NovelToon NovelToon
GODDESS AGAINST FATE

GODDESS AGAINST FATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: XING YI

​Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.

​Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4:Memasuki kota Dan Hutan

Chen Lin menyesuaikan letak kain pengikat kepalanya, memastikan wajah pemuda desa nya terlihat cukup kusam namun tetap rapi.

Ia berjalan menyusuri dermaga, melewati kerumunan orang yang sibuk.

Ada kuli panggul yang berteriak-teriak, pedagang yang menawarkan barang-barang antik palsu, dan praktisi tingkat rendah yang berjalan dengan dagu terangkat seolah mereka penguasa dunia.

​Di matanya yang kini memiliki ketajaman seorang pemangsa, Chen Lin bisa melihat tingkat kultivasi orang-orang di sekitarnya dengan mudah.

Sebagian besar dari mereka hanya berada di ranah Blood Purification tingkat 2 atau 3. Beberapa kapten kapal mungkin berada di tingkat 5.

Keberadaannya sebagai praktisi Tingkat 6 yang menyamar membuatnya merasa seperti seekor hiu yang sedang berenang di kolam ikan koi.

​"Ingat, Chen Lin,"

suara dingin Lin XingYu terngiang di kepalanya.

"Dermaga ini adalah mulut dari sebuah labirin. Sekali kau melangkah masuk ke gerbang kota, kau tidak bisa lagi berpaling. Jangan biarkan matamu menunjukkan kecerdasan yang terlalu tinggi. Jadilah biasa saja, jadilah tak terlihat."

​Chen Lin tersenyum tipis sebuah senyum yang tampak lugu di wajah pemuda desanya. Ia merogoh saku bajunya, merasakan beberapa keping koin perak yang ia ambil dari Menara Giok.

Modalnya cukup untuk bertahan hidup beberapa minggu sebelum ia harus mencari cara untuk mendapatkan sumber daya bagi ranah Marrow Purification.

​Ia melangkah melewati gerbang dermaga yang besar, memasuki jalanan utama yang dipenuhi oleh rumah-rumah kayu bertingkat dan papan nama toko yang berwarna-warni.

Sinar matahari sore menerpa wajahnya, memberikan bayangan panjang yang seolah membentang jauh ke masa depan.

​"Alam Bawah,"

bisik Chen Lin dengan suara yang sedikit diberatkan.

"Mari kita lihat seberapa kejam dunia yang membuat Lin XingYu harus melarikan diri darinya."

​Dengan langkah yang mantap dan napas yang selaras dengan energi alam di sekitarnya, Chen Lin memulai perjalanannya.

Ia bukan lagi seorang pasien rumah sakit yang sekarat, bukan lagi seorang dewi yang jatuh. Ia saat ini adalah Chen Lin, dan hari ini, sejarah baru di daratan utama Alam Bawah di mulai.

Lantai dermaga Pelabuhan Awan terasa kasar dan dingin di bawah alas kaki kain Chen Lin.

Bau garam yang tajam bercampur dengan aroma amis ikan serta keringat ribuan manusia menciptakan simfoni bau yang menyesakkan, jauh berbeda dari kesunyian murni di Pulau Warisan.

Di sini, di bawah langit yang mulai memucat karena senja, Chen Lin merasa seperti setetes tinta yang jatuh ke dalam samudra yang keruh.

​Ia tidak terburu-buru.

Dengan langkah yang sengaja dibuat sedikit kikuk layaknya pemuda desa yang baru pertama kali melihat kemegahan pelabuhan ia menyusuri jalanan utama dermaga.

Di bahunya, Lian Yue yang kini menyamar menjadi burung kecil berkicau rendah, sebuah frekuensi yang hanya bisa ditangkap oleh indra spiritual Chen Lin.

Burung itu waspada, ia merasakan banyaknya aura tajam yang berseliweran di antara kerumunan.

"Jangan menatap mata mereka terlalu lama,"

suara Lin XingYu berbisik dari kalung giok, dingin dan tak berperasaan.

"Di tempat seperti ini, tatapan mata yang terlalu berani bisa dianggap sebagai tantangan. Kau belum cukup kuat untuk memancing keributan yang tidak perlu."

​Chen Lin menundukkan kepalanya, membenarkan letak caping bambu yang ia beli dari pedagang asongan di pinggir jalan.

Ia berhenti di sebuah pangkalan kereta kuda yang terletak di ujung dermaga.

Di sana, barisan kereta kayu tua dengan kuda-kuda yang tampak letih berjejer, menunggu penumpang yang ingin menuju ke Kota awan.

