NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:25.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4 Aku Tidak Butuh Ayah!

"Sean? Kau tidak mau sandwich keduamu?" tanya Leo pada keponakannya.

Bukannya menjawab, bocah itu malah bangkit dari duduknya tanpa menoleh, langkah kaki kecilnya terdengar beradu dengan lantai kayu sebelum suara pintu kamar yang tertutup rapat mengakhiri keberadaannya di ruang tengah.

Venus dan Leo saling pandang. Keheningan itu terasa ganjil.

Biasanya, Sean akan protes tentang betapa tipisnya irisan keju atau betapa tidak rapinya Leo meletakkan sepatu. Namun hari ini, bocah itu seperti membawa awan mendung miliknya sendiri.

"Sepertinya dia benar-benar terpengaruh soal kak Dante," ucap Leo, sambil melepaskan topeng kulitnya yang terasa pengap. "Anak itu, otaknya bekerja terlalu cepat untuk usianya."

Venus hanya mengangguk lemah, matanya tertuju pada pintu kamar Sean yang tertutup. "Dia marah padaku karena aku masih mencintai ayahnya. Dia menganggap cinta itu sebuah kelemahan."

Di dalam kamar, Sean tidak menangis. Ia tidak melempar tasnya atau berteriak layaknya anak usia enam tahun yang sedang kesal. Ia justru duduk dengan tenang di meja belajarnya yang dipenuhi tumpukan buku tebal.

Mulai dari teori fisika dasar, strategi militer, hingga sejarah politik dunia.

Baginya, menyerap informasi adalah cara paling efektif untuk meredam kebisingan di kepalanya.

Sean menarik sebuah buku tentang Psikologi. Namun, matanya terpaku pada sebuah sketsa kecil yang ia gambar sendiri dan ia selipkan di antara halaman buku. Sketsa seorang pria yang wajahnya ia susun berdasarkan potongan-potongan cerita ibunya.

"Kenapa mama begitu bodoh?" gumam Sean lirih. "Aku bahkan tidak tahu, bagaimana rasanya punya ayah."

Sean menyentuh sketsa itu dengan jemarinya yang mungil. Ada amarah yang memburu di dadanya dan tertutup oleh lapisan logika.

Sean mengerti konsep penghianatan dari buku-buku yang ia baca. Ia tahu bahwa dalam strategi perang, meninggalkan posisi tanpa pengawasan adalah kesalahan fatal.

Baginya, Dante telah berhianat.

Tok, tok!

"Sean? Mama boleh masuk?"

Sean dengan cepat menyelipkan sketsa itu kembali ke dalam buku dan membukanya pada halaman sembarang. "Masuklah, Ma. Pintunya tidak dikunci."

Venus masuk membawa segelas susu hangat. Ia duduk di tepi ranjang Sean yang tertata rapi, lalu menatap punggung kecil putranya yang tampak begitu tegak. "Kau membaca buku tentang psikologi lagi?"

"Lebih menarik daripada dongeng tentang pangeran yang menyelamatkan putri, Ma," jawab Sean tanpa menoleh. "Setidaknya di buku ini, tindakan manusia dijelaskan dengan alasan yang masuk akal, bukan karena kekuatan cinta yang tidak berwujud itu."

Venus menghela napas, merasa tertusuk oleh sindiran halus putranya. "Sean, ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan oleh buku. Perasaan manusia itu rumit. Kau mungkin pintar secara logika, tapi—"

"Tapi aku belum paham kenapa Mama tetap menginginkan seseorang yang sudah membuang Mama ke tempat pembuangan sejarah?" Sean berbalik, menatap ibunya dengan tatapan yang begitu tajam hingga Venus harus memalingkan wajah.

"Ayahmu tidak tahu kalau Mama hidup, Sean. Dia tidak membuangku," bela Venus pelan.

"Lalu kenapa dia tidak mencari Mama meski sampai ke dasar neraka sekalipun?!" tanya Sean dengan nada yang mulai meninggi, meski ia berusaha menahannya. "Jika aku punya sesuatu yang berharga dan itu hilang, aku tidak akan berhenti sampai aku menemukannya. Aku tidak akan menggantinya dengan barang baru hanya untuk menghibur diri."

Venus terdiam. Kata-kata Sean terlalu jujur hingga terasa kejam.

"Mama tahu apa yang paling menyebalkan?" Sean menutup bukunya. "Aku benci karena aku mirip dengannya. Aku benci setiap kali Mama menatapku, Mama tidak melihatku sebagai putramu, tapi sebagai sisa-sisa dari pria itu."

"Sean, tidak begitu—"

"Iya, Ma. Mama mengharapkan dia kembali melalui aku. Dan sekarang, saat dia benar-benar ada, Mama hancur karena dia tidak memenuhi ekspektasi Mama!" Sean berjalan menuju jendela dan menatap kegelapan malam. "Aku diam bukan karena aku tidak peduli. Aku diam karena aku takut, jika aku bicara lebih banyak, Mama akan menyadari kalau aku benar, dan itu akan membuat Mama semakin menderita."

Sean mengepalkan tangannya. Di balik kecerdasannya yang luar biasa, ada satu hal yang Sean sembunyikan rapat-rapat, rasa takut.

