SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.
Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Keesokan paginya, suasana di sekolah masih penuh bisik-bisik soal kejadian kemarin di ruang OSIS. Kabar soal Yeri yang berbuat curang dan menjebak Mark sudah menyebar ke kalangan pengurus dan guru, meski belum diketahui murid lain secara luas. Mark datang ke sekolah dengan wajah masih agak pucat tapi pikiran sudah jernih sepenuhnya, berjalan beriringan dengan Gisel yang selalu berada di sisinya, saling menguatkan. Mereka pikir masalah sudah selesai, pelakunya sudah ketahuan, dan kebenaran sudah menang. Tapi mereka salah besar. Yeri yang sudah hancur masa depannya, yang merasa sakit hati dan dipermalukan, kini berubah jadi musuh yang jauh lebih berbahaya dan pendendam.
Pagi itu juga, Yeri tidak masuk ke kelas. Dia tidak diam saja menunggu sanksi sekolah jatuh. Dengan hati yang penuh dendam dan niat jahat yang makin gelap, dia pulang ke rumahnya, menyusun rencana pembalasan terakhir yang bakal menghancurkan nama baik Mark seumur hidup, sekaligus memisahkan dia dari Gisel selamanya. Dia sadar dia sudah kalah di mata semua orang di sekolah, tapi dia bertekad kalau dia jatuh, dia bakal menyeret Mark jatuh bersamanya ke dalam lubang yang sama.
Siang harinya, saat jam pelajaran berlangsung, Yeri datang ke rumah keluarga Mark. Dia berpakaian lusuh, wajahnya pucat, matanya bengkak habis menangis, dan berjalan tertatih-tatih seolah dia adalah korban yang paling menderita. Di tangannya dia membawa sebuah amplop cokelat tebal, menegangkan. Saat pintu dibuka oleh ibu Mark, Yeri langsung jatuh berlutut di ambang pintu, menangis tersedu-sedu seolah dunianya sudah hancur lebur.
"Bu... tolong saya... Bu... saya nggak tau harus ngomong sama siapa lagi... Bu...," isak Yeri histeris, menarik perhatian seluruh isi rumah.
Ibu Mark terkejut bukan main, langsung membantu mengangkat tubuh gadis itu masuk ke ruang tamu. "Lho Nak Yeri? Ada apa ini? Kenapa nangis-nangis? Ada apa? Apa yang terjadi? Cerita sama Ibu pelan-pelan ya."
Yeri duduk di sofa, menutup wajah dengan kedua tangan, air mata mengalir deras tanpa henti. Dia mengeluarkan isi amplop yang dibawanya: ada beberapa foto, rekaman suara potongan, dan secarik kertas tulisan tangan. Semua barang itu sudah dia rekayasa sedemikian rupa, disusun, dan diedit supaya terlihat sangat nyata dan meyakinkan.
"Bu... saya datang ke sini karena saya percaya sama Ibu, sama Bapak... saya nggak tega, tapi saya nggak kuat lagi nanggung beban ini sendirian...," suara Yeri terdengar lirih dan penuh ketakutan. "Ibu tau kan saya wakil ketua OSIS, sering kerja bareng Kak Mark... Awalnya saya kira Kak Mark itu sosok yang baik, yang sopan, yang bijaksana... ternyata saya salah besar, Bu..."
Dia mengambil foto-foto itu, menyerahkannya ke tangan ibu Mark dengan tangan gemetar. Foto itu adalah potongan gambar kejadian kemarin: saat Mark lemas, saat dia memeluk Mark, saat wajah mereka berdekatan—semuanya dia potong dan susun ulang, sehingga terlihat seolah Marklah yang memegang dia, Marklah yang mendekat, dan Marklah yang berusaha berbuat tidak sopan.
"Ini... ini foto kejadian kemarin, Bu... dan hari-hari sebelumnya... Kak Mark sering deketin saya diam-diam. Dia sering pegang-pegang tangan saya, mendekat berlebihan, ngomong hal-hal yang nggak pantas... Saya takut, Bu... saya cuma adik kelas, saya cuma karyawan dia... saya nggak berani nolak, saya takut dia marah, saya takut dia ngerusak nama baik saya..."
