Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Luka yang Berdarah Lagi
Ponselku terlepas dari jari-jariku yang mendadak mati rasa, jatuh berdebum menghantam kerasnya lantai marmer lobi RS Bhayangkara. Layarnya retak, menyisakan suara panggilan Adrian yang terputus oleh kegaduhan di seberang sana. Namun, suara pecahan kaca itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan suara kehancuran yang bergema di dalam kepalaku.
Code Blue.
Dua kata itu adalah teror absolut bagi setiap tenaga medis. Sebuah kode kedaruratan resusitasi yang menandakan bahwa seorang pasien sedang berada di ambang batas antara dunia fana dan keabadian. Dan pasien itu adalah pria yang baru saja menempatkan namaku di dalam denyut nadinya.
Kilatan flash kamera dan rentetan pertanyaan dari puluhan wartawan di lobi mendadak berubah menjadi dengungan statis yang memekakkan telinga. Duniaku menyempit, hanya menyisakan satu titik fokus: lantai tiga, ruang Intensive Care Unit.
Tanpa mempedulikan tatapan kebingungan Leo Sastra atau teriakan para jurnalis yang mengerubungiku, aku membalikkan badan dan berlari. Aku menerobos kerumunan itu layaknya orang kesetanan. Sepatu hak tinggiku tergelincir di atas lantai yang baru saja dipel, namun aku tidak peduli. Aku membuang sepatu itu dan melanjutkan berlari tanpa alas kaki menaiki anak tangga darurat, mengabaikan rasa perih dari luka sayatan di bahuku yang tiba-tiba berdenyut hebat hingga merembeskan darah segar ke balik jas lab putihku.
Luka ini berdarah lagi. Namun rasa sakit fisiknya sama sekali tidak mampu mengimbangi rasa sakit yang mencabik-cabik rongga dadaku.
"Menyingkir!" teriakku saat aku menendang pintu darurat di lantai tiga.
Lorong ICU yang tadinya steril dan tenang kini berubah menjadi zona kekacauan. Beberapa perawat berlarian mendorong troli crash cart darurat menuju kamar isolasi di ujung lorong—kamar Ghazali. Di depan pintu geser kamar tersebut, dua petugas polisi dari unit Bareskrim yang ditugaskan menjaga 'tersangka' tampak kebingungan, namun mereka tetap merentangkan tangan untuk memblokir akses.
"Dokter Keana, Anda tidak diizinkan masuk! Atasan kami—"
"Suamiku sedang sekarat di dalam sana, bajingan!" raungku dengan suara yang melengking hingga nyaris merobek pita suaraku.
Aku tidak lagi menggunakan etika profesional. Aku menerjang dada salah satu petugas berseragam itu, mendorongnya dengan seluruh kekuatan primal yang kumiliki. Petugas itu terkejut dengan agresivitasku hingga ia terhuyung ke belakang, memberikan celah sepersekian detik bagiku untuk menerobos masuk ke dalam ruang ICU.
Pemandangan di dalam ruangan itu seketika membekukan darah di nadiku.
Ghazali tergeletak di atas ranjang dengan tubuh yang tersentak-sentak pelan akibat kompresi dada yang dilakukan oleh dokter jaga. Mesin elektrokardiogram (EKG) menjeritkan nada panjang yang lurus dan monoton. Garis hijau di layar itu tidak menunjukkan gelombang kehidupan, melainkan garis flatline asystole.
"Kita kehilangan denyutnya! Masukkan Epinefrin satu miligram, push!" teriak dokter spesialis anestesi yang memimpin resusitasi.
"Tunggu!" teriakku melangkah ke sisi ranjang, mengabaikan tatapan kaget para tim medis. "Ini bukan henti jantung karena infark miokard biasa! Dia terpapar Asam Hidrofluorik murni! Kalsium Glukonat yang kita berikan di aspal tadi tidak cukup untuk mengikat ion fluorida di sirkulasi sentralnya!"
Dokter anestesi itu menoleh dengan marah. "Dokter Keana, Anda sudah dibebastugaskan! Anda tidak punya wewenang di sini!"
