NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retak Cemburu

Sore itu, studio lukis Aurora di hujung mansion Valehart bermandikan cahaya jingga yang hangat. Di tengah ruangan, Aurora berdiri di depan kanvas besarnya, kuas di tangannya menari-nari mencoba menangkap gradasi warna ungu transparan dari bunga Lumina Orchid yang ia letakkan di samping jendela.

Ia begitu larut dalam dunianya, hingga suara ketukan pintu yang lembut tidak langsung ia sadari.

"Warna itu... Anda berhasil menangkap jiwanya, Nyonya Valehart."

Aurora tersentak, kuasnya hampir mencoret kanvas secara tidak sengaja.

Ia menoleh dan menemukan Adrian Morel berdiri di ambang pintu. Pria itu tampil sempurna dengan setelan abu-abu muda, memegang sebuah map kulit di tangannya.

"Tuan Morel? Bagaimana Anda bisa masuk ke sini?" Aurora meletakkan palet warnanya, sedikit terengah karena terkejut.

Adrian melangkah masuk dengan santai, matanya menyapu ruangan itu sebelum kembali menatap Aurora dengan binar kekaguman yang tidak disembunyikan.

"Pelayan Anda bilang Anda ada di sini. Karena ini urusan dokumen terakhir museum pasca kemenangan kita, saya pikir saya bisa mengantarkannya langsung."

Adrian mendekati kanvas Aurora, berdiri cukup dekat hingga Aurora bisa mencium aroma parfumnya yang elegan—sangat berbeda dengan aroma maskulin Lucien yang tajam.

"Bunga yang indah," komentar Adrian, matanya beralih ke Lumina Orchid.

"Langka, mahal, dan penuh rahasia. Sangat cocok dengan Anda, Aurora."

Aurora berdeham, mencoba menutupi rasa canggungnya. "Ini pemberian... Lucien."

Adrian tersenyum miring, senyum yang selalu membuat Aurora merasa pria ini tahu segalanya.

"Ah, Tuan Valehart ternyata punya selera yang bagus. Tapi tetap saja, bunga seindah ini akan layu jika diletakkan di dalam ruangan yang terlalu dingin, bukan?"

Ia menatap Aurora dalam-dalam, sebuah godaan tersirat yang membandingkan ruangan itu dengan pernikahan kontrak Aurora.

Adrian perlahan mengulurkan tangan, bukan untuk menyentuh Aurora, melainkan untuk mengambil sehelai rambut Aurora yang terkena noda cat kecil di dekat bahunya.

Tepat pada saat itu, pintu studio terbuka dengan suara dentuman yang cukup keras.

Lucien berdiri di sana.

Napasnya sedikit memburu, kemejanya tidak terkancing dua di bagian atas, memberikan kesan berantakan yang sengaja dibuat. Ia baru saja pulang dan langsung menuju studio setelah diberitahu Arthur bahwa ada seorang pria asing di ruangan istrinya.

Mata abu-abu Lucien langsung menggelap saat melihat Adrian yang berdiri sangat dekat dengan Aurora.

"Adrian Morel," suara Lucien mengalun rendah.

"Aku tidak ingat ada agenda pertemuan di rumahku hari ini."

Adrian tidak terlihat terkejut. Ia menarik tangannya kembali dengan sangat luwes dan membungkuk hormat.

"Tuan Valehart. Maafkan gangguan ini. Saya hanya mengantarkan dokumen kepemilikan akhir untuk Nyonya Valehart."

Lucien melangkah masuk, kehadirannya yang dominan seketika menelan habis aura menenangkan Adrian. Ia berdiri di antara Aurora dan Adrian, sebuah perisai manusia yang tidak bisa ditembus.

"Kau bisa memberikannya pada Arthur di depan," ucap Lucien dingin, matanya menatap Adrian dengan kebencian yang nyata.