Yeri mengeluarkan rekaman suara dari ponselnya—potongan percakapan yang dia rekam diam-diam berbulan-bulan, lalu dia gabung dan potong sedemikian rupa. Terdengar suara Mark yang agak canggung, suara dia sendiri yang merayu, dan potongan kalimat yang disambung jadi terdengar seperti Mark mengajak dan menyetujui hubungan terlarang.
"Kak Mark sering bilang dia nggak bahagia sama Kak Gisel, Bu... Dia bilang dia suka sama saya, dia bilang dia pengen saya... Kemarin itu... kemarin itu dia narik saya, dia pegang saya, dia mau berbuat sesuatu sama saya di ruang OSIS... Saya berusaha nolak, saya berusaha kabur... tapi saya takut banget Bu... Saya malu, saya hancur... Saya nggak tau harus gimana lagi makanya saya beraniin diri datang ke sini, ngadu sama orang tua dia, supaya Kak Mark sadar dan berhenti ganggu saya..."
Yeri menangis makin keras, menjatuhkan diri berlutut di lantai di depan ibu Mark. "Bu... saya mohon sama Ibu... tolong nasehatin Kak Mark... Saya nggak mau bikin skandal, saya nggak mau laporin ke polisi atau ke sekolah... saya cuma mau dia berhenti. Saya sayang sama nama baik sekolah, sama nama baik keluarga Kak Mark... Makanya saya datang ke sini diam-diam, sebelum semuanya jadi rusak... Tolong saya Bu..."
Ibu Mark memegang foto dan rekaman itu dengan tangan gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal kaget dan kecewa. Dia kenal anaknya, dia tau Mark anak yang baik, sopan, dan bertanggung jawab. Tapi bukti di tangannya terlihat begitu nyata, cerita Yeri terdengar begitu meyakinkan, penuh rasa takut dan kepedihan. Apalagi Yeri berpenampilan menyedihkan, bersikap sopan, dan seolah dia adalah korban yang paling tidak bersalah.
Bapak Mark yang baru saja pulang kerja dan mendengar keributan di ruang tamu, langsung datang menghampiri. Mendengar cerita itu, melihat bukti-bukti itu, wajah Bapak Mark memerah menahan amarah yang luar biasa. Dia merasa dipermalukan, merasa kecewa, dan merasa marah besar karena anaknya diduga berbuat hal yang sangat tercela dan merusak nama baik keluarga.
"Dasar anak tidak tahu diri! Pulang sekolah nanti, suruh dia datang ke ruang kerja saya! Saya mau tanya dia sejujur-jujurnya! Kalau bener dia ngelakuin itu, saya sendiri yang bakal hukum dia seberat-beratnya!" bentak Bapak Mark dengan nada gemetar karena marah.
Yeri mengangkat wajah, menyembunyikan senyum kemenangan di balik air matanya. "Jangan marahin dia terlalu keras ya Pak... Saya cuma mau semuanya selesai baik-baik. Saya cuma mau minta keadilan, Pak... Saya nggak minta apa-apa selain ketenangan saya kembali."
Sore harinya, Mark dan Gisel berjalan bergandengan tangan menuju rumah Mark, berniat menceritakan kejadian kemarin secara jujur dan lengkap ke orang tua, menjelaskan kalau dia adalah korban jebakan Yeri. Tapi baru saja mereka sampai di halaman depan, Bapak dan Ibu Mark sudah berdiri di teras dengan wajah yang sangat gelap, dingin, dan penuh kekecewaan. Bahu Ibu Mark terlihat berguncang seolah habis menangis.
"Mark... masuk ke dalam. Dan kamu Gisel, kamu juga ikut. Kita harus bicara serius. Sangat serius," ucap Bapak Mark dengan nada dingin yang belum pernah didengar Mark sebelumnya.
Di ruang tamu, suasana terasa berat sekali. Di atas meja, tergeletak foto-foto rekayasa, kertas, dan ponsel yang dipakai Yeri. Mark melihat benda-benda itu, langsung mengerti apa yang terjadi. Darahnya serasa berhenti mengalir. Dia menoleh ke Gisel dengan wajah ketakutan.
"Pa... Ma... itu... itu barang-barang siapa? Dari mana kalian dapet itu semua?" tanya Mark pelan, suaranya bergetar.