"Persetan dengan wewenangku!" Aku merampas ampul dari tangan perawat. Mataku menyala dengan keputusasaan seorang istri yang menolak menjadi janda malam ini. "Ion fluorida telah menyebabkan hipokalsemia dan hipomagnesemia akut yang resisten! Jika Anda hanya memberikan CPR dan Epinefrin, otot jantungnya tidak akan merespons! Berikan Kalsium Klorida melalui jalur vena sentral (CVC) sekarang juga, dan siapkan injeksi Magnesium Sulfat!"
"Dia tersangka titipan negara, Keana! Kita harus mengikuti protokol standar!" bantah dokter itu.
"Dia adalah pasien yang keracunan bahan kimia spesifik! Jika kau mengabaikan fakta toksikologinya, kau sama saja dengan membunuhnya di atas ranjang ini!" aku mencondongkan tubuh, menatap mata dokter anestesi itu dengan intensitas membunuh. "Lakukan apa yang kukatakan, atau aku akan memastikan lisensi medismu dicabut karena malapraktik!"
Ketenangan dan dominasi ilmiahku yang tak terbantahkan berhasil menekan keraguan dokter tersebut. Ia menelan ludah dan segera memberi instruksi baru pada perawat. "Siapkan Kalsium Klorida 10% dan Magnesium Sulfat 2 gram intravena pelan. Switch ke protokol keracunan HF!"
Aku mundur selangkah, napasku tersengal saat perawat menyuntikkan cairan bening itu ke dalam selang infus yang terhubung ke vena besar di leher Ghazali. Waktu terasa melambat. Setiap detik yang berdetak di jam dinding rumah sakit terasa seperti palu godam yang menghantam kepalaku.
Dalam ilmu kedokteran forensik, autopsi adalah pembedahan jenazah yang dilakukan untuk mengetahui secara ilmiah penyebab kematian. Aku telah menghabiskan separuh hidupku untuk mencari tahu mengapa seseorang mati. Namun malam ini, aku menyadari betapa tidak bergunanya semua pengetahuan itu jika aku tidak bisa menggunakannya untuk membuat seseorang tetap hidup.
Satu menit berlalu. Tidak ada respons.
"Berikan shock 200 Joule!" perintah dokter anestesi.
Tubuh Ghazali kembali tersentak keras saat arus listrik menghantam dadanya. Aku menggigit kepalan tanganku sendiri, menahan jeritan histeris yang meronta ingin keluar.
Tuhan, kumohon. Aku rela menerima seluruh kebenciannya, aku rela diusir dari rumahnya, asalkan Engkau membiarkan pria angkuh ini tetap bernapas.
Tiba-tiba, suara derit flatline itu terputus. Sebuah gelombang kecil muncul di layar monitor. Diikuti oleh gelombang kedua, lalu ketiga. Bunyi bip... bip... bip... yang pelan dan rapuh mulai mengudara di ruangan yang dipenuhi keringat dingin itu.
"Irama sinus kembali! Nadinya teraba, tapi sangat lemah. Tekanan darah 70 per 40," lapor perawat dengan napas lega.
Aku merosot jatuh ke atas lantai steril ruangan itu. Lututku kehilangan seluruh kekuatannya. Tanganku mencengkeram tepi ranjang besi Ghazali, membiarkan isak tangis yang tertahan sedari tadi tumpah seutuhnya. Suamiku masih hidup. Untuk saat ini, malaikat maut bersedia menunda penjemputannya.
Namun, jeda emosional itu hanya berlangsung kurang dari dua menit.
Pintu geser ICU tiba-tiba terbuka dengan bantingan kasar. Empat orang pria berjas rapi dengan lencana penyidik Bareskrim di dada mereka masuk ke dalam ruangan. Di belakang mereka, Komisaris Herman berdiri dengan wajah tegang, sementara Leo Sastra menyusul dengan napas memburu.
Penyidik utama, seorang pria berkumis tebal dengan tatapan arogan, melangkah tepat ke arahku. Ia mengeluarkan selembar kertas berstempel resmi dari dalam saku jasnya.
"Dokter Keana Elvaretta," suara penyidik itu berat dan tanpa intonasi. "Dalam hukum pidana, tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya, berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana. Dan malam ini, status Anda resmi dinaikkan menjadi tersangka."
Aku perlahan bangkit berdiri. Aku menyeka air mataku dengan punggung tanganku yang gemetar, menatap lurus ke arah pria itu. "Tersangka atas dasar apa?"
