Sarti gadis cantik berasal dari Desa Lengi, di saat usia nya yang baru saja lima belas tahun, ia terpaksa merantau ke ibu kota untuk mengadu nasib,
" ibu neng berangkat dulu ya, Ibu sama Bapak jangan khawatir neng pasti baik baik saja." ucap Sarti seraya memeluk wanita paruh baya dan berpakaian lusuh bahkan kain jarik nya pun sudah robek.
" lya neng Hati Hati ya, maaf kan Ibu belum mampu membahagiakan kamu nak."
" tidak apa apa Ibu neng akan kerja ke kota, untuk masa depan kita Ibu." ucap Sarti seraya menyeka bawah mata nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenvyy27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Nia
" Mak tolong perut ku sakit sekali. " ucap nia seraya meringis menahan sakit.
" Sabar coba aku periksa dulu, ayo baring kan tubuh mu." ucap mak Tukinem.
Nia yang tidak punya pikiran lain, ia hanya fokus dengan rasa sakit nya, Tentu saja ia nurut dengan apa yang di perintah kan oleh mak Tukinem itu, Mak Tukinem pun memulai memeriksa nia dengan menyentuh perut buncit nia.
" Lucuti celana mu, Sudah mau lahiran kok masih pakai celana ganti dengan kain jarik." ucap mak Tukinem itu.
" Baik mak." ucap nia seraya meraih kain jarik di sisi nya.
Setelah itu mak Tukinem pun memeriksa bagian intim nia.
" Wah ternyata kamu sudah mau lahiran itu bagian kelapa bayi mu sudah kelihatan." Ucap mak Tukinem,
Tapi nia merasa heran karena suara mak Tukinem beda dari sebelum nya, nia pun melirik ke arah wajah mak Tukinem..!
" Ka- kamu siapa??? mana mak Tukinem. " ucap nia dengan nada menggetar, karena wanita yang di hadapan nya bukan mak Tukinem melain sosok wanita berwajah pucat pasi, dengan pakaian putih dan lusuh.
Wanita berwajah pucat pasi itu hanya menyeringai dan tangan nya mulai menyentuh kepala bayi nia,
" Tolong. " teriak nia dengan sisa tenaga nya.
" Aaarrgghhh." jerit nia mata nya mendelik saat bayi nya di tarik paksa oleh sosok wanita itu.
Kreek.. bunyi renyah seperti mengunyah tulang terdengar jelas oleh nia, nia yang hampir kehilangan kesadaran nya ia berusaha membuka mata nya.
" ARRGGHHH." teriak nia saat melihat sosok wanita itu sedang mencabik organ tubuh bayi nya.
"Juragan kok lama sih, Harus nya sudah lahiran. " Ucap lukman terlihat jelas ia tampak gelisah.
" Iya Man bagai mana kalau saya lihat saja." ucap tarjo.
" Iya juragan coba lihat kok perasaan saya tidak enak." sahut lukman.
Pak tarjo pun membuka pintu kamar nia,
" Aawww...! ." Jerit pak tarjo saat melihat apa yang di depan mata nya,
Nia sudah keadaan tewas dengan kondisi isi perut sudah berceceran, kedua mata nya mendelik, Sedang kan di sisi tubuh nia ada kepala bayi dan bagian tubuh nya sudah tercabik, darah memenuhi lantai kamar nia, dan sosok mak Tukinem tidak ada lagi di kamar itu.
" Nia..! " Teriak pak tarjo, Seketika rumah pak tarjo pun ramai beberapa tetangga berdatangan.
" Lukman siapa yang kamu bawa tadi.?" Teriak pak tarjo.
" Juragan kan lihat mak Tukinem yang ku bawa." ucap lukman ketakutan.
" Ke matian nia pun tersebar di Desa itu membuat para wanita yang sedang hamil ketakutan.
Karena penasaran lukman sampai datang ke rumah mak Tukinem,
" Loh mak Tukinem sudah meninggal satu bulan yang lalu mungkin lebih." ucap tetangga mak Tukinem, Lukman hanya terpaku.
" Emang kenapa kang.?."
" Tii dak teh tidak apa apa kalau begitu saya pamit." ucap lukman seraya buru buru pergi,
" Pantas aja waktu di jalan aku merasa tidak enak, ternyata yang ku bonceng itu demit." gumam lukman, ia langsung pulang kerana istri nya juga sedang hamil enam bulan,
Kabar teror wanita berwajah pucat sudah sampai ke telinga satria dan juga sukma, mereka dapat kabar dari ica yang tidak biasa nya ica datang ke rumah sukma,
" Yang benar kamu ca." tanya satria.