Bapak Mark menunjuk benda itu dengan kasar. "Dari mana? Dari cewek yang kamu katanya kamu lecehkan! Yeri datang ke sini siang tadi, menangis minta perlindungan, minta tolong sama kami! Dia bawa semua bukti ini! Dia cerita semuanya! Cerita kalau kamu yang deketin dia, kamu yang ganggu dia, kamu yang mau berbuat hal nggak senonoh sama dia kemarin! Dia malu, dia takut, dia hancur... dan kamu?! Kamu berani-beraninya bohong sama kami, bilang kalau kamu yang dijebak?!"
Mark terduduk lemas di sofa, matanya membelalak kaget dan sedih luar biasa. "Itu bohong Pa! Semuanya bohong! Yeri itu yang jahat! Dia yang suka sama gue diam-diam, dia yang kasih obat ke minuman gue, dia yang mau jebak gue! Foto itu dipotong, rekaman itu diedit! Dia yang ngelakuin semua itu, dia yang mau hancurin gue karena gue nolak dia!"
"Alasan! Semua itu cuma alasan kamu buat nutupin kesalahan kamu sendiri!" potong Ibu Mark dengan suara parau dan menangis. "Kami percaya sama kamu, Mark. Kami bangga sama kamu. Tapi bukti ini ada di depan mata kami! Dia datang ke sini dengan keadaan hancur, dia nggak minta apa-apa selain supaya kamu berhenti! Kenapa kamu harus bohong? Kenapa kamu harus jadi anak seburuk ini? Ngerusak nama baik sekolah, ngerusak nama baik keluarga, nyakitin perempuan lain padahal kamu udah punya Gisel!"
Gisel yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya maju selangkah, matanya berkaca-kaca tapi tatapannya tegas dan berani. Dia tidak akan membiarkan kekasihnya dituduh kejam begitu saja.
"Om, Tante... tolong dengerin saya sebentar. Saya ada di sana kemarin. Saya liat semuanya. Mark sama sekali nggak bohong. Yeri itu punya niat jahat dari awal. Dia suka sama Mark, dia gencar banget deketin Mark diam-diam, dan pas Mark nolak dia, dia ngelakuin cara kotor. Foto-foto itu diambil dari sudut pandang yang salah, rekaman itu dipotong biar terdengar jelek. Yeri itu pendendam, Om, Tante... Dia tau dia kalah, dia tau dia bakal dihukum sekolah, makanya dia bales dendam dengan cara ngejelekin Mark ke sini, biar Mark juga hancur!"
Tapi penjelasan Gisel terdengar lemah di tengah kepercayaan yang sudah dirusak Yeri. Bapak Mark menggeleng kuat. "Kamu pacarnya, Gisel. Wajar kalau kamu belain dia. Tapi bukti itu nyata, dan cerita Yeri masuk akal. Dia cewek baik-baik, sopan, nggak mungkin dia ngomong bohong sejahat itu kalau nggak ada alasannya. Kamu berdua... kecewa banget Bapak sama kalian. Terutama kamu, Mark."
Mark merasa dunianya runtuh. Dia sudah berjuang melawan obsesi Yeri, dia sudah jadi korban obat bius, dia sudah hampir hancur kemarin... dan sekarang, orang tuanya sendiri, orang yang paling dia percaya, malah menuduh dia sebagai pelaku, menuduh dia penjahat, berdasarkan kebohongan dan rekayasa jahat Yeri. Rasa sakit itu jauh lebih tajam daripada rasa sakit fisik apa pun.
"Pa... Ma... gue anak kalian. Kalian tau gue gimana dari kecil. Apa gue pernah ngelakuin hal tercela kayak gini? Apa gue pernah nyakitin perempuan? Apa gue pernah ngekhianatin kepercayaan kalian? Demi Tuhan, Pa... Ma... gue nggak salah apa-apa. Gue korban. Korban kejahatan orang yang gila karena cinta," kata Mark dengan suara tercekik, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Hening melanda ruangan itu. Ibu Mark menangis dalam diam, bingung antara percaya pada anak kandungnya atau percaya pada bukti yang terlihat begitu nyata. Bapak Mark menghela napas panjang, wajahnya masih dingin tapi terlihat ragu.
"Kami nggak tau harus percaya siapa sekarang. Tapi sampai masalah ini jelas, sampai kebenaran beneran ketemu... kami minta kamu, Mark, buat jauhi Gisel dulu. Jangan ketemu, jangan ngobrol. Dan kami juga minta kamu berhenti dulu dari semua kegiatan sekolah, sampai sekolah menyelesaikan penyelidikan. Kami nggak mau risiko nama baik keluarga makin rusak."