Sean takut jika ayahnya benar-benar datang, ibunya akan kembali menjadi wanita lemah yang mudah disakiti. Ia lebih suka menjadi anak tanpa ayah daripada melihat ibunya hancur untuk kedua kalinya.

"Sean, kenapa kau—"

"Pergilah, Ma. Aku mau belajar bahasa Mandarin. Katanya bahasa itu berguna untuk negosiasi bisnis di masa depan," potong Sean dingin, mengakhiri percakapan.

Venus keluar dari kamar dengan hati yang kian remuk. Ia sadar, Sean bukan hanya melindungi ibunya, tapi bocah itu sedang membangun benteng tinggi di sekeliling hatinya sendiri agar tidak perlu merasakan kekecewaan yang sama seperti ibunya.

Di dalam kamar, Sean kembali menatap sketsa pria itu, lalu dengan perlahan, ia merobek kertas itu menjadi kepingan kecil.

Bagi Sean, ayahnya bukan lagi pahlawan. Ayahnya adalah ancaman yang harus ia hindari.

"Aku tidak butuh ayah!" gumamnya.

*****

"Kau sudah pulang?" Bianca segera menghampiri Dante, mencoba meraih jas yang tersampir di bahu suaminya dengan senyum manis.

"Kau nampak lelah, Sayang. Lepaskan jasmu, akan kubuatkan teh hangat untukmu," ucap Bianca lembut, jemarinya bergerak lihai menyentuh kerah kemeja Dante.

"Jangan bersikap seolah-olah kita adalah pasangan yang saling mencintai, Bianca!" Dante menepis tangan istrinya dengan kasar.

Bianca mematung, wajah cantiknya memucat karena terkejut. "Apa maksudmu? Bukankah biasanya juga seperti ini dan kau tak masalah? Ada apa denganmu hari ini?"

Dante berbalik, menatap Bianca dengan sorot mata muak yang tak lagi disembunyikan. "Aku lelah berpura-pura kita saling mencintai! Sandiwara ini sudah cukup. Setelah aku menemukan Venus, kita akan bercerai."

Mendengar nama itu disebut, tangan Bianca terkepal erat. Amarah yang selama tujuh tahun ini ia pendam mendadak meluap ke ubun-ubun.

"Bercerai demi wanita yang sudah jadi abu?!" teriak Bianca histeris. "Dia sudah mati, Dante! Mati di gedung yang meledak itu! Apa yang ingin kau cari? Hantu? Kau tega menceraikan istri yang sudah menyelamatkan nyawamu demi mayat?"

"Aku yakin dia masih hidup!" bentak Dante seraya mencengkeram rahang Bianca, memaksanya menatap api amarah di matanya. "Dan jangan pernah kau sebut dia mati lagi di hadapanku, atau kau akan tahu akibatnya. Pernikahan ini hanya transaksi, dan transaksinya berakhir saat aku menemukan napasnya kembali!"

Dante mendorong Bianca hingga wanita itu terhuyung. Tanpa menoleh sedikit pun, ia melangkah pergi, meninggalkan Bianca yang terisak.

"Dia tidak akan pernah kembali, Dante," bisik Bianca di sela tangisnya. "Karena aku sendiri yang akan memastikan detektif itu tidak pernah menemukan jejaknya."

1
Kinara Widya
😂😂😂😂😂
Tiara Bella
pedes bngt loh Dante kata² anakmu...
Nice1808
bacanya sambil mewek lihat sean yg menangis dlm pelukan dante😭.Ayolah sean terima dan maafkan papamu agar bianca gk ambil papamu lagi🤣
Senja: kyak Teletubbies😆
total 3 replies
Arbaati
othooor...tanggung jawab...aku mewek ini
Senja: peluk jauh kak😚
total 1 replies
Sri Rahayu
ayolah Sean maafkan papa mu...karena semuanya itu bukan keinginan Dante...lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Senja: Siapp
total 1 replies
tinie
akhirnya mulai luluh tembok dingin itu😭😭😭
Senja: huuhuhum
total 1 replies
Sri Rahayu
baru tau kamu Dante....anak mu Sean sangat cerdas, mulutnya pedas dan pemberani...lanjut Thorr😘😘😘
tinie
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/🤣rasakan kau dantee
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tidak bergeming = tidak diam?
Senja: Beda2 ya kak, 🤣🤭
total 4 replies
tia
nikmati benih u dante 😁😁
🇧🇬
😆😆😆
D
infooo si Venus makan apa sih waktu hamil??
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh 🫪
D
tau tuh si Dante, loe mau anak istri loe kembali,
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
D
Udah didalem kamar pun masih nyaut 🥸
Tiara Bella
papahmu itu Sean....
D
bener kata Sean Ve,,,,, Suami mafia mu itu,, Oneng nya tuh Ngoneng bangettt /Scream//Scream/
D
Wkwkwkkwkwkwk
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
lovely_day
ayo Sean.. makan with papa🤗
D
Ttttaaapiiiii ucapan Sean bener loh 😳
D
Sayangnya suami mamamu itu adalah papamu Sean 👀👀
gimana donk??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!