"Anda ditahan atas dugaan pencurian barang bukti dari lokasi yang diklaim sebagai Tempat Kejadian Perkara (TKP) tanpa surat perintah, perusakan properti di kediaman keluarga Mahendra, serta penyebaran kebohongan publik di media massa yang menyebabkan kegaduhan nasional," penyidik itu membacakan surat perintah tersebut layaknya seorang algojo yang membacakan vonis mati. "Silakan berbalik dan serahkan tangan Anda."
Salah satu anak buahnya maju dengan membawa borgol besi.
"Tunggu dulu!" Leo Sastra melangkah maju, memposisikan dirinya di antaraku dan para penyidik tersebut. "Sebagai kuasa hukumnya, saya menyatakan bahwa surat perintah penangkapan ini cacat formil! Kalian tidak memiliki corpus delicti atau bukti materiil yang sah untuk menahan klien saya! Tuduhan pencurian mayat itu absurd karena kalian sendiri tidak pernah membuktikan keberadaan jenazah tersebut di lokasi yang dituduhkan!"
"Pengacara Leo, jangan menghalangi tugas kepolisian," penyidik utama itu mendengus meremehkan. "Kami memiliki laporan resmi dari Nyonya Ratna Mahendra dan saksi mata dari kuasa hukumnya, Saudari Maia Anindita. Mereka bersaksi bahwa Dokter Keana menerobos masuk dan mencuri aset keluarga. Terlebih lagi, laboratorium forensik klien Anda ini baru saja digeledah, dan kami menemukan 'barang' yang diakui dicuri oleh klien Anda."
"Barang bukti yang kalian sita secara paksa dari laboratorium klien saya itu adalah bukti kunci pembunuhan!" bantah Leo dengan nada tinggi, urat lehernya menonjol. "Kalian menghancurkan rantai komandonya untuk melindungi elit yang membayar kalian!"
"Itu tuduhan yang sangat serius, Pengacara. Simpan argumen Anda untuk sidang praperadilan nanti," penyidik itu memberi isyarat dengan kepalanya. "Borgol dia."
Saat petugas itu melangkah mendekat, mataku tertuju pada Ghazali yang masih terbaring koma. Tangan kanannya yang dibalut perban itu tidak akan bisa lagi melindungiku malam ini. Ia telah melakukan bagiannya. Ia telah menyerahkan dirinya pada neraka agar aku bisa menghirup udara bebas. Jika aku menyerahkan diriku sekarang, jika aku membiarkan borgol besi ini mengunci pergelangan tanganku, maka seluruh pengorbanannya di bunker beracun itu akan sia-sia. Maia dan ibunya akan menang mutlak.
"Jangan sentuh klien saya!" Leo Sastra sengaja memajukan tubuhnya, menabrak petugas pembawa borgol itu dengan dalih ketidaksengajaan. Terjadilah sedikit insiden dorong-mendorong yang memancing emosi para penyidik.
Di detik yang penuh kekacauan itu, Komisaris Herman tiba-tiba bergeser mendekatiku. Tubuhnya yang besar menghalangi pandangan penyidik utama.
"Lari," bisik Herman dengan suara yang nyaris tak terdengar, tanpa menggerakkan bibirnya. Tangannya dengan cepat menyelipkan sebuah kunci mobil dan secarik kertas kecil ke dalam saku jas lab-ku. "Jika kau masuk ke sel malam ini, kau tidak akan pernah keluar hidup-hidup. Nyonya Ratna punya orang di dalam. Pergi ke alamat itu. Aku akan mengurus CCTV rumah sakit."
Aku menatap Herman dengan mata terbelalak. Polisi veteran ini sedang mempertaruhkan seluruh jabatan dan uang pensiunnya untuk melindungiku—sebuah tindakan obstruction of justice nyata demi keadilan yang lebih besar.
"Tapi Ghazali..." bisikku, melirik ke arah ranjang.
"Aku akan menempatkan anak buah kepercayaanku untuk menjaganya selama 24 jam. Pergilah, Keana! Kau adalah satu-satunya pisau bedah yang bisa membedah kebusukan mereka dari luar!"
