“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 - Jebakan Rumah Kaca
Naura berdiri di depan cermin kamar, merapikan kerudungnya untuk kesekian kalinya. Ia mengenakan gamis sage green kesayangannya, gaun yang ia pakai saat pertama kali menghadiri pengajian ibu-ibu. Gaun itu memberinya rasa percaya diri, pengingat bahwa ia telah bertahan melewati banyak hal.
Azzam masih berada di ruang kerjanya, sibuk dengan tumpukan dokumen persiapan Maulid Nabi. Sebelum masuk kamar, Naura sempat berhenti di ambang pintu ruang kerja, menatap punggung suaminya yang sedang menandatangani surat-surat.
"Azzam, aku mau ke rumah kaca sebentar," ucap Naura, berusaha terdengar santai.
Azzam menoleh, bolpen di tangannya terhenti. "Rumah kaca? Untuk apa?"
"Zahra minta bertemu. Dia mau meminta maaf soal kejadian di perpustakaan dan video itu. Dia juga mau mengembalikan sesuatu yang katanya milikku."
Azzam mengerutkan kening, kecurigaan langsung muncul di matanya. "Zahra? Kamu bertemu Zahra sendirian? Setelah semua yang ia lakukan padamu?"
"Dia menangis, Azzam," Naura berjalan mendekat, duduk di lantai di samping kursi Azzam, menatap suaminya dengan tatapan lembut. "Dia bilang dia menyadari kesalahannya, merasa terancam oleh Farrel dan butuh seseorang untuk diajak bicara. Aku tahu dia pernah menyakitiiku, tapi... aku tidak bisa melihat orang menangis begitu saja. Aku hanya mau mendengarkannya, lalu pulang."
Azzam menatap Naura lama-lama. Instingnya berteriak menolak, ada sesuatu yang tidak beres. Namun, ia juga tahu siapa istrinya, Naura adalah gadis yang memberikan sepatunya pada pengemis, gadis yang merawat bunga yang hampir mati, gadis yang hatinya terlalu besar untuk dunia yang kecil. Ia tidak bisa mematikan kebaikan hati itu.
"Baik," ucap Azzam akhirnya, suaranya berat. "Tapi kamu harus berjanji padaku. Jika ada yang aneh, jika Zahra mengatakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, langsung pulang. Dan bawa ponselmu. Hubungi aku jika perlu."
"Janji," Naura tersenyum, berdiri dan mencium puncak kepala Azzam, sebuah kebiasaan balasan yang ia pelajari dari suaminya. "Aku tidak akan lama."
Ia berjalan keluar kamar, menuruni tangga, dan melangkah keluar rumah. Langkahnya ringan, hatinya baik. Ia merasa sedang melakukan hal yang benar, memperbaiki hubungan yang rusak, memberi kesempatan bagi orang untuk bertobat.
Namun, Naura tidak tahu bahwa kebaikan hatinya kali ini justru akan membawanya ke dalam jurang.
.
.
.
Rumah kaca pesantren terletak di ujung timur kompleks, tersembunyi di balik deretan pohon bungur dan semak belukar. Tempat itu jarang digunakan kecuali oleh para santri yang sedang mempraktikkan teknik bertani. Sore ini, sepeninggal matahari, tempat itu terlihat gelap dan sepi.
Naura melangkah masuk melalui pintu kaca yang tidak dikunci. Udara di dalam rumah kaca terasa lembap dan pengap, bercampur aroma tanah basah dan sayuran yang dipetik. Deretan rak tanaman berjajar rapi, namun di bagian belakang, bayangan gelap menutupi sebagian ruangan.
"Zahra?" panggil Naura, suaranya menggema di dalam ruangan kaca.
Tidak ada jawaban.
"Zahra, kau di sini?"
Saat ia melangkah lebih jauh ke dalam, melewati rak-rak tanaman, tiba-tiba terdengar suara dari bagian paling belakang rumah kaca. Bukan suara Zahra. Bukan juga suara perempuan.
"Naura."
