NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

"Tuan..."

Kepala pelayan, Herald, melangkah masuk dengan penuh takzim ke dalam ruang kerja megah milik Arthur. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan kecil berlapis perak, di atasnya tergeletak sebuah amplop putih yang tampak sederhana, namun sarat makna.

Arthur, yang tengah tenggelam dalam tumpukan dokumen, mengangkat kepalanya. Sorot matanya langsung menajam ketika melihat Herald berdiri tegak tepat di depan meja kerjanya.

"Ada urusan apa, Herald?" tanyanya dengan suara dalam dan tegas, mencerminkan kewibawaan seorang pria yang terbiasa memegang kendali.

Herald menundukkan kepala sedikit, lalu meletakkan nampan itu di atas meja. "Sebuah surat baru saja tiba, Tuan."

Tanpa menunda, Arthur meraih amplop itu. Alisnya berkerut, matanya menyipit begitu mengenali lambang resmi kepolisian yang tercetak jelas pada permukaannya. Dengan gerakan perlahan namun mantap, ia mengambil pisau surat dari samping meja, lalu merobek segelnya dengan hati-hati.

Sepotong kertas ditarik keluar. Saat matanya menelusuri setiap baris kalimat, raut wajahnya berubah drastis. Ekspresinya menegang, garis rahangnya mengeras, dan giginya saling beradu menahan emosi. Tangan kokohnya meremas surat itu hingga berkerut, lalu mengepalkannya menjadi bola kecil.

Arthur menatap Herald dengan sorot mata setajam bilah pisau. "Apakah ada orang lain yang mengetahui kedatangan surat ini?" tanyanya dingin.

Herald segera menggeleng. "Tidak, Tuan. Hanya aku yang membawanya ke sini."

Arthur menghela napas berat, suaranya terdengar kasar menembus kesunyian ruangan. "Pastikan Isabella tidak mengetahui hal ini. Aku tidak ingin istriku syok. Dia itu tidak akan sanggup menanggung guncangan semacam ini." Sesaat kemudian, seakan teringat sesuatu, Arthur kembali bertanya, "Apakah Alma sudah pulang?"

"Belum, Tuan," jawab Herald dengan suara hati-hati.

"Jika Alma pulang, sampaikan padanya agar segera menemuiku di ruang kerja."

"Baik, Tuan," ujar Herald seraya menunduk hormat, lalu berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Arthur sendirian dalam kesunyian.

Keheningan mencekam memenuhi ruangan. Arthur menyandarkan tubuh ke kursinya, jemarinya perlahan mengetuk permukaan meja kayu mahoni itu. Beberapa saat kemudian, ia meraih ponsel di sampingnya dan menekan sebuah nomor yang sudah dihafalnya.

Begitu sambungan tersambung, suaranya terdengar rendah namun sarat ancaman. "Ini aku. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi di sekolah pada putriku. Aku ingin penjelasan sedetail mungkin. Jangan ada satu pun hal yang kau sembunyikan dariku."

🥀🥀🥀

Tak membutuhkan waktu lama sejak Alma tiba di rumah, Herald segera menjalankan perintah Arthur. Dengan langkah tenang, gadis itu berganti pakaian, memilih gaun rumah sederhana berwarna lembut yang membuatnya tampak anggun namun santai. Setelah rapi, ia berdiri di depan pintu ruang kerja ayahnya.

Beberapa ketukan ringan ia lakukan, namun jawaban tak kunjung datang. Hanya keheningan yang menyelimuti. Dengan hati-hati, Alma memutar gagang pintu, membukanya perlahan, dan masuk ke ruangan yang remang.

Arthur berdiri di balik meja kerjanya, membelakangi pintu. Bahunya tegang, dan sebuah ponsel menempel di telinga. Nada suaranya yang berat memecah sunyi, terdengar penuh amarah yang jarang sekali Alma dengar dari pria itu.

"Jadi hanya karena persoalan sepele seperti itu, kalian berani mencurigai putriku?" geramnya, mendengus kasar. "Apa kalian mengira keluarga Morrison ini bisa diperlakukan seenaknya? Menyebutnya sekadar diminta keterangan? Bukankah sama saja itu dengan menganggap Alma sebagai salah satu calon tersangka?"