Lucien kemudian melirik Aurora. Ia menyadari wajah istrinya sedikit memerah—mungkin karena terkejut, tapi di mata Lucien yang sedang cemburu, itu terlihat seperti efek dari pesona Adrian. Ditambah lagi, Lucien teringat ejekan Aren bahwa dia "bau kopi".

"Aurora, masuk ke kamar. Biarkan aku yang menyelesaikan urusan ini dengan pengacara kita," perintah Lucien, menekankan kata 'pengacara' seolah itu adalah status paling rendah di ruangan itu.

"Tapi Lucien, kami hanya sedang bicara soal—"

"Masuk, Aurora," potong Lucien, suaranya kini lebih dalam dan mutlak.

Adrian hanya tersenyum tipis, menatap Lucien dengan pandangan meremehkan. "Tuan Valehart, tidak perlu terlalu tegang. Saya hanya sedang mengagumi hasil karya istri Anda. Bukankah begitu, Aurora?"

Lucien mengepalkan tangannya di samping tubuh.

Rahangnya mengeras seketika saat telinganya menangkap nama itu meluncur begitu saja dari bibir Adrian.

"Hah? Aurora?"

Lucien mengulangi nama itu dengan nada yang sangat tidak percaya, seolah-olah Adrian baru saja mengucapkan kata-kata kotor di dalam gereja.

"Sejak kapan kau merasa punya hak untuk memanggil istriku dengan nama depannya, Morel?" suara Lucien menjadi sangat rendah dan berbahaya.

Adrian hanya menaikkan alisnya sedikit, tampak sangat tenang menghadapi kemarahan Lucien yang meluap-luap.

"Kami sudah bekerja sama cukup lama untuk kasus ini, Tuan Valehart. Saya pikir suasana yang sedikit lebih akrab bisa membantu—"

"Akrab?" potong Lucien telak, langkahnya kini sudah berdiri tepat di depan Adrian.

"Dia adalah Nyonya Valehart. Istriku. Pemilik mansion ini," Lucien menekankan setiap kata dengan tekanan yang berat.

"Kau di sini karena kontrak profesional, bukan karena kau adalah teman dekat keluargaku. Jadi, jaga lidahmu jika kau masih ingin lidah itu berfungsi untuk membela klienmu di masa depan."

Aurora yang berdiri di belakang Lucien merasa atmosfer ruangan itu menjadi sangat menyesakkan. Ia bisa melihat otot punggung Lucien yang menegang di balik kemejanya.

"Lucien, tenanglah... Tuan Morel hanya—"

"Dan kau, Aurora," Lucien menoleh sedikit, memberikan tatapan yang sangat intens pada istrinya.

"Jangan biarkan sembarang orang merasa begitu nyaman di ruangan pribadimu. Kau terlalu baik, dan orang seperti dia..." Lucien melirik Adrian dengan hina, "...selalu tahu cara memanfaatkan kebaikan itu."

Adrian terkekeh rendah, suara yang entah kenapa terdengar sangat memprovokasi bagi Lucien.

"Tuan Valehart, Anda terdengar sangat protektif. Atau... apakah Anda merasa terancam hanya karena sebuah nama?"

Lucien menarik kerah kemeja Adrian dengan satu gerakan cepat, membuat map dokumen di tangan Adrian hampir terjatuh.

"Terancam? Tidak," bisik Lucien tepat di wajah Adrian.

"Aku hanya sedang mengingatkanmu. Jangan pernah mencoba menginjakkan kaki di atas garis yang sudah kutandai."

"Cukup, Lucien! Lepaskan dia!"

Suara Aurora melengking tajam, memutus ketegangan yang nyaris berdarah itu. Tanpa ragu, Aurora melangkah maju dan menarik paksa tangan Lucien yang masih mencengkeram kerah kemeja Adrian.

Lucien tersentak.

Ia menoleh ke arah istrinya dengan tatapan nanar, perlahan melepaskan cengkeramannya. Namun, bukannya melihat wajah ketakutan, ia justru disambut oleh sepasang mata Aurora yang berkilat penuh amarah.