Darip Naura membeku. Ia mengenal suara itu. Ia mengenalnya terlalu baik.
Dari balik bayangan tanaman tinggi, sosok itu melangkah keluar. Arkan Pratama. Sama seperti di hotel malam itu, ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung, senyum menyimpang menghiasi bibirnya. Di tangannya, tidak ada apa pun. Tapi di belakangnya, ada sesuatu yang membuat darah Naura membeku.
Sebuah kamera kecil di atas tripod, lampu merah berkedip menandakan bahwa ia sedang merekam.
"Apa... apaan ini?!" Naura mundur selangkah, matanya melebar. "Arkan?! Apa lo lakukan di sini?! Di mana Zahra?!"
"Tenang, sayang," Arkan melangkah mendekat, suaranya merdu namun penuh racun. "Zahra udah melakukan bagiannya. Dia yang membawamu ke sini. Cerdas, kan? Cukup dengan air mata sedikit, dan hatimu yang terlalu baik langsung tertipu olehnya."
Naura merasa seperti ditampar. "Zahra... Zahra mengkhianatiku?" Kebenaran itu menghantamnya lebih keras dari apa pun. Air mata yang Zahra pertunjukkan kemarin adalah palsu. Semuanya adalah sandiwara.
"Lo nggak bisa lakuin ini!" Naura berbalik, hendak berlari menuju pintu keluar.
Tapi sebelum ia sempat mengambil dua langkah, suara lain terdengar dari arah pintu.
"Maaf, Naura. Tapi lo nggak bisa pergi."
Ustaz Farrel berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahunya di kusen kayu, menghalangi satu-satunya jalan keluar. Wajahnya tampak tenang, namun matanya menyiratkan kepuasan yang gelap.
"Biarin gue pergi!" Naura berteriak, panik mulai merasukinya. "Gue akan berteriak! Gue akan..."
"Teriak?" Farrel tertawa pelan, melangkah masuk dan menutup pintu rumah kaca dengan bunyi klik yang mengunci. "Kau bisa teriak. Tapi siapa yang akan mendengarmu? Rumah kaca ini berada di ujung pesantren. Dan aku sudah memastikan tidak ada santri yang lewat di sini pada jam ini."
Naura terpojok. Ia menatap Arkan di depannya dan Farrel di belakangnya. Ia terjebak. Seperti tikus dalam labirin yang tidak memiliki jalan keluar.
"Apa yang kalian inginkan?!" suara Naura bergetar, tapi ia berusaha menahan dirinya untuk tidak menangis. Ia tidak akan memberi mereka kepuasan itu.
"Sederhana," Arkan mengambil langkah mendekat, mengurangi jarak di antara mereka. Ia mengangkat tangannya, hendak menyentuh rambut Naura, namun Naura menampar tangannya itu dengan refleks.
"Jangan sentuh gue, Brensek!" desis Naura, matanya menyala marah.
Arkan menggeleng, tersenyum sinis sambil mengusap tangannya. "Masih garang, ya? Nggak apa-apa. Gue suka yang liar. Tapi kali ini, bukan gue mau menyentuh lo, Naura. Gue butuh kamera ini menangkap momen di mana kita berdua berada di ruangan yang sama, terlihat sangat akrab, dan lo nggak bisa lari."
Ia menoleh ke arah kamera yang merekam. "Video pertama gagal karena Gus Azzam membela lo. Kali ini, kita buat bukti yang lebih kuat. Sebuah live streaming ke grup-grup jamaah pesantren. Bayangkan, ratusan orang menonton istri Gus Azzam bertemu mantannya secara diam-diam di rumah kaca. Apa yang akan dikatakan Gus Azzam kali ini?"
Naura menatap lampu merah yang berkedip di kamera itu, dan for the first time, ketakutan yang sesungguhnya merasukinya. Bukan ketakutan akan disakiti secara fisik, tapi ketakutan akan namanya dihancurkan, ketakutan akan menginjakkan martabat Azzam ke dalam lumpur, ketakutan akan kehilangan segalanya.
