Hari itu dimana aku salah memilih dan bersikeras walau orang tua ku melarang dan memperingatkan atas apa yang ku pilih.
aku hidup dengan status baru sebagai seorang istri, dimana aku harus selalu berusaha menutupi apa yang ku rasakan.
Hingga dimana hidup ku bagai di ujung jurang neraka yang menjelma di dalam bumi,
rasa ingin mengakhiri waktu untuk diriku sendiri.
sayang Tuhan masih baik mengirimkan perantara untuk hidup ku.
hari hari ku masih dengan segala pertanyaan hingga ayah ku datang ke rumah ku dengan seribu misteri jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra Badrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semarang
"Hari ini kita ada pelatihan di Balai Pusat Pelatihan, jangan terlalu sore nanti ya, aku mau berkunjung ke suatu tempat, aku begitu nyaman ketika singgah di Jawa Tengah, aku ingin datang ke rumah Mbah ku, terserah kalian mau kemana gaes"
Bunga sangat senang ketika di kirim untuk pelatihan dan menjalan kan dinas meninggal kan ibu kota, suatu kesempatan yang patut di syukuri bisa mendapat bimbingan yang tidak semua bisa dapatkan, sebagai akses untuk mengembangkan karir nya di masa depan kelak.
"Mbah.... ". Wanita tua yang duduk di bangku halaman rumah menoleh ketika ada yang menyapa nya seperti suara yang di rindukan sejak lama.
"Cah ayu, melebu kene kapan sampe Semarang ora ngabari Mbah, Ben di jemput mas mu oo"
( cah ayu, masuk sini, kapan sampai Semarang kok ngak kabarin Mbah, biar di jemput mas mu ),
pelukan hangat yang di rindukan di dapatkan Bunga, "Mbah aku sampai Semarang kemarin malam, aku tinggal di mess yang di sediakan oleh kantor".
Nenek bunga yang tinggal bersama adik dari ratna, begitu mengasihi bunga sejak dulu, cucu paling ia kasihi, dahulu sewaktu masih kuat, nenek Bunga sering datang ke ibu kota singgah di rumah Bunga begitu lama, untuk menemani cucu kesayangannya, mengantar sekolah bahkan bermain bersama, wajar ketika usia nya tidak lagi kuat untuk bepergian jauh, Mbah murni begitu merindukan sang cucu yang begitu ia sayangi itu.
"Piye kabar mu ndok ? Wis gadis cantik"
( Gimana kabar mu? Udah gadis, Cantik )
Bunga tidak melepas pelukan nya dari Mbah Murni,
"wes toh Ojo di peluk terus, melebu yoo mangan sek" ( udah jangan di peluk terus, masuk Ayuk makan dulu) ajak Mbah murni di tuntun Bunga masuk ke dalam.
"Mbah ngak mau tinggal di Jakarta bersama Bunga dan Ibu ? Ibu pasti senang ada Mbah di rumah, ada teman ibu juga"
Setiap bertemu percakapan bunga selalu mengajak Mbah murni untuk pindah ke rumah nya.
Mbah murni menyuapi makanan ke Bunga dengan telaten seperti dulu waktu bunga duduk di bangku sekolah dasar, " enak ndok",
" Mbah masak sendiri ini ?" apapun yang mbah masak selalu enak untuk Bunga, tidak ada yang gagal untuk rasa
"Disemarang sampai kapan ndok? Menginap lah disini tidur bersama Mbah". tanya Mbah murni berharap bunga bisa bermalam di rumah kecil penuh kenangan untuk Mbah murni, obrolan mereka melepas rindu di barengi suapan demi suapan dengan telaten mbah murni menyuapi nya seperti menyuapi anak kecil yang dulu biasa ia momong dengan penuh kasih.
"Bunga ingin sekali tinggal di kota ini mbah, Semarang adalah salah satu kota yang ku cita citakan di hari tua nanti, entah kenapa begitu lekat di batin bunga Mbah, nyaman tapi bunga seperti masih mencari kota lain yang ada di Jawa Tengah ini".