Orang di seberang telepon mencoba menjelaskan dengan nada berhati-hati. Namun Arthur sama sekali tidak memberi celah.

"Dean, dengar baik-baik. Jika sehelai rambut putriku hilang karena keteledoran kalian, jangan salahkan aku bila keluarga Morrison bergerak. Aku tidak peduli kau kerabat keluarga Radcliffe sekalipun. Aku pastikan kalian akan menyesali pernah hidup di dunia ini."

Tanpa menunggu jawaban, Arthur menutup sambungan secara sepihak. Ia menghela napas panjang, lalu berbalik. Saat itu pandangannya langsung bertemu dengan sosok Alma yang berdiri tak jauh darinya. Seketika ekspresi wajahnya berubah melunak. Senyum lembut muncul, seolah amarah barusan hanyalah ilusi.

"Sejak kapan Alma sudah berada di sini?" tanyanya, suara kembali ramah.

Alma membalas dengan senyum kecil, lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi tamu di hadapan meja kerja besar itu. "Aku baru saja datang, Ayah."

Arthur ikut duduk kembali, mencoba menata perasaannya.

"Herald mengatakan Ayah ingin bicara denganku. Ada apa?" tanya Alma, nada suaranya tenang.

Arthur menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan sebelum menjawab. "Baru saja ada surat panggilan dari kepolisian. Mereka meminta keterangan darimu terkait kasus teman sekolahmu yang menjadi korban pembunuhan. Mereka menemukan fakta bahwa kau pernah berselisih dengan korban, dan beranggapan kau mungkin memiliki kaitan dengan masalah ini."

Mata Alma tetap menatap ayahnya dengan sorot lembut dan penuh ketenangan. Tidak ada kegelisahan, tidak ada tanda panik yang terbaca. Justru tatapannya membuat Arthur semakin bingung, sebab ia tahu bagaimana rapuh putrinya di masa lalu.

"Kenapa kau tidak pernah mengatakan sesuatu tentang kejadian di sekolah?" tanya Arthur lagi, kali ini nadanya melembut, hampir seperti bisikan.

Alma menunduk sejenak, kemudian menjawab lirih, "Maafkan aku, Ayah. Aku hanya tidak ingin kalian khawatir." Ucapannya sederhana, namun penuh penyesalan.

Arthur menutup mata sejenak, memijat pangkal hidungnya. Ia tahu betul, semarah apa pun dirinya, tak pernah sanggup menumpahkan amarah pada putri tunggalnya. "Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Alma tersenyum tipis, masih dengan ketenangan yang sama. "Sebagai warga negara yang baik, tentu saja aku akan memenuhi panggilan itu. Kita tidak boleh menentang hukum, Ayah."

Arthur terdiam, menatap putrinya dalam-dalam. Sorot matanya sulit diartikan, campuran antara kekhawatiran dan juga rasa bersalah.

"Alma," ujarnya pelan, "sejauh apa sebenarnya mereka memperlakukanmu di sekolah?" Pertanyaan itu jelas merujuk pada kasus perundungan yang sempat didengarnya.

Alma menarik napas, lalu menjawab singkat, "Tidak banyak. Aku bahkan sudah memaafkan mereka. Lagipula… mereka sudah mendapat ganjarannya."

Arthur menimbang jawaban itu lama. Pada akhirnya ia mengangguk pelan. "Baiklah. Itu saja yang ingin Ayah sampaikan. Besok, Ayah akan menemanimu ke kantor kepolisian."

"Terima kasih, Ayah," sahut Alma sambil tersenyum.

"Istirahatlah sekarang. Ayah tidak ingin kau terlalu lelah."

Alma berdiri, sedikit menunduk penuh hormat. "Ayah juga sebaiknya jangan bekerja terlalu keras." Ia berbalik menuju pintu. Namun sebelum keluar, suara Arthur kembali terdengar.

"Ayah lihat akhir-akhir ini kau sering ke villa kakekmu."

