NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Hari yang ditentukan akhirnya tiba. Ruang VIP rumah sakit disulap menjadi tempat yang lebih rapi, meski aroma antiseptik masih tercium samar di antara harum bunga melati yang menghiasi meja akad.

Xena berdiri di depan cermin besar, dibantu oleh Dwi yang sedari tadi tak henti-hentinya menghela napas.

Xena tampak sangat anggun mengenakan kebaya putih sederhana berbahan brokat halus.

Wajahnya dipulas riasan tipis yang natural, namun tak mampu menyembunyikan gurat keletihan dan keraguan di matanya.

"Kamu cantik banget, Xen. Tapi kalau kamu mau lari sekarang, aku siapin mobil di lobi," bisik Dwi sambil merapikan sanggul kecil Xena.

Xena hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih mirip sebuah pamitan pada kebebasannya sendiri.

"Semuanya sudah terlambat, Dwi. Doakan aku saja."

Di sisi lain, Prabu sudah duduk di hadapan penghulu dan ayahnya.

Ia mengenakan jas hitam formal yang pas di tubuhnya yang masih tampak kurus.

Alih-alih raut bahagia atau tegang selayaknya pengantin pria, wajah Prabu justru tampak sangat angkuh dan dingin.

Matanya menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang kosong, seolah ia hanya sedang menjalankan prosedur penerbangan yang membosankan.

Ayah Prabu bertindak sebagai wali hakim mengingat ayah Xena sudah tiada.

Suasana seketika menjadi sangat khusyuk dan berat saat penghulu meminta Prabu menjabat tangan wali.

"Saudara Prabu Anindito bin Surya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Xena Areta binti almarhum Edwin dengan mas kawin sepuluh juta rupiah dibayar tunai," ucap ayah Prabu dengan suara yang sedikit bergetar.

Prabu menjabat tangan itu dengan kuat, suaranya terdengar lantang namun tanpa emosi sedikit pun, menggema di ruangan yang sunyi itu.

"Saya terima nikah dan kawinnya Xena Areta binti almarhum Edwin dengan mas kawin sepuluh juta dibayar tunai."

"Sah?"

"Sah!"

Kata itu meluncur dari para saksi. Di sudut ruangan, Xena memejamkan mata sesaat.

Sebuah ikatan resmi kini telah terjalin. Secara hukum dan agama, ia bukan lagi sekadar dokter bagi Prabu, melainkan istrinya. Namun, saat ia melihat ke arah Prabu setelah doa selesai dibacakan, pria itu sama sekali tidak menoleh padanya.

Prabu justru melepaskan jabatan tangannya dengan kasar dan kembali bersandar pada kursinya, menatap langit-langit seolah baru saja menyelesaikan sebuah transaksi bisnis yang tidak menyenangkan.

Setelah doa penutup diaminkan, suasana haru menyelimuti ruangan itu—kecuali bagi Prabu.

Ayah Prabu bangkit, lalu berdiri di hadapan putranya yang masih duduk dengan sisa-sisa keangkuhan di wajahnya.

Beliau meletakkan tangan di bahu Prabu, meremasnya kuat-kuat.

"Prabu," suara sang ayah terdengar rendah namun penuh penekanan.

"Menjadi laki-laki bukan hanya soal menerbangkan pesawat di langit, tapi juga soal bertanggung jawab pada keputusan yang sudah diambil. Jaga Xena. Dia bukan hanya istrimu sekarang, dia adalah orang yang menyerahkan seluruh hidupnya demi melihatmu tegak kembali. Jangan kecewakan Ayah lagi."

Ibunya pun mendekat, memeluk mereka berdua dengan air mata mengalir.

"Ini kunci rumah di kawasan Sentra, hadiah pernikahan kalian. Tante—maksud Mama—harap kalian bisa memulai lembaran baru di sana. Xena, tolong bersabar dengan putra Mama."

Xena hanya bisa mengangguk kecil, namun belum sempat ia mengucapkan terima kasih, Prabu tiba-tiba berdiri.

Wajahnya yang kaku tidak menunjukkan rasa syukur sedikit pun.

Tanpa aba-aba, ia menyambar pergelangan tangan Xena dengan kasar.

"Kita pergi sekarang," desis Prabu.

"Prabu! Sopan sedikit pada istrimu!" tegur ayahnya.

Prabu tidak peduli. Ia menarik Xena keluar dari ruangan itu, melewati lorong rumah sakit dengan langkah lebar yang memaksa Xena setengah berlari untuk mengimbangi.

Dwi yang melihat dari kejauhan hanya bisa menatap cemas, namun tak bisa berbuat apa-apa karena status mereka yang kini sudah resmi.

Prabu membanting pintu mobil, memaksa Xena masuk ke kursi penumpang sebelum ia sendiri melompat ke kursi kemudi.

Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota menuju alamat rumah pemberian orang tuanya.

Suasana di dalam mobil begitu mencekam; hanya ada suara deru mesin dan napas Prabu yang memburu karena amarah.

Namun, di tengah perjalanan yang belum sampai ke tujuan, Prabu tiba-tiba menginjak rem dengan mendadak.

Ban mobil berdecit keras saat ia menepi di pinggir jalan yang sepi.

"Puas kamu?!" teriak Prabu tiba-tiba.

Ia berbalik, mencengkeram erat lengan Xena hingga kuku-kukunya memutih. Matanya berkilat penuh amarah yang meledak.

"Ini yang kamu mau, kan? Menjadi nyonya di hidupku? Merasa menang karena sudah berhasil mengikatku dengan kertas sialan itu?"

"Pra... sakit..." rintih Xena. Ia mencoba melepaskan cengkeraman tangan Prabu yang begitu kuat di lengannya.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, bukan hanya karena nyeri fisik, tapi karena luka di hatinya yang kembali disayat oleh pria yang sama.

"Sakit?" Prabu tertawa hambar, wajahnya mendekat ke arah Xena.

"Rasa sakitmu nggak ada apa-apanya dibandingkan kehancuran yang aku rasakan karena dipaksa menikah denganmu! Jangan pernah berharap ada cinta di rumah itu, Xena. Kamu cuma perawat yang punya status istri, nggak lebih!"

Prabu melepaskan cengkeramannya dengan kasar, meninggalkan bekas kemerahan di kulit putih Xena.

Tanpa sepatah kata pun lagi, ia kembali menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu mobil menuju rumah mewah yang kini menjadi penjara bagi mereka berdua.

Sesampainya di sana, Prabu turun tanpa menunggu Xena.

Ia melangkah lebar memasuki ruang utama rumah yang masih beraroma cat baru itu. Ruangan yang seharusnya terasa hangat sebagai rumah pengantin baru, justru terasa sedingin es.

Prabu berhenti di tengah ruangan, lalu berbalik dengan tatapan yang sangat merendahkan.

"Ingat satu hal," ucap Prabu dingin sambil menunjuk ke arah sebuah ruangan kecil di dekat koridor utama.

"Kamarmu ada di sana, di ruang tamu. Jangan pernah lancang menginjakkan kaki ke lantai atas atau masuk ke kamarku."

Xena tertegun. Ia menatap kamar yang ditunjuk Prabu—sebuah kamar tamu yang jauh dari kamar utama.

"Dan ingat," lanjut Prabu dengan nada yang menusuk, "di rumah ini, kamu bukan siapa-siapaku! Jangan bertingkah seolah kamu punya hak atas diriku hanya karena status di atas kertas itu."

Setelah mengucapkan kalimat pedas itu, Prabu melangkah pergi menaiki tangga tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan Xena yang berdiri mematung di tengah kesunyian ruang utama yang luas.

Xena menghela napas panjang, mencoba menahan sesak yang seolah menghimpit dadanya.

Ia sudah menduga ini akan terjadi, namun mendengarnya langsung dari mulut Prabu tetap saja terasa seperti ribuan jarum yang menusuk jantungnya.

Perlahan, ia melangkah menuju kamar yang ditunjuk tadi.

Ia menyeret koper besar berisi pakaian dan perlengkapannya yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Dwi.

Di dalam kamar yang asing itu, Xena duduk di tepi ranjang.

Ia membuka kopernya, menatap tumpukan pakaian di dalamnya yang tersusun rapi—sebuah persiapan untuk hidup baru yang ternyata dimulai dengan pengasingan.

"Sabar, Xena. Kamu di sini untuk menyembuhkannya, bukan untuk dicintai," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menguatkan hati yang sebenarnya sudah sangat rapuh.

1
Nur Asiah
sepertinya perjalanan meraih cinta Xena masih panjang,prabu semangat
Alex
ini hari libur Thor, knpa bawangnya sebanyak ini😭😭😭😭😭
Nur Asiah
setelah kesekian bab aku baja akhirnya nyesek juga rasanya,selamat prabu impianmu kembali dengan lepasnya Xena darimu
Rian Moontero
lanjooott👍👍
miesui jazz jeff n jexx
sgt bgs...
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
kapok kamu pra
wwkwkwkwk
Alex
xena😭😭😭😭
Alex
kok kmu yg nonjok sih pra, harusnya ku tonjok duluan atau ku benturkan palamu di karang yg ada di pantai biar agak encer🤭
gemes bgt sama nie orang dech
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Alex
pra, kmu mau ku getok pakai palu apa pakai kentongan, heran dech, emosi Mulu 😄
my name is pho: sabar kak🤭🥰
total 1 replies
Alex
siap menunggumu untuk lari aku pra, hbis itu Xena akn meninggalkanmu
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
Alex
awas gue tandain loe prabu
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!