"Lo gila kalau Azzam bakal mempercayai ini!" Naura berusaha terdengar kuat. "Dia tahu gue nggak bakal berselingkuh!"
"Oh, dia mungkin percaya padamu," Farrel berbicara dari belakang, suaranya santai namun mematikan. "Tapi masyarakat nggak, jamaah pesantren dan tekanan sosial... tekanan sosial adalah senjata yang lebih tajam dari pisau, Naura. Jika ratusan orang menuntut Gus Azzam menceraikanmu demi kehormatan pesantrennya, apakah ia akan tetap memegang lo? Atau apakah ia akan mengorbankan lo demi kebaikan yang lebih besar?"
Kata-kata Farrel mengena tepat di titik ketakutan terbesar Naura. "Apa Azzam bakal ngorbanin gue?"
"L-lo... salah!" Naura berteriak, menolak kebohongan itu. "Azzam tidak akan melakukannya! Dia mencintaiku!"
"HAHAHA!" Arkan tertawa keras, suaranya memekakkan telinga. "Mencintaimu?! Oh, Naura, Lo masih naif banget. Cinta seorang Gus pesantren itu ada batasnya. Dan batasnya adalah martabat pesantrennya. Begitu namanya tercoreng, ia akan membuangmu seperti sampah. Sama seperti yang kulakukan dua tahun lalu."
Naura menarik napas, mempertahankan posisinya. "Jangan menangis. Berfikir, Naura, Berfikir!"
Ia mengamati sekelilingnya. Pintu terkunci oleh Farrel. Arkan menghalangi jalan ke bagian belakang. Kamera terus merekam. Ia harus keluar dari sini. Ia harus memberi sinyal pada Azzam. Tangannya perlahan merayap ke saku gamisnya, meraih ponselnya. Jika ia bisa menekan tombol panggilan cepat ke nomor Azzam...
"Cik, cik." Arkan tampaknya membaca gerakannya. Ia melangkah maju dengan cepat, meraih tangan Naura, dan mencengkeram pergelangannya dengan kasar. "Nggak ada ponsel, sayang."
Ia menarik ponsel dari genggaman Naura, melemparkannya ke lantai, dan menginjaknya hingga layarnya retak.
Naura menjerit kesakitan saat cengkeraman Arkan terlalu kuat. "Lepasin gue dari tangan kotor lo itu!!"
"Diam!" Arkan menarik Naura lebih dekat, memaksanya berdiri di sampingnya, menghadap kamera. "Sekarang, senyum, Naura. Biarkan seluruh pesantren melihat betapa 'mesranya' kita di sini."
Farrel mengambil kendali kamera, mengatur sudut agar terlihat seolah Naura dan Arkan berdiri sangat dekat, seolah Naura tidak melawan. Arkan melingkarkan satu tangannya di pinggang Naura, menahannya dengan kuat agar tidak bisa bergerak.
Naura berjuang sekuat tenaga, memukul dada Arkan, mencoba melepaskan diri. Tapi fisik Arkan jauh lebih kuat. Air matanya akhirnya tumpah, air mata kemarahan, frustrasi, dan rasa takut yang luar biasa.
"Lepaskan gue! Tolong! TOLONG!" Naura berteriak sekuat paru-parunya.
Tapi seperti yang Farrel bilang, tidak ada yang mendengar. Rumah kaca itu terisolasi, jauh dari keramaian pesantren. Teriakannya hanya memantul di dinding-dinding kaca dan lenyap ditelan keheningan.
Arkan menunduk, berbising di telinga Naura dengan nada yang meremehkan. "Teriak aja, Naura. Teriak sepuasnya. Nggak ada pahlawan yang akan datang nyelamatin lo kali ini."
Namun, Arkan salah. Sangat salah.
Karena di luar rumah kaca, seorang pria sedang berlari menembus semak-semak dengan kecepatan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Wajahnya pucat pasi, matanya menyala seperti api yang akan membakar dunia, dan tanganya mencengkeram ponsel yang retak, ponsel Naura yang baru saja ia lacaki melalui aplikasi Find My Device yang diam-diam ia pasang setelah insiden hotel.