"Apa yang kau lakukan? Kau bersikap seperti orang barbar di rumahmu sendiri!" bentak Aurora. Napasnya naik turun, ia berdiri tegak di depan Adrian seolah-olah sedang melindungi pengacaranya itu dari suaminya sendiri.

"Dia datang ke sini untuk urusan pekerjaan, Lucien! Dokumen ini adalah hakku! Dan kau datang ke sini hanya untuk membuat keributan soal cara seseorang memanggil namaku?"

"Dia sudah melanggar batas!" Lucien mencoba membela diri, suaranya parau karena emosi yang tertahan.

"Batas yang mana? Batas kontrak kita?" Balas Aurora

"Jangan berpura-pura seolah kau peduli pada kehormatanku saat kau sendiri sering memperlakukanku seperti pajangan di rumah ini."

Wajah Lucien memucat.

Kata-kata Aurora barusan jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik manapun.

"Aurora, aku hanya—"

"Berhenti memanggil namaku dengan nada memerintah itu!"

"Tuan Morel adalah tamuku. Jika kau tidak bisa bersikap sopan pada orang yang sudah menyelamatkan asetmu, maka sebaiknya kau yang keluar dari studio ini."

Adrian, yang kini merapikan kemejanya, memberikan senyum kemenangan yang sangat tipis ke arah Lucien—senyum yang hanya bisa dilihat oleh Lucien.

"Sepertinya suasana sedang tidak kondusif," ujar Adrian dengan nada tenang yang dibuat-buat.

"Nyonya Valehart, saya akan meninggalkan dokumen ini di meja. Kita bisa bicara lagi saat... keadaan sudah lebih tenang."

Adrian membungkuk hormat pada Aurora, memberikan tatapan simpati yang seolah mengejek kegagalan Lucien, lalu melangkah keluar dengan keanggunan yang menyakitkan mata Lucien.

Kini tinggal mereka berdua di studio itu.

Keheningan yang menyiksa menyelimuti ruangan. Lucien berdiri mematung, menatap istrinya yang masih gemetar karena amarah. Ia ingin menjelaskan bahwa ia bertindak begitu karena ia takut—takut kehilangan Aurora—tapi lidahnya terasa kelu.

Aroma kopi yang sempat ia khawatirkan, kini benar-benar terasa pahit di tenggorokannya.

Setelah pintu studio tertutup rapat di belakang Adrian, Aurora berdiri membelakangi Lucien. Bahunya naik turun, mencoba meredam amarah yang masih mendidih. Ia sudah bersiap untuk adu argumen yang lebih hebat lagi jika Lucien membalas ucapannya.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Kesunyian di ruangan itu terasa menyesakkan sampai Aurora mendengar langkah kaki Lucien yang pelan mendekatinya. Aurora memejamkan mata, mengira Lucien akan membentak atau menuntut penjelasan.

Tiba-tiba, ia merasakan sentuhan hangat di pipinya.

Jari-jari panjang Lucien yang biasanya dingin, kini terasa hangat dan gemetar saat menyentuh kulit wajah Aurora. Dengan gerakan yang sangat perlahan dan penuh kehati-hatian—seolah Aurora adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja—Lucien memutar tubuh istrinya agar menghadap padanya.

Aurora mendongak, dan kata-kata pedas yang sudah di ujung lidahnya lenyap seketika.

Lucien tidak menatapnya dengan kemarahan. Matanya kini tampak berkaca-kaca, dipenuhi dengan rasa bersalah yang begitu dalam dan luka yang tidak disembunyikan. Wajahnya yang tegas kini melunak, menatap Aurora dengan tatapan yang sangat tulus dan menyedihkan.

"Maafkan aku..." bisik Lucien. Suaranya pecah, tidak lagi berat dan berwibawa seperti biasanya.