Alma berhenti sejenak, lalu menjawab tanpa menoleh. "Kakek sudah mempercayakannya padaku. Jadi tentu aku harus menjaganya. Selamat malam, Ayah."

Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Arthur seorang diri dalam keheningan ruang kerja. Ia bersandar pada kursinya, lalu menunduk. Tangan kanannya terulur mengambil sebuah bingkai foto di atas meja. Foto dirinya bersama Isabella yang menggendong bayi mungil, Alma. Jemarinya mengusap permukaan kaca dengan lembut, seolah ingin menembus waktu.

"Apa yang harus aku lakukan, Isabella? Aku tidak ingin Alma kembali seperti dulu lagi…" bisiknya lirih.

Alma adalah permata berharga keluarga Morrison. Mereka menunggu enam tahun penuh penantian untuk kehadirannya. Ia adalah cahaya yang menerangi rumah mereka, meski bayangan masa lalu tetap menghantui.

"Ini semua salahku," gumam Arthur, suaranya pecah. "Harusnya aku bisa menjaganya lebih baik."

Jika saja tidak pernah ada kejadian kelam itu, mungkin segalanya akan berbeda. Ujung sumbunya telah di picu. Ia tidak ingin prilaku putrinya saat ia masih kecil kembali lagi.

Namun kenyataan telah tertulis, dan sebagai ayah, Arthur hanya bisa berjanji pada dirinya sendiri. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan putrinya hancur.

🥀🥀🥀

Pagi itu, taman kota dipenuhi riuh rendah suara anak-anak. Sabtu selalu menjadi hari ramai, para orang tua membawa anak mereka untuk berlarian, bermain bola, atau sekadar berkejaran di rerumputan. Cahaya matahari menembus sela pepohonan, menciptakan bayangan lembut di tanah.

Di sebuah bangku kayu yang agak tersembunyi di bawah rindang flamboyan, seorang pemuda duduk terpaku. Kemeja putihnya kusut, kerahnya terbuka begitu saja. Di sudut bibirnya tampak luka merah memar, pecah sedikit, jelas akibat pukulan.

Calvin menunduk dalam diam. Nafasnya berat, seakan setiap tarikan menekan dadanya. Rasa perih di sudut bibir tak sebanding dengan rasa sesak yang menggelayuti hatinya. Pukulan itu datang dari ayahnya, hanya beberapa jam lalu. Seperti siklus yang selalu berulang setiap Sabtu pagi.

Sabtu seharusnya hari keluarga. Namun bagi Calvin, hari itu adalah hari paling memuakkan. Hampir setiap minggu, Geofano membawa pulang wanita muda berbeda ke rumah mereka. Seolah memperlihatkan pada semua orang, terutama pada Calvin, bahwa ia bisa mengganti kasih sayang semudah mengganti baju. Ibunya sudah lama tiada, dan setiap Sabtu, pengkhianatan itu diulang-ulang, menusuk luka lama yang belum kering.

Tadi pagi, Calvin menolak untuk turun menemui tamu ayahnya. Arthur marah, menganggap anaknya tidak menghormati 'pilihan' yang ia buat. Pukulan itu pun melayang tanpa banyak kata. Sesederhana itu. Seperti ritual kelam yang tak pernah gagal menghancurkan sisa harga diri Calvin.

"Selalu sama…" bisiknya getir, jemarinya meremas celana panjangnya. "Selalu di hari Sabtu."

Matanya kemudian, tanpa sengaja, menangkap sosok di kejauhan. Di tengah kerumunan anak-anak, ada seorang gadis berjongkok sambil tersenyum, membimbing bocah kecil meniup gelembung sabun. Tawa anak-anak membahana setiap kali gelembung itu pecah di udara.

Calvin tertegun. Dadanya berdetak lebih cepat. Ada sesuatu dalam senyum gadis itu. Mata jernihnya, cara ia menunduk lembut pada anak-anak yang mengingatkannya pada sosok Alma. Nama itu bergaung lagi. Senyum itu, sorot mata itu, terlihat mirip.

"Alma…" ucapnya lirih, hampir tanpa sadar.