"Pulang lah kapan pun kamu ndok, Mbah selalu menunggu bayi kecil Mbah, sampai kapan pun selama Mbah masih sehat ndok"
Tidak ingin melewatkan sedetik pun Bunga dari pandangan Mbah murni, kemana pun gerak sang nenek selalu di pandang nya di usia yang sudah bonus dari tuhan Mbah murni masih terlihat gesit, usia delapan puluh satu tahun Mbah murni masih lihai beraktifitas layak nya wanita paruh baya lain nya
Hari mulai senja matahari terbenam begitu indah tampak dari halaman rumah Mbah murni, bunga duduk sambil menikmati susu panas kesukaan nya buatan dari Mbah murni, sejenak lupa akan liku kehidupan yang sedang menerpa setiap waktu berjalan.
Begitu nyaman aku sampai terlena dengan ke tenangan disini "andai aku berani mengambil keputusan yang egois aku ingin lari meninggalkan ibu kota dan pindah ke sini".
Batin bunga tak hengkang untuk hidup tanpa harus memikirkan yang lain.
"Jangan terlalu di pikirkan ndok, setiap umat manusia mempunyai porsi kebahagian dan kapasitas untuk berjuang, apapun itu hasil nya nanti. Kamu tuh tidak sendiri, begitu banyak yang menyayangi mu menginginkan hidup mu bahagia".
Bunga tersentak dalam lamunan nya, kaget ketika Mbah murni mengetahui apa yang di pikirkan sedari tadi.
panggil nya lirih "mbaaahhh......"
"Cucu ku udah dewasa, Mbah memperhatikan dari jauh jiwa mu bijaksana cah ayu, perhitungan mu dalam mengambil keputusan begitu matang, jangan karena cinta dirimu lemah. Jalani sesuai takdir yang tersurat, kau begitu istimewa untuk kami".
"Mbah....... Tapi......."
ringkik bunga pelan yang di mengerti Mbah murni,
"Cah ayu, kau datang kemari Mbah tau ada yang di tanyakan tentang mereka dan ingin bercerita tentang hubungan mu dengan anak laki laki itu, Mbah ngerti ndok".
Dengar nasehat Mbah jika kamu masih ingin tau jawab nya!
Bunga menunggu Mbah murni melanjutkan kalimat nya dengan tatapan serius, sampai tidak sadar ponsel nya berkali kali mendapat panggilan telepon.
"Di dunia ini kita tidak selalu harus berpasangan, menikah untuk bahagia cah ayu, berbagi suka dan duka bukan untuk kepentingan pribadi masing masing. berbeda dengan setiap insan manusia yang berdampingan, siapa pun pasti berdampingan baik berteman atau berhubungan baik, ataupun berdampingan antara manusia dengan makhluk lain ciptaan Gusti Allah cah ayu.
Kau tidak perlu risau dengan hal itu, jadi lah dirimu sendiri sebagaimana yang sudah kau tanaman sejak kecil, anak yang percaya diri, ramah, tekun dan ulet, kau cantik cah ayu, baik budi mu jangan kau menentang takdir mu sendiri.
Jodoh mu sedang di persiapkan dengan layak sesuai dengan kebutuhan hidup mu di dunia ini."
Mbah murni memeluk sang cucu membelai rambut hitam pekat dengan penuh kasih sayang yang tulus asli dalam hati, membuat bunga tenang dalam lena buaian nasehat nenek yang tinggal sematang wayang dalam hidup nya.
"Ndok, kau pun tidak perlu takut dengan mereka yang menemui mu dalam alam bawah sadar mu, mereka sejak kau lahir sudah menemani mu, mengasihi mu, menjaga mu tapi kau tidak boleh menduakan Tuhan Allah mu.
karena itu sama dengan kau menyembah berhala yang di tentang hukum titah berlalu bagi manusia ciptaan Nya".
"Eyang Putri adalah khodam pendamping Mbah yang turun pada mu, sejak kau lahir, beliau tidak menyukai manusia yang serakah, tamak dan memiliki hati juga pikiran jelek. Berdoalah kau bisa seimbang dengan kehidupan mu kedepan ndok"
Kegelisahan di hati Bunga berangsur membaik, mendengar begitu panjang nya nasehat Mbah murni untuk nya, ingin terus seperti ini tapi mustahil bagi bunga, karena hidup nya terus berjalan dengan waktu.