" Iya bang korban pertama nya si nia istri ke empat juragan tarjo, gara gara itu wanita yang sedang hamil pada ketakutan." ucap ica, Sukma hanya saling tatap saja dengan satria,
" Seperti nya itu karma buat pak tarjo." sambung ica.
" Loh kok gitu sih bukan nya pak tarjo paman mu ya." sahut sukma,
" Iya Paman ku tapi aku malu punya paman seperti dia, dulu kak Sarti yang dia kejar." sahut ica.
" Kakak ku sudah meninggal ca." ucap satria.
" Hah meninggal bukan nya kak Sarti di kota, jangan bercanda dong." ucap ica seakan ia tidak percaya.
" Kakak ku sudah meninggal dan sedang hamil, jujur saja ica saya curiga dengan Paman mu, karena saya lihat kaka ku di bawa ke dalam hutan oleh dua orang pria kaka ku di bunuh di dalam hutan itu dan sampai saat ini jasad nya belum di temukan." ucap sukma.
" Hmmm, apa kalian butuh bantuan.!?." Tawar ica jujur saja ia merasa tidak enak hati kepada sukma dan juga satria,
" Kamu selidiki apa kah Paman mu main dukun, Maksud ku seperti muja untuk kekayaan." ucap Dion yang baru tiba.
" Ini abang ipar ku suami kak Sarti." ucap sukma.
" Iya aku sudah pernah melihat nya waktu itu lewat di depan rumah ku bersama bang satria, Baik lah aku akan cari tahu." ucap ica.
Setelah itu ica pun pulang.
" Bang Desa sunyi di teror tapi hanya neror wanita yang sedang hamil saja, dia menyerupai mak Tukinem." ucap sukma.
" Mungkin itu karma buat pak tarjo." sahut Dion datar, tubuh nya semakin kurus, bahkan bawah mata nya sudah terlihat lingkaran hitam,
" Aku mau ikut mencari Sarti." sambung Dion.
" Tapi bang hutan itu tidak aman untuk mu." sahut sukma.
" Aku tidak peduli, aku harus menemukan istri ku walau pun itu hanya tinggal tulang nya, pokonya aku ingin ikut." ucap Dion kukuh.
" Aku juga ikut." sahut satria,
" Baik lah malam ini kita ke hutan itu." sahut sukma.
Dion dan satria sudah siap, bahkan di pinggang nya Dion sudah tersemat golok panjang, dulu golok itu untuk menebas batang kopi yang sudah tidak berbuah lagi oleh abah, tidak hanya golok saja Dion juga membawa parang, seakan ia sudah siap jika ada yang menyerang nya, Seteleh itu ketiga nya berangkat, mereka jalan dengan keadaan gelap langkah mereka hanya mengandalkan cahaya dari bulan saja yang tidak begitu terang, Dion jalan begitu semangat seraya memikul parang ! Sepanjang jalan suara aneh terdengar seperti mengikuti langkah ketiga nya, tapi Dion sama sekali tidak takut,
Sedang kan ica ia sudah ada di rumah pak tarjo.
" Tumben kamu ke sini ica." tanya buk Jumi istri pertama pak tarjo ketus.
" Aku mau ketemu fani, emang nya aku tidak boleh kesini." sahut ica tak kalah ketus nya seraya menuju kamar fani.
" Wah syukur lah kamu kesini kak ica nginap ya." ucap fani ramah.
" Iya dong aku kesini kan mau nginap." sahut ica seraya duduk di atas ranjang empuk milik fani,
" Kak aku mau cerita dong, Tapi jangan cerita horor ya aku takut." sahut ica.
" Justru aku mau certia horor, ini soal bi nia."
" Hust jangan ngomongin orang yang sudah meninggal itu tidak baik." ucap ica
" Bukan ngomongin tapi ini fakta, setelah bi nia meninggal rumah ini jadi horor tahu, ada saja suara aneh dari kamar bi nia, iih seram." ucap fani seraya pindah duduk di samping ica.
Dan tiba tiba saja lampu di kamar fani mati begitu saja, tentu saja mengejutkan dua dara itu.
" Kakak." bisik fani seraya mengapit lengan ica,
" Aliran mungkin ayo kita keluar." ucap ica,