Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Luo Cheng bergerak.
Tubuhnya melesat cepat. Pedang biru di tangannya menebas lurus ke arah bahu Raka. Serangan itu cukup cepat untuk membelah manusia biasa sebelum mereka sempat berkedip.
Namun Raka tidak bergerak dari tempatnya.
Ketika pedang itu hampir menyentuh tubuhnya, ia mengangkat dua jari.
Tang.
Pedang itu berhenti.
Tertahan di antara dua jari Raka.
Mata Luo Cheng membesar.
“Apa…”
Tanah di bawah kaki Luo Cheng retak karena tekanan serangannya sendiri memantul balik.
Raka menatap pedang itu.
“Pedangmu lumayan tajam.”
Luo Cheng mencoba menariknya.
Tidak bisa.
Raka melanjutkan, “Tapi pemiliknya terlalu bodoh.”
Wajah Luo Cheng memerah.
“Kau!”
Raka menekan dua jarinya.
Krak.
Retakan muncul di bilah pedang spiritual itu.
Luo Cheng langsung pucat.
“Tidak mungkin…”
Krak.
Retakan memanjang.
Raka menatapnya.
“Kau datang membawa pedang ke kotaku.”
Krak.
“Lalu mengancam akan memotong kakiku.”
KRAK!
Pedang spiritual Luo Cheng pecah menjadi beberapa bagian.
Serpihan cahaya biru jatuh ke tanah seperti kaca yang kehilangan nyawa.
Luo Cheng mundur cepat dengan wajah pucat.
Pedangnya.
Senjata yang ia banggakan.
Hancur oleh dua jari manusia dunia fana.
Raka melangkah maju.
“Aku sudah memberimu waktu bicara.”
Luo Cheng menelan ludah.
Untuk pertama kalinya, kesombongan di wajahnya retak.
Namun ia masih belum mau menerima kenyataan.
“Aku murid inti Sekte Awan Langit!”
Energi spiritual biru meledak dari tubuhnya. Angin berputar. Air Kapuas bergelombang. Simbol-simbol pedang muncul di sekelilingnya.
“Teknik Pedang Awan Membelah Gunung!”
Puluhan bayangan pedang biru terbentuk di udara, lalu melesat ke arah Raka seperti hujan cahaya.
Raka menatap serangan itu.
Tidak mundur.
Tidak menghindar.
Ia hanya mengangkat satu tangan.
Di belakang tubuhnya, bayangan takhta emas muncul samar.
Dan di depan takhta itu, bayangan Pedang Penghakiman Absolut bergetar pelan.
Semua bayangan pedang Luo Cheng berhenti di udara.
Luo Cheng membeku.
“Apa…”
Raka menutup telapak tangannya.
Crack.
Puluhan bayangan pedang itu pecah bersamaan.
Cahaya biru hancur menjadi debu dan lenyap di udara.
Luo Cheng mundur lagi.
Kali ini bukan karena strategi.
Tapi karena takut.
Raka menatapnya.
“Kau bilang ingin memotong kakiku?”
Luo Cheng tidak bisa menjawab.
Raka melangkah maju.
Setiap langkahnya membuat tekanan di bawah jembatan semakin berat.
“Aku tidak akan memotong kakimu.”
Luo Cheng merasa sedikit lega.
Namun kalimat berikutnya membuat darahnya membeku.
“Aku hanya akan membuat kakimu mengingat cara berlutut.”
Mata Raka menyala keemasan.
“Berlutut.”
DUK!
Lutut Luo Cheng menghantam aspal.
Retakan menyebar di bawahnya.
Jeritan pendek keluar dari mulutnya.
Bukan hanya karena sakit.
Tapi karena harga dirinya hancur.
Ia, murid inti Sekte Awan Langit, dipaksa berlutut di dunia fana oleh satu kata.
Raka berdiri di depannya.
“Dengar baik-baik, Luo Cheng.”
Tubuh Luo Cheng gemetar.
Raka menunduk sedikit.
“Dunia Immortal boleh merasa tinggi.”
Udara semakin berat.
“Sekte Awan Langit boleh merasa agung.”
Bayangan mahkota retak muncul samar di belakang Raka.
“Tapi di Pontianak, kalian hanyalah makhluk asing yang masuk tanpa izin.”