Gadis itu kemudian berdiri, melangkah pelan ke arah Calvin. Awalnya ia hanya ingin melewati, tetapi ketika jarak mereka semakin dekat, tatapannya jatuh pada luka di sudut bibir Calvin. Gerakannya berhenti.

"Halo…" suaranya lembut, tulus. "Kau tidak apa-apa?"

Calvin terdiam. Pertanyaan sederhana itu seperti pisau yang mengiris. Ia tidak terbiasa orang asing bertanya tentang keadaannya. "Aku baik-baik saja," jawabnya cepat, datar, meski jelas tidak meyakinkan.

Gadis itu memiringkan kepala, tatapannya jatuh pada bibir Calvin yang memar. "Itu terlihat sakit."

Calvin buru-buru menoleh ke samping, berusaha menyembunyikan wajahnya. "Aku bilang aku baik-baik saja. Tidak usah ikut campur."

Namun gadis itu tidak bergeming. Ia merogoh tas kecil yang disampirkan di bahunya, lalu mengeluarkan sesuatu. Sebuah plester bergambar bunga kecil. Dengan tenang ia mengulurkan tangannya pada Calvin.

"Kalau kau tidak mau mengakuinya, setidaknya… tutupi dulu. Biar tidak semakin perih."

Calvin menatap plester itu sejenak, lalu mengalihkan pandangannya. "Aku tidak butuh."

Tapi gadis itu tetap berdiri di sana, menunggu, tanpa menggerakkan tangannya. Ada kesabaran yang menekan Calvin, sebuah tatapan yang terlalu tulus hingga membuat dadanya semakin sesak.

"Namamu siapa?" tanya Calvin akhirnya, suara rendahnya berat.

"Jasmine." Senyumnya muncul tipis. "Dan kamu?"

Calvin tidak langsung menjawab. "Tidak penting."

"Baiklah, Tuan Tidak Penting." Jasmine tertawa kecil, meski sorot matanya tetap serius. "Aku tidak akan memaksa. Tapi aku juga tidak suka melihat orang terluka begitu saja. Jadi…"

Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tangan Calvin dan meletakkan plester itu di telapak tangannya. Sentuhan dingin jemarinya begitu kontras dengan luka panas di bibir Calvin. "Ini, simpan. Kalau kau berubah pikiran."

Calvin diam. Tidak menolak, tidak pula menerima. Ia hanya menatap plester itu lama, seolah benda asing yang terlalu berat untuk digenggam. Jasmine kemudian mundur selangkah, lalu melangkah kembali ke kerumunan anak-anak yang memanggilnya.

Dunia kembali sunyi. Hanya Calvin yang duduk membisu, dengan selembar plester mungil di tangannya. Ia menatapnya lama, dadanya bergemuruh oleh perasaan yang tak bisa ia uraikan. Perhatian sekecil ini terasa asing. Terlalu asing, setelah bertahun-tahun terbiasa dengan bentakan, dinginnya jarak, dan pukulan yang datang setiap Sabtu pagi.

"Alma… Jasmine…" ia berbisik, suaranya penuh kebingungan.

Beberapa menit kemudian, ia berdiri. Jemarinya membuka genggaman, menatap plester itu sekali lagi. Wajahnya mengeras, senyum getir merayap di sudut bibir yang terluka. "Perhatian kecil ini… tidak akan merubah apapun."

Ia menjatuhkan plester itu ke tanah. Sebuah benda sederhana, kini tergeletak di antara dedaunan kering. Calvin melangkah pergi, meninggalkan taman dengan keheningan, meninggalkan Jasmine yang masih tertawa bersama anak-anak, meninggalkan sepotong kecil perhatian yang ditolaknya.

1
falea sezi
hmmm alma kurang perhitungan g bs bela diri menye menye bisa bunuh doank itu aja dia minta bantuan jean😒
falea sezi
siapapun yg bangkit dr kematian karena fitnah bully pasti bakal dendam 😒
falea sezi
g bakalan lupa Leon lu uda bunuh alma di kehidupan b sebelum nya😒
falea sezi
alma uda benci sama loe kaiden
falea sezi
q benci bgt bullying kayak gini semoga anak ku g dpet bully di sekolah karena itu mental bs kena😕
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!