Saat Naura tidak kembali setelah satu jam, dan ponselnya tidak diangkat, Azzam tahu ada yang tidak beres. Ia tidak panik; ia bertindak. Dan saat ia melihat titik lokasi Naura berada di rumah kaca yang terbengkalai itu, darahnya mendidih.
Azzam menendang pintu rumah kaca. Bukan membuka. Menendang. Kaca dan kayu pecah berantakan dengan suara yang menggelegar, memecah adegan di dalam. Arkan terkejut, melepaskan pegangannya pada Naura. Farref melompat mundur dari tripod kamera, wajahnya pucat.
Azzam berdiri di ambang pintu yang kini hanya tinggal bingkai yang hancur. Napasnya memburu, dadanya naik-turun dengan keras, dan matanya, matanya yang biasa tenang dan teduh... kini berubah menjadi hitam kelam, dipenuhi oleh kemarahan yang absolut, kemarahan yang membuat siapa pun yang melihatnya ingin lari.
Matanya menyapu ruangan. Arkan yang berdiri terkejut, Farrel yang menjatuhkan kamera, dan Naura... Naura yang berdiri di tengah, dengan pergelangan tangan yang memar, kerudung yang sedikit berantakan, dan wajah yang basah oleh air mata.
Saat mata Azzam bertemu dengan mata Naura, sesuatu di dalam diri pria itu patah. Dan saat matanya berpindah ke Arkan, yang tangannya masih terulur mendekati istrinya, Azzam kehilangan kendali sepenuhnya.
Ia tidak berjalan. Ia menerjang. Dengan dua langkah besar, Azzam meraih kerah kemeja Arkan, menarik pria itu ke depan, lalu mendaratkan sebuah pukulan yang sangat keras tepat di rahang Arkan.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Suara tulang yang berderak terdengar jelas di dalam rumah kaca. Arkan melayang ke belakang, jatuh menabrak rak tanaman, dan menghantam lantai dengan suara bantingan yang memekakkan telinga. Tanah dari pot-pot yang jatuh menyebar di lantai. Arkan memegangi rahangnya, mengerang kesakitan, darah mulai mengucur dari bibirnya.
"Gus Azzam...!" Farrel mencoba ikut campur, melangkah maju.
Azzam menoleh, menatap Farrel dengan mata yang membunuh. "COBA SENTUH DIA SEKALI LAGI, DAN SAYA AKAN HANCURKAN KARIERMU SAMPAI KAU TIDAK BISA BERDIRI DI ATAS MIMBAR MANA PUN DI NEGARA INI!"
Suara Azzam menggema seperti guntur. Farrel terdiam kaku, langkahnya terhenti, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan yang sesungguhnya terhadap pria di depannya. Ini bukan Gus Azzam yang biasa bersabar. Ini adalah singa yang wilayahnya telah dilanggar.
Azzam berbalik menatap Arkan yang masih tergeletak di lantai. Ia mengambil satu langkah mendekat, menarik kerah Arkan lagi dengan satu tangan, mengangkat wajah pria itu hingga saling berhadapan.
"Siapa yang menyuruhmu?!" desis Azzam, suaranya rendah, berat, dan menakutkan. "Siapa yang memberimu keberanian untuk menyentuh istriku?!"
Arkan, dengan rahang yang berdenyut dan bibir berdarah, justru tertawa pelan. "Kau memang bukan pria yang pantas untuknya, Gus. Dia terlalu liar untuk dikurung di pesantrenmu. Dia butuh pria yang bisa memberinya..."
BUAG!
Pukulan empat Azzam mendarat di perut Arkan, membuat pria itu melipat kesakitan, memuntahkan air liur bercampur darah. Azzam melempar Arkan ke lantai seperti membuang sampah. Ia berbalik, berjalan mendekati Farrel yang kini gemetar ketakutan.