​"Tujuanmu, Nak?"

seorang pria tua dengan wajah yang dipenuhi garis-garis dalam dan bekas luka bakar bertanya tanpa menoleh. Ia sedang sibuk membersihkan sisa jerami dari roda keretanya.

"Pusat kota, Paman. Berapa biayanya?"

Chen Lin memberatkan suaranya, mencoba meniru dialek kasar penduduk lokal yang sempat ia dengar.

​"Dua keping perunggu. Naiklah, aku berangkat setelah tiga penumpang lagi penuh."

​Chen Lin menyerahkan kepingan logam tersebut dan naik ke bagian belakang kereta.

Di dalam sana, sudah ada seorang pedagang kain yang tertidur pulas dan seorang wanita paruh baya yang terus menggumamkan doa-doa kuno.

Chen Lin memilih sudut yang paling gelap, menyandarkan punggungnya pada dinding kayu yang berderit.

​Di dalam keheningan kereta, Chen Lin mulai memutar Energi Spiritual di dalam tubuhnya secara perlahan.

Meskipun ia sedang dalam perjalanan, ia tidak berani mengendurkan kewaspadaannya sedikit pun.

Ia bisa merasakan aliran darahnya yang kini sejuk dan padat, hasil dari Blood Purification tingkat 6.

Setiap kali kereta berguncang hebat, ia menggunakan momentum itu untuk melatih kontrol ototnya, memastikan bahwa dalam posisi apa pun, ia siap untuk melepaskan Teknik Pembeku Spiritual.

Pemandangan di luar mulai berubah. Pohon-pohon pinus berganti dengan pemukiman kumuh di pinggiran kota.

Cahaya lampu minyak mulai berkedip di balik jendela-jendela kayu yang rapuh.

Chen Lin merasa sebuah ironi yang tajam, di dunia di mana manusia bisa membelah gunung dan mengejar keabadian, masih ada ribuan orang yang hidup dalam lumpur dan kemiskinan, hanya menjadi figuran dalam sejarah para praktisi hebat.

​"Dunia ini adalah tempat pembuangan bagi mereka yang tidak memiliki bakat,"

Lin XingYu kembali berbicara, suaranya seolah bisa membaca pikiran Chen Lin.

"Mereka yang kau lihat di luar sana adalah debu. Jangan biarkan dirimu merasa iba. Iba adalah racun bagi seorang kultivator. Fokuslah pada tujuanmu: Marrow Purification. Kau butuh obat-obatan yang lebih keras jika ingin menembus ranah itu dalam waktu singkat."

Chen Lin terdiam. Ia menyentuh permukaan kalung gioknya secara sembunyi-sembunyi.

"Aku tahu, Senior. Aku tidak akan membiarkan langkahku terhenti hanya karena melihat debu yang beterbangan."

​Kereta kuda tiba-tiba melambat saat melewati sebuah gerbang batu yang dijaga oleh dua orang prajurit berseragam baja.

Mereka memegang tombak dengan ujung yang memancarkan pendar energi spiritual tingkat rendah, sebuah peringatan bagi siapa pun agar tidak membuat onar di wilayah kota.

"Pemeriksaan identitas!" salah satu prajurit berteriak, suaranya berat.

​Chen Lin tetap tenang. Ia sudah menyiapkan identitas palsu sebagai pemuda dari Desa Bambu Hijau yang sedang mencari kerja.

Dengan teknik Tirai Kabut Rembulan yang telah dimodifikasi oleh Lin XingYu, penyamarannya hampir mustahil ditembus oleh praktisi di bawah ranah Birth of Soul.

​Prajurit itu menyingkap tirai kereta, matanya yang lelah menyapu wajah para penumpang.

Saat matanya tertuju pada Chen Lin, ia hanya melihat seorang pemuda desa yang tampak lugu dan sedikit ketakutan. Tanpa kecurigaan, ia menurunkan kembali tirai tersebut.

​"Jalan!"

​Kereta kuda kembali bergerak, kini memasuki jalanan kota yang lebih luas dan terang.

Suara hiruk-pikuk kota mulai terdengar suara dentuman pandai besi, tawa di kedai minuman, dan gumaman para praktisi yang berkumpul di sudut-sudut gelap.

​Chen Lin menarik napas dalam. Kota pertama. Langkah pertama di daratan utama. Ia turun dari kereta saat mereka tiba di alun-alun kota yang ramai.

Di bawah bayang-bayang menara lonceng yang menjulang, Chen Lin berdiri tegak. Debu jalanan menempel pada sepatunya, namun di dalam matanya, tersimpan kilatan bintang yang telah siap untuk menjelajahi dunia ini.

