Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.
bonus langsung 10 episode pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duel di Atas Awan
Freya melangkah ke tengah dek, jubah bulu putihnya berkibar diterpa angin ketinggian. Para penumpang yang masih berada di dek mundur perlahan, menciptakan lingkaran lebar di sekitar mereka. Awak kapal berbisik-bisik—mereka belum pernah melihat kapten mereka menantang seseorang untuk duel secara langsung.
"Aturannya sederhana," kata Freya, mencabut pedangnya. Bilahnya berkilau biru—Artefak Fana tingkat Puncak, terbuat dari es abadi yang hanya ditemukan di puncak tertinggi Benua Utara. "Sentuh aku, atau buat aku menyerah."
"Aturan yang adil." Xiao Chen berdiri dengan tangan kosong, jubah putihnya berkibar.
"Kau tidak akan pakai senjata?"
"Aku tidak butuh."
Beberapa penumpang tersentak. Bahkan di dek belakang, Wei Ling, Lin Yao, Xu Mei, dan Liu Ruyan berkumpul untuk menonton. Xiao Yu—yang seharusnya sudah tidur—muncul dari balik pintu, matanya berbinar.
"Ayah akan bertarung?!" serunya pada Wei Ling.
"Ternyata begitu."
"Aku harus lihat!"
Freya tidak menunggu lebih lama. Dia melesat ke depan, pedang esnya membentuk busur biru di udara. Kecepatannya luar biasa—hasil dari seratus tahun bertarung melawan badai dan bajak laut. Tebasan pertama mengincar bahu Xiao Chen, tepat dan cepat.
Xiao Chen melangkah ke kiri. Satu langkah kecil, nyaris tidak terlihat. Bilah es itu melewati bahunya dengan selisih satu sentimeter.
Freya tidak berhenti. Dia berputar, pedangnya berubah arah dalam gerakan yang seharusnya tidak mungkin—Teknik Pedang Badai Fana tingkat Tinggi, jurus andalannya. Bilah itu membentuk pusaran angin yang bisa memotong layar kapal.
Xiao Chen menunduk.
Bukan menghindar dengan panik—hanya menunduk, seperti seseorang yang membungkuk untuk memungut bunga. Pusaran angin melewati di atas kepalanya, mengibaskan rambut putihnya yang panjang.
"Kau cepat," kata Freya, napasnya mulai memburu. "Tapi apakah kau bisa terus menghindar?"
Dia melepaskan serangan bertubi-tubi. Tebasan, tusukan, sapuan—setiap serangan adalah teknik yang telah diasah selama puluhan tahun. Udara di sekitarnya berputar, menciptakan badai mini di dek kapal. Para penumpang mundur semakin jauh.
Tapi tidak satu pun yang mengenai.
Xiao Chen bergerak seperti air. Kadang dia melangkah ke samping. Kadang dia berputar. Kadang dia hanya... tidak di sana. Seolah ruang itu sendiri yang menyesuaikan dengan kehadirannya, bukan sebaliknya.
Setelah tiga menit penuh, Freya berhenti. Dadanya naik-turun, napasnya tersengal. Keringat mengucur di pelipisnya, membasahi rambut pirangnya yang sekarang terlepas dari ikatan. Tapi senyumnya lebar—senyum seorang pejuang yang menikmati tantangan.
"Kau... kau bahkan tidak berkeringat."
"Aku jarang berkeringat."
"Itu tidak adil."
"Aku tidak pernah bilang aku adil."
Freya meletakkan pedangnya. "Aku menyerah."
Seluruh dek terdiam. Lalu tepuk tangan bergemuruh—dari penumpang, dari awak kapal, bahkan dari Wei Ling dan Lin Yao yang menonton dari jauh.
"Kapten kita kalah!" seru salah satu awak kapal, tapi dia tertawa. "Akhirnya ada yang bisa mengalahkannya!"
Freya berjalan mendekati Xiao Chen, berdiri tepat di depannya. "Kau benar-benar luar biasa."
"Aku tahu."
"Dan kau tetap sombong."
"Percaya diri."
