“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”
Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.
Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.
Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Sabit jiwa kegelapan
Hujan badai di luar meraung, seolah-olah langit sedang berusaha meruntuhkan gunung tempat Shan Luo berlindung.
Di dalam gua yang pengap dan dingin, hanya terdengar suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit batu dan napas yang terputus-putus.
Shan Luo menyandarkan tubuh ibunya ke dinding gua yang kasar.
Xue Ling tampak begitu rapuh; kulitnya hampir transparan, dan suhu tubuhnya terus menurun, lebih dingin dari batu di sekeliling mereka.
"Ibu ... bertahanlah. Sedikit lagi ..." suara Shan Luo bergetar. Ia merobek ujung pakaiannya yang basah untuk menyeka darah yang tak berhenti mengalir dari bibir ibunya.
Xue Ling membuka matanya perlahan. Pupil matanya mulai kehilangan fokus. "Shan’er ... sudah cukup. Jangan ... jangan membuang nyawamu demi rongsokan ini ..."
"Jangan bicara begitu!" raung Shan Luo. Air matanya jatuh menetes ke pipi ibunya. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi! Jika dunia membuang kita, maka aku akan membuat dunia menyesal! Tapi Ibu harus hidup untuk melihatnya!"
Shan Luo merangkak lebih dalam ke kegelapan gua, mencari sesuatu seperti kayu kering, lumut, apa saja untuk menghangatkan ibunya.
Namun, tangannya justru menyentuh sesuatu yang dingin. Bukan dinginnya es, melainkan dingin yang terasa seperti kematian itu sendiri.
Di sudut terdalam gua, tertanam sebuah benda yang memancarkan aura hitam pekat.
Sebuah sabit raksasa dengan bilah melengkung yang tampak terbuat dari kristal obsidian gelap. Rantai karatan melilit gagangnya, seolah-olah berusaha menyegel iblis di dalamnya.
Itu adalah Sabit Jiwa Kegelapan, sebuah Artefak Kelas Langit yang telah terkubur oleh waktu.
Saat jemari Shan Luo yang berdarah menyentuh permukaannya, sebuah suara bergema langsung di dalam jiwanya. Dingin, purba, dan penuh haus darah.
“Anak manusia yang malang ... kau membawa kebencian yang begitu murni. Apakah kau menginginkan kekuatan?”
Shan Luo terperanjat, namun ia tidak mundur. Matanya yang memerah menatap bilah sabit itu. "Siapa kau?"
“Aku adalah pemanen yang dilupakan. Aku bisa memberikan apa yang kau minta. Aku bisa menarik kembali jiwa ibumu dari gerbang kematian. Tapi ... harga yang diminta tidaklah murah.”
Shan Luo melirik ibunya yang baru saja mengerang pelan, tubuhnya mulai kejang. "Sebutkan harganya! Apa pun! Ambil nyawaku jika perlu!"
“Bukan seluruh nyawamu. Aku menginginkan separuh dari jiwamu ... dan separuh dari sisa umurmu. Kau akan hidup dengan jiwa yang cacat, merasakan sakit yang tak berakhir, dan waktu yang kau miliki akan berkurang setengahnya. Apakah kau bersedia menjadi wadah bagi kegelapan ini?”
Tanpa ragu sedetik pun, Shan Luo berteriak, "LAKUKAN!"
Seketika, rantai yang melilit sabit itu hancur berkeping-keping. Cahaya hitam pekat meledak, menelan seluruh ruangan gua.
Shan Luo merasa seolah-olah ada tangan raksasa yang masuk ke dalam dadanya dan merobek sesuatu yang sangat berharga dari sana.
"AAARRRRGGGHHHH!"
Rasa sakitnya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Itu lebih menyakitkan daripada setiap tendangan Shan Feng, lebih perih daripada setiap hinaan para istri simpanan itu. Rasanya seperti seluruh sarafnya dibakar hidup-hidup sementara jiwanya ditarik paksa.
Di tengah siksaan itu, sebagian rambut hitam Shan Luo mulai kehilangan warnanya.
Putih pucat menyebar dari akar hingga ujung rambut di beberapa bagian, menjadi saksi bisu dari umur yang terenggut secara paksa.
Energi hitam itu mengalir dari tangan Shan Luo, menjalar ke lantai gua, dan masuk ke dalam tubuh Xue Ling.
Luka-luka di tubuh ibunya mulai menutup secara ajaib. Napasnya yang tadi tersengal-sengal perlahan menjadi teratur.
Esensi es yang dulu hilang kini digantikan oleh energi gelap yang stabil, menjaga jantungnya tetap berdetak.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, cahaya hitam itu meredup.
Shan Luo jatuh berlutut, napasnya berat dan tersiksa. Sabit raksasa itu kini berukuran lebih kecil, pas di genggamannya, dan seolah menyatu dengan nadinya.
Untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, ia merasakan aliran energi di dalam tubuhnya.
Tahap Pembersihan Tubuh (Body Refining).
Bukan melalui latihan fisik bertahun-tahun, melainkan melalui kontrak darah dengan artefak langit.
Namun, harganya nyata. Shan Luo melihat pantulan dirinya di genangan air gua; wajahnya tampak lebih dewasa, lebih dingin, dengan helaian rambut putih yang kontras di antara rambut hitamnya.
Ia merangkak menuju ibunya. Tangan Xue Ling kini terasa hangat.
"Shan’er ...?" Xue Ling terbangun, matanya membelalak melihat penampilan putranya. "Rambutmu ... apa yang telah kau lakukan?"
Shan Luo memaksakan sebuah senyum tipis, meski setiap inci tubuhnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Ia menggenggam erat sabit hitam di sampingnya.
"Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita, Ibu," bisik Shan Luo. Suaranya kini terdengar lebih berat, lebih dalam.
Ia menoleh ke arah mulut gua, menatap ke arah kediaman Klan Shan yang jauh di sana.
"Dulu aku adalah sampah yang hanya bisa menangis. Tapi mulai hari ini ... siapa pun yang membuat Ibu meneteskan air mata, aku akan memastikan mereka memohon untuk mati di bawah bilah sabit ini."
Dengan jiwa yang cacat dan rambut yang memutih, Shan Luo memulai langkah pertamanya di jalan kultivasi yang berlumuran darah.