Hari sudah masuk malam adzan magrib berkumandang dari surau terdekat di rumah Mbah murni. Bunga memutuskkan untuk menginap dan kembali pelatihan esok berangkat dari rumah Mbah murni.
"Mbah mau kesurau ? Aku antar dan tunggu sampai Mbah selesai?" Mbah murni tersenyum lepas mengangguk setuju atas tawaran Bunga. "tunggu sebentar ndok, Mbah siap siap dulu, tak apaa kau menunggu disana ?"
" Iya mbah ngak apa aku tunggu disana, ngak mungkin Mbah pergi dan pulang sendiri, tunggu mas ali pun belum tentu pulang cepat Mbah,"
****************
Ponsel Bunga berdering duo rempong sibuk mencari nya, "kemana ini anak lupa pulang atau gimana deh Vand ? Di telepon juga ngak ada jawaban".
"ah paling di rumah Mbah nya Len, mau ikut menginap disana ?" jawab Vandy singkat.
"Vandy aku tidak tau dimana rumah Mbah nya, kalo aku punya Peta Dora akan ku tanyakan ke Dora ngak cape nih telepon terus gini kan".
"Aku lupa memberi kabar kalian, aku menginap di rumah mbah, kalian mau kesini ? Atau di mess saja gaes ?"
Bunga menjawab panggilan telepon sambil nyengir karena merasa bersalah lupa memberi tahu kedua teman nya.
"Cepet deh ngak usah lama Share loc aja, ngapain di mess sampai siang esok Nga, aku dan Vandy akan kesana ngak apa tidur di teras ikhlas Nga, tapi jangan biarkan kita di Mess cuma berdua yang sepi sunyi walau berpenghuni peserta pelatihan lain nya".
"Dasar kalian ya udah aku sudah kirim kan ya share loc nya, aku akan berangkat sekarang, eh kita deh ngak aku sendiri, kita makan malam disana aja ya Nga"
"Aku bawakan bahan masakan saja, aku nanti masak untuk kita semua, tenang chef andalan kok".
"terserah kalian baik nya yaa gaes aku tunggu aja, hati hati di jalan yaa kalian"
Tiba mereka disana sibuk dengan urusan dapur, "Mbah aku aja yang masak, Mbah duduk aja ya"
Mbah murni tersenyum melihat teman teman bunga yang memang sangat menghibur kesepian setiap hari.
vandy yang sibuk memijat Mbah murni, Helen yang sibuk memasak, Bunga yang sibuk dengan ponsel dan laptop nya.
"Kalian anak anak baik, jaga pertemanan kalian yang tulus ini, jarang sekali mbah lihat di jaman sekarang pertemanan yang saling melengkapi satu sama lain nya seperti kalian"
"Mbah, enak kan pijatannya ?"
Mbah murni mengangguk meng iya kan nya.
"angkat aku jadi cucu mbah juga ya, kebetulan aku udah ngak punya kakek nenek lagi, senyum kuda ala vandy keluar dan reflek membuat bunga menjitak vandy.
"Lo kira Mbah lagi buka sayembara mengangkatan cucu, ada gila nya anak ini loh".
"iyakan ngak apa Unge, aku dengan bangga dan bahagia kok jadi cucu angkat nya Mbah, iyakan Mbah"
"Pokok nya nih Mbah kita bertiga satu paket Mbah, kakak beradik ngak tau mana kakak mana adik beda bapak dan ibu tapi sama sama panggil ibu ayah bapak nenek kakek", jelas vandy yang membuat bunga melongo mendengar nya.
Mbah murni sangat terhibur dengan ada nya mereka di dalam rumah nya, ramai senang.
berwarna malam Mbah murni dengan kehadiran tiga anak kota salah satu nya cucu sendiri.
"Makanan siap, ayo dong kita makan..."
ajak Helen dengan antusias membawa piring piring penuh dengan menu lauk dan pauk.
"Mbah spesial buat Mbah, helen yang buat sendiri loh".
"Waduh cucu cucu Mbah, terima kasih banyak Mbah jadi kaya kanjeng ratu ini"
"Asik, sah jadi cucu Mbah" teriak Vandy girang.