Mereka saling menatap. Lalu, tepat di depan semua orang, Freya menarik kerah jubah Xiao Chen dan menciumnya—keras, penuh gairah, dengan lidah yang langsung masuk tanpa ragu.
Para awak kapal bersorak. Seorang pelayan perempuan menjatuhkan nampannya. Xiao Yu menutupi matanya dengan tangan, tapi celah di antara jari-jarinya cukup lebar.
"Yah," kata Xu Mei, "itu satu cara untuk mengumumkan."
"Dia tidak main-main," tambah Liu Ruyan.
Lin Yao tidak berkata apa-apa, tapi sudut bibirnya terangkat.
—
Malam itu, di kabin kapten, Freya menutup pintu dengan kunci.
"Aku menyerah dalam duel," katanya, berjalan perlahan ke arah Xiao Chen. "Tapi aku tidak menyerah dalam hal lain."
"Hal lain apa?"
"Ini."
Dia mendorong Xiao Chen ke dipan, dan dengan gerakan yang sudah tidak ragu lagi, dia melepaskan jubah bulunya sendiri. Kain putih tebal itu meluncur ke lantai, memperlihatkan tubuhnya yang sempurna. Kulitnya putih pucat khas orang utara, payudaranya penuh dan montok dengan puting merah muda yang sudah mengeras diterpa udara dingin. Pinggangnya ramping, otot perutnya terdefinisi jelas, dan di bawah pusarnya, sehelai rambut pirang tipis mengarah ke bawah.
"Kau hanya akan berdiri di sana?" tanyanya.
Xiao Chen tersenyum, lalu menariknya ke dipan. Posisi mereka bertukar—sekarang Freya yang terlentang, dan Xiao Chen yang menunduk di atasnya. Jubah putihnya sudah terbuka, memperlihatkan tubuh atletisnya yang sempurna, otot-ototnya yang terbentuk alami, dan penisnya yang sudah sepenuhnya ereksi—panjang, tebal, melengkung sedikit ke atas.
Freya menatapnya dengan mata berbinar. "Aku sudah membayangkan ini sejak pertama kali melihatmu."
"Setiap malam?"
"Setiap malam. Kadang siang juga."
Xiao Chen menunduk, mulutnya menemukan puting Freya. Dia menghisapnya perlahan, lidahnya berputar mengelilingi puting yang mengeras, lalu menggigitnya lembut. Freya mendesah panjang, tangannya mencengkeram rambut putih Xiao Chen.
"Ya... seperti itu..."
Mulutnya beralih ke puting satunya, memberinya perhatian yang sama. Sementara itu, tangannya turun ke bawah, jari-jarinya menyusuri perut Freya yang berotot, melewati rambut pirang tipis, dan menemukan vaginanya yang sudah sangat basah. Labianya bengkak, klitorisnya menonjol keluar, dan cairannya sudah membasahi pahanya.
"Kau sangat basah," bisik Xiao Chen.
"Kau yang membuatku seperti ini."
Satu jari masuk, dan Freya mengerang. Dua jari, dan dia melengkungkan punggungnya. Tiga jari, dan dia sudah mencengkeram seprai bulu dengan erat.
"Aku ingin kau di dalamku. Sekarang."
Xiao Chen tersenyum. "Kapten yang tidak sabaran."
"Aku sudah sabar selama—ah!"
Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Xiao Chen sudah memposisikan dirinya dan mendorong masuk dalam satu gerakan halus. Penisnya yang tebal mengisi Freya sepenuhnya, meregangkan vaginanya yang sudah sangat siap. Freya menjerit kecil—bukan karena sakit, tapi karena kelegaan.
"Ya... persis seperti itu..."
Xiao Chen mulai bergerak. Perlahan pada awalnya, membiarkan Freya merasakan setiap sentimeter dari panjangnya. Tapi Freya—agresif dan tidak sabaran seperti biasa—menariknya lebih dekat dengan kakinya yang melingkari pinggangnya.
"Lebih cepat."
Dia mematuhinya. Gerakannya semakin cepat, semakin dalam, menciptakan suara basah yang memenuhi kabin. Setiap dorongan membuat Freya mendesah lebih keras, dan desahannya segera berubah menjadi erangan, lalu teriakan kecil.