​"Kota Awan... mari kita lihat apa yang kau sembunyikan di balik gemerlapmu,"

Bisik Chen Lin, lalu ia melangkah masuk ke dalam kerumunan, hilang di antara ribuan jiwa yang tak menyadari bahwa seorang Dewi baru saja mendarat di dunia mereka.

Hanya beberapa jam setelah menapakkan kaki di Kota Awan, Chen Lin dengan wajah pemuda desanya yang tampak polos sudah menarik perhatian para pemangsa yang berkeliaran di kedai-kedai murah pinggiran kota.

​Di sebuah kedai kecil, Chen Lin duduk di sudut ruangan, hanya memesan semangkuk mie tawar dan segelas air putih.

Ia sengaja menampilkan kesan seorang pengembara miskin yang sedang menghitung sisa keping perunggunya.

Strategi ini efektif untuk memancing siapa pun yang ingin mengambil keuntungan dari kelemahan tersebut.

​Tak lama kemudian, tiga pria dengan pakaian kulit binatang yang kasar dan bau keringat yang menyengat mendekati mejanya.

Pemimpin mereka, seorang pria bertubuh gempal dengan bekas luka cakar di pipi kirinya, membanting tangannya ke meja Chen Lin sambil tersenyum lebar sebuah senyum yang tidak mencapai matanya.

​"Hei, Nak! Kulihat kau sedang kebingungan mencari jalan," suara pria itu berat dan serak.

"Namaku Zhao, pemimpin kelompok pemburu kecil ini. Kami sedang kekurangan satu orang untuk masuk ke Hutan Kabut Hitam. Tugasnya mudah, hanya membawakan barang-barang dan memasang jerat. Kami akan membagimu hasil buruannya, cukup untuk membuatmu makan enak selama sebulan."

​Chen Lin menatap mangkuk minya, pura-pura ragu. Di bahunya, Lian Yue memberikan getaran peringatan melalui cakar kecilnya yang menusuk kain bajunya.

Lewat indra Spiritualnya, Chen Lin bisa merasakan aura ketiga orang ini. Zhao berada di Blood Purification tingkat 4, sementara dua rekannya hanya di tingkat 3.

Namun, di balik keramahan mereka, ada aroma amis niat jahat yang kental sebuah haus darah yang biasa dimiliki oleh mereka yang sering menggunakan manusia sebagai umpan monster.

​"Terima saja,"

suara Lin XingYu bergema dingin di kepalanya.

"Hutan adalah tempat terbaik untuk membuang mayat. Selain itu, kau butuh pengalaman praktis untuk menguji Teknik Pembeku Spiritualmu. Anggap saja mereka adalah sukarelawan untuk latihanmu."

Chen Lin mengangkat wajahnya, menampakkan ekspresi harapan yang dibuat-buat.

"Benarkah, Tuan Zhao? Saya... saya memang butuh uang untuk biaya perjalanan. Saya bisa membawakan barang apa saja."

​"Bagus! Itu semangat yang kubicarakan!"

Zhao tertawa keras, menepuk bahu Chen Lin dengan kasar.

"Kita berangkat sekarang sebelum matahari benar-benar tenggelam. Hutan tidak suka menunggu."

​Perjalanan menuju Hutan Kabut Hitam memakan waktu satu jam. Semakin jauh mereka masuk, pepohonan semakin tinggi dan rapat, menelan cahaya senja hingga yang tersisa hanyalah kegelapan yang lembap.

Zhao dan kedua rekannya, yang bernama Li dan Wang, mulai berhenti berpura-pura ramah. Mereka berjalan di depan, sesekali saling melempar kode melalui lirikan mata yang penuh arti.

​"Nak, taruh tasmu di sana," perintah Li, pria yang kurus dengan mata yang terus berkedip gelisah.

"Majulah sedikit ke depan semak-semak itu. Kami mencium bau Babi Hutan Bertaring Besi. Kau harus memancingnya keluar agar kami bisa memanahnya."

Chen Lin patuh. Ia melangkah maju ke area terbuka yang dipenuhi lumut licin.

Di depannya, sebuah lubang gelap di bawah akar pohon raksasa mengeluarkan hawa dingin yang tak alami.

Itu bukan sarang babi hutan, itu adalah sarang Ular Sanca Bayangan, monster tingkat rendah yang sangat menyukai daging manusia segar.

​"Apakah ini aman, Tuan Zhao?" tanya Chen Lin, suaranya sengaja dibuat gemetar.