"MATIKAN KAMERA ITU SAKARANG!!!," perintah Azzam, suaranya setenang kuburan, namun jauh lebih mengerikan dari teriakannya tadi. "Dan jika ada satu pun detik dari rekaman ini yang tersebar, saya akan memastikan kau dipenjara atas tuduhan pemerasan dan konspirasi pencemaran nama baik."
Farrel dengan tangan gemetar buru-buru mematikan kamera, mencabut memori card-nya, dan melemparkannya ke lantai. "Ini... ini salahku, Gus. Aku hanya..."
"KELUAR!!," potong Azzam, matanya tidak menatap Farrel, melainkan pada Naura. "Bawa sampah ini pergi dari pandanganku. Sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaranku dan melakukan sesuatu yang tidak bisa kubatalkan."
Farrel menelan ludah, meraih lengan Arkan yang masih mengerang kesakitan, lalu menyeret pria itu keluar dari reruntuhan pintu rumah kaca. Mereka berlalu dengan cepat, meninggalkan Azzam dan Naura sendirian di tengah kekacauan itu.
Ruang kaca itu hening kembali. Hanya terdengar suara napas Azzam yang masih memburu, dan rintik hujan yang mulai jatuh di atap kaca. Azzam menoleh pada Naura. Istriinya berdiri di sana, memeluk dirinya sendiri, bahunya bergetar hebat, menatapnya dengan mata yang penuh ketakutan, rasa malu, dan kelegaan yang bertumpuk menjadi satu.
"Naura..." panggil Azzam, suaranya retak.
Ia melangkah mendekat. Dengan sangat perlahan, memberi waktu bagi Naura untuk menolak jika ia ingin, Azzam mengulurkan tangannya. Tapi Naura tidak menolak. Ia bahkan tidak mampu berdiri lagi. Kakinya lemas, lututnya menyerah, dan ia jatuh berlutut di lantai tanah yang basah.
Azzam segera berlutut di sampingnya, mendekap istrinya ke dalam pelukannya, dan mendapatkan bahwa tubuh gadis itu dingin seperti es.
"Maafkan aku..," bisik Azzam, suaranya pecah di telinga Naura. Ia memeluk Naura lebih erat, membenamkan wajahnya di leher gadis itu, dan Naura merasa bahu Azzam bergetar. "Maafkan aku karena tidak melindungimu. Maafkan aku karena terlambat."
Naura menggeleng hebat di pelukan Azzam, meraih kain koko suaminya dan mencengkeramnya sekuat tenaga. "Aku... a-ku pikir aku akan kehilanganmu. Mereka bilang kamu akan menceraikanku... mereka bilang aku menghancurkan namamu..."
"Dengarkan aku," Azzam menarik diri sedikit, memegang wajah Naura dengan kedua tangan, menatap mata istrinya dengan intensitas yang menyentuh jiwa. Matanya memerah, ada keganasan di sana, tapi juga cinta yang tak tergoyahkan. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Tidak ada fitnah, video, atau orang di dunia ini yang bisa membuatku menceraikanmu. Kamu adalah daging dan darahku, Naura. Dan siapa pun yang mencoba merenggutmu dariku... aku akan menghancurkan mereka."
Ia menunduk, mencium kening Naura, bukan dengan lembut seperti sebelumnya, tapi dengan keputusasaan seorang pria yang hampir kehilangan hidupnya.
"Kamu aman sekarang," bisik Azzam di kening Naura. "Aku di sini."
Naura menangis di pelukan suaminya. Ia menangis karena trauma, karena rasa takut, karena kelegaan, dan karena di tengah neraka yang baru saja ia lalui, pelukan Azzam adalah satu-satunya surganya.Di luar rumah kaca, hujan turun semakin deras, seolah langit pun menangis melihat kekejaman dunia. Tapi di dalam pelukan Azzam, Naura tahu satu hal yang pasti.
Pria yang memeluknya saat ini baru saja membuktikan bahwa ia bersedia menghancurkan dunia demi menjaganya.
.
.
.