NovelToon NovelToon
Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

​"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"

​Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.

​Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.

​Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:

​Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.

​Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.

​Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!

​Ketika para dewi sekte suci d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Barisan Hewan Buas dan Etika Meng antre

​Halaman rumah Ye Xuan kini tampak seperti kebun binatang paling tertib di dunia. Ribuan hewan buas, mulai dari Macan Tutul Api yang ekornya masih membara hingga Elang Raksasa yang hinggap di pagar bambu, semuanya duduk diam. Mereka tidak berani mengaum, bahkan napas mereka diatur sedemikian rupa agar tidak menghembus debu ke arah kuali Ye Xuan.

​"Nah, begitu! Kalau mau makan harus sopan!" seru Ye Xuan sambil mengelap keringat dengan handuk kumal. "Pak Tua, itu Singa Berambut Emas di pojok kiri, jangan kasih porsi besar dulu, dia tadi kulihat sempat mau menyerobot antrean!"

​Ao Guang, yang tangannya sudah pegal karena membagikan kuah sayur bening, hanya bisa mengangguk pasrah. "Baik, Senior. Tapi... ember kita sudah habis. Macan-macan ini mulai menjilati piring kayu bekas kucing-kucing hutan."

​Ye Xuan menoleh ke arah para Koki Kultivator yang masih terpaku melihat fenomena itu. "Kalian! Jangan cuma berdiri seperti patung! Katanya ahli masak? Cepat bantu Pak Tua bagikan makanan! Dan kalian para peramal, kalau tidak mau membantu, setidaknya bantu cuci piring bekas hewan-hewan ini!"

​Para koki dan peramal itu tersentak. Meminta seorang Grand Master Astrolog untuk mencuci piring bekas liur Serigala Perak? Di dunia luar, itu adalah penghinaan yang bisa memicu perang antar sekte. Namun di sini, di bawah tatapan tajam Ye Xuan (dan ribuan hewan buas yang lapar), mereka merasa itu adalah sebuah kehormatan suci.

​"Siap, Master! Kami akan mencuci setiap piring hingga bersinar seperti bintang!" teriak para peramal sambil berebut sabun colek.

​Di tengah kesibukan itu, seekor Rubah Ekor Sembilan yang legendaris—makhluk yang konon bisa menghancurkan sebuah kota dengan sekali kibasan ekor—mendekati Ye Xuan dengan langkah gemulai. Ia mengeluarkan suara merintih kecil, matanya yang indah menatap kuali Ye Xuan dengan penuh harap.

​"Oh, kau mau tambah?" Ye Xuan mengambil secentong bayam terakhir. "Kasihan, kau kelihatannya kurus sekali. Ini, makanlah. Tapi jangan bilang-bilang yang lain, ya, nanti mereka iri."

​Begitu rubah itu memakan bayam tersebut, sebuah ledakan energi suci keluar dari tubuhnya. Ekornya yang tadinya sembilan tiba-tiba tumbuh satu lagi, menjadi Ekor Sepuluh—tingkat yang bahkan hanya ada dalam dongeng kuno. Rubah itu bersujud di kaki Ye Xuan, menjilat sandalnya sebagai tanda pengabdian abadi.

​"Lihat itu! Master baru saja menciptakan Leluhur Binatang Suci hanya dengan makanan sisa!" bisik seorang koki dengan tangan bergetar saat mencuci wajan.

​Ye Xuan justru menggerutu. "Aduh, Rubah ini... air liurnya lengket sekali di sandalku. Pak Tua! Ambilkan kain lap! Kenapa sih hewan-hewan di sini hobi sekali bersujud? Apa mereka tidak pernah diajarkan cara bersalaman yang benar?"

​Sore pun tiba. Setelah semua hewan kenyang dan mulai kembali ke hutan dengan damai (beberapa bahkan membantu merapikan pagar yang sempat miring), Ye Xuan duduk di kursi goyangnya dengan perasaan lega.

​"Akhirnya sepi juga," gumamnya.

​Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa detik. Dari kejauhan, terdengar suara terompet emas yang menggelegar. Sebuah kereta kencana yang ditarik oleh sembilan kuda terbang mendarat dengan kasar di depan rumahnya. Seorang pria dengan jubah naga kuning yang sangat megah keluar dengan wajah panik.

​"Siapa yang telah menjinakkan seluruh hewan suci di hutan kerajaanku dalam satu siang?!" teriak pria itu, yang ternyata adalah Kaisar Langit Barat.

​Ye Xuan memutar bola matanya, hampir ingin melempar sandalnya ke arah pria itu. "Aduh, apalagi sekarang? Pak Tua, tolong bilang padanya kalau jualan sayur sudah tutup! Kalau dia mau ribut, suruh dia bantu cuci piring yang belum selesai dikerjakan para kakek peramal itu!"

​Ao Guang gemetar. "Senior... itu... itu Kaisar. Dia yang punya negara ini."

​"Aku tidak peduli dia punya negara atau punya pabrik kerupuk," sahut Ye Xuan konyol sambil menutup wajahnya dengan caping untuk tidur siang. "Di rumah ini, yang punya aturan adalah yang pegang spatula. Suruh dia antre besok pagi!"

1
Pecinta Gratisan
semangat💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!