"APA?!" teriak Mark kaget banget, berdiri tegak. "Pa! Itu nggak adil! Kenapa Gisel harus kena?! Kenapa kita harus pisah?! Gisel satu-satunya orang yang percaya sama gue, satu-satunya yang ada di sisi gue pas gue susah! Kenapa harus jauhi dia?!"
"Karena kamu sumber masalahnya, Mark! Dan biar semuanya tenang!" bentak Bapak Mark balik. "Ini keputusan mutlak. Sampai terbukti kamu bersih, sampai Yeri mencabut tuduhannya, sampai semuanya jelas... kamu harus nurut. Sekarang masuk ke kamar kamu, jangan kemana-mana!"
Mark terdiam kaku, napasnya tersengal menahan amarah, rasa sakit, dan ketidakadilan yang luar biasa. Dia menoleh ke Gisel, ceweknya yang berdiri diam dengan air mata mengalir deras, menatapnya penuh rasa sakit tapi juga penuh keyakinan.
Gisel menggeleng pelan, bibirnya bergetar tapi dia tersenyum sedih namun tegas. Dia mengerti, dia paham situasinya. Dia tidak akan membiarkan Yeri menang dengan cara kotor ini. Dia mendekat sebentar, cukup dekat supaya hanya Mark yang bisa dengar.
"Mark... dengerin gue. Jangan khawatir. Jangan nyerah. Yeri mau kita hancur, mau kita pisah, mau kita putus asa. Dia mau menang pake kebohongan. Tapi gue nggak bakal biarin itu kejadian. Gue percaya sama lo, 1000% percaya. Kalau orang tua lo ragu, kalau sekolah ragu, kalau dunia ragu... gue tetep bakal berdiri di sini, di sisi lo. Gue bakal cari bukti yang beneran, gue bakal bongkar semua kebohongan Yeri, gue bakal bikin dia ngaku semuanya. Gue bakal buktiin kalau lo bersih, kalau lo bener, dan kalau cinta kita jauh lebih kuat dari dusta dia."
Gisel menyeka air matanya, menatap Mark lekat-lekat, menanamkan kekuatan ke dalam hati cowoknya.
"Kita cuma dipisah sementara, Mark. Itu cuma ujian terakhir. Gue bakal berjuang buat kita berdua. Tunggu aja... nanti kebenaran bakal menang. Dan pas itu datang, kita bakal lebih kuat dari sebelumnya, dan kita bakal buktiin ke semua orang seberapa jahat dia dan seberapa bersih lo."
Dengan berat hati, dengan hati yang hancur tapi masih berapi-api semangat, Gisel berpamitan pada orang tua Mark dan pergi meninggalkan rumah itu. Mark duduk diam di tangga rumah, menangis diam-diam, merasa sangat hancur, tapi hatinya terhangat oleh janji Gisel. Dia tau, dia tidak sendirian. Dia tau, Gisel adalah satu-satunya cahaya di tengah kegelapan yang diciptakan Yeri.
Konflik ini belum selesai. Bahkan sekarang, konflik ini mencapai puncaknya. Yeri sudah melepaskan senjata paling mematikan: fitnah dan kebohongan yang menyerang harga diri dan kehormatan Mark. Dia pikir dia sudah menang, dia pikir dia sudah menghancurkan Mark dan memisahkan dia dari Gisel selamanya. Tapi dia lupa satu hal: dia sedang melawan cinta yang sudah teruji badai, dan dia sedang melawan Gisel yang tidak akan berhenti sampai kebenaran terungkap sepenuhnya.
Di bab terakhir ini, pertarungan akhir akan terjadi. Gisel bersama teman-teman lain akan menyusun strategi, mencari celah, dan membongkar semua rekayasa Yeri. Yeri akan terjebak dalam jaring kebohongannya sendiri, dan akhirnya harus menghadapi konsekuensi berat dari semua perbuatannya. Dan pada akhirnya, kebenaran akan menang, nama baik Mark akan pulih, dan cinta mereka akan bersinar lebih terang dari sebelumnya sebelum mereka berpisah menempuh jalan masing-masing menuju masa depan.