Ia menangkup kedua pipi Aurora dengan telapak tangannya, ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi istrinya. Lucien menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya hingga kening mereka hampir bersentuhan, membiarkan Aurora melihat betapa hancurnya pertahanan dirinya saat ini.

"Maafkan aku karena bersikap buruk... Aku hanya..." Lucien menjeda, tenggorokannya terasa tersumbat.

"Aku hanya tidak tahan melihat pria lain menatapmu seperti itu. Aku tidak tahan mendengar dia memanggil namamu seolah dia lebih mengenalmu daripadaku."

Lucien memejamkan mata, napasnya terasa hangat di wajah Aurora.

"Aku tahu aku kaku. Aku tahu aku tidak pandai bicara manis seperti dia. Tapi melihatnya ada di sini, di tempat pribadimu... itu membuatku takut. Aku takut kau akan menyadari betapa membosankannya pria sepertiku dibanding dia."

Aurora terpaku. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia takut Lucien bisa mendengarnya. Ini bukan Lucien Valehart yang ia kenal. Pria di depannya ini adalah seorang pria yang sedang menunjukkan sisi paling rentannya.

"Lucien..." gumam Aurora, suaranya melemah.

"Jangan benci aku..." bisik Lucien lagi, kali ini lebih pelan, nyaris seperti permohonan seorang anak kecil yang takut ditinggalkan.

"Kau boleh memarahiku, kau boleh mengusirku dari sini... tapi tolong, jangan biarkan pria itu memanggil namamu lagi. Namamu... aku ingin hanya aku yang bisa memanggilnya dengan cara itu."

Aurora menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang membawa pergi sisa-sisa amarahnya.

Melihat tatapan "terluka" Lucien yang begitu intens, tembok pertahanannya runtuh tak bersisa. Ia perlahan mengangkat tangannya, lalu menepuk-nepuk dada Lucien dengan gerakan ritmis yang menenangkan, seolah sedang menjinakkan seekor singa yang sedang gelisah.

"Tenanglah..." gumam Aurora lembut, matanya menatap mata abu-abu suaminya yang masih tampak goyah.

"Tuan Morel hanya pengacara. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Dia tidak akan mengambil apa pun dariku, apalagi mengambil tempatmu."

Lucien perlahan mulai tenang, embusan napasnya mulai teratur mengikuti irama tepukan tangan Aurora di dadanya. Namun, keheningan romantis itu tidak bertahan lama.

Mata Aurora mulai turun, memperhatikan penampilan suaminya dari dekat. Ia menyadari dua kancing teratas kemeja Lucien yang terbuka, menampakkan tulang selangka dan sedikit bagian dadanya yang bidang.

Sesuatu yang sangat tidak biasa bagi seorang Lucien Valehart yang selalu perfeksionis.

Aurora mengernyitkan dahi, tangannya berhenti menepuk dan beralih memegang kerah kemeja Lucien.

"Dan kau... ada apa dengan penampilanmu ini?" Aurora mulai mengomel, suaranya kembali ke nada bicaranya yang biasa.

"Kenapa kancingmu sering terbuka begini? Kau terlihat seperti pria yang baru saja habis dirampok di gang gelap, bukan seperti seorang CEO Valehart."

Lucien terdiam, wajahnya mendadak kaku saat Aurora mulai memasukkan kembali kancing-kancing kemejanya ke lubangnya satu per satu.

"Apa pekerjaan di kantor hari ini sangat membuatmu stres? Sampai kau lupa cara berpakaian rapi?" lanjut Aurora sambil terus mengoceh, jari-jemarinya yang lincah bergerak di depan dada Lucien.

"Tadi pagi kulihat kau rapi sekali. Sekarang lihat dirimu, berantakan begini. Kalau klienmu melihat, mereka pasti mengira kau sedang kehilangan akal sehat."