​"Tentu saja aman, Nak. Kau hanya perlu berdiri diam di sana,"

Jawab Zhao dari kejauhan, tangannya sudah memegang busur, namun anak panahnya tidak diarahkan ke semak-semak, melainkan ke arah kaki Chen Lin untuk memastikan sang 'umpan' tidak bisa lari saat monster itu muncul.

​Tiba-tiba, udara di sekitar mereka membeku. Bukan karena cuaca, melainkan karena niat membunuh yang mulai meluap dari tubuh Chen Lin.

​"Sekarang," perintah Lin XingYu.

​Saat seekor ular raksasa berkulit hitam legam melesat keluar dari lubang dengan mulut terbuka lebar, Zhao melepaskan anak merangkak

Namun, anak panah itu tidak pernah menyentuh targetnya. Di mata para pemburu itu, waktu seolah-olah melambat menjadi merangkak.

​Chen Lin tidak bergerak satu inci pun dari tempatnya, namun atmosfer di sekelilingnya berubah drastis. Energi Spiritual es yang sangat padat meledak dari pori-pori tubuhnya.

"Teknik Pembeku Spiritual."

​Desisan ular itu terhenti di udara. Gerakan Zhao yang hendak tertawa mengejek membeku menjadi seringai aneh. Li dan Wang yang tadinya bersiap menonton pertunjukan merasa paru-paru mereka seolah diisi oleh serpihan kaca es yang tajam.

Segala sesuatu dalam radius lima meter di sekitar Chen Lin stagnan bahkan dedaunan yang jatuh dari pohon berhenti di tengah jalan.

​Chen Lin menoleh perlahan ke arah Zhao. Wajahnya yang lugu hilang, digantikan oleh ekspresi dingin yang sanggup membuat jantung siapa pun berhenti berdetak.

​"Umpan, katamu?" suara Chen Lin kini berat dan berwibawa, sangat mirip dengan nada bicara Lin XingYu.

​Dengan satu jentikan jari, esensi dingin merambat melalui tanah.

Ular sanca yang tadi melompat ke arahnya tiba-tiba retak dan hancur menjadi ribuan keping kristal es sebelum sempat menyentuh jubahnya.

Kekuatan Ice Heart Body milik Chen Lin membuat energi esnya berada pada level yang jauh melampaui ranah Blood Purification mana pun.

​"T-Tunggu! Kau... siapa kau sebenarnya?!" Zhao berteriak ketakutan.

Ia mencoba menarik napas, namun setiap tarikan oksigen terasa seperti menelan pisau. Ia menyadari bahwa pemuda desa yang mereka bawa bukanlah domba, melainkan naga yang sedang menyamar.

​"Aku?" Chen Lin melangkah maju, kakinya meninggalkan jejak embun beku di atas lumut.

"Aku hanyalah seorang pejalan kaki yang sedang mencari tempat tenang untuk membersihkan debu."

​Di bawah tekanan Energi Spiritual yang menyesakkan, Li dan Wang jatuh berlutut, kulit mereka mulai membiru karena kedinginan.

Mereka ingin memohon ampun, namun lidah mereka sudah membeku di dalam mulut.

​"Senior Lin pernah berkata," lanjut Chen Lin sambil berdiri di depan Zhao yang menggigil hebat.

"Bahwa iba adalah racun. Dan di hutan yang gelap ini, racun harus dibalas dengan es."

​Chen Lin tidak menggunakan senjata. Ia hanya mengulurkan tangannya, menyentuh dahi Zhao dengan ujung jarinya yang dingin.

Dalam sekejap, kristal es merambat dari titik sentuhan tersebut, menelan seluruh tubuh Zhao dalam hitungan detik hingga pria itu menjadi patung es abadi dengan ekspresi ketakutan yang murni.

Li dan Wang mencoba melarikan diri, namun bayangan Chen Lin tiba-tiba membelah. Teknik Bayangan Tujuh Pedang 'Tingkat 1'.

Sebuah replika spiritual Chen Lin muncul di belakang mereka, memegang pedang energi yang dingin.

Dengan satu tebasan kilat yang tak bersuara, kedua pemburu itu tersungkur, bukan karena luka berdarah, melainkan karena seluruh jalur Spiritual dan peredaran darah mereka telah dibekukan secara total.

​Keheningan kembali menyelimuti Hutan Kabut Hitam. Chen Lin menarik kembali energinya, dan bayangan spiritualnya menghilang ke dalam tubuhnya.

Suhu udara perlahan kembali normal, meninggalkan sisa-sisa kabut putih yang menyedihkan di antara mayat-mayat yang membeku.

Lian Yue mengepakkan sayapnya, kembali ke ukuran aslinya sejenak untuk mematuk sisa-sisa inti energi dari ular sanca yang hancur, lalu kembali bertengger di bahu Chen Lin.