Luo Cheng mengangkat wajah dengan susah payah.
“Siapa… siapa kau sebenarnya?”
Raka menatapnya dingin.
“Orang yang baru saja memberimu kesempatan hidup.”
Cahaya emas gelap muncul di ujung jari Raka.
Luo Cheng panik.
“Tunggu! Aku bisa memberi informasi! Sekteku bukan satu-satunya yang akan datang!”
Raka berhenti.
Mata Luo Cheng menyala karena merasa menemukan jalan keluar.
“Jika kau membiarkanku pergi, aku bisa—”
“Aku memang akan membiarkanmu pergi.”
Luo Cheng membeku.
Raka menatapnya tanpa belas kasihan.
“Tapi bukan dalam keadaan utuh.”
Sebelum Luo Cheng sempat bereaksi, Raka menyentuh dadanya.
Cahaya emas gelap masuk ke tubuhnya.
Luo Cheng menjerit.
Energi spiritual di tubuhnya bergejolak liar. Meridian yang ia banggakan terasa seperti dililit rantai panas. Pusat kekuatannya ditekan oleh simbol mahkota retak yang terbentuk di dalam dada.
Ia mencoba melawan.
Tidak bisa.
Ia mencoba menarik energi langit.
Energi itu hancur sebelum masuk ke tubuhnya.
Raka menatapnya dingin.
“Aku tidak membunuhmu karena kau membawa pesan.”
Luo Cheng jatuh ke depan, tangannya mencengkeram aspal.
Napasnya terengah.
Kultivasinya tidak hilang sepenuhnya.
Tapi tersegel cukup dalam untuk membuatnya tidak bisa lagi bersikap seperti penguasa di dunia ini.
Raka berkata pelan.
“Katakan kepada Sekte Awan Langit.”
Air Sungai Kapuas di belakangnya beriak melawan arus.
“Katakan kepada Dunia Immortal.”
Mata Raka menyala emas.
“Pontianak bukan tempat kalian mencari pusaka.”
Tekanan turun lebih kuat.
“Pontianak adalah kuburan bagi makhluk asing yang datang sebagai musuh.”
Luo Cheng menggigil.
Raka berbalik.
Namun sebelum pergi, ia berhenti sebentar.
“Dan kalau kau kembali sambil membawa orang untuk membalas dendam…”
Raka menoleh sedikit.
“Aku akan membiarkanmu melihat sektemu berlutut lebih dulu sebelum kau mati.”
Luo Cheng tidak berani menjawab.
Raka berjalan meninggalkan bawah Jembatan Kapuas.
Di belakangnya, Luo Cheng tetap berlutut.
Pedangnya hancur.
Kultivasinya tersegel.
Harga dirinya terkubur di tanah dunia fana yang tadi ia hina.
Di atas Sungai Kapuas, kabut tipis bergerak perlahan.
Dari balik kabut itu, Nyi Arum berdiri di permukaan air, menyaksikan semuanya dengan wajah sulit ditebak.
“Dia tidak membunuh,” bisiknya.
Air di bawah kakinya beriak.
“Tapi hukumannya lebih kejam dari kematian bagi orang sombong.”
Nyi Arum menatap punggung Raka yang menjauh.
“Penguasa lama benar-benar mulai kembali.”
Di Dunia Immortal, peta langit Sekte Awan Langit tiba-tiba bergetar.
Titik Pontianak menyala lebih terang.
Lalu simbol mahkota retak muncul di atasnya.
Kali ini, bukan hanya menyala.
Simbol itu seperti menatap balik ke seluruh aula.
Leluhur Yun Cang berdiri mendadak.
Mei Lan menahan napas.
Seorang murid penjaga peta berteriak panik.
“Luo Cheng… tanda hidup Luo Cheng melemah!”
Aula langsung gaduh.
Namun di tengah kegaduhan itu, Yun Cang hanya menatap simbol mahkota retak dengan wajah pucat.
Ia tahu.
Luo Cheng telah melakukan kesalahan.
Dan sesuatu di Pontianak telah menjawabnya.
Dengan hukuman.
Malam itu, Sekte Awan Langit akhirnya memahami satu hal.
Dunia fana yang mereka remehkan bukan sedang menyimpan pusaka.
Dunia itu sedang menyembunyikan penguasa.