" Yo wes mangan sek, keburu adem nanti" ( yaudah makan dulu keburu dingin nanti)
mereka mengekor di belakang Mbah murni menutu meja makan seperti anak ayam.
"enak loh masakan nya, kalau ke semarang mampir lah ke sini tidak perlu tinggal di penginapan atau di mes, disini banyak kamar kosong".
"Dengan senang hati Vandy menerima tawaran Mbah, besok pulang pelatihan Vandy bawa baju baju kesini aja, iya kan unge, helen"
vandy yang rindu sosok nenek begitu senang dekat dengan mbah murni.
\*Kita lama di Semarang jangan banyak gaya tinggal mes horor sunyi senyap walau berpenghuni gaes" ceriwis vandy langsung mendapat cubitan dari dua teman perempuan nya
"Rese banget kalian cubit cubit tapi setujukan, kalau kalian mau di mess silakan, aku tinggal dengan Mbah aja disini gaes. Boleh kan Mbah.....?"
Melihat tingkah mereka yang seperti kucing dan tikus selalu berargumen pendapat tapi kompak membuat Mbah murni tertawa senang. "Silakan mau menginap Mbah senang sekali kalian disini, Mbah terhibur"
"Nanti jangan tidur terlalu larut kalian butuh istirahat esok masih bekerja, vandy kau bisa pakai kamar disana ada kamar kosong, Helen Bunga terserah kalian mau tidur dimana sendiri atau berdua".
"akhir nya ngak tidur di teras Mbah, bunga bilang kalo helen tidur di teras"
bunga langsung melotot melihat arah helen sembarangan banget kalo ngomong anak ini.
...****************...
Di dalam kamar bunga membuka ponsel berusaha berdamai dengan perasaan nya memberi kabar terlebih dahulu pada Chandra, semoga semakin membaik nanti.
"Chand aku dinas di Semarang cukup lama, jaga kesehatan mu' ya"
Pesan teks itu tidak lama di balas oleh Chandra "kamu juga sayang jaga kesehatan mu', jangan terlalu lelah, beri kabar pada aku terus ya"
Bunga tersenyum memberi harapan pada hubungan nya setelah mendengar nasehat dari Mbah murni, berusaha membuka rasa percaya yang sempat hilang dalam waktu sekejap karena pandangan mata yang melihat hal yang tidak mengenakkan untuk hubungan nya.
"Semoga Tuhan memberkati hubungan ini, jika tidak tolong jangan biarkan aku larut dalam suasana hati yang tidak baik, Jaga selalu kedua orang tua ku dimana pun mereka berada. Amin
"Nga, tidur jangan melamun tegur helen yang memperhatikan Bunga melamun lama sejak masuk dalam kamar, buku di buka tapi pikiran entah dimana ada nya".
"kalo butuh teman bercerita colek saja aku, kapan pun siap di colek loh Nga". Candaan Helen membuat bunga gagal murung, kok punya temen miring semua pikiran nya kaya ngak ada penggaris untuk lurusin garis saraf yang meliuk itu.
"Dahh tidur, ngomel terus Nga.
"Aku lelah hari ini, masih tiga belas hari lalu penyiksaan lapangan ini, aku butuh energi baik dari dalam mimpi, Nga".
Helen yang langsung terlelap tanpa menghitung domba yang melompat di susul bunga yang langsung melambung dalam dunia mimpi nya juga tanpa menunggu dongeng sebelum tidur.
Mbah murni cek satu persatu kamar mereka, semoga kalian bahagia selalu dalam setiap hari anak anak baik,
andai setiap hari aku bisa nikmatin hari hari ini, suasana ramai dan teduh di usia tua ku.
Mbah murni memilih kembali tinggal di Semarang dengan cucu laki laki dari anak kedua nya, tapi sayang Ali jarang pulang karena tuntutan pekerjaan nya, tidak serta merta meninggalkan Mbah murni sendiri ada asisten rumah tangga yang menunggui nya, yang di kirim Ratna dari Jakarta, untuk menemani ibu tercinta nya.
Rumah yang bahagia berawal dari kasih sayang penghuni nya, begitu damai terasa.