"Di sana—di sana—jangan berhenti—"
Kepala penisnya mengenai titik paling sensitif di dalam vaginanya, dan Freya melihat bintang-bintang. Orgasme pertamanya menghantam dengan keras—seluruh tubuhnya gemetar, vaginanya berdenyut-denyut di sekitar penis Xiao Chen, dan dia meneriakkan namanya dengan suara serak.
Tapi Xiao Chen belum selesai.
Dia menarik Freya ke atas, membalikkan posisinya sehingga Freya sekarang di atas. "Kau yang mengendalikan."
Freya, masih gemetar dari orgasme pertamanya, tersenyum nakal. "Kau akan menyesal memberiku kendali."
Dia mulai bergerak—naik dan turun, memutar pinggulnya dengan gerakan melingkar yang membuat Xiao Chen mengerang. Tangannya bertumpu di dada Xiao Chen, kukunya mencakar pelan. Payudaranya yang penuh berguncang dengan setiap gerakan.
"Kau suka?" tanyanya, napasnya memburu.
"Kau tahu jawabannya."
"Aku ingin mendengarmu mengatakannya."
"Aku menyukainya."
Freya tersenyum puas. Dia mencondongkan tubuhnya, mencium Xiao Chen dalam-dalam, lidahnya bertemu dengan lidahnya, sementara pinggulnya terus bergerak semakin cepat. Posisi ini memungkinkan penis Xiao Chen masuk lebih dalam dari sebelumnya, dan setiap kali dia turun, kepala penisnya mengenai serviksnya.
"Aku—aku akan—lagi—"
"Lepaskan."
Dia melepaskan untuk kedua kalinya, lebih keras dari yang pertama. Vaginanya berkontraksi kuat, memeras penis Xiao Chen, dan sensasi itu cukup untuk mendorongnya melewati batas. Dengan erangan rendah, dia melepaskan ke dalam Freya, spermanya yang hangat memenuhi vaginanya.
Mereka terkulai bersama, napas tersengal, tubuh mereka berkeringat dan saling bertautan. Freya berbaring di dada Xiao Chen, kepalanya di bawah dagunya, rambut pirangnya tergerai di atas otot-ototnya.
"Itu..." Dia mencari kata-kata. "...sepadan dengan penantian seratus tahun."
"Seratus tahun?"
"Aku sudah hidup seratus tahun. Itu pertama kalinya aku orgasme dua kali berturut-turut."
"Aku tersanjung."
"Jangan sombong." Freya memukul dadanya pelan. "Tapi... terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk mengalahkanku. Untuk membuatku merasa... bahwa aku tidak harus selalu mengendalikan segalanya." Dia mendongak, menatap mata ungu keemasannya. "Aku tidak terbiasa menyerahkan kendali. Tapi denganmu... rasanya benar."
Xiao Chen mengusap rambutnya. "Kau bisa menyerahkan kendali kapan saja kau mau. Aku akan selalu ada."
"Janji?"
"Janji."
—
Keesokan paginya, Freya muncul di ruang makan dengan pakaian kaptennya yang rapi—tapi ada sesuatu yang berbeda. Posturnya lebih santai. Senyumnya lebih sering muncul. Dan setiap kali matanya bertemu dengan Xiao Chen, pipinya sedikit memerah.
Para wanita lainnya memperhatikan perubahan ini.
"Dia terkena efeknya," bisik Xu Mei pada Liu Ruyan.
"Sepenuhnya."
"Berapa lama sampai dia bergabung secara permanen?"
"Kurasa dia sudah."
Wei Ling menatap Freya yang sedang menuangkan teh untuk dirinya sendiri—dan untuk Xiao Chen, tanpa diminta. "Selamat datang di klub," bisiknya.
"Apa itu klub?" tanya Xiao Yu, yang sedang makan bubur di sampingnya.
"Nanti kau akan tahu kalau sudah dewasa."
"Aku benci kalimat itu," gerutu Xiao Yu.
Lin Yao mendengus. "Biasakan diri."