suka aset penting saya diganggu oleh orang luar."
Anaya tersenyum tipis, sebuah senyuman kemenangan yang membuat Bima terpaku sesaat. "Asal Bapak tahu ya, cowok kekar bermotor gede yang Bapak maksud itu... namanya Arden. Dia adik kandung saya sendiri, satu bapak, satu ibu!"
Keheningan seketika menyelimuti ruangan CEO yang mewah itu. Gelas wiski yang dipegangnya kini mendadak terasa berat, karena tangannya melemas.
Bima mematung sempurna. Tatapan frustrasinya langsung berubah menjadi kedipan polos yang super kikuk. Belenggu tangan kekarnya di pinggang Anaya mendadak melemas, menyadari bahwa seluruh draf cemburu buta dan kemarahannya sejak sore tadi baru saja hancur lebur menabrak kenyataan.
"A-adik...?" Bima mengulang dengan wajah yang mendadak berubah menjadi sangat salah tingkah.
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...