Keributan antara Leo Sastra dan penyidik semakin memanas. Leo, dengan segala kelicikan litigasinya, sengaja berteriak dan memancing perhatian para dokter serta perawat di luar ruangan untuk menciptakan tontonan publik.
Ini adalah satu-satunya kesempatanku.
Dengan gerakan sehalus bayangan, aku mundur dua langkah, menyelinap keluar melalui pintu samping ICU yang terhubung langsung dengan ruang utilitas perawat. Aku melepaskan jas lab putihku yang bernoda darah, membuangnya ke dalam keranjang linen kotor, dan meraih sebuah jaket hoodie milik staf kebersihan yang tergantung di dinding.
Aku menarik tudung jaket itu untuk menutupi wajahku, lalu menuruni tangga darurat dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
Alarm darurat rumah sakit tiba-tiba berbunyi nyaring. Suara pengumuman dari pengeras suara bergema di seluruh koridor. "Kode Hitam. Tim Keamanan, kunci semua akses keluar. Tersangka melarikan diri dari sayap timur lantai tiga."
Mereka menyadarinya lebih cepat dari dugaanku.
Aku mempercepat langkahku, menuruni anak tangga hingga kakiku yang telanjang berdarah karena tergores serpihan kerikil dan ujung tangga yang kasar. Aku keluar melalui pintu pembuangan limbah medis di belakang rumah sakit. Udara malam yang dingin dan sisa gerimis menyambutku dengan pelukan yang membekukan tulang.
Aku menekan tombol pembuka alarm pada kunci mobil yang diberikan Komisaris Herman. Sebuah mobil sedan usang berwarna perak menyala di sudut area parkir karyawan. Aku segera berlari dan masuk ke dalam mobil tersebut. Tanganku gemetar hebat saat aku memasukkan kunci dan menghidupkan mesin.
Saat aku menginjak pedal gas dan mobil ini melaju membelah kegelapan jalanan Jakarta yang sepi, tangisku akhirnya pecah. Aku memukul setir mobil dengan sisa tenaga yang kumiliki. Raunganku tertelan oleh suara deru mesin mobil tua ini.
Aku telah kehilangan segalanya. Laboratoriumku dihancurkan. Asistenku disekap dan disiksa. Pria yang akhirnya menyadari perasaannya kepadaku kini terbaring koma, menunggu waktu untuk dijadikan tumbal di meja pengadilan. Dan aku? Sang dokter spesialis forensik yang selalu bangga akan rasionalitasnya, kini resmi berstatus sebagai buronan negara.
Luka di bahuku kembali berdarah, merembes menembus kain hoodie yang kukenakan. Luka ini persis seperti luka di batinku—keduanya dikoyak oleh wanita yang sama, di malam yang sama.
Aku membuka secarik kertas yang diselipkan Herman tadi. Di sana tertulis sebuah alamat di kawasan kumuh pinggiran Tanjung Priok. Tempat persembunyian yang tidak akan pernah tersentuh oleh gemerlapnya dunia elit keluarga Mahendra.
Aku melirik pantulan wajahku di kaca spion tengah. Mataku yang sembab kini memancarkan sesuatu yang lebih tajam dari sekadar kesedihan. Ada api yang membara di sana. Api dendam dari seorang istri yang terabaikan, dari seorang ahli forensik yang kebenarannya diinjak-injak.
"Kalian mungkin telah memotong lidah staf ahli itu, dan kalian mungkin mencoba memotong sayapku malam ini," bisikku pada kegelapan malam, membayangkan wajah Nyonya Ratna dan Maia. "Tapi kalian lupa, di dalam ruang otopsi, dokter forensik membedah tubuh tidak dari luar ke dalam... melainkan dengan memisahkan organnya satu per satu hingga kebusukannya terlihat."
Mulai malam ini, aku bukan lagi sekadar Keana Elvaretta si istri pesanan wasiat. Aku adalah racun yang akan menyusup masuk ke dalam sistem kekebalan keluarga Mahendra. Jika mereka menggunakan hukum untuk membunuh, maka aku akan menggunakan sisa-sisa kematian untuk menghukum.
Dan saat aku kembali nanti, aku bersumpah, tidak akan ada lagi satu pun luka yang hanya dirasakan oleh satu pihak di ranjang kami.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