Lucien menunduk, menatap kepala Aurora yang sedang sibuk merapikan kemejanya. Ia merasa sangat bodoh sekaligus... senang. Saran "setan" dari Aren ternyata memang gagal total dalam hal menggoda, tapi justru berhasil membuat Aurora memperhatikannya sedekat ini.

"Tadi... udara di kantor sangat panas," jawab Lucien asal, mencoba mencari alasan paling logis sambil menahan diri agar tidak tersenyum melihat perhatian Aurora.

"Panas?" Aurora mendongak, menatap Lucien dengan tatapan sangsi.

"Ini musim gugur. Udara di luar hampir membeku dan kau bilang panas? Kau pasti benar-benar butuh istirahat."

Setelah kancing terakhir terpasang dengan sempurna, Aurora merapikan kerah jas Lucien dan menepuk bahunya.

"Nah, begini kan lebih baik. Jangan biarkan Morel melihatmu berantakan lagi, nanti dia pikir kau tidak punya istri yang bisa mengurusmu."

Lucien tertegun mendengar kalimat terakhir itu. Istri yang mengurusmu. Kalimat itu terdengar jauh lebih manis daripada ribuan pujian Adrian Morel.

"Jadi... kau mau mengurusku?" tanya Lucien rendah, ada nada menggoda yang sangat tipis dalam suaranya.

Aurora tersentak.

Kesadarannya kembali setelah mendengar suara rendah Lucien yang terdengar begitu dekat di telinganya. Kalimat "Istri yang mengurusmu" tiba-tiba berputar di kepalanya seperti kaset rusak, membuat wajahnya seketika terasa terbakar.

"A-apa yang kau katakan?" Aurora segera melepaskan tangannya dari kerah kemeja Lucien dan melangkah mundur dengan terburu-buru, menciptakan jarak sejauh mungkin.

Ia berputar balik, membelakangi Lucien dan berpura-pura sangat sibuk merapikan palet catnya yang sebenarnya sudah bersih. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah-olah ia baru saja tertangkap basah melakukan kejahatan besar.

"Ehem!" Aurora berdeham keras, mencoba mengusir rasa canggung yang mencekik udara di studio itu.

"Maksudku... sebagai mitra kontrak, aku punya tanggung jawab untuk menjaga citra suamiku. Itu saja. Jangan berpikir yang aneh-aneh."

Aurora mengambil sehelai kain lap, menggosok-gosok ujung kuasnya dengan gerakan yang terlalu bersemangat.

"Lagipula, kau sudah mengusir tamuku. Jadi sekarang aku tidak punya teman bicara untuk membahas kelanjutan administrasi museum. Kau puas?"

Ia terus mengoceh, sengaja menumpuk kata-kata agar Lucien tidak punya celah untuk kembali ke topik "mengurus istri" tadi.

"Ah, benar! Aku lapar sekali," ujar Aurora tiba-tiba, suaranya sedikit terlalu tinggi.

Tanpa menoleh ke belakang, ia mulai berjalan cepat menuju pintu keluar studio.

"Aku akan turun ke ruang makan sekarang. Kau... kau tenangkan saja dulu pikiranmu. Sampai jumpa di bawah!"

Lucien berdiri mematung di tengah studio, menatap punggung Aurora yang menghilang di balik pintu dengan langkah yang hampir menyerupai lari kecil.

Meskipun baru saja dimarahi dan dituduh "stres kerja", sudut bibir Lucien perlahan tertarik ke atas. Sebuah senyum tipis yang tulus muncul di wajahnya. Ia menyentuh kancing kemeja teratasnya yang baru saja dirapikan oleh jari-jari hangat Aurora.

"Isteri yang bisa mengurusku?" gumam Lucien pelan pada dirinya sendiri.

Ia melirik ke arah kanvas Aurora yang masih basah. Di sana, warna-warna yang digoreskan Aurora tampak begitu hidup, seolah mencerminkan perasaan wanita itu yang sebenarnya. Lucien menarik napas dalam, aroma parfum mawar Aurora masih tertinggal di udara.

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!