​"Bagus," puji Lin XingYu.

"Kau tidak ragu. Kekejaman adalah guru terbaik di daratan ini. Sekarang, ambil tas mereka. Pasti ada beberapa koin atau peta yang bisa kita gunakan."

​Chen Lin membersihkan tangannya dengan kain kasar, menatap patung es Zhao dengan tatapan kosong.

"Hutan ini memang tidak suka menunggu, Tuan Zhao. Tapi dia lebih tidak suka pada mereka yang berisik."

​Dengan tenang, Chen Lin mengambil barang berharga dari para pemburu itu dan melangkah lebih dalam ke arah jantung hutan.

Langkah pertamanya di dunia luar baru saja dibasahi oleh darah yang membeku, dan bagi Chen Lin, ini hanyalah awal dari pendakian panjangnya menuju puncak yang tak terjangkau.

Keheningan Hutan Kabut Hitam kembali mencekam setelah patung-patung es itu mulai retak dan hancur tertiup angin hutan yang tajam.

Chen Lin tidak membuang waktu untuk meratapi mereka yang telah mencoba menjadikannya mangsa. Baginya, ketiga pemburu itu hanyalah gangguan kecil dalam perjalanan besarnya.

​"Jangan biarkan sisa energi esmu terbuang sia-sia," Suara Lin XingYu kembali mengingatkan, lebih dalam dan berwibawa.

"Hutan ini menyimpan lebih banyak dari sekadar ular sanca. Cari monster dengan inti energi yang stabil. Kau butuh modal untuk membeli 'Pil Sumsum Giok' jika ingin mempercepat Marrow Purification-mu."

​Chen Lin mengangguk pelan. Ia bergerak lebih dalam, melewati pepohonan raksasa yang akarnya melilit seperti naga purba.

Dengan Teknik Tirai Kabut Rembulan yang aktif, ia seolah-olah menjadi hantu di antara pepohonan, langkahnya tak bersuara, dan auranya menyatu sempurna dengan kelembapan hutan.

Beberapa jam kemudian, di sebuah lereng tebing yang dikelilingi oleh bunga-bunga beracun yang bersinar ungu, Chen Lin menemukan targetnya.

Sekelompok Serigala Taring Kristal. Ada lima ekor, masing-masing setinggi bahu pria dewasa dengan bulu abu-abu yang keras seperti kawat baja.

Pemimpin mereka memiliki tanduk kristal kecil di dahinya yang memancarkan pendar Spiritual biru.

​Tanpa menunggu mereka menyadari kehadirannya, Chen Lin mengaktifkan Teknik Bayangan Tujuh Pedang.

​Sesosok bayangan spiritual yang identik dengan dirinya melesat dari balik tubuhnya, bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata fana.

Bayangan itu menyerang dari sisi kanan, menarik perhatian kawanan serigala, sementara Chen Lin yang asli meluncur dari arah berlawanan.

Sesosok bayangan spiritual yang identik dengan dirinya melesat dari balik tubuhnya, bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata fana.

Bayangan itu menyerang dari sisi kanan, menarik perhatian kawanan serigala, sementara Chen Lin yang asli meluncur dari arah berlawanan.

​Ketika serigala pemimpin itu melompat untuk menerkam bayangan tersebut, Chen Lin melepaskan Teknik Pembeku Spiritual.

​Udara di kliring itu mendadak mengental. Gerakan melompat serigala itu terhenti di udara seolah-olah menabrak dinding kaca yang tak terlihat.

Chen Lin muncul tepat di bawah monster itu, jemarinya bergerak cepat membentuk segel es.

Dengan satu sentuhan ringan di bagian perut serigala yang tidak terlindungi, energi dingin yang luar biasa tajam merasuk, membekukan organ dalam monster itu secara instan tanpa merusak bulu atau taringnya yang berharga.

​Empat serigala lainnya mencoba melarikan diri, namun bayangan spiritual Chen Lin bekerja dengan efisiensi yang mematikan.

Dalam hitungan menit, lima bangkai serigala tergeletak di tanah, tampak utuh dari luar namun telah menjadi kristal es di dalamnya.

​Chen Lin dengan cekatan membedah bagian berharga dari buruannya taring kristal dan inti energi kecil dari dada sang pemimpin lalu membungkusnya dengan kain kasar.

1
Milk Lk
udh nabung 2 minggu lebih gas momentum walau cuman 20 chapter, semangat terus thor up nya
Milk Lk
Wah bagus sih ini